Menulis Merdeka: Go Blog
4 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
BEBAS MENULIS. Suatu kali ketika raun-raun keliling dunia memanfaatkan Google Earth, Erwin Dede Nugroho, GM Radar Banjarmasin menggoda: “Pian bikin bloglah. Tulisan akan tersimpan aman. Bagus untuk orang sepemalas Sampeyan; tulisan bertebaran tapi ngak diarsipkan”.
“Ya, jangan bicara doang bos. Buatkan”, kata saya seenaknya. Dia sahabat saya. Lahirlah blog saya di blogdrive kemudian blogsome. Tapi, ngak puas dan gairah belum kepincut. Ketika membeli komputer baru, yang lama di pakai anak-anak di kantor, arsip tulisan didelet mereka, untung ada di blog.
Ya itulah, Erwin benar. Saya belajar perduniaan maya. Dia guru IT saya, sampai sekarang. Akibatnya dunia kepenulisan direvolusi habis. Kalau dulu menulis untuk koran atau makalah seminar, kini nulis di blog, baru sebaliknya. Kalau dulu menulis buku berpayah-payah kini terbalik, bukunya yang kepayahan untuk diproduksi. Apa saja tersedia dalam seketika di ‘dunia pengetahuan’ sesunguhnya’ ini. Luar biasa.
Saya sedang berpikir, menulis neurologi, fisika kuantum, DNA, atau Andromeda, lagi pikir-pikir nich. Padahal tamatan PGAN, Pendidikan Guru Agama Negeri, he … he … Sayang dunia pengetahuan yang tak terbatas ngak dimanfaatkan.
Soal terealisasikan atau tidak soal lain lagi. Yang penting, berbuat. Satu hal pegangan, berusaha ke luar dari dunia how to know (saja) untuk neralih ke how to do. Walau, ya walau, orang awam. Memang orang awan tidak boleh nulis? Saya punya keyakinan, dunia maya bisa memintarkan sejauh mau belajar. Dan, semua itu ‘dipaksakan’ kepada murid-murid.
Belajar jangan sekali-kali dari Ersis, Ersis itu goblog —plesetan dari Go Blog. Kalau mau menimba ilmu, raihlah dari dunia maya. Keyakinan tersebut membuat ‘gila’ go-blog. Belajar (ilmu) akan lebih cepat melalui dunia maya. Setahun ini tidak pernah mau menjadi penatar apa pun. Kenapa?
Itu pekerjaan sia-sia, apalagi menatar guru. Setahunan ini diharamkan. Belakangan pakai metode baru, ngapain natar tentang sertifikasi guru, baca dan unduh saja dari internet. Saya ikut proyek —yang sebenarnya aduh— peningkatan kualitas pendidikan, kompetensi guru, di suatu daerah. Saya yakinkan, mari kita pahami apa itu sertifikasi, kita sharing, lalu internalisasi pada diri masing-masing, didiskusikan.
Jadi, kalau giat menyebarkan virus blog, di kalangan guru dan calon guru, itu dia. Seorang teman bercanda: Kalau menatar kan dapat salary memadai. Saking kesal saya jawab: Uangnya setengah haram.
Saya ingin menekankan, go-blog adalah lahan agar cepat belajar, baik dalam kapasitas pribadi maupun bersama. Berjuang melalui blog nampaknya menjadi genre kehidupan ke depan sampai batas terntentu. Go-blog adalah aplikasi sikap belajar (maaf dikit narsis, ngak apa-apa ya).
Kini, saya sungguh merdeka menulis. Bukan atas permintaan orang, tapi berdasar maunya saya. Setelah menulis di blog, kalau redaktur minta, ya disorongkan. Kalau panitia seminar minta, ya luncurkan. Paling-paling tambah ini-itu, benahi, jadilah. Ide-ide telah tercatat pada postingan blog. Dengan kata lain, menulis di blog, memudahkan dunia kepenulisan yang digeluti selama ini.
