Dihujat Sang Master
13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |2.2 Dihujat Sang Master
APAKAH tulisanku bagus? Ternyata tidak. Tulisanku buruk. Paling tidak begitulah pendapat seorang suhu kehidupan, yang aku tulis beberapa pemikiran dan pendapatnya beberapa waktu lalu. “Ini tulisan apa sih, tidak mengalir begini,” umpatnya. “Kamu juga tidak tahu ilmu manajemen dan tidak mengerti bahasa Inggris. Goblok!” lanjutnya.
Dua hal terakhir itu kuterima dengan lapang dada. Tentu pengetahuan sang master tentang manajemen dan bahasa Inggris, sangat hebat. Dia memimpin perusahaan besar puluhan tahun dan sempat mengubek-ubek Eropa selama belasan tahun. Tidak ada yang meragukan kemampuannya di bidang itu. Apalagi, dia juga sudah membuktikan sukses menjalankan bisnisnya menjadi pengekspor bahan pangan olahan ke Jepang, sebuah pasar yang sangat sulit ditembus.
Aku? Justru sedang belajar banyak padanya. Meski ucapannya keras dan menyebalkan, itu jauh lebih baik daripada diabaikannya. Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku pun masih ingusan dalam gebyar dunia tulis. Aku malah merasa sangat beruntung bisa belajar langsung pada suhu kehidupan dunia ini. Bak mendapatkan durian runtuh, kala datang kesempatan menulis segala tindakan dan pikiran tokoh besar tersebut serta merangkumnya ke dalam bentuk buku. Sebuah buku sederhana yang bukan biografi tapi sangat syarat dengan makna. Hmm, sungguh besar nikmat Allah kepada hambanya.
Tapi bisakah aku menulis? Aku jadi gamang, ragu, surut percaya diri saat itu. Resah plus tertekan mental oleh ucapan-ucapan sang master. Apalagi ketika buku hasil tulisanku yang sudah selesai cetak sebanyak 5000 (lima ribu) eksemplar, ditolak sang master. Dia tidak mau hasil tulisanku yang katanya buruk ini, tersebar. “Kalau tahu begini hasilnya, saya tidak akan mau dibikinin buku,” dia masih kesal dengan gaya non verbal yang khas. “Dari dulu, saya tidak mau dibuatkan buku karena takut seperti ini.” Master yang satu ini memang ‘jantan’. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan tidak peduli tanggapan lawan bicaranya. Buat dia, apa yang menurutnya benar itulah yang disampaikan.
Meski penampilannya terkesan slebor, untuk urusan menulis dia sangat teliti. Hasil tulisanku dikoreksinya sangat detail. Dia memelototi setiap deretan huruf. Begitu menemukan kekeliruan, langsung dicoret dan keluarlah kata-kata saktinya: “Goblok kamu.”
Sebenarnya bisakah aku menulis? Padahal, kata para editor sebuah penerbitan terkemuka di Jakarta, tulisanku membuat pekerjaan mereka ringan. Kata Goenardjoadi Goenawan pengusaha rekaman instan yang enam bukunya ku edit, hasil kerjaku membuat tulisannya mudah dimengerti. Pengusaha Bakmi Langgaran, Wahyu Saidi, yang sempat menulis dalam satu buku, bagus. Dia memintaku menulis dua buku lainnya.
Apalagi, I Nyoman Londen, yang selalu menghadiahi satu konter Edola Burger, setiap selesai satu buku. Dengannya, tiga buku hasil kolaborasi sudah tersebar ke seantero negeri. Meski belakangan dia juga mengikuti sang master, mencemoohku. Pembaca yang rela membeli bukuku, berpendapat seragam; tulisanku enak dibaca. Beberapa buku telah meluncur ke pasar.
Ah, tapi kata sang maestro tulisanku, jelek! Ucapannya itu selalu terngiang dan memenuhi relung otakku. Kadang membuat frustrasi dan melenyapkan semangat. Kadang menjadi cambuk.
“Mungkin itu hanya teror mental saja mas,” Edy Zaqeus, mentorku memotivasi. “Tulisan juga terkait dengan selera,” lanjutnya.
Aku jadi ragu. Benarkah menulis jalan hidupku? Aaah, inikah proses pendewasaan diri. Wajar kesal pada kesempatan pertama, tapi reaksi berikutnya adalah: Ucapkan terima kasih kepada pengkritik atau penghujat. Mereka menjadikan mental kita makin kuat.
“Maafkan atas kegoblokkanku Om. Terima kasih atas cambuknya,” tulisku melalui SMS ke HP Sang Master.
Hujatan adalah cambuk sekaligus motivasi dalam menulis manakala kita maknai secara positif.
Salam.










2 Responses to “Dihujat Sang Master”
By dodi mawardi on Jan 17, 2008 | Reply
Dodi Mawardi, lahir di Cianjur Jawa Barat 20 Februari 1974, Dosen Komunikasi Fisip UI dan Interstudi, Penulis buku.
By heri mulyo cahyo on May 17, 2008 | Reply
betul pak meski ngggak banyak orang yang dengan lapang dada menerima hujatan
salam ajah dari malang
http://hmc.web.id (belajar Inggris Lewat nasyid)
***Ya ya … salam. Dari setiap kejadian ambillah hikmahnya