Go Blog: Efisiensi Waktu
7 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
DEMI WAKTU. Ada teman yang ‘ngledek’ membaca postingan Menulis Bersama Gubernur dan Go Blog: Menambang Ilmu Mengikat Silaturrahmi. Kesan narsis sebagai orang sibuk, gimana gitu. Ah, bagi saya biazza-biazza sazzza tu.
Dulu, ketika Erwin DN masih di Kalsel, bersama Jaya DS dan Ogi FN, istilah saya, ‘bernafas’ saja susah. Disamping kami sibuk bekerja, membangun komunitas ESQ Kalsel dan Radar Banjar Peduli (RBP) —jejaring Dompet Dhuaffa Republika. Kami pendirinya. RBP kini menjadi lembaga sosial tangguh; berpartisipasi bila ada bencana nasional.
Tahun 2007, sekalipun sebenarnya sibuk juga, undur diri dari banyak aktivitas dan beralih ke membaca, merenung, tafakur, menatap diri. Hasilnya: Menemukan kekeliruan-kekeliruan dalam hidup. Yang paling menyakitkan: saya Muslim yang belum Islam. Semoga Allah SWT melimpahkan petunjuk dan rahmatNya di jalan yang Dia bentangkan. Amin.
Kesimpulan yang didapat: Menjadi Muslim (kaffah) itu tidak mudah. Saya masih harus berjuang lebih keras melawan diri. Berbahagialah mereka yang telah Muslim sesungguhnya. Moga-mogaan Allah SWT menuntun hamba yang hina dalam pencarian, dan semoga perjuangan itu adalah amal itu sendiri. Amin.
Menjadi Muslim, misal bagian kecil saja, sebagaimana dicontohkan Firman Allah SWT melalui Jibril kepada Muhammad, iqra’, iqra’, iqra’, saja kadang ditawar-tawar. Mulai membaca agak serius (bukan membaca buku saja), terutama ‘ ke dalam diri’. Banyak, sangat banyak yang perlu dikoreksi. Inilah perjuangan hidup dan kehidupan sesungguhnya.
Pada ketika berjuang memperbaiki kehidupan, waktu terasa semakin sempit. Tetapi, setelah dievaluasi hasilnya — kalau dapat dikatakan demikian— lebih nyata. Istilah saya, ‘melipat waktu’. Dalam lipatan itu berbuat. Setidaknya, misalnya, tulisan semakin subur. Setahun bisa ekuivalen dengan 10 tahun. Lho?
Saya tidak paham jua. Menulis itu bak menghela nafas. Kalau sedang nyetir atau diskusi, bahkan ketika berbincang, menulis di otak. Menunggu antrian mandi —rumah saya kan bukan rumah gedongan— menulis dan adakalanya satu tulisan kelar. Membaca juga begitu. Entah kenapa, tehnik membaca dirasakan lebih yahud. Misal, membaca beberapa buku sehari. Entah kenapa, kalau membaca sesuatu, ingat: Oh ini sudah dibaca di buku lain, langsung lompat. Oh ini belum, tatap serius. Dan, selanjutnya.
Dengan kata lain, penggunaan waktu menjadi efisien. Mengambil keputusan lebih cepat, dan jarang ragu. Ada waktu, ya cesss. Selesai. Disarikan dari peringatan Allah SWT, surat Al Ashr (Demi Waktu). Mana pula terinspirasi ‘waktu’ mimpi; satu menit tapi durasinya panjaaaang. Lebih asyik, inspirasi perjalanan Raslullah ke Sidratul Muntaha —berkecepatan cahaya, phantom — dalam semalam. Lagi pula, bukankah komputer sekarang sudah pakai prosesor quark core? Core2Dua sudah usang.
Bukankah, ketika kita berpikir, menulis sambil berpikir, musik mengalun, dari radio atau TV terberita Benazir Butho ditembak, atau anak minta izin main band, secara bersamaan ‘diterima’ dan diputuskan sangat cepat? Otak kita prosesor unlimited kali ya. Kog baru sadar, he he. (Dasar goblog gua ya)
Jadi, pengetahuan, waktu yang panjang, suasana atau apa saja, kalau tidak didayagunakan untuk seuatu, ya tak banyak manfaatnya. Ketika kita mengambil keputusan membeli buku Da Vinci Code, Dan Brown, terbelilah buku tersebut. Padahal, seumur hidup tidak membeli buku-buku Muhammad SAW, kalau membeli Al-quran, kog susah amat. Ituklah pilihan.
Seperti kalau bicara tentang Si Anu, makanan anu, pusarnya Si Anu yang terlihat, dan bla bla, kita punya waktu. Tapi, kalau untuk menulis, untuk ngeblog, anak menangislah, kecapean, atau lainnya. Pokoknya banyak alasan.