Satu hal paling mendasar yang saya dapatkan dengan sangat mudah, belajar. Ya dari di tulisan baku, blog teman-teman, komentar dan seterusnya. Status permanen saya sesunguhnya bukan Tukang Blog, tetapi … pelajar, pembelajar dari blog (internet).
Dengan belajar, tambah wawasan, dapat deh dikit-dikit atau memantapkan pengetahuan tentang sesuatu, dan karena itu menulis menjadi lancar. Inilah universitas paling bagus yang saya dapatkan. Sungguh cocok dengan berpikir merdeka dan tehindar dari guru-guru dungu (maaf adalah lho guru dungu). Saya belajar apa yang dibutuhkan. Itu yang luar biasa.
Bagiamana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 4 Januari 2008.










13 Responses to “Menulis Merdeka: Go Blog”
By unai on Jan 4, 2008 | Reply
Betul pak, sangat setuju sekali (kaya ngisi kuisioner saja)…Punya Blog banyak banget manfaatnya, bisa nulis, bisa banyak teman dan banyak saudara. BAhkan kedekatan sahabat maya yang notabene belum pernah bertemu lebih erat dibandingkan dengan teman se kantor. Kita bisa tau sedikit banyak tipikal si empunya blog dari cara penulisannya.
Go Go Blog, mari budayakan ngeblog
eh saya pertamax yah
***Ya ya aku tawakan: Bulan Februari menulis hal tertentu, terstruktur, dilakukan, dan … kemudian menulis bak sehelaan nafas.
By SHALEH on Jan 4, 2008 | Reply
Setuju…! blog bisa sebagai sarana untuk mengungkap sesuatu yang mungkin sulit dimasukkan ke koran karena banyak saingan. Dengan blog kita bisa menulis apa saja.
Jadi, ayo ngeBlog…
By gempur on Jan 4, 2008 | Reply
Saya teringat title blog saya yang lama: Go Blog Media, maksud hati untuk mengajarkan pada siswa saya bagaimana nge-blog. Blog saya, adalah media untuk belajar nge-blog, tapi apa daya, karena identik dengan goblogmedia.com milik bang Enda nasution, akhirnya dengan berat hai saya turunkan dan brganti dengan Gempur Media..
Hingga sekarang, saya capek dengan pelatihan peningkatan kualitas guru pak! Capek mengajar yang itu2 juga, mending sekarang saya minta mereka nge-blog ajah! biar tahu rasanya nge-blog.. hehehehehe
Kalo uangnya setengah haram.. mati aku! udah terlanjur dibeliin susu anak saya lho pak! Pliiiissss, bantu saya istighfar pak!
***Saya ngak persis ingat, pernah baca memang kata go blog entah di blog siapa, jangan-jangan punya Sampeyan. Kalau begitu terima kasih, idenya terserab. Kalau Endah Nasution pasti tidak, saya belum pernah melihatnya. Konon Beliau Bapaknya bloger Indonesia, jadi bukan padanan saya. Saya biar dengan para bloger biasa-biasa saja.
By Siti Jenang on Jan 5, 2008 | Reply
masalahnya kok agak nyandu juga neh… he he he… males baca koran jadinya. kalo orang media tahu bisa dihajar nih karena oplah merosot gara-gara go blog. mungkin juga mereka ambil artikel dari bloggers. istilah Wimar Witoelar kan “Citizen Journalism”.
***Setiap makhluk ciptaan Allah SWT punya bagian dan perannya msing-masing dalam kehidupannya. Salam.
By Mega on Jan 5, 2008 | Reply
Aku koq belakangan lagi malas go Blog ya..
Tapi kalau baca baca..jalannya lancar trs..semua blog orang aku jelajahi..
Go-blog..go go..keren abizz dech
***Ya ikuti saj kata hati, ngapain hidup melakukan dengan memaksa diri, iya to. Tapi, kalau belajar memang perlu mendisiplinkan diri.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 5, 2008 | Reply
Yaah, mantap banar tulisan ini.
