Kenapa Rasulullah ‘Bukan Haji’?

7 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

OLeh Ersis Warmansyah abbas

RUKUN ISLAM. “Bah, isteri Abah berapa sebenarnya?” “Lima”, katanya buru-buru menambahkan: “Sekarang  ibu saja”. “Wah. Wah. Abah memang pengikut Rasulullah sejati”, kata saya terkekeh-kekeh. Sampeyan bayangkan reaksi mertua perempuan dan isteri saya. Anak saya nomor 2 (9) dan terkecil (4) langsung bertanya: “Mana nenek yang lain?”. Pokoknya semua orang dibuat kikuk. “Seharusnya saya ikut jalan Abah, jalan yang ditempuh Rasulullah”. Semua diam dengan pikiran masing-.
 
Isteri dan mertua hapal saja ‘gaya’ guyonan saya. Lalu dilanjutkan: “Abah marah ngak kalau hanya dipanggil Mardani Bakri saja. Tanpa Haji. Beliau tidak menjawab. Ya, biasalah, perlu waktu untuk menebak kira-kira kemana arah pertanyaan saya selanjutnya.
 
“Begini Bah. Setelah Rasulullah SAW melaksanakan haji, haji wada’, maka ‘lengkaplah’ agama Islam. Apakah Rasulullah memakai ‘gelar haji’?” Suasana mobil tanpa suara, masing berpikir kali ya.
 
Never. Saya tidak menemukan disatu literatur atau sirah, atau hadis, dicantumkan ‘gelar haji’ pada pangkal nama junjungan kita, Haji Muhammad SAW. Begitu juga para sahabat. Bahkan, raja-raja Arab Saudi. Tidak lazim dipakai ‘gelar haji’ di depan nama. Pemakaian ‘gelar haji’ lebih pada fenomena Melayu atau Cina (Muslim).
 
Saya memang sudah lama tergoda memikirkan hal yang satu ini. Emang haji itu ‘gelar’ apa ibadah (kewajiban Muslim). Emang ada ijazah atau sertifikatnya? Emang kalau pemuka agama pakai ‘gelar’ haji kita wajib mengikuti? Jangan-jangan terkategori melecehkan Allah SWT? Melecehkan?
 
Coba pikir. Haji adalah rukum Islam paling ‘ringan”. Syahadat wajib tanpa kompromi, Sholat begitu pula dengan beberapa keringanan, begitu juga puasa dan zakat. Haji? Hanya bagi yang mampu? Artinya, kewajiban yang bisa ‘dimaafkan’ manakala tidak berkemampuan.
 
Kalau kelima Rukun Islam mau dipakai sebagai ‘gelar’, ya Syahadat Sholat Zakat Puasa Haji Ersis Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd, Ph.D. Ini yang dipakai kog haji saja. Kasian deh  Syahadat Sholat Zakat Puasa. Itu diskriminasi namanya. Rukun Islam saja didiskriminasi, apalagi yang lain.
 
Lebih memilukan, ketika mengamati banyak koruptor, memakai-makai nama haji (mungkin orang lain menulisnya) di depan namanya. Semakin teremar deh ‘gelar’ haji yang sakral.
 
Suatu kali, seorang pejabat marah-marah ketika namanya tidak ditambahi haji di depan. Harap maklum, dia baru pulang menunaikan ibadah haji. Langsung saya putuskan: Itu orang jangan diwawancarai lagi. Titik. Bahkan, lebih radikal. Di iklan ngak boleh pasang gelar haji di depan nama. Kalau klien bersikeras, ya ngak usah, cari saja media lain. Yang terakhir dikoreksi, ya iklan ya hak pengiklan dong.
 
Pengalaman nyata tersebut berujung pada pertanyaan yang tidak perlu: Haji itu kewajiban keagamaan atau gelar? Sampai saat ini masih berpendapat, kewajiban keagamaan. Semut pun mungkin paham. Yang penting ditiru, perkataan dan perbuatan Rasulullah. Namanya hadis. Kalau Rasulullah tidak menyuruh atau mencontohkan, itu apa namanya. mBoh … siapa yang mau pakai, pakai saja. Siapa yang tidak mau , ya jangan.
 
