Puisi Cinta: Lomba Nulis Puisi Ala EWT

1 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Bismillah. Direncanakan, tiap bulan www.webersis.com, dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1430  mengadakan Lomba Puisi Cinta berbagai tema. Tiap bulan dipilih puisi terbaik. Pada akhir tahun 1429 Hijriah, pemenang bulanan, dilombakan untuk mencari pemuncak.

Lomba dimaksudkan merangsang kegairahan menulis puisi (cinta). Tidak banyak yang dijanjikan. Pememang bulanan, dapat hadiah Rp.100.000,00. Lainnya, tanpa hadiah. Pada putaran final, akan dipilih tiga pememang (1) dengan hadiah Rp.1.000.000,00, (2) Rp.500,000,00 dan (3) Rp.250.000,00. Piala dan piagam dari Bandjarbaroe Pots.

Lomba lebih akbar (cerpen) sedang digarap bekerja sama dengan media besar, tunggu saja pemberitahuan. Kami, merancang —berhadiah besar. Sponsor sedang ‘digawi’; kerjaan www.menulismudah.com.

Aturan. Tidak ada aturan. Dalam beberapa hari ini akan ditayangkan contoh. Soalnya langsung didesin dalam bentuk buku, “Antologi Puisi Cinta” guna menampung karya pemenang.

Salam Tahun Baru Masehi.

Banjarbaru, 1 Januari 2008
Ersis Warmansyah Abbas

  1. 25 Responses to “Puisi Cinta: Lomba Nulis Puisi Ala EWT”

  2. By Mega on Jan 1, 2008 | Reply

    Lama awak ga coment nich…
    sebelumnya “Met Taon Baru Uda Ersis..

    Salam puisi cinta..he he he

  3. By hanna on Jan 1, 2008 | Reply

    Wah, kirim ke mana, Pak?

    ***Cukup di komen aja. Biar ngak ribet.

  4. By fira on Jan 1, 2008 | Reply

    Ass, asik nih the poem of love…boleh tuh pak….wassalam.

    ***Yoi, buktikan. Menulis puisi itu menyamankan.

  5. By gempur on Jan 1, 2008 | Reply

    Puisi cintanya bebas tema ya pak! trus puisi yang ditulis sejak lama boleh diikutkan tidak? Belum pernah dipublikasikan yang jelas.. hehehehe.. trus, dikirim ke mana pak?

    ***Dah dijawab pada postingan khusus. Jangan sampai ngak ikut ya.

  6. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    ikutan bercinta ah… :) eh maksudnya berpuisi cinta

  7. By unai on Jan 2, 2008 | Reply

    wah banyak lomba rupanya di sini yah..saya ikutan pak kurt ah :), ikutan bercinta heheh, berpuisi cinta

  8. By manusiasuper on Jan 2, 2008 | Reply

    Pak, saya terlambat mengikuti lomba menulis itu, ampun… Kenapa saya tidak mendapat info sejak awal? Ya, penyesalan selalu datang di awal tahun…

    Jadi puisi ini saja lah sebagai pelipur lara…

    ***Ya ya … tidak ada kata terlambat. Kini, mari kita ‘tangkap’ kesempatan selagi mampir.

  9. By Yari NK on Jan 3, 2008 | Reply

    Aduh nyerah deh sekarang kalau disuruh bikin puisi cinta. Kalau dulu sih iya pas lagi jatuh cinta karena kepepet dan penuh dengan perasaan cinta maka bisa dihasilkanlah puisi2 cinta (walaupun gombal! :D ).

    Lha, sekarang nulis puisi cinta, harus diinget2 lagi, atau perasaan cinta itu harus dihidupkan kembali seperti 17 tahun lalu ketika **halaaah** pertama kali saya jatuh cinta! :D

    ***Kilas balik kan ngak apa-apa, kalau bercinta lagi asyik punya bo, he he

  10. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    Assalamualaikum,

    Wah ikutan ya Pak, siapa tau dapat rezeki. Salam dari kawan-kawan di Darul Ma’arif Jakarta. (Tolong doakan untuk kesembuhan DR. KH Idham Khalid).