Saya sangat setuju, saya juga mau seperti sidin, segala hal kita publish di go-blog. Dan saatnya perlu, ya tinggal di ambil gitu. Siip.
Saya berpikiran, kedepannya para politikus harus punya blog gasan melaporkan apa saja sih kegiatan mereka, ya idep-idep wujud pertanggungjawaban ke publik… iya tho.?!
***Siiip tu, idenya. Politikus bikin blog dalam semangat ‘melaporkan’ kegitan kepada pemilih, tanggungjawab publik. Ya, sampeyan mulai saja dari diri sendiri he he. Ini terobosan.
By Kurt on Jan 5, 2008 | Reply
“Saya sedang berpikir, menulis neurologi, fisika kuantum, DNA, atau Andromeda, lagi pikir-pikir nich. Padahal tamatan PGAN, Pendidikan Guru Agama Negeri, he … he … Sayang dunia pengetahuan yang tak terbatas ngak dimanfaatkan.”
hmmmm menunggu sambil tersenyum-senyum
***Ya itu mimpi. Tapi, ketika Menulis di Lintasan Waktu (tiga tulisan), ramai tu. Ada yang bilang, enak dibaca dan mudah dimengerti; ramuan neurolologi, fisikia, dan microbiology. He he hanya mimpi, mana tahu terwujud. Amin.
By edo on Jan 6, 2008 | Reply
<p>heheheh..<br />
saya sejak tahun 2001 membantu di diknas. awalnya di dikmenjur, membantu pak gatot untuk program JIS WAN (jaringan informasi sekolah), yang sekarang berkembang jadi Jardiknas. 2 tahun terakhir saya diminta bantu di PMPTK (peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan) dan diposisikan di PTKPNF (pendidikan non formal).<br />
dari dulu, pikiran saya sama dengan bang ersis. sebagai orang yang dari awal sangat IT minded (Sejak kenal IT tahun 97), saya punya pikiran yang sama. apalagi darah muda nih bang. pegang barang baru. bawaannya gemes aja ketika saya dihadapkan pada fenomena sulitnya menjelaskan posisi ICT.<br />
tapi realita bicara berbeda. insyaallah saya sadar bahwa ini bukanlah idealisme yang tergerus. bahwasannya tidak gampang menerapkan apa yang saya fikirkan meskipun banyak bukti yang menyatakan betapa di internet itu bener2 segala ada. bahwa peran guru sudah waktunya digeser dari sumber ilmu menjadi motivator, guide, etc. dalam berbagai bidang, saya melihat bahwa mayoritas kita masih butuh hal-hal yang “nyata” dan “terlihat”. bahwa generasi telah bergeser. bahwa telah terjadi pergeseran atas generasi tersebut, dan membutuhkan pendekatan yang berbeda bagi mereka untuk menerima sesuatu. bahwa generasi sekarang sudah tidak lagi bisa menerima pendekatan yang otoriter, hapalan, guru mengajar siswa mencatat, etc. bahwa sekarang siswa lebih senang sesuatu yang visual, langsung, aktivitas komunal, yang mampu membangkitkan ambang kreatifitas dan imajinasinya. sangat banyak jurnal internasional yang membahas tentang ini.<br />
saya jadi ingat tulisan pak handi irawan, chairman Frontier Consulting. beliau menyatakan bahwa di negara kita tercinta ini, konsep Blue Ocean memang sulit untuk diterapkan. Begitu pula bahwa untuk maju, konsep red ocean sudah tidak masanya lagi dipakai. So, solusinya beliau menerapkan konsep yang belau sebut sebagai purple ocean, sebuah konsep kombinasi antara blue ocean dan red ocean. artinya, indonesia memang harus “sabar” dalam “menyuapi” masyarakatnya tentang sebuah perubahan. bahwa untuk mengenalkan konsep online tetap harus dikombinasikan dengan konsep offline. bahkan mungkin, untuk mengenalkan online perlu aktifitas offline.<br />
