Bermula dari Pengetik Rental

13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

2.6 Bermula dari Pengetik Rental

DUNIA tulis-menulis tidak jauh dari kehidupan saya. Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra, kurikulum menghendaki masiswa mahir melakukan kegiatan berbahasa, meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
 
Sebagai mahasiswa bahasa dan sastra, idealnya saya gemar menulis. Sayang, kecintaan membaca tidak dibarengi dengan kreasi menulis. Padahal, seorang dosen tidak segan memberi nilai A apabila mahasiswanya ada yang mengirimkan tulisan dan dimuat di media cetak, meski kolom sejenis surat pembaca sekalipun.
 
Padahal, ‘pekerjaan’ betul-betul menuntut memiliki pemahaman tentang menulis yang baik dan benar. Saya bekerja paruh waktu sebagai pengetik di sebuah penyewaan komputer. Era tahun 1997- 2003 penyewaan komputer masih primadona untuk mengetik tugas sekolah, kantor, ataupun kegiatan kemasyarakatan. Tidak jarang, diminta membuatkan proposal kegiatan halal bihalal di kampung A, peringatan 17-an di desa B, menyusun surat undangan arisan keluarga, rapat RT, Karang Taruna, hingga undangan reuni.
 
Tidak sedikit mengetikkan tugas akhir, skripsi, resis, dan disertasi. Bahkan —saya malu menulisnya, namun demi taubat nasuha— diminta membuatkan laporan kegiatan kerja lapangan (KKL) hingga skripsi oleh 10 mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Mereka hanya menyodorkan judul dan contoh laporan KKL dan skripsi. Ketika itu, menulis semuanya demi ‘pertanggungjawaban’ kepada pelanggan.
 
Itulah awal mula mengapa ‘terpaksa’ harus menulis. Ya. Diawali karena tuntutan kerja sebagai pengetik di penyewaan komputer. Pengalaman berlanjut ketika menjadi editor di penerbitan lokal di sebuah kota. Tujuh bulan menyandang gelar editor, saya mengedit buku-buku pelajaran. Saya dekat dunia menulis kreatif dan produktif dalam arti penghasilkan uang tambahan.
 
Walau bekerja di penerbitan mentereng, upah saya hanya Rp 250.000,00. Tidak sepadan sebagai pemilik ijazah S1. Cukup untuk biaya transportasi. Akhirnya peluang datang. Seorang editor senior melakukan curahan hati. “Mas, berani tidak kamu membuat buku Lembar Kerja Siswa (LKS) SMP? Sejak beberapa tahun lalu saya ditawari oleh sebuah penerbit. Saya tidak memiliki keberanian menulis.” Pertanyaan editor senior jebolan Sastra Indonesia tersebut merupakan alasan berikutnya mengapa saya menulis.
 
Bolehlah teman yang sudah puluhan tahun menjadi editor, menjabat kepala editor, enggan menulis. Namun, bagi saya, tidak ada kata “takut”. Akhirnya, buku LKS kelas 1, 2, 3 SMP terdistribusi ke Jawa dan Sumatera. Rupanya dia termotivasi. Kini, dia menjadi koordinator naskah untuk segala macam buku pelajaran di dua penerbitan.
 
Perjalanan pekerjaan bermuara di  penerbitan koran nasional terbesar di Indonesia, sebagai penyunting bahasa di suplemen daerah edisi Yogyakarta. Profesi ini saya tekuni sejak 2004.
 
Kegairahan menulis semakin meletup-letup. Puluhan wartawan pemula, yang masih muda-muda, memiliki kemampuan menulis berita maupun feature, untuk berbagai bidang, ‘menggoda’ saya.
 
Menulis masalah ekonomi sampai seni, dari tulisan ringan sampai laporan investasi, dikejar deadline. Suatu sore, iseng berselancar di mesin pencari Google. Nama mereka ada dimana-mana, di situs koran tempat kami bekerja maupun di web. Nama saya? Hanya pada sepuluh portal.
 
Saya berkomitmen, menulis, menulis, dan menulis. Mereka Bisa, Kenapa Aku Tidak? Akhirnya, dua artikel; Quo Vadis Sinetronisasi Karya Sastra dan Ironi “Halte” Sampah Samping Sekolah dimuat Kompas Edisi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebuah pergulatan yang mengesankan, sanjung saya.
 
Sampailah pada suatu saat lahir portal www.menulismudah.com. Saya tertarik. Nama situsnya ‘menggoda’, dan ada lomba menulis. Saya ketagihan membacanya setiap hari. Ya. Kegiatan menulis benar-benar memudahkan. Memudahkan untuk selalu memiliki gairah menulis, memudahkan selalu kreatif menulis segala hal.

  1. 2 Responses to “Bermula dari Pengetik Rental”

  2. By unai on Jan 16, 2008 | Reply

    Great..saya suka, mencerahkan sekali

  3. By Didik Durianto on Jan 18, 2008 | Reply

    Assalamu’alaikum Wr Wb.

    Salam penebar ilmu,
    Didik Durianto, lahir di Karanganyar, Surakarta, 31 Mei 1978. Penyelaras Bahasa Harian Kompas Biro Daerah Istimewa Yogyakarta. Penulis buku, di antaranya Buku Materi Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII, VIII, IX SMP, Buku Materi Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X, XI, XII SMA, beberapa artikel dimuat di sejumlah surat kabar, menulis puisi-puisi dan cerpen.

    Rekening:
    Cabang 0029 Yogyakarta Cik Ditiro; Nomor Rekening: 0029-01-060064-50-5; Nama: DIDIK DURIANTO, S.PD.

    Tabik,
    Didik@kompas.co.id

Post a Comment