Ngeblog: Candu dan Finasial

5 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

FINANSIAL. Ngeblog tentu memerlukan dana. Apalagi, kalau menjadi candu. Kecuali bagi mereka yang membisniskan dan atau memanfaatkan sebagai peluang bisnis, pada dasarnya ‘menguras’ fresh money. Kita memerlukan komputer atau laptop, jaringan internet. Rekening telepon atau berlangganan speedy. Belum lagi kalau bayar hosting, dan bla-bla.
 
Kalau serius, ada pula yang membeli beragam buku sebagai pembeking. Duit lagi. Jangan ditanya kalau sampai ke kopi darat segala semacam. Bagi yang belum berdikari, ya ke warnet. Dana pula. Ada mahasiswa yang mengurangi jatah makan. Patut dipuji, tu.
 
Kalau hitungan dilanjutkan dengan waktu, hingga memangkas peluang menggali ‘finansial’, melakukan kewajiban pokok dan tugas profesional, hitungan finansialnya bisa panjang. Menghitungnya saja, bisa membebani pikiran.
 
Pada bulan-bulan awal kecanduan ngeblog, isteri saya dengan anggun meletakkan tagihan telepon pustaka kerja sejajar (Rp700.00an) dengan tagihan rumah (Rp.100.000an). Yah sudah, beralih ke speedy seharga Rp.200.000, e … tagihannya Rp.500.000an. Kini pakai yang Rp.400.000,00 ditambah pajak, ya tetap saja mahal. Karena sering buka di HP, tagihan HP tidak kalah garangnya. Kata siteri saya, gaji sebagai dosen bergolongan IV yang sebenarnya ngak pernah saya pakai, hanya untuk komunikasi. Setiap orang di rumah pakai HP.
 
Kalau ditambah lomba-lombaan, wah bisa bikin pusing. Tapi, apakah betul ngeblog menguras uang? Pada pada bulan-bulan pertama, mungkin ya. Sebagai PNS yang hidup sederhana, tidak berkelebihan, berat memang. Karena itu bersusah payah menerbitkan media, berkolam ikan, beternak ayam, atau penelitian ini-itu. Nah, kalau bekerja bersusah-susah lalu dihabiskan untuk ngeblog, kog konyol amat. Lagi pula tidak suka pakai fasilitas kantor. Tidak merdeka, dan ada yang menganjal di hati. Padahal punya saya, lho.
 
Solusinya, revolusi total. Nulis di blog berkepanjangan dan biasanya ada yang baca. Tau-tau ada dihubungi … minta sebagai nara sumber atau apa begitu.  Tulisan dikembangkan dalam banyak varian. Yang paling mengasyikkan jadi buku. Laris. Orang-orang cerdas akan membaca ide tersebut secara terbuka, dan tertarik, dan … ditanggap. Jadi sumber finansial.
 
Ketika sharing dengan banyak orang, banyak hal tak terduga mengalir. Disuatu malam akhir Desember minta anak-anak di kantor menjelaskan laporan. Saya kaget. Seorang bloger mengirim uang hampir Rp.30 juta. Kalau dia tidak keberatan saya mau menulis namanya. Dia mengirim sesukannya saja. Saya tidak pernah minta dibayar pada siapa pun yang sharing menulis. Kalau banyak yang mengirim uang, emang ada Hadis Rasulullah yang menolak rizki, he … he …
 
Saya agak rajin mengirim buku kepada mereka yang minta, kalau ada getaran hati memberi. Sebaliknya, sering, sangat sering, dihadiahi buku-buku. Dari pejabat pemerintah sampai petinggi partai. Ada yang mengirim puluhan buku. Karena menulis, karena ngeblog.
 
Ketika nekad mengadakan lomba menulis, Gubernur dan Walikota menyediakan piala dan biaya admistrasinya. Seorang bloger mengirim hadiah uangnya. Itu dukungan konkret. Gagasan saya di dukung. Membanggakan dan mengharukan.
 
Ada teman bilang: “Sis, aku yang kasih hadiah buat Lompa Puisi Cinta ya”. Ini bukan sok, sombong, narsis, atau pamer, apalagi riya. Itu kenyataan. Kalau teman-teman memudahkan, apa saya harus menyulitkan.
 
Gilanya, suatu hari ada ide berbagi dengan mahasiswa dan guru-guru membuat blog. Ada yang kurang ajar, mau beiruan memberi honor. Maaf, saya maki-maki. E … ketika bertemu walikota, diberi dana Rp.5 juta. Nah, ini bisa meluaskan jangkauan pembuatan blog.
 