lha, kok saya malah nyampah yah? hehehhe..<br />
maaf ya bang ersis. saya emang suka gemes kl ngomong pendidikan.<br />
btw, ini cuma pendapat. mohon maaf jika pendapat ini tidak pada tempatnya. maklum, masih mentah pengalaman bang.<br />
pak sawali tuh yang udah kenyang urusan beginian hehehhe…</p>
***<em>Alhamdulillah. Kali ini saya jumpa orang yang tepat, tapi kita berbeda pandangan boleh kan? Maaf, sebagai pengantar, bagi saya kesalahan lebih banyak pada “Orang-Orang Jakarat’. Mau contoh konyol, ada tu proyek Bimbingan Karya Tulis Ilmiah —katanya pembimbingnya huebat-huebat. Kebetulan Walikota di daerah saya ‘waras’ orangnya, guru berprestasi dan PBS diberi laptop. Saya bimbing mereka bikin web … kecele habis … ternyata ada yang belum tahu apa itu email. Konyol apa tidak? Jadilah saya kasih bimbingan utak-atik komputer, ngemail, baru ke blog. Orang-Orang Jakarta kayaknya (maaf) ngak paham tu yang namanya realitas sosial. Bagaiaman bimbingan KTI dilakukan kepada mereka yang ngak paham. Pernah ngak dievaluasi secara bagaimana adanya, bukan laporan proyek? Jangan-jangan itu biaya proyek sangat tidak sebanding dengan hasil. Contoh macam begini bertebaran.
Apa perlu saya bikin artikel lagi? Supaya uang negara untuk pendidikan itu jagan sia-sia? Coba satu contoh konkret, apa manfaat LPMP untuk peningkatan kualitas pendidikan? Saya hanya minta satu contoh konkret saja. Wow … pokoknya say gembira sangat, jadi serasa muda lagi. Wow Allah SWT akhirnya ‘mengirim’ orang yang tepat ke lumbung berpikir saya. Alhamdulillah.</em>
By Dhan on Jan 7, 2008 | Reply
“Jadi, kalau giat menyebarkan virus blog, di kalangan guru dan calon guru, itu dia. Seorang teman bercanda: Kalau menatar kan dapat salary memadai. Saking kesal saya jawab: Uangnya setengah haram.”
Nge-blog malah belum tentu dapat uang, tapi kan yang dicari memang bukan uangnya. Kecuali kalau blognya memang diarahkan buat cari uang, malah bisa jauh lebih gede daripada salary manajer.
***Yang utaman bukan ‘dapat uangnya’, … tapi kalau ada rizki ngak ditolakkan? Kalau ngarahkan cari uang, ngaklah. Kayaknya bukan pilihan saya deh.
By windede on Jan 7, 2008 | Reply
kalo punya murid pinter kayak gini… guru pasti bahagia…. hahaha…
By edo on Jan 7, 2008 | Reply
duh, bang ersis. jangan bikin saya bingung nih. dari kemaren baca komentar bang ersis saya jadi bingung mo jawab apa. grogi. please, just place me on my place. i just ordinary people who wanna be extraordinary. just like everybody here
saya mempercayai bahwa kita adalah bagian dari kelompok masyarakat yang setiap individunya diberi kelebihan, bakat, skill masing-masing. saya kebetulan individu yang bergerak dibidang IT yang memiliki ketertarikan dibidang pendidikan. thats all. so, sulit bagi saya menjawab pertanyaan bang ersis. sebagai orang awam, ada banyak sekali kegelisahan saya dibidang pendidikan. sangat. sayang pengetahuan saya masih terbatas sekali.
di diknas saya hanya mencoba berkontribusi, bagaimana sumber2 pengetahuan bisa cepat sampai di tangan siapa saja. karena buat saya informasi dan pengetahuan sama halnya dengan nasi dan lauk pauk bagi tubuh. pengetahuan adalah kebutuhan POKOK hidup. karena pengetahuan adalah NUTRISI bagi otak.
