Berawal Dari Sebuah Khayalan
13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |3.3 Berawal Dari Sebuah Khayalan
YA, berawal dari sebuah khayalan. Sebuah mimpi. Mimpi bisa hanya berakhir menjadi sebuah angan-angan belaka di pojok kamar. Tapi, bisa menjadi kenyataan. Tergantung usaha si pemimpi. Awalnya, aku adalah seorang pembaca yang lahap. Orangtuaku membebaskan kami untuk berbelanja buku anak-anak dan menikmati petualangan di dalamnya.
Maka menjadi suatu keniscayaan, sebuah kekaguman yang besar kualamatkan pada seluruh penulis di muka bumi. Mereka menuliskan mimpi, ide, ilmu dan kegembiraan bagi pembacanya. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka.
Ketika di Sekolah Dasar, aku sangat kegirangan ketika tulisan pengalamanku dimuat di Rubrik Tak Disangka majalah Bobo. Walaupun hadiah souvenirnya tidak kuterima karena pindah ke Papua, aku sangat bangga.
Semasa di SMA, aku mengirim banyak cerita untuk Aneka Yess dengan balasan amplop tebal. Penolakan demi penolakan. Akibatnya, rajin menulis tetapi untuk dinikmati sendiri. Mimpi itu tenggelam diantara banyak kegiatan seru lainnya.
Saat lulus kuliah dan menganggur selama setahun lebih, aku berpikir keras: Apa yang akan kulakukan? Aku kembali ke ‘habitat’; menulis sebagai obat stres mujarab. Menulis esai-esai inspiratif, bahkan pengalaman konyol saat kuliah.
Alhamdulillah, beberapa esai dimuat. Sebuah cerpen anak dimuat di Kompas. Ayahku membawa koran minggu itu ke Sukabumi untuk dipamerkan ke kakek dan nenek, om dan tante juga sepupu-sepupu. Nenekku membacanya dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan. Sejak itu, aku punya penggemar nomor satu, nenek tersayang.
Honor yang kuterima membuatku bangga. Ternyata di saat menganggur masih berdaya. Tapi, langkahku masih tertatih-tatih. Memiliki buku yang di sampulnya terpampang namaku masih sebuah mimpi.
Khayalan yang bikin aku tersenyum getir, lalu mendenda semangat, karena rasanya begitu jauh. Aku tak punya nyali untuk mewujudkannya. Membayangkan menulis beratus-ratus halaman, membuatku bergidik. Napasku tak sepanjang itu.
Saat aku bekerja di sebuah perusahaan konstruksi Jepang, aku mengenal komunitas penulis di internet. Semua punya mimpi sama. Banyak proyek kepenulisan yang melatihku untuk menulis sesuai batas waktu yang ditetapkan.
Bergaul dan belajar adalah kunci kesuksesan. Saat mengantar teman milis yang akan launching buku keroyokannya, aku ikut sebagai tukang foto. Sungguh, rasanya ingin menjadi bagiannya. Raut bangga dan bahagia terpancar dari wajah-wajah mereka. Duhai, aku iri. Minderku muncul berada diantara penulis ‘betulan’. Ada Benny Rhamdani, Akmal Nasery Basral dan banyak lagi. Aku cukup senang berfoto bersama mereka.
Ketika ngobrol-ngobrol dengan Kang Benny Rhamdani, ia mengajakku dan temanku untuk menulis buku duet. Aku tersenyum-senyum mendengarnya. Ah, mungkin hanya basa-basi saja, tapi tak urung muncul sebuah pengharapan. Esoknya, kami ‘bertemu’ di internet dan berbincang tentang tema naskah kami.
Karena tak pede menulis puluhan esai, kami mengajak Anik, seorang penulis fiksi remaja dari Solo, teman milis di majalah perempuan. Dan, sebuah mimpi sedang begulir menuju kenyataan.
Setiap hari, diantara kesibukan kerja, aku chat dengan teman-teman dan Kang Ben, editor tersayang. Suasananya seperti bimbingan skripsi. Ada deadline ketat dan komentar pedas, masukan dan pujian tak luput. Aku dan Nunik di Jakarta, Kang Benny di Bandung dan Anik di Solo bersatu dalam proyek perwujudan mimpi. Browsing bahan di internet, mencari narasumber, dan malamnya mengetik di kamar kosku.
Serunya kerja bertambah ketika Nunik tahu ia hamil. Konfie kami kerap diselingi menghilangnya dia ke toilet untuk muntah. Kasihan. Ketika sebuah naskah selesai, kami masih harus mencari endorser dari kalangan artis dan penulis beken. Kejar-mengejar terjadi. Fuihhh…
Beberapa bulan kemudian, kerja keras kami terbayar. Sebuah buku dengan ilustrasi unik berhasil diterbitkan. Keajaiban Bunga benar-benar sebuah keajaiban bagiku. Sebuah kumpulan cerita nyata tentang pengalaman menyentuh orang-orang dengan bunga. Sebuah mimpi terwujud sudah.
