Menulis Tentang Komentar
3 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOMENTAR. Sekalipun kosakata komentar secara kamusis berarti ulasan atau tanggapan atas berita, pidato dan sebagainya; untuk menerangkan dan menjelaskan (KBBI, 1984: 452), saya memahaminya sederhana saja, tanggapan atas sesuatu. Sederhana. Ya, sangat sederhana, tapi tunggu dulu. Emang kenapa?
Komentar pada dasarnya reaksi kita atas aksi (sesuatu); dinyatakan atau tidak, ditulis atau bukan, diucapkan atau didiamkan. Bila seorang —maksudnya seekor— anjing pudel cantik lewat, kita akan kagum. Kalau anti anjing, bisa jijik sembari ‘melengkapi’ dengan palu haram.
Intinya, apabila indra ‘menangkap’ sesuatu, otak bekerja ‘membahasnya’ dengan entry behaviore dan dilengkapi dengan ‘persepsi’ atau ‘sikap’ reaksi berproses menjadi tanggapan. Soal ‘mengeluarkan’ tergantung masing-masing.
Dalam kaitan komentar tentang tulisan, pada dasarnya sama saja. Apabila menemukan tulisan yang menarik, kita akan membaca dan otak akan bekerja, hasilnya berupa pendapat diri yang kalau dikeluarkan menjadi komentar. Proses di otak, kalau di-slow-motion-kan bukan hal sepele. Misalnya, tulisan saya tentang Menulis di Lintasan Waktu. Terjadi proses kerja luar biasa di otak yang memakai energi tidak sedikit. Jadi, jangan anggap enteng komentar.
Kita seketika bisa membedakan aneka ragam komentar di banyak blog. Ada yang bagarah-gara, maulu-ulu, meledek, tetapi tidak sediki yang serius. Dalam halnya blog saya, saya cenderung menilai pengomentar serius. Setidaknya memberi manfaat. Buktinya, banyak masukan, ide, dan atau motivasi yang diraih. Jadi, wajar dihargai.
Kemauan menghargai mendorong memberi hadiah 55 buku kepada Hanna (138), Al Jupri (132), Ahmad Nur Irsan Finazli (110), Unai (83), Kurtubi (68), Mega (63), Yari NK (42), Sawali Tuhusetya (39), Maghfira Mimi (39), dan Syamsuwal Qomar (38).
Tentu bukan bermaksud menyepelekan yang lain. Jangankan berkomentar, bagi yang singgah di www.webersis.com saja sangat membahagiakan dan berterimakasih. Tahun ini, Insya Allah ditambah sedikit kriteria, kualitas komentar. Sedikit banyaknya komentar tentu tidak bergaris lurus dengan kualitasnya, dan … saya bukan mempersoalkan. Katakan sebagai ungkapan penghargaan. Ringkas saja.
Lebih jauh, dalam kaitan menulis, begitu saya katakan dalan chating dengan seorang bloger, adalah bentuk latihan menulis yang bagus. Bahkan, dalam membaca, menganalisis, dan menuliskannya dengan cepat. Kalau kita terbiasa menuliskan komentar kita, itulah latihan menulis (cepat) sesungguhnya. Begitu cepatnya kita mengambil keputusan, begitu cepatnya menulis, dan … manfaatnya langsung menyapa.
Sebaliknya, kalau berkomentar dibiasakan main-main, bergurau melulu, meledek, caci-maki, sok pintar, dan seterusnya, ya itulah yang berkembang. Saya mengamati dua orang ‘komentator blog’; satu serius, satu sinis melulu. Berkelana ke puluhan blog yang dikomentari mereka sampai pada simpulan, kepribadian seseorang tercermin dari komentarnya. Kalau boleh sedikit bergaya ilmuwan, sangat signifikans. Mana tahu, bisa ‘melihat’ seseorang dari komentarnya.
Sebagai tip harapan, kepada para bloger sekalian, mari kita kembangkan komentar positif, konstrutif, dan cerdas. Kita bisa bercanda, namun serius. Mengkritik sembari menawarkan solusi. Kita berbagi kegembiraan dan menebar simpati dan empati. Kita, warga negara dunia maya merdeka.
Ya ya, komentar Sampeyan adalah bumbu yang bukan saja sebagai penyedap, tetapi adalah semen perekat kokohnya aktivitas menulis.
Mari, menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagiamana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 3 Januari 2008.









12 Responses to “Menulis Tentang Komentar”
By Siti Jenang on Jan 4, 2008 | Reply
setuju pak guru. sebisa mungkin memberi tambahan wawasan, gagasan, kritik dan saran, atau usul ralat bila diperlukan. *halah bukan bermaksud minta buku*
***Ha ha … cara menulisnya itu yang saya suka.
By sawali tuhusetya on Jan 4, 2008 | Reply
setuju banget pak ersis. di dunia blogsoephere seringkali berkembang komen2 adhominem yang bukan mempersoalkan substansi postingan, tetapi lebih kepada persoalan person. ini kalo bisa dicegah. kita perlu menajamkan visi kita dalam ngeblog. bukan untuk cari sensasi atau kenetaran diri, tapi lebih pada upaya untuk saling bersilaturahmi, berbagi alias sharing, dan berdiskusi. bagi saya ok-ok saja berbeda pendapat, tapi *halah* agaknya kalo sudah menjurus ke komen ad-hominem agaknya pemilik blog berhak deh kalo terpaksa harus men-delete-nya. menurut pak ersis kados pundi punika, hehehehe
***Sangat akur. Kita berusaha setapak-demi setapak, blog dijadilan “Lembaran Al-Quran’ dalam arti membentangkan manfaat unlimited bagui siaopa saja, rahmatan lil alamin dari dunia maya. Gimana?
By mathematicse on Jan 4, 2008 | Reply
Seringkali dari komentar seseorang kita mengevaluasi diri kita. Ternyata apa yang kita tulis masih banyak kekurangan. Ternyata orang lain punya informasi lebih. Ternyata komentar orang itu menambah kekayaan artikel kita. Bahkan komentar yang bernada sinis dan ngeledek pun, mungkin yang seperti itu yang akan menambah kualitas tulisan kita nantinya. Hehehehe…
Sangat mungkin suatu artikel yang dikomentari kemudian dikemas ulang dengan menggabung ide-ide para komentator menjadi tulisan baru. Jadilah tulisan yang makin lengkap. Terus bila dikomentari lagi, ditulis lagi, jadi tulisan lebih lengkap lagi. Terus-menerus ditulis, terus-menerrus dikomentari, bisa-bisa jadi sebuah buku. (Hahahaha… ngehayal…
)
Duh, sekarang saya sudah tertinggal nih dari daftar komentator terbanyak… (tapi ah biarin aja, yang penting saya ngasih komen di sini. Kalau tak jadi yang terbanyak pun, yang penting saya bisa nyerap ilmu di sini dan latihan menulis cepat dengan komentar yang berkualitas, mudah-mudahan… )
***Ha ha ada satu kasus … seseorang mengomentari cerpen seseorang, dan cerpen itu jadi sempurna … dicopot oleh redaktur media cetak besar: Judulnya Universitas Kolam Ikan … dan ramai diduskusikan. Hayo siapa pelakunya? Komentar yang serius itu dahsyat, dan kontributif-konstruktif.
By mathematicse on Jan 4, 2008 | Reply
Oh, iya ada yang tertinggal.
Saya seringkali kurang mengerti dengan judul-judul artikel yang ditulis Pak Ersis.
Contohnya artikel ini. “Menulis tentang Komentar”
Pertama baca judul, yang saya tangkap: Cara menulis sebuah komentar; Atau Cara memberi komentar terhadap sesuatu (artikel orang misalnya di suatu blog); dll…
Atau mungkin sense bahasa saya yang kurang? Ah saya ga ngerti…
Dan juga beberapa judul artikel sebelumnya yang dipajang di blog ini kurang saya mengerti (kalau saya tak membaca isinya).
(Boleh kan Pak, sedikit mengeluh…
)
***Ya ya bagus, dan makasih. Itu gaya media: Coba kalau: Menulis Tentang Komentar di Blog, atau Menulis Tentang Komentar-Komentar di Blog Webersis, langsung dipahami dan ngak menarik. mBah Einstein menginspirasi kita: E=mc2. Asyk kan, dan penafsiran terbuka, kita ‘puising’ memahami da memaknai. Konon, Sebagai terbuka openafsiran suatu kata-kalimat semakin bagus … ini bertentangan dengan tradisi (belenggu) kampus, sesuatu harus terdefinisi secara radiks. Salam.
By unai on Jan 4, 2008 | Reply
kalau saya merasa ngak afdol bila tak mampir kemari pak, dan setiap selelsai membaca tulisan Bapak,tak afdol pula kalau tak komen. Walaupun komen saya ini tak mutu..tapi setidaknnya saya belajar menulis cepat, makasih ilmunya lah pak
***Ya ya, untuk kata-kata ‘indah’ saya belajar dari blog Sampeyan. Tapi, kalau komen ngak bisa … maaf, saya ngak tabah harus ngisi ini-itu. Dulu, saya hitung untuk kasih 10 komentar di blog yang pakai isi-ini itu, sama dengan nulis satu artikel. Namun, kan dikomen di shoutbox. Makasih.
By gempur on Jan 4, 2008 | Reply
Terus terang, saya mengenal blog ini sudah sejak lama, tapi tetap tak punya nyali untuk meninggalkan komentar.. Sejujurnya karena kualitas kelimuan pak Ersis yang menjadikan saya minder..
Tapi, terutama berkat pak Sawali dan pak Kurt yang menjembatani melalui postingannya dan di sana tertinggal jejak pak Ersis, saya mulai mengenal panjenengan lebih dekat..
Setelah mengenal, saya mulai intens dengan artikel2 bapak! Maaf ya, pak! Saya menimba ilmu di sini, mohon diizinkan..
By mathematicse on Jan 4, 2008 | Reply
Ooo gitu ya, Pak?
Kalau menurut apa yang saya baca, banyak juga media masa yang judul-judul beritanya mudah dipahami, elegan, informatif, dan kadang provokatif! Tapi tidak bikin pembaca salah mengerti ….
***Berarti itu tu yang bagus. Kemampuan tangkapan kan macam-macam, dan saya memang suka menggoda pembaca, tapi … begitu selesai membaca tulisan saya (he he narsis), oh … begitu to. Itu saya namakan strategi, biar ramai he he . Kalau judul panjang, saya ngak suka memang.
By meiy on Jan 4, 2008 | Reply
bagi saya selain menambah wawasan komentar juga untuk silaturahim pak
***Persis, perkawanan bisa akrab, dan lebih penting ya itu tadi, banyak hal bagus dapat kita serap. Apa yang kadang kita lupa atau tidak tahu terkadang didapat dari komentar. Saya banyak dapat ide.
By Mega on Jan 5, 2008 | Reply
<p>Adakalanya orang komentar bermacam2 ya.saya sering denger dr temen..suka iseng nanya..knp ga koment di blog2 orang yg sering di Intip..<br />
Dia jawab:..”kalau isi blognya sudah bagus ntuk apa dikomentari..lain kalau ga bagus baru dikasih komentar biar bisa berubah ,,itu kata salah satu temen saya..<br />
Lha..?</p>
<p>Trus ada lagi..sering juga saya tanya..seorang Dosen di Jepang..dia sering posting di Blog2nya..saya suka baca dan ikutin setiap hari..tapi anehnya dia ga suka dikomentari..dan ga suka kasih koment ke blog2 orang juga.</p>
<p>Dan ada lagi orang yang sukanya tukang koment..sampe nyuruh2 saya ntuk koment di blog2 teman2nya juga,,,tapi anehnya gini dia nyuruh2 saya,,”Koment lah di blog temenku,,dan itukan termasuk amal lho,karena telah berbuat menyenangkan hati orang (teman),,aku sering koment..walaupun sebenarnya bukan dari hati kecilku katanya..<br />
Lhaa..lha..saya tambah bingung dung,,<br />
intinya ada juga orang yg koment,,cuman terpaksa..dan parahnya ngakunya katanya;sebenarnya isi blognya ga menarik..</p>
<p>Heran ga tu..?</p>
***<em>Sebenarnya ngak usah bingung, gitulah manusia, individual differences. Kalau kita suka lakukan, kalau tidak biarkan. Jangan sampai membebani kita. Hidup dan berpikirlah merdeka. Salam. </em>
By Kurt on Jan 5, 2008 | Reply
Komentar itu sebenarnya sulit bagi saya Bang Ersis. Kesulitan itu misalnya adakah diterima komentar kita. Sementara sikon kita sendiri terkadang memberikan naunsa tulisan.
Satu hal yang kadang menyesali apa yang kita komentari itu tidak disetujui oleh penulis dengan perasaan tersinggung. Maka kalau begini jadi gak enak hati. Mau diralat sudah terlanjur. Sementara nulis kudu cepat.
Nah dalam masalah perasaan inilah kadang2 dipahami lain. Misalnya sebuah kritik terlontar pada satu bahasan yang menarik. Tetapi dipahami oleh si penulis artikel dengan situasi yang berbeda. Jadilah seolah2 memojokkan. Padahal si komentator sedang happy tidak bermaksud “menindas”.
Nah repotnya kalau begini gimana bang?
*wah dua hari gak nongol
sudah 4 tulisan nyantol
ide dan tulisan bang Ersis emang bahenol
***DUa hal berbeda. Komentar ya komentari saja, soal bagaimana respon orang, itu urusannya. Yang penting dari hati kecil tujuan kita bukan jelek. Kalau saya gitu prinsipnya. Kalau ada yang kurang sreg dan kita tahu, minta maaf. Kalau dia ngak mau, yo wis. Yo opo rek, kog dipikiran, misalnya. Jadikan segala seuatu mudah dan memudahkan. Jangan pernah mau merepotkan pikiran sendiri. Ntar rugi lho.
By abang on Jan 6, 2008 | Reply
Namanya juga komentar bung, ya terserah yang ngomentari dunk… kalo takut dikomentarin, ya nulis di buku tulis saja… bagaimana menurut sampeyan?
***Ya suka-suka memang, namun dari situlah tercermi ’siapa’ seseorang itu.
By Dhan on Jan 7, 2008 | Reply
Logikanya betul juga, komentar adalah hasil refleks pikiran. Karakter akan langsung tercermin di situ.