Maksud saya, kita harus merevolusi. Saya tidak bisa bayangkan kalau buku-buku yang lahir dari blog diterbitkan, dan (doakan ya), laku. Bukankah menjadi sumber fiansial berkepanjangan? Dengan kata lain, kalau persepsi ngeblog merugikan secara finansial, ya kita balik jadi mendatangkan finansial. Bagaimana caranya, setiap kita menemukan masing-masing.
 
Hal yang jangan dipermanenkan, ngeblog menghabiskan uang. Justru, pada beberapa kasus, ngeblog mendatangkan rizki. Mana yang dipilih, itu soal sangat pribadi memang. Bagaimana kita meletakkan memindset dan melakukannya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 5 Januari 2008.

  1. 20 Responses to “Ngeblog: Candu dan Finasial”

  2. By unai on Jan 5, 2008 | Reply

    wah kalo bloger sekelas Bapak, mah apapun bisa terjadi Pak. Jangankan 30 juta, lebih dari itupun tak mustahil. Saya addicted to internet pak, hanya saja tak perlu mengeluarkan banyak uang. Karena sebagian besar waktu saya dihabiskan di kantor yang difasilitasi koneksi yang lumayan kuenceng. DI rumah, hanya sesekali saja checkmail dan ngeblog. Saya harus toleransi juga dengan kebutuhan anak ya kan pak, Masa di kantor emaknya kerja, di rumah malah ngeblog saja? hehe Jadi, uang 30 juta itu bisa untuk mewujudkan mimpi ya pak :)…Alhamdulillah

  3. By unai on Jan 5, 2008 | Reply

    Pak, Rabu besuk saya ke Padang…pengen oleh2 apa :)

  4. By Mega on Jan 5, 2008 | Reply

    Bayaran Internete mahal bener di Negeri kita yah…di JP murah meriah..mau sampe muak make internete juga bayarannya juga segitu aja..kalo di rp -in..sekitar kira2 200 ribu rupiah..

    Tapi kenapa semangat aku koq turun naik ya.. he he he

    ***Ini negra lucu. BIaya pendidikan dan kesehatan, termasuk mahal di dunia. Komunikasi? Jauh lebih mahal. Bangsa Indonesia harus bangga, membayar lebih mahal dari bangsa lain … dan perusaaan itu dimiliki negara-negara tentangga, mensejahterahkan mereka. Luar biasa kan bangsa besar ini? Kasihan kali negara-negara yang tidak punya SDA he he

  5. By STR on Jan 5, 2008 | Reply

    lha … kalo buat saya, memang ada dua jenis bloger: blogeran sama probloger. blogeran ini golongan bloger yang menjadikan bloging sebagai ajang rekreasi setelah penat berprofesi di bidang lain. sedangkan probloger adalah golongan bloger serius yang memang cari duit dari aktivitas blogingnya. tinggal sekarang mau pilih mana? jadi blogeran atau probloger?

    asiknya, jadi probloger itu seakan dibayar untuk menyalurkan hobinya (bloging).

    CMIIW

    ***Saya masuk mana ya, ah mbuh … yang penting nulis, lainnya dampak. Merdeka sajalah memilih.

  6. By Kurt on Jan 5, 2008 | Reply

    saya termasuk ekonomi warnet … emang nekat yaa.. :)

    ***Dalam illustrasi bandingan. Ada orang tak taman SD, menulis buku, ada tamatan PT, doktor pula, menulis laporan saja ngak mampu. Hayio, mana yang bermanfaat untuk umat? Terkafang hasil nyata jauh lebih penting, sarana dan prasarana bisa jatuh jadi dosa lho kalau ngak dimanfaatkan secara lurus.

  7. By Totoks on Jan 5, 2008 | Reply

    Kalau ngeblog sudah bisa mendatangkan keuntungan secara finansial ya harus disyukuri Pak. Kalau saya ngeblog sebagai sarana rekreasi dan mengasah otak untuk selalu belajar membaca dan menulis dan ajang silahturahmi tentu saja. Untuk biaya nyaris tidak ada hehehe.. karena saya ngeblog kebanyakan dikantor sambil ngisi waktu luang, domain dan hosting juga dapat dari sponsor. Mungkin suatu saat saya akan dapat rejeki dari aktifitas ngeblog siapa tahu hehehe.. kan rejeki juga gak boleh ditolak :D

    ***Alhamdulilllah. Tulisan itu sebagai illustrasi agar lebih bergaurah menulis lho, kalau ada yang gratis dan halal kenapa tidak?