Jadi, kalau Sampeyan menunaikan ibadah haji lalu memakainya sebagai gelar, ya silahkan. Kalau Sampeyan memahami sebagai kewajiban, dan karena itu tidak mencantumkan di depan nama, ya monggo. Itu soal pemahaman. Kalau mencari-cari alasan, ya bisa panjang. Saya tidak mau terjebak hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan tersebut.
 
Kembali ke introdusir tulisan ini, tiba-tiba di hari Minggu itu, 6 Januari 2008, kami sampai di tempat tujuan. Persis di sebelah rumah Desmon J. Mahesa. Itu tu aktivis yang ditangkap semasa Orde Baru bersama aktivis lainnya. Di rumah itu, kami beberapa kali menggelar diskusi mengkritisi kinerja Pemprov Kalsel dibawah kepemimpian Rudy Ariffin.
 
Terbetik di pikiran, kalau Desmon naik haji menganjurkan tidak memakai ‘gelar haji’ di depan namanya. Kalau dia mau. Namanya sudah sangat terkenal kog. Dia kini pengacara beken nasional.
 
Lalu, kenapa Rasululah tidak memakai ‘gelar haji’ di depan Namanya? Mungkin Sameyan punya jawabannya.Mana tahu.

Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 7 Januari 2008.

  1. 23 Responses to “Kenapa Rasulullah ‘Bukan Haji’?”

  2. By Muhammad Zen on Jan 7, 2008 | Reply

    Betul Mas Ersis,
    Haji adalah ritual ibadah bagi umat Islam. Haji bukan gelar, karena itu sebaiknya mereka yang sudah beribadah haji tak perlu dipanggil “Pak Haji” atau “Bu hajjah”. Nabi Muhammad yang saat hidup setiap tahun berhaji saja, tidak memberi embel-embel haji di depan namanya.

    Embel-embel haji tidak perlu disebutkan lagi, bagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji. Tujuannya untuk melindungi “kesucian niat” yang bersangkutan, agar tidak riya.
    Salam dari Kota Apel Malang
    Muhammad Zen

    ***Ya ya mari kita mulai dari kita, dan sebarkan virusnya. Mula-mula mungkin gamang, nantinya akan jadi penyadaran. Amin.

  3. By Siti Jenang on Jan 8, 2008 | Reply

    itu pun dengan asumsi haji mabrur ya? kalo cuma kelas tamasya, saya kira mesti malu hatinya. kalo habib gimana lagi tuh? :mrgreen:

    ***Aku agak takut bahas masalah habib he he … Silsilah Rasululah sampai Ibrahim ke Adam jelas. Bukankah Muhammad SAW nabi dan rasul penutup? Dus, keturunan langsunya juga ngak ada. Anak lelaki Beliau meninggal waktu kecil, kalau sistem patrilinial … terputuslah turunan. Titik. Mas Siti Jenang dong yang bahas.

  4. By edo on Jan 8, 2008 | Reply

    pernah ada diskusi dengan kakak saya, dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terdengar konyol :

    “rumah makan padang ada dimana2. adakah rumah makan padang di padang?”
    “sate madura ada dimana2. adakah sate madura di madura?”
    “diindonesia, sekarang banyak sekali TK Islam, SD Islam, semua serba dengan label Islam. Padahal salah satu universitas “islam tertua, Al Azhar di Mesir, tidak pernah menambahkan label islam dibelakang nama kampusnya.”
    artinya?
    simbolitas, penegasan, penguatan, dibutuhkan ketika kita jauh dari sumbernya.
    ketika kita dekat, atau berada di sumber itu sendiri, maka simbol itu tidak lagi diperlukan.
    kesimpulan?

    heheheh… kayaknya masing-masing aja deh. itu juga cuma obrolan ngawur adek ama kakaknya :)