Aku tak ingin berhenti. Keajaiban Bunga menjadi mantra agar terus menulis dan jangan berhenti hanya karena tak ada ide atau pun rasa kecewa. Kekecewaan adalah bagian biasa dari seorang yang ingin jadi penulis. Tak mendapat honor dari sebuah majalah yang memuat tulisan, naskah ditolak, naskah yang fix terbit tiba-tiba batal, dan sebagainya memang bisa membuat patah semangat, tetapi jangan sampai dipelihara.
Sebuah kesempatan emas datang. Kini menulis solo. Dengan napas yang harus lebih panjang dan kedisiplinan tinggi aku nekad menjajalnya. Melawan ketakutanku atas menulis yang panjang-panjang hehe. Berkat kerjasama dengan editor Kang Dul dan teman menulisku, Nursalam AR juga banyak narasumber di dunia nyata dan maya, akhirnya di tahun 2007 aku melahirkan buku solo pertamaku, Kenapa Harus Melajang?? Dari DAR! Mizan.
Bergabung dengan teman-teman penulis di sebuah komunitas, membuatku semangat. Berteman dengan banyak penulis pemula yang saling menyemangati dan bukannya saling iri membuatku nyaman. Disaat aku tak semangat, teman-teman pasti mendorongku hingga nyaris terjerembap karena serbuan kata-kata penyejuk mereka hehe.
Tiba-tiba, semua bukan hanya mimpi lagi. Aku kini menulis dan masih ingin terus menuliskan kata-kata. Tak ingin berhenti. Semoga Allah selalu memberi kita kekuatan dan inspirasi untuk itu.
Di tengah sepi melanda, sakit yang mendera, rasa malas dan enggan menulis, kerja kantor yang menumpuk, mualnya hamil muda dan berbagai kondisi lainnya, marilah terus bermimpi … membuat karya lagi dari tangan dan pikiran kita. Sebuah karya yang terlahir dari cinta, harapan, dan keinginan untuk berbagi dan berkomunikasi dengan siapa saja.
Mengutip sebuah kalimat di Chicken Soup For Writer: “Ketika kita menulis tentang hal-hal yang dirasakan orang dimanapun —entah kegembiraan, saat sulit, keputusasaan, saat menyenangkan— sandi dikirim, seorang sahabat sejiwa menangkapnya, dan hubungan penting itu terjalin.”
So, Tunggu apa lagi? Mari menulis, sahabatku!













4 Responses to “Berawal Dari Sebuah Khayalan”
By Dedew on Jan 16, 2008 | Reply
Assalamualaikum, mas-mbak Panitia
terima kasih bgt atas kerja kerasnya menyelenggarakan lomba ini. aku bangga bisa lolos nominasi dan setuju bgt tulisanku dibukukan bersama nominee lainnya. bersama ini saya kirimkan profil saya,. terima kasih dan sukses terus ya!
Profilku
Dewi Rieka Kustiantari. Lebih sering dipanggil Dedew. Cewek kelahiran Makassar 02 April 1980, dijuluki si Bolang karena hidup nomaden.
Tulisannya dimuat di Femina, Girls dll. Cewek hobi jalan-jalan ini menang Lomba Testimoni novel Cewek! (2005) dan Lomba Flash Fiction (2006) di GPU. Ia juara favorit pembaca Resensi Buku OKS (Blogfam, 2006).
Dedew menulis tiga buku yaitu Keajaiban Bunga (Cinta, 2006), Flash! Flash! Flash! (Gradien Book, 2006) dan Kenapa Harus Melajang? (DAR!Mizan, 2007). Beberapa bukunya akan terbit tahun ini. Kesibukannya kini menulis dan cari job di Semarang. Kalian bisa ngintip curhatnya di http://www.dedew80.multiply.com
By Dewi Rieka on Feb 5, 2008 | Reply
oh iya, No Rekeningku : BCA KCU Bogor No Rek. 0950998091 a/n Dewi Rieka Kustiantari
By Dewi Rieka on Feb 5, 2008 | Reply
Dewi Rieka Kustiantari. Ia lebih sering dipanggil Dedew. Cewek kelahiran Makassar 02 April 1980, dijuluki si Bolang alias bocah petualang karena hidup nomaden.
Tulisannya dimuat di Femina, Girls dll. Cewek hobi jalan-jalan ini pernah menang Lomba Testimoni novel Cewek! (2005), Lomba Flash Fiction (2006) di GPU. Ia jadi juara favorit pembaca Lomba Resensi Buku OKS yang diadakan Blogfam, 2006.
Dedew menulis tiga buku berjudul Keajaiban Bunga (Cinta, 2006), Flash! Flash! Flash! (Gradien Book, 2006) dan Kenapa Harus Melajang? (DAR!Mizan, 2007). Beberapa bukunya akan terbit tahun ini. Kesibukannya kini menulis dan cari job di Semarang. Kalian bisa ngintip curhatnya di http://www.dedew80.multiply.com.
By ADANG on Aug 16, 2008 | Reply
ARIGATOU GOZAIMASU
Pngn ngomong tu ja hehehe
n sering seeh mimppi
kpn ye aq sa nyusul kyk u?