  8. By hanna on Jan 6, 2008 | Reply

    Wah, kapan yach saya juga bisa ngebog plus keuntungan finansial, he he he. Orang yang baik akan dapat pahala yang baik. Meski rezki belum tiba bencana akan menjauh juga. Dapat rezki patut disyukuri karena Tuhan sayang sama kita.

    ***Amin. Amin.

  9. By gempur on Jan 6, 2008 | Reply

    Saya ambil bagian yang ngenet pake rumah dan juga pake kantor..
    yang kantor, mudah2an gak korupsi, la wong unlimited, kan sayang gak digunakan.. hehehehehe…

    Ngeblog, yang penting nulis dan nulis.. *terbawa semangat pak ersis, menulismudah.com* hehehehehe

    *** Amin. Amin.

  10. By Yari NK on Jan 6, 2008 | Reply

    Wah… saya juga ingin sih sebenarnya mendapatkan keuntungan finansial dari ngeblog. Tetapi sharing sesuatu melalui blog saja bagi saya sudah merasa senang. Lagian tanpa ngeblogpun saya toh tetep saja juga beli buku dan juga tetep langganan internet. Internet saya sekarang pakai TV kabel meskipun lebih mahal dari Speedy tapi udah unlimited jadi nggak bisa lebih lagi dari itu. Sementara kalau pakai 3.5G sih memang ada kemungkinan masih bengkak lagi, tapi untungnya di kantor ada jaringan internet sendiri dan Wi-Fi juga berseliweran di tiap tingkat, jadinya ngga perlu khawatir.

    Tapi bagaimanapun juga kebahagiaan berbagi dan berinteraksi dengan rekan2 blogger adalah sesuatu yang bagi saya, tidak bisa diukur dengan satuan nilai mata uang. Bisa jadi juga sebagai pelepas stress. Ya kan? Hehehehe…..

    Btw…. konfirmasi alamat saya via SMS sudah saya kirim tadi malam, sudah terima belum?

    ***Yoi, pokok intinya sama, yah kalau dapat rizki itu ikutan bagus aja. Ya bersilaturrahmi dan belajar yang penting. Sudah, dikirim senin.

  11. By PMB Bandung on Jan 6, 2008 | Reply

    Salam kenal dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung

  12. By edo on Jan 6, 2008 | Reply

    <blockquote>Bayaran Internete mahal bener di Negeri kita yah…di JP murah meriah..mau sampe muak make internete juga bayarannya juga segitu aja..kalo di rp -in..sekitar kira2 200 ribu rupiah..</blockquote>

    hihihi…
    jadi inget.
    waktu ngurusi kerjasama dengan jepang dalam program School On the Internet, yang dikoordinatori Keio University. kampus saya dikasih bw 6.5 Mbps. bangganya setengah mati.
    setelah mulai banyak kenal dengan beberapa associate professor disana, dan cerita waktu training di keio sana, saya jadi garuk2. ternyata bw sebesar 6.5 Mbps kl di jepun cuma untuk kindergaten. bw di kampus keio sudah pake Gbps (gigabit). asrama tempat tinggal semua 100 Mbps, gratis. kl bayar, harganya sama dengan 1 cangkir kopi di cafe pengajar di kampus (kl ngga salah sekitar 3000yen. bener ngga sih mba mega?).
    oalaaaaa… kapan yah kita bisa begitu
    -lha, ini kok ngomentari mba mega? hihihi. maap ya bang ersis-

    ***Bagus to, kita dapat informasi. Aku nunggu Mas Edo jadi Mendiknas aja he he. Bukan mahal Mas, dimahal-mahal, bukan susah Mas, disusah-susahkan. Pernah di suatu lembaga … mereka pasang speedy unlimited lalu ditambah jardiknas, nah … untuk satu ruangan aja ngak bisa bebasa pakai. Intinya, diurus orang yang ngak paham. Mudah disusahkan karena pekerjaan dilakukan oleh bukan ahlinya.