Ketika alasan direvolusi dengan melakukan sesuatu efisien, segala sesuatu lebih mudah. Apalagi, ah apalagi ‘hanya’ menulis, ngeblog. Kalau, harus tersedia waktu khusus, tempat khusus, suasana bathin khusus, jam-jam khusus, …. preeeet. Alasan gombal saja. Sebaiknya, kalau ada waktu, ada kesempatan, lakukan. Kalau sibuk bekerja, cari uang, jangan menulis, jangan ngeblog, itu goblog namanya. Yang utama dan penting, menulis dan ngeblog penambah gairah kehidupan. Jangan sampai membeban.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Januari 2008.
Silakan baca juga:













17 Responses to “Go Blog: Efisiensi Waktu”
By Mega on Jan 7, 2008 | Reply
doh..membaca postingan ini merasa tersendir berat deh euyy…
Iyahh ntar aku nge-blog lagi deh..biar ga dikatain Go-Blog..:)) ha ha ha
***Ah jangan gitu ah, merasa bersalah nich. Oi tobat, mana alamat barunya. Ternyata, anak-anak di kantor pada nyerah … katanya kalau mau kirim buku ke Belanda (Al Jupri) ongkosnya Rp.400.000,00. Wuh ke Jepang berapa tu? Bisa ngak jadi nic, he he ngirim ke Jepang. Harga bukunya saja ngak sampai setengahnya.
By Anang on Jan 7, 2008 | Reply
menulis yang penting hasrat terlampiaskan…
***Itu satu pemicunya, setujuuuuuuuuuuu
By Mega on Jan 7, 2008 | Reply
Hehehe..kan awak dah ngiirim mail semalam..ga di chekout yak..:P
benaran lah,,jangan main2 mau ngirim kertas.ke LN.berat boo..
Buku awak disimpan aja dulu..ntar kalau uda jadi tugas ke JP dibawain sekalian aja deh..mana tau kalau disimpan jatahnya bisa aja tuh buku ku jadi tambah banyak..LoL..berharap boo..
Makasih ya
By Kurt on Jan 7, 2008 | Reply
Bener sekali bang, waktu bukan alasan.. tapi memang ada2 saja sih alasan yang dibuat2 buat istirahat ngeblog… seperti kawan-kawan kita. Eh asya juga ding…
***Ya ya, tapi semua kita punya kemerdekaan to. Ya, silahkan saja memilih.
By ichal on Jan 7, 2008 | Reply
bener banget sih pak!
kalo alasan waktu bisa di kesampingkan.
maaf jarang ninggalin jejak walapun sering mencuri kata2 dari sini, bukan keterbatasan waktu tapi …. uang, hahaha!!!
***Yoi sama saja, saya juga berkunjung kog ke blog sampeyan … belajar bikin puisi.
By gempur on Jan 7, 2008 | Reply
<blockquote>Menulis itu bak menghela nafas. Kalau sedang nyetir atau diskusi, bahkan ketika berbincang, menulis di otak. Menunggu antrian mandi —rumah saya kan bukan rumah gedongan— menulis dan adakalanya satu tulisan kelar. Membaca juga begitu.</blockquote>
ini sangat mengisnpirasi.. bisa saya bayangkan betapa nikmatnya pak Ersis dalam menulis. Mungkin analog dengan ini kale pak, ‘Menulis itu sperti buang air besar’.. maaf gk bermaksud jorok atau mengejek.. SUMPAH enggak! maksudnya, justru kalo tak menulis sepertinya akan membuat pikiran dan otak meradang ya Pak!
Wah jadi tambah semangat nih untuk menulis.. hehehehehehe.. makasih pak!
***He he Sampeyan belum baca kali Teori Berak Menulis, tu ramai setelah dikutip http://www.urip.woedpress atau dibuku saya Menulis Sangat Mudah, bagian Teori Berak. Banyak bilang, asyik membecanya.
By unai on Jan 7, 2008 | Reply
hehe lagi lagi bener kata Bapak. Barangkali apa yang saya ucapkan, kalau ditulis sudah setebal apa ya bukunya? MEnulis adalah bentuk penghargaan atas diri kita ya kan pak, entah tulisan mutu atau nggak..yang penting nulis aja. Karena yang tertulis itu akan mengabadi, bukan begitu Pak?
***Menulis menghargai diri sendiri … siip … berarti tingal tulis dong.
By meiy on Jan 7, 2008 | Reply
Pak bisa nggak tulisan bapak ini langsung di print per halamannya? ambo gaptek ko ha hehe
kdg ingin baca di rumah bawa pulang.
***Dengan senang hati. Pokoknya siapa saja yang mau, silahkan unduh … Saya yang minta terima kasih, soalnya memang dimaksudkan agar dimanfaakan (kalau ada) oleh siapa yang mau. Gimana perjalanan di ‘alam nyata’; aku ngiri lho dengan aktvitas Sampeyan.
By Siti Jenang on Jan 7, 2008 | Reply
buat saya menulis jadi sarana mengasah cara berekspresi. paham itu bagus, tapi membagi pemahaman itu lebih bagus. melihat dengan jelas itu anugerah, tapi membagi penjelasan itulah hikmah…. muahahaha… *terus terang dulunya saya gak bisa nulis kayak gini, paling banter mirip skripsi*
***Wah aku suka kata-katanya, tambah lagi dong. Tapi,kalau suatu kali keluar dalam tulisan saya, ya ikhlaskan ya. Salam makasih.