    ****Simpulan cerdas: simbolitas, penegasan, penguatan, dibutuhkan ketika kita jauh dari sumbernya … Gambaran sesunguhnya masyarakat kita. Ketika label lebih menarik dari isi. Dan, … semua itu berawal dari sistem pendidikan yang salah kaprah, dilaksanakan seadanya, dan ‘diatur’ oleh mereka yang tidak mengerti makna (pendidikan). Tu … dari 35 Mendiknas(bud), ngak ada yang berasal dari rumpun pendidikan, pendidikan di bawah ke ranah politik. Untuk mengatur pendidikan (Kadinas), siapa saja boleh, asal … jangan yang ngerti pendidikan he he .

    Saking tidak mampunya mengurus bidangnya, malah ngurus pendidikan … lari dari tanggung jawab merebut tanggung jawab yang lain … semakin jauh dari sumbernya … dan merasa benar he he. Maaf, kalau Mas do ngak tahan … ntar ngak dicandai lagi deh.

  5. By mathematicse on Jan 8, 2008 | Reply

    Hahahaha… gelarnya kebanyakan. Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji, Drs. Ersis WA, B.A., M.Pd, ….

    Hmmh klo saya sih, pengennya ga usah nyantumin gelar (malu). (hahahaha.. emang belum punya gelar sih… :D )

    Btw, klo seseorang (sebut namanya Tukul) sudah pernah ibadah haji sebanyak 100 kali, gelarnya apa dong? Apakah gini: H.H.H.H.H.H.H…. Tukul? Atau $latex H^{100}$. Tukul? :mrgreen:

  6. By mathematicse on Jan 8, 2008 | Reply

    Aneh, di sini ga bisa pake LaTeX euy…. Simbol matematikanya ga jadi… (kenapa ya?) :?:

  7. By unai on Jan 8, 2008 | Reply

    Pak, kalo ada yang marah karena gelar hajinya ndak dipake mungkin karena biaya naik haji itu mahal…hehe canda canda pak…

  8. By unai on Jan 8, 2008 | Reply

    eh iya, saya senyum baca komennya Edo dan Mathematicse..hihihi

  9. By gempur on Jan 8, 2008 | Reply

    Pak, usul, gimana jika mereka2 yang kelebihan duit gak perlu berangkat haji berkali-kali, cukup satu kali aja, ntar sisanya buat memberangkatkan mereka-mereka yang tak mampu secara finansial tapi secara ilmu dan mental sudah memenuhi.. setuju nggak pak?!

    *dalam hati berharap, ada yang mau mberangkatin saya naik haji.. hehehehe*

  10. By gempur on Jan 8, 2008 | Reply

    Satu lagi pak! Bisa jadi gelar Al-hajj di depan nama itu sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang telah menunaikannya, mengingat kompleksitas syarat yang kudu dipenuhi dalam melaksanakan haji. Mulai dari fisik, mental, harta, prosesnya terutama ilmu sebagai bekal ibadah. Sementara ibadah-ibadah yang lain tak menuntut syarat seberat haji.

    Dulu, berangkat haji naik kapal [perjalanan laut] membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun perjalanan PP. Apa karena beratnya ibadah tersebut menjadikan orang yang menunaikannya layak bergelar al-hajj? Bisa jadi demikian.. Beda dengan sekarang, maksimal 2 bulan [itu sudah terlambat banget] dan paling cepat 2 minggu, seseorang sudah bisa menunaikan ibadah haji.. Mudah2an saya salah! ;-)

  11. By gempur on Jan 8, 2008 | Reply

    Gak afdhol kalo gak hettrick heheheheh

    bagus tuh komentar mas edo, tapi, penggunaan gelar haji setau saya tak hanya ada di Indonesia, tapi juga beberapa negara lain, misalnya namanya ‘alhajj mahmoud abbas’, maka bisa ditebak bahwa beliau pernah naik haji.. coba cek di paman google, insya Allah bny dijumpai nama-nama asing menggunakan gelar ‘al-hajj’..