  13. By sawali tuhusetya on Jan 6, 2008 | Reply

    Ngeblog emang bener Pak Ersis bisa bikin jadi candu. tapi hal itu tergantung bagaimana pandai2nya kita memanage waktu. *halah* bagi seorang guru katrok seperti saya :mrgreen: saat liburan seperti ini banyak waktu yang bisa saya gunakan utk ngeblog, blogwalking, dan baca2 buku kalo ndak males. meski demikian, alhamdulillah, emang ada blessing in disguise-nya betul, pak. ada2 saja penghasilan tak terduga yang berasal dari luar gaji guru yang sudah menjadi jatah istri. lagian untuk saya langganan bandwith per bulan hanya 175 ribu. *halah* plus mbayar hosting Rp100 ribu per tahun dengan jatah bandwith 2 gega per bulan *halah*. pak ersis pasti ndak percaya, heheheheeh :lol: tapi bener kok pak. kalo ndak getuh mana bisa saya intens ngeblog, bisa mencari ilmu di blog pak ersis dan sharing getuh. *halah*

    *** … tergantung bagaimana pandai2nya kita memanage waktu … itu kata kuncinya. Bandwith 3 tiga ngak cukup Pak, coba bentar lagi, saya pakai 4,5 sekarang, apalagi Pak Swali … kena warning. Yang lebih penting, kalau ada niat pasti ada jalan, ya kan? Selamat berblogria, sahabat.

  14. By mathematicse on Jan 6, 2008 | Reply

    Duuuuuuh kebayang juga ya kalau nanti saya sudah pulang. Apakah saya masih bisa aktif ngeblog? Kalau pakai fasilitas kantor, malu juga nantinya… :D

    Tapi bagi saya, saya sangat senang bisa berlatih menulis di duina maya seperti ini. Banyak orang-orang cerdas memberi masukan ini-itu, sangat berharga. Mungkin secara finansial (bagi saya) belum terasa, tapi silaturahmi sudah saya rasakan. Saya bisa kenal dengan banyak orang dari berbagai kalangan, yang kalau mengandalkan dunia nyata, agak sukar… :D

    ***Ha ha fasilyas kantor ngak ada salahnya to … yang salah itu misal mobil, selama menjabat pakai mobil dinas tapi ngak digunakan untuk mengembangkan lemabag, untuk kepentingan ‘proyek’ pribadi, celaka negara. Apalagi kalau untuk isteri kep pasar, jemput anak … atau selingkuh. Nah, masuk neraka tu. Tapi, aku yakinlah dengan idealis Kang Jupri.

  15. By edo on Jan 6, 2008 | Reply

    waks..
    saya ngga ngimpi tuh bang jadi menteri heheh.. kayaknya enak jadi temennya aja heiuheiuhei..
    tapi bener ya bang. sedih juga kadang. yang pinter bukannya bikin yang bodo jadi pinter, tapi malah memanfaatkan kepintarannya dan kebodohan orang lain.
    tapi tetep optimis kan bang?
    mudah2an banyak orang yang ngga pelit ilmu kayak bang ersis :)

    ***Ha ha bisa aja. Ya kita berbuat semampu aja deh dulu. Selamat membangun mindset menjadi menteri. Amin.

  16. By Dhan on Jan 7, 2008 | Reply

    Maaf Pak, mau nanya aja, beiruan itu apa?

    ***Itu Bahasa Banjar, bahasa Indonesianya beriuran (iuran), urunan, membayar ramai-ramai kali he he

  17. By antar pulau on Jan 7, 2008 | Reply

    Dengan kata lain, kalau persepsi ngeblog merugikan secara finansial, ya kita balik jadi mendatangkan finansial.

    ————–
    Bener Pak Guru….
    Sebenarnya cuma masalah Persepsi aja….
    Satu sisi persepsi » menghabiskan uang…
    dan persepsi lain » mendatangkan uang….

    Saya setuju… :)

  18. By windede on Jan 7, 2008 | Reply

    wah… siang ini gue ke banjar om ai… sambil mikir, bakal kebagian royalti berapa nih dari yang 30 jeti…. hihihi

    * penasaran mode on *

  19. By edo on Jan 8, 2008 | Reply

    ***Ha ha bisa aja. Ya kita berbuat semampu aja deh dulu. Selamat membangun mindset menjadi menteri. Amin.

    wah… kl harus membangun mind set, tanggung bang kl cuma menteri kekekke…
    mending membangun mind set sebagai khalifah :p

  20. By bambang on Jan 9, 2008 | Reply

    wah kalo saya kecanduan internetnya pak,soal ngeblog nggak mampu utk ngurusnya..:D

    bapak punya tips utk bisa menulis lancar….saya butuh lho pak

    ***Kan sudah banyak ditulis, ngeblog dengan memanfaatkan waktu, sesingkat-singkatnya, jadi dijadikan beban. Kecanduan internet saja sudah bagus, asal jangan yang ‘kekiri-kirian’ he he

  21. By sairin on Apr 8, 2008 | Reply

    Wah tulisannya enak banget di baca.
    Saya mesti belajar banyak disini

    ***He he bisa aja … sama-sama belajar aja euy

Post a Comment