By sawali tuhusetya on Jan 7, 2008 | Reply
Hahahahaha
kadang2 kalo sibuk kerja, jadi tulisan pun kadang2 *halah* jadi tulisan “cret”, pak ersis, hehehehe
otak mau ngomong begitu, eh yang muncul malah begini. Ngeblog kadang2 memang butuh kejernihan pikiran ketika otak ndak buntu. *halah*
wah, kalo yang ini setuju banget, pak. bener sekali. Menulis bagaikan menapaki puncak2 ekstase imajinasi dan pikiran. *halah*
By mathematicse on Jan 7, 2008 | Reply
Mau OOT nih…
Waduh jadi ngerepotin nih…
Pak kalau harga kirimnya kemahalan, dikirim ke alamat kantor ini aja:
Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Jln. Dr. Setiabudhi no 229 Bandung. Kode pos 40154
Telp/Fax. 022-2004508
Terimakasih…
***Ya kata anak-anak di kantor, bujet untuk ke Belanda dan jepang, luar biasa. Maklum kami ngak biasa berurusan dengan LL. Wah kalau ke Bandung mah lebih asyik Kang. Kesana aja, siiip.
By hanna on Jan 7, 2008 | Reply
terseret aku dalam gelombang kata
terbuai sebuah cerita
kisah mata yang tumbuh di kepala
wahai angin segala arah
berhembuslah…
akhiri semua cerita sampai di sini saja
By unai on Jan 8, 2008 | Reply
saya mampir, belom ada yang baru lagi pak
By meiy on Jan 8, 2008 | Reply
Pak maksud ambo bisa nggak ditambahkan itu lho yg ada gbr printer di postingan trus hanya postingan itu yg ke print? maaf byk permintaan
ambo mendukung pengurangan pemakaian kertas, tp utk tulisan bapak pengecualian hehe..keren sih jadi gak sia2 hutan ‘membiayai’ nya!
tulisan bapak ttg waktu selalu keren. tapi menurut aku setiap orang punya sikon yg berbeda, prioritas waktunya, fasilitas yg dimiliki utk go blog, dsb. Yg punya fasilitas sendiri di rumah, pakai kompi or hp, bs lebih bebas. tp kalo kaya hp saya, dr jaman batu heheh…saya sendiri kalau ke hutan terbebas dr itu semua, sisi lain yg saya nikmati terbebas dr teknologi dan menikmati hening n nyamannya alam.
Hanya…asal seperti kata bapak, semuanya dilakukan dengan senang saja, nggak merugikan diri apalagi orang lain.
bagi saya sendiri ngeblog memang menyenangkan tp tak bisa saya lakukan lama2 krn hanya disela waktu kerja, sambil menyusui si kecil sambil donlod imel ktr…hehe emang pake fasilitas ktr, dan saya takut korupsi kalo ngeblognya sampai menghambat kerja. saya sendiri termasuk orang yg sangat keras terhadap halal haram (serius amit). 7 tahun lalu sewaktu saya memegang manajemn ktr, masalah tagihan telpon, internet, pemakain kendaraan adalah masalah besar. tetapi setelah diatur pemakaianya dan ‘undang2nya’ dibuat, kita dibebaskan memakai telpon asal…akhir bulan dibayar, dan skrg internet dibebaskan krn sayang nggak dipakai, asal…tidak melebihi jumlah yg harus dibayar perbulannya. dan ttg kinerja setiap staf lbh dituntut bekerja dg output oriented drpd sekedar kerja memenuhi jam kerja saja atau saat ada bos saja. jadi kita bekerja ada bos atau tidak, bertanggungjawab sbg orang dewasa.
kdg saya heran saja ada orang yg bisa BW n ngeblog seharian dr tempat kerja, wah hebat, saya pikir sikon dia menyenangkan, apalagi tanpa mengurangi kinerja, tdk korupsi… hebat itu hehehe…
dan maaf nih saya mikir; gimana kalau bapak bukan bapak2 tapi ibu2 yg masih punya bayi masih ASI, punya anak 5, seabreg kegiatan seperti skrg, nggak punya pembantu, pastilahlah ngeblog jadi bukan prioritas kan hehehe…
aduh ini postingan atau komen ya pak? lagi semangat pak!
By meiy on Jan 8, 2008 | Reply
itu pak ada hikmah dr alam nyata di blog

kapan2 rencanakan ke rimbaku ya pak, mampir, kenal2an dg orangutan
By ayes ngasong on Jun 9, 2008 | Reply
Lagi lagi kekerasan atas nama agama.
Disarankan , jangan pernah percaya kalau ada yang bilang ISLAM adalah Agama….!
ISLAM itu bukan agama , bosss……..!
gak percaya…….? coba dateng ke : http://islamreguler.wordpress.com
***Yoi.
By lilamr on Aug 5, 2008 | Reply
renungan yang bagus
makasih pak sdh diingatkan