  12. By meiy on Jan 8, 2008 | Reply

    hahaha saya tertawa sendiri dg tulisan ini pak. pernah baca juga sebagian dibuku bapak. saya dari dulu emang anti gelar, setuju dg bos pertama saya yg orang asing, nanya, “kemampuan kamu apa?” Jadi bukan ijazah kamu atau gelar kamu. apalagi gelar haji, aneh aja, hahah setuju dg pemikiran ini pak!

    dulu kalo ke jkt tante saya yg pake jilbab sering dipanggil bu haji, padahal belum :D

  13. By meiy on Jan 8, 2008 | Reply

    setuju bagi yg ‘hobi’ naik haji berkali2, apa nggak lebih baik bantu tetangganya yg miskin, atau tetangga jauh kalo ngga punya yg dekat yg miskin. rakyat Indonesia byk yg melarat…

  14. By Mega on Jan 8, 2008 | Reply

    Mau koment alinea yg pertama: Kalau Uda juga pernha bilang pengikut nabi dulu karena awak tanya rambutnya gondrong…hehe

    Nah kalau gitu ntar istrinya juga bertambah dung yah hahaha…kan pengikut nabi katanya..:P…**ikutan guyon..

  15. By Mega on Jan 8, 2008 | Reply

    Orang kita kan gelar itu yang paling utama dan dibanggakan..
    Pernah aku sharing juga tentang nama dan gelar dgn beberapa teman chatting..eh ada yang punya teman katanya demi gelar Haji itu dia bersusah payah mendapatkan sertifikat naik haji..katanya ada dan bisa mendapatkan sertifikat Haji itu..
    Dunia duniaa..ajaib dech..Poning awak..!

  16. By edo on Jan 8, 2008 | Reply

    personally, theres no problem tentang gelar. wajar kok. kayak kuliah aja. masa cape2 kuliah ngga bole make gelar didepan nama kita :).
    cuma akan menjadi berbeda, ketika kita yang menekankan “eksistensi” itu, atau eksistensi itu diberikan oleh orang lain.
    saya fikir kita juga harus hati2 di area esensi dan filosofi dan kaitannya dengan implementasi. ntar semua orang yang make gelar kita salahin kekekkeke..

    pendidikan? setuju bang. banyak hal konyol disana. selama 3 “tempat lempar jumroh” di negara ini : departemen pendidikan, kesehatan dan agama dibenerin, masih menjadi area bancaan politik, maka ya kita akan gini2 aja.

    menariknya gerakan massa seperti blog, media massa, demonstrasi, dan sebagainya, adalah gerakan seperti ini punya potensi untuk membawa paradigma baru, dan memberikan perubahan dalam mind set kita. so, gulirkan saja terus issuenya, agar banyak orang semakin aware.
    pendidikan? banyak banget dosa disini. saya sampai berfikir, tidak pernah ada universitas di Indonesia. yang ada adalah multi-fakultas. masa lalu juga sudah berdosa, membuat kasta bahwa saya lebih bangga anak saya masuk IPA daripada IPS, karena masuk IPA artinya pinter. masa lalu juga sudah berdosa, anak2 diforsir sedemikian rupa, sehingga justru mematikan kreatifitas, dan melahirkan kondisi kelelahan ketika kuliah. padahal anak2 sampai kelas 3 SD, hanya perlu “bermain”. kembali, dosanya kebanyakan hehehhe…