kesalahan orang pusat? wah.. menurut saya kok terlalu panjang dosa masa lalu untuk dibahas. sejarah saya pandang sebagai komparator agar saya bisa melihat masa depan dengan lebih baik. saya juga belum menjadi penguasa yang mampu memberi perubahan dengan kekuasaan. yang saya bisa lakukan adalah berbuat, memulai dari diri sendiri. berharap bisa menjadi sebuah role model, dan berharap ada banyak orang yang tertarik dan ikut. menyebar racun. persis yang seperti bang ersis lakukan.
the point is? butuh provokator seperti bang ersis, pak sawali, kang kurtubi, dan banyak blogger berkualitas, disegala bidang, yang mampu memberi perubahan, yang masih optimis bahwa ada kondisi masa depan yang lebih baik.
kayaknya kok teoritis banget ya bang? sutra lah. i do what i can do. toh tugas saya cuma berusaha. hasil biar sajalah jadi urusan Yang Diatas Sana.
maap ya bang kl komentarnya ngga berkenan. nulisnya pas lagi mabok nih hehehhe..
piss..
***Ha ha kita mulai dari gerakan opemikiran didabaling dengan tindakan nyata. Adakah orang yang dari lubuk jiwanya ingin memperbaiki pendidikan? Ada, tapi ngak banyak. Yang banyak memanfaatkan pendidikan untuk dirinya sendiri. Contoh?
Perhatikan saja rumah atau mobil ‘pengatur’ pendidikan, kalau lebih bagus dari sekolah, itu tandanya munafik pendidikan. Bagaimana mungkin merka mendermabhaktikan segala kemampuan untuk pendidikan sementara sekolah roboh, seminar dari hotel mewah ke hotel mewah lainnya, pagar rumahnya saja seharga sekolah. Fuiiih, prihatin. Gampang lihat kenyataan. Manfaatkan pendidikan untuk memperkaya diri. Auzubullahi min zalik.
Ha ha ,aaf ya. Saya berharap, kalau sampeyan dah jadi pejabat nanti, langsung saj perbaiki. Jangan munafik pendidikan; ini saya tulisan pada banyak tulisan. Salam maaf.
By edo on Jan 8, 2008 | Reply
amiiinn…
beban beratnya memang disitu bang.
siapapun yang bicara, ujung2nya apakah ketika kita yang menjadi pelakunya, kita mampu menjalankannya?
walahuallam..
By edo on Jan 8, 2008 | Reply
bang,
tiba2 kepikiran..
salah kah menurut bang ersis, ketika kita, ikut menghadiri forum pendidikan di hotel berbintang sementara realitanya seperti yagn bang ersis sampaikan?
sementara jika tidak hadir, maka kita tidak bisa memberikan perspektif kita yang berbeda. tidak bisa memberikan “alternatif baru” yang harapannya bisa menggeser paradigmanya.
contoh simple begini.
saya konsultan IT di diknas. tiap 3 bulan saya membuat laporan. misal, saya tahu ada “kenakalan” disana. namun saya belum kuasa untuk melakukan perubahan. namun, saya mengharamkan membenarkan yang salah, sehingga laporan saya adalah apa adanya. jika ada sebuah kegiatan yang memang sengaja saya tidak diikutkan karena nanti akan “mengurangi rejekinya” orang, saya hanya menulis di laporan “saya tidak bisa menjelaskan program itu karena saya tidak tau”. benar-benar tidak tau. salahkah saya?
ada banyak area abu2 memang. ini pilihan. saya cukup sadar saya berdosa dimana. yang saya masih coba jaga hanyalah sebatas jangan coba membenarkan sesuatu yang salah. jikapun saya harus melakukan dosa, saya lakukan dengan sadar. tidak mencoba munafik pada diri sendiri.
menurut saya, sebuah idealisme tergerus, ketika kita sudah mulai mencoba bernegoasiasi atas benar dan salah. so, jika harus berbuat dosa, lakukan dengan sadar.
mohon pendapat, bang ersis. saya juga mengharapkan komentar blogger2 lainnya