    Jazakumullah..

    ***Ya ya … Salam juga. Doa kita bersama tokoh pejuang tangguh dan sangat berjasa tersebut. Hai … ada ngak niat teman-teman menyatakan kehormatan dengan menulis buku tentang Sidin? Saya dah lama kepincut. Gimana, bisa kita gawi?

  11. By lubis grafura on Jan 7, 2008 | Reply

    Assalamualaikum wr.wb

    Yth. Bpk Ersis Warmansyah Abbas

    Pak Ersis, Saya Lubis Grafura mengirimkan beberapa puisi. Mungkin lebih tepatnya banyak puisi. Berikut adalah biodata saya: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Singkat Kata

    seperti seorang gadis yang jatuh hati
    kepada seorang lelaki yang wajahnya
    larut pada laju bingkai jendela kereta
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007

    Kata tak Pernah Dusta

    rindu yang terlewat kau baca
    pada isyarat sepasang mata
    kusimpan rapi di balik kata
    dan saat kuucapkan lewat gurauan
    ternyata, luput juga kau eja
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Pada Sebuah Stasiun

    ___Dian Hartati
    Kita sama-sama memandang rel
    yang bersejajar dari awal hingga akhir

    tapi tak pernah saling bertemu
    Malang, 2006

    Pertemuan Senja

    ___Wa Oda Wulan Ratna
    Kenapa kita musti bertemu
    Pada waktu yang sesingkat itu?
    Malang, 2006

    Arbitrer

    Sepatutnya
    kuketuk daun pintumu terlebih dahulu
    daripada diam menunggu
    sebabnya
    aku sendiri tak tahu alasanku
    kenapa aku berdiri di depan pintumu
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007

    Wijayanti

    Sempat kuintip sebait kesedihan di kelopakmu
    menjelma telaga peluh yang sedang kau kurung
    bersambut kabut yang menggulung mendung
    penantianmu telah melewati hitungan jari
    seseorang yang memekarkan kembangmu
    belum juga melunasi hari yang dulu kaupinjami
    kau selalu sembunyikan derai air matamu
    pada bulir-bulir air hujan atau sisa embun tadi pagi
    tapi, kau tak selamanya bisa membiarkanku
    berdiri diam menunggu hingga layu.
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
    Di Bawah Cahaya Rembulan, Kutulis Puisi Seorang Diri

    ___kepadamu, kekasih
    Kutuliskan puisi ini seorang diri
    hanya berteman sepasang bayang
    yang dihadirkan cahaya rembulan
    yang bersembunyi di balik reranting daun jati

    dua tiga dan empat kata sudah kugoreskan
    di atas angin yang mengusik gemerisik
    bunga-bunga melati layu menjadi tirai kelambu
    menemaniku menuliskan puisi ini
    seorang diri

    lantas bulan telah merangkak naik
    memberanikan diri memandangku
    walau separoh wajahnya ditutup selendang awan
    kelabu

    tak luput dari untaian kata-kata puisiku
    kutulis juga sebuah syair untuknya
    kutitipkan juga kepada angin yang mengusik gemerisik
    dedaunan dan reranting
    berharap ada sehelai daun yang jatuh
    melayang seperti selendang jatuh
    terbawa angin masuk ke jendela kamar menembus
    tirai kelambu pada ranjang seorang perawan
    yang tengah terlelap dalam dekap mimpi-mimpinya

    kuharap daun itu jatuh
    tepat di tengah dadanya.

    Malang, 2006

    Kepadamu, Ibu

    Kau datang menyulut kendil pada ruang gelap
    merajut jantungku dari benangbenang cinta pilihan
    mendetakkan jantungku
    mengalirkan darahku
    menghembuskan nafasku
    lantas kau ajarkan kepadaku
    tentang penglihatanku
    tentang lisanku
    tentang pendengaranku
    tentang seluruh organ tubuh
    padaku
    dengan apa aku harus membayar ini semua, ibu

    kau tak pernah menjawab
    berpaling
    pura-pura tak mendengar
    “kau sudah makan siang ini?”

    jawaban itu yang selalu kudengar.
    Malang, 2006

    Pada Sebuah Stasiun

    ___Dian Hartati
    Kita sama-sama memandang rel
    yang bersejajar dari awal hingga akhir

    tapi tak pernah saling bertemu

    Malang, 2006

    Pertemuan Senja

    ___Wa Oda Wulan Ratna
    Kenapa kita musti bertemu
    Pada waktu yang sesingkat itu?

    Malang, 2006

    Dua Bintang

    ___Aziz San

    Dulu, kau pernah bercerita tentang
    dua bintang yang bersinar di langit malam-
    malammu
    dulu, kau enggan menyebut bintang
    kau lebih suka menyebutnya dina

    bintang adalah dina yaitu bintang
    sama saja bukan?

    Apapun kau sebut benda langit itu
    Kau tetap sahabatku!
    Malang, 2006

    Hahan

    ___ Handoko, untukmu
    suatu malam kau ketuk pintu rumahku
    kaugambar wajahmu sendiri pada
    mawar layu pada pot samping rumahku
    “Tolong aku, Gar. Tolong aku…”
    ada sesuatu semacam kabut yang meng-
    gelayut pada sorot wajahmu.

    Entah ini yang keberapa kesekian kali-
    nya
    jantungmu berdarah oleh cinta seorang
    perempuan. Entah yang keberapa kalinya
    darahmu membeku berhenti mengalir
    oleh dinginnya hati perempuan.

    pada gemerisik daun rambutan aku ingin
    menyampaikan kepadamu
    “biarlah perempuan itu datang dan pergi
    dari hatimu. Aku di sini tetap sebagai sahabatmu”

    dan kau pamit pulang!
    Malang, 2006

    Di Jalan Itu

    kisah kita begitu sederhana
    kau sadarkan aku akan cintamu
    ketika kubonceng kau di motor bututku
    tiba-tiba saja kau kalungkan lenganmu
    menalikan tali helm di bawah daguku
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    99 Jalan Menuju Mekah

    sepasang kekasih bercerita di keremangan
    tentang cendrawasih yang terbang ke bulan
    dan ketika kita berdiri pada persimpangan
    ingatlah ada sembilan-puluh-sembilan jalan
    Malang, Desember 2007
    Pulau Kenang

    sampanku melabuh pada pulau kecilmu
    kau hidangkan kelapa muda selembut bibir
    perawan kesepian yang belajar meramu
    sunyi pada galau yang menjadi tabir
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007

    Saat Kembali

    cuaca yang kau pesan masih sama juga
    semi pada reranting bunga bakau
    sampan tak lagi sauh, aku masih belaga
    barangkali saat kukembali nanti, masih juga kau
    Malang, Desember 2007

    Ma’rifah

    betapa hati ini sebegitu pekat
    pada hijab-hijab relung menyekat
    lewat pengetahuanmu adalah cahaya
    mengangkat derajat dari para sahaya
    menyingkap hijab pada relung pekat
    Malang, September 2007

    Mahabbah

    aku bersaksi tiada selain tulusnya udara
    yang memberikan jiwanya pada semesta
    yang nyata ada, tetapi tak berupa
    aku pun bersaksi tiada selain setianya laut
    yang memberikan kedalamannya
    pada setiap keluh ujung sungai
    mendengarkan tangis langit
    gemuruhnya ombak dalam badai
    karam dalam satu kata cintamu
    Malang, September 2007

    Makhafah

    ada yang lebih gelap dari gulita
    menjelma pusaran pada berita cuaca
    mencipta gempa pada lempeng jiwa
    adalah kedalaman pada siksa neraka
    ada yang lebih sepi dari kematian
    Malang, September 2007

    Mujahadah

    perang yang sesungguhnya telah dimulai
    adalah perjuangan melawan jiwa-jiwa rendah
    adalah perjuangan suci besar
    pada dzikirullah yang terus berkobar
    di bawah bendera al jihad al akbar
    Malang, September 2007

    Munasabah

    aku dan kau adalah sepasang kutub
    pada lauh mahfud kisah pun termaktub
    rindumu tak pernah usai kutulis
    pada pelepah-pelepah tanah
    yang samudra pun kering kujadikan tinta
    Malang, September 2007

    Kota Kenang

    kutelusuri sendiri sepi kota ini
    berharap temukan serpihan suaramu
    barangkali jejakmu yang tertinggal
    atau kisahmu yang masih tersimpan
    untuk menyulam rindu yang berlubang
    Malang, Agustus 2007
    Sekat

    batas itu sebegitu jelas
    walau kau hadir di setiap:
    sel darah dan urat nadi
    hanya lewat kematian sajalah
    batas itu akan segera tergilas
    Malang, Agustus 2007
    Setapak di Blitar

    kulewati pada musim tahun lalu
    menuju kampung kecil ke rumahmu
    sekedar berteduh menggu reda hujan
    saat kupulang, ada rindu yang tersimpan
    Malang, Agustus 2007
    Ode untuk Kekasihku

    __kepada Wijayanti
    kita bertemu pada gesekan
    dedaun dan reranting kering
    ketika angin mencoba mendahului
    setelapak tanganku untuk membelai
    rerambut panjangmu itu

    adalah dirimu ketika
    selaksa jiwa kering membutuhkan setetes embun
    dari setiap paras teduhmu
    dari setiap tutur tulusmu
    dari setiap jengkal milikmu

    lantas waktu membeku
    dedaun dan reranting berhenti
    pada satu titik tatapan sepasang matamu
    pada satu titik takdir yang suatu saat
    entah berpihak pada kita atau tidak
    dan kita masih terdiam membeku

    Tulang Rusuk

    __Wijayanti
    adalah sebentuk keresahanku
    ketika kutahu bahwa hawa adalah
    tulang rusuk adam yang hilang

    dan dari segolongan umat manusia
    adamlah yang paling beruntung
    ia yakin pada pilihannya, ketika
    memang hawa adalah satu-satunya perempuan di dunia
    pun hawa, adam adalah satu-satunya pria di dunia

    jodoh adalah sebentuk
    tulang rusuk. Bagaimana
    jika dirimu bukan tulang rusukku?
    Malang, 2006

    Madah Penantian

    : Arifiani
    perahuku tengah bersauh labuh di pulau kecilmu
    tapi aku tak jua beranjak turun menujumu, sebab
    ada pertanda yang tak rampung kueja
    seperti ombak yang tak sampai menggapai daratan
    sementara kau asyik-kusyuk bermadah penantian
    mengusung simfoni yang sebegitu merdu
    lewat orkestra angin dan pepucuk dedaun
    aku turut melagukan sebait syair yang kau tulis
    seperti pertemuan kawan lawas, rindupun terbalas
    ada aksara di syairmu yang tak bisa kubaca
    tapi aku tak beranjak turun menanyakanmu, sebab
    perahuku tengah terkayuh jauh dari pulau kecilmu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Malam Penantian
    : Dian Hartati
    kalaupun pertemuan kita dulu
    enggan berulang pada malam berikutnya
    sementara kerinduan yang kau sisakan
    belum sempat kau bagikan
    kukirim saja sajak pengganti
    suatu hari kau kan dengar ketukan pintu
    saat kau buka, itu aku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Sesajak Kenangan
    : Anam
    aku tak punya banyak cinderamata sebagai kenang-kenangan
    yang kuingat setiap subuh, pepucuk daun jati mulai belajar
    menggambar wajah matahari yang tersembunyi di balik cadar fajar
    lalu perempuan-perempuan tua menjinjing bakul menuju pasar
    kita masih bermimpi di atas karpet yang ada noda bekas tumpahan kopi tadi malam
    salah satu dari kita, diam-diam ada yang menyelimutkan koran menundung senyap
    saat terbangun, kita tak pernah selalu tahu siapa yang menjaga kita semalam
    dari dingin yang merayap menegakkan bulu-bulu remang
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Mencintaimu

    Mencintaimu musti kusiapkan pertemuan
    cukuplah aku menjelma sebatang nyala
    yang kau buang selepas padam
    pada hari-hari yang pasti akan ada perpisahan

    mencintaimu musti kusiapkan kelahiran
    cukuplah aku menjelma bulir hujan
    yang kau hapus selepas membasahi tubuhmu
    pada kenyataan-kenyataan tentang kematian

    cukuplah aku memandangmu
    barangkali kau bisa mencintaiku
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
    Isyarat Cinta yang Tak Terjawab

    kenapa aku masih berdiam diri
    saat kau mengisyaratkan cinta
    yang kau titipkan kemarau panjang
    pada hujan yang menjadikan semi

    kenapa aku masih juga tak menjawab
    senyum tegur sapamu yang lalu
    yang kau titipkan ombak beliung
    pada rumah-rumah yang tunduk ambruk

    yang tersisa tinggalah rasa

    kenapa aku masih enggan membalas
    surat-surat rindumu yang kau titipkan muhammad
    yang tak rampung dikisahkan para penyair
    hingga asat air samudra mereka jadikan tinta

    yang tertinggal cukuplah sesal
    hanya nisan masih setia menunggu
    untuk menuliskan namaku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Surat Cinta yang Tak Sempat Dibaca

    Aku meragu
    menatap nisan yang menulis separo namaku
    yang kuingat,
    aku lebih sekarat dari golongan jin yang bejat
    aku lebih bejat dari iblis yang kau laknat
    indera-indera yang kau pinjamkan padaku
    tak utuh kukembalikan padamu
    sembilan lubang yang kau tunjukkan padaku
    tak sempat kujaga seperti pintamu
    jika suatu saat, nisan merampungkan menulis namaku
    kubur memaksaku
    tengoklah aku sehari saja
    biar kutatap dan kusentuh wajahmu
    kalaupun sehari itu tak bisa membawamu padaku
    lantaran durhaka-durhakaku
    aku tlah menjadi arang yang terbuang di dasar jahanam
    sudikah kau tengok aku barang sedetik saja
    kalaupun sedetik itu tak bisa membawamu kepadaku
    lantaran dosa-dosaku
    barangkali aku tlah menjadi abu
    yang menempel di dinding-dinding nerakamu
    cukuplah bagiku kau mengingat aku
    yang dulu pernah menulis sajak cinta
    namun tak sempat kubaca untukmu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Sesajak Rindu

    Sungguh,
    jiwa ini tak cukup jera
    kalau toh mereka jadikan abu
    pada tungku api nerakamu
    tapi sungguh,
    jiwa ini terlalu jera
    bila kedatanganku pada hari itu
    kau tak sudi menerimaku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Kupu yang Hinggap di Pelipisku

    Kau kupu yang hinggap di pelipisku
    sungutmu ruas-ruas batang bambu
    sayapmu lembar-lembar daun waru
    kau bisikkan di pelipisku nama-nama
    yang tak habis kueja pada lembaran hari
    bahkan hingga ruas batang usia ini lapuk
    lantas ambruk dan membusuk
    disantap rerayap dan ngengat
    tak satupun namamu kuselesaikan
    dari sembilan puluh sembilan namamu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Puisi yang Terlahir dari Sehelai Rambut
    / Wijayanti

    Ada puisi yang terlahir saat rambut panjangmu kau sisir
    sekuntum bait pada parasmu yang terjebak di kaca
    aroma tubuhmu menjelma rima-rima,
    yang menelanjangi tubuhmu sendiri seperti kutelanjangi puisi ini

    Katakan kepadaku berapa lama pengembaraan-pengembaraan kita
    yang telah kau tandai jejak-jejaknya dengan puisi
    kelak jika kita kembali, kita tidak akan tersesat
    “akankah kita kembali setelah perjalanan panjang ini?”
    daun yang jatuh tak akan kembali menjadi semi
    asap yang mengepul tak bakalan berkumpul
    namun kau masih percaya pada pengembaraan yang kau tandai jejaknya
    : biarkan tuhan yang punya rencana, kita menjalani saja
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Wijayanti: aku pada labirinmu
    : Andris Setyawan

    Tadi malam kumimpikan dirimu
    lewat kalimat-kalimat yang diucap oleh mantan kekasihmu
    yang kini menjadi kekasihku

    Dilabirin sunyi ini tak semua ruang terbuka untukku
    ruang-ruang ada yang lekat – terkunci rapat
    ada rantai-rantai yang mengikat erat, gembok sekepal yang berkarat
    seseorang telah mematahkan kuncinya
    tak ada celah untuk mengintip ada apa di ruangan sana
    ada kembang-kembang yang ikut berkarat
    jejak-jekak kaki dan telapak yang melekat
    pada lantai-lantai relungmu
    detik jarum jam yang kehabisan batrei mengajakku ke masa lalu
    di ruangan ini pernah ada tempat yang indah
    : tempat kalian bermain – mencipta imajinasi
    seperti memecahkan misteri yang tak pernah usai
    hingga kapan kau membiarkan aku terasing di labirin ini
    bersama udara pekat dan ruang bersekat-sekat
    biarkan aku menghias kembali ruangan ini
    : tanpa harus membuka pintu yang kau tutupi dengan gembok dan rantai
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Simbur

    Mari ciptakan hujan
    biar kita bisa menari di atas tanah-tanah basah
    mari ciptakan hujan,
    menyiram air ke atas dengan tangan – simbur
    kita telah mencipta hujan
    lupakan janji-janji penguasa langit tentang hujan
    biar bumi tak menderita kemarau berkepanjangan
    mari ciptakan hujan
    kita tunggu janji tuhan saja, sambil menunggu hujan
    : karena tidak ada yang lebih bersetia dari pada janjinya
    hentakkan kaki, terus menari
    tak ada lelah pada rambut dan pakaian yang basah
    mari menari – di bawah hujan buatan
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Solenoid
    –Muhammad
    Perjalanan yang kau tandai dengan waktu
    tak habis kubaca: pada jejak-jejak sepatu

    sementara tanpamu aku hanya lelaki buta tak bertongkat
    ikan yang menggelepar pada danau asat
    doaku: jangan biarkan angin menghapus sisa-sisa langkahmu
    pada pasir-pasir waktu yang semakin berlalu
    sementara tanpamu aku hanya menjadi kawat tembaga
    berbentuk sulur batang – solenoid, tak berlistrik
    : bimbing langkahku pada butaku
    pada gelepar-gelepar sekarat mautku
    hingga kupecahkan misteri jejak-jejak langkahmu
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Lindang Landai

    jangan habiskan bekal kita di tengah jalan
    sebab perjalanan kita masih panjang, kawan

    Bisa jadi kita hanya mampir meneguk air
    lalu, kita melanjutkan perjalanan panjang
    yang, mungkin, tak berujung di ukur waktu
    : tak bertepi, tak tertandai
    bekal kita hanya segenggam amal
    jangan tak disisakan sama sekali, menjadi
    –lindang landai
    yang membuat lalai kepada siapa kita musti kembali
    yang habiskan bekal kita di separo jalan ini
    karena perjalanan ini; mungkin tanpa henti
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Branwir

    : masih kuingat kata-kata itu
    jika aku mampu menahan luapan api
    pada detak jantungku
    pada didih ubun-ubunku
    pada deras darahku
    kau janjikan padaku, kelak suatu hari,
    kau panggil aku untuk memilih bidadari

    pada sunah-sunahmu ku melangkah
    tentang kabar baik dan ancaman
    tetapi, api ini terus berkecamuk,
    hampir menjadikan utuh aku abu
    tetapi air suci yang kuguyurkan pada tubuh-tubuhku
    menjelma selang-selang pada mobil pemadam kebakaran
    – branwir
    Kau menyuruhku duduk pada berdiriku
    Kau menyuruhku berbaring pada dudukku
    dan pelan; api itu berangsur padam
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Bradikardi

    adakah jalan yang lebih mudah daripada kematian?
    persis ketika bercumbu di balik kelambu semu
    pada malam pertamamu
    atau pada saat kau bertemu kekasih pertamamu

    tak pernah ada yang pernah meramal secara pasti
    – ilmu pengetahuan tak bergeming,
    logika hanya membuat kita berpaling–
    kematian adalah silara