    masih di area pendidikan, ada diskusi menarik dengan orang yang punya power cukup kuat di Diknas
    sebenarnya, ketika kurikulum dirancang dalam kondisi bagus. dari tim ini naiklah ke mentri. lalu waktu itu (seperti sekarang) adalah masa kampanye. mentrinya butuh bahan kampanye. issuenya waktu itu adalah korupsi. lalu si mentri akan minta, masukkan korupsi dalam kurikulum pendidikan kita.
    lalu naik ke DPR. DPR juga butuh issue tertentu. lagi2 soal populis. ada issue narkoba, ada issue video porno. lalu semua dipaksakan masuk kurikulum.
    ujung2nya? kurikulum ideal yan dirancang awal, tinggal 30%. kurikulum tentang budi pekerti kalah oleh kurikulum narkoba. padahal kalau kita paham, pendidikan tentang budi pekerti bisa menyelesaikan issue soal narkoba, video porno, dan korupsi. kok gitu? karena kita senang populis. kita senang instant. kita terlalu egois, maunya apa yang kita usahakan saat ini kita yang menikmati. bahkan kita dengan anak cucu sendiri sangat egois. kita belum siap seperti sukarno yang bahkan belum sempat menikmati hasil kemerdekaan yang digagasnya.

    pesimis?
    wah, maap, saya sudah bosan berpesimis hehehhe…
    kekecewaan saya atas dunia pendidikan seperti tulisan berikut :
    http://www.edo.web.id/wp/2007/10/25/universitas-atau-multifakultas-pembelajaran-di-jalan-tol/
    http://www.edo.web.id/wp/2007/09/01/departemen-perdagangan-pendidikan/

    atau kekecewaan atas bangsa ini seperti ditulisan saya berikut :
    http://www.edo.web.id/wp/2007/11/02/republik-instan/

    tidak bisa menutupi kebanggaan dan optimisme saya sebagai masyarakat Indonesia seperti saya tulis disiuni :
    http://www.edo.web.id/wp/2007/12/14/indonesia-30/
    http://www.edo.web.id/wp/2008/01/02/2008/

    so?
    saya bangga sebagai rakyat Indonesia!

  17. By edo on Jan 8, 2008 | Reply

    satu pertanyaan buat yang sudah naik haji :
    apakah masih wajib hukumnya kita naik haji jika tetangga kita mati kelaparan?
    naik haji = beli dirham, jual rupiah. saya bukan orang ekonomi. tapi setau saya, proses ini membuat nilai tukar rupiah menjadi lemah. daya saing bangsa turun. negara makin miskin. masihkan penting naik haji dalam kondisi negara sedang krisis seperti tahun 1997-1998?
    saya masih punya toleransi tentang haji. karena katanya Tuhan mewajibkan haji bagi yang mampu.
    tapi sekarang, juga sudah jadi trend untuk umroh.
    so, bagaimana dengan umroh? dengan pertanyaan yang sama, masihkan penting umroh ketika saat ini masih ada 39.7 jt (17.75%) rakyat miskin versi BPS or 49.5% menurut world bank (kata pak wiranto)?

    tanya siapa?

  18. By gempur on Jan 8, 2008 | Reply

    @ edo

    satu pertanyaan buat yang sudah naik haji :
    apakah masih wajib hukumnya kita naik haji jika tetangga kita mati kelaparan?

    Di tempat teman saya di daerah Banyuwangi, yang namanya naik haji itu sakral, tak sekedar wisata dan pamer kaya.. Sebelum mereka berangkat haji, mereka pamitan dulu, kalo ada tetangga yang sakit dan tak ada dana, dibantu dulu, dikenyangkan dulu para tetangga2nya, setelah itu, mohon do’a dan diikhlaskan atas semua salah. baru setelah itu berangkat haji.

    Ribet memang, tapi haji memang harus benar-benar mampu dan tidak meninggalkan kesan buruk bagi sekitarnya. bahkan seperti pamit mau mati?!

    Yang aneh dari negara ini, banyak haji, tapi masih banyak korupsi! ;-)

  19. By Siti Jenang on Jan 8, 2008 | Reply

    kabarnya ada jatah tahunan bagi pejabat negara. disertai paket-paket yang jauh dari kesan bersahaja. kalau perlu pintu ka’bah dibuka. mereka berangkat dengan uang rakyat. pulang dari sana bisa menaikkan citra. apa masih ibadah namanya?

    *kabuuuuuuuuuuurrrr* :mrgreen:

    ***Ih … yang Abidin itu yang Mas Jenang. Ntar kalau diberi jatah mau he he (mudahan ngak).

  20. By edo on Jan 8, 2008 | Reply

    “Di tempat teman saya di daerah Banyuwangi, yang namanya naik haji itu sakral, tak sekedar wisata dan pamer kaya.. Sebelum mereka berangkat haji, mereka pamitan dulu, kalo ada tetangga yang sakit dan tak ada dana, dibantu dulu, dikenyangkan dulu para tetangga2nya, setelah itu, mohon do’a dan diikhlaskan atas semua salah. baru setelah itu berangkat haji.”

    wah.. sepertinya perlu disosialisasi tuh.
    wong boro2 pamitan haji.
    prasaan sih kl di jkt banyak kok yang tetangga kiri kanan aja ngga kenal kekekeke

    ***hmmmmm (?). Asyik punya juga tu.

  21. By edo on Jan 9, 2008 | Reply

    “Maaf, kalau Mas do ngak tahan … ntar ngak dicandai lagi deh.”

    eh, becanda to bang? hihihihi… tenang bang tenang.. udah biasa kok hehehhe… dilanjut bang:)

    ***He … he … syukur.

  22. By erander on Jan 13, 2008 | Reply

    <blockquote>Rukun Islam saja didiskriminasi, apalagi yang lain ..</blockquote>

    Dalam banget pak Web .. kutipan tersebut relevan banget dengan apa yang terjadi saat ini dinegara ini. Dan kita sering ‘terpesona’ dengan ’stempel’ dari pada makna. Ibarat surat resmi .. belum sah kalau tidak ada stempelnya. Padahal .. inti dari surat tersebut adalah apa yang tertulis diatas kertas tersebut. Apakah tidak ada stempel, membuat kerta itu menjadi tidak ada arti??

    Hal inilah, yang kemudian dimanfaatkan oleh orang2 yang pintar dalam melakukan kemasan. Lebih gampangnya, saya contohnya produk barang antara barang yang dikemas dengan apik dan box yang manis dengan barang yang dikemas apa adanya, memberikan dampak jual yang berbeda.

    Pada umumnya, orang lebih yakin dengan barang yang dikemas dengan begitu meyakinkan dari pada barang yang cuma dibungkus kertas dan diikat karet. Padahal bisa saja, mutu barang nya sama atau bahkan lebih baik dari barang yang dikemas lebih canggih.

    ***Anologi stempel bagus sekali. E … di Barat sono, ini bagusnya, kalau surat sudah punya kop surat, ya ngak perku lagi stempel. Serempel agar ada salam tempel kali he he

  23. By WIEN on Feb 6, 2008 | Reply

    subhanallah..alhamdulillah Allah masih mo tunjukin bhw masih bnyk org yang ngaku ngaku ngikuti sunah Rasul tapi ga tau apa yang mau diikutin.biar aja deh yang bangga sama gelar.ketauan kan kualitasnya. tape deeeeh

    ***Kita pertama-tama, belajar untuk perbaikan diri sendiri, kemudian sesama. Maaf kalau keliu, saya dalam belajar.

  24. By AG on Feb 15, 2008 | Reply

    Ikutan nich, menarik sich!
    Kayaknya yang pake gelar Haji itu kebanyakan bapak-bapak dech (atau yang merasa bapak-bapak) :) Rekan-rekan saya yang masih muda-muda :) dengan umur bervariasi sampai paling tua mungkin 45th, kayaknya nggak ada yang pake gelar Haji. Pake gelar Haji kan menambah beban, salah satu yang bisa diambil dari pelaksanaan Haji, kita itu semuanya dipertegas adalah satu sumber, satu tujuan, satu alam, satu misi, satu..satu..satu keluarga. Setelah pulang Haji harus punya attitude, bahwa umat islam itu satu sama lain adalah satu badan.. jadi kalo dapat rejeki harus dibagi-bagi donk he he he.

    ***Ya soal esensial yang dikaburkan menjadi penanda keduniaan kali. Niru Rasulullah saja habis perkara.

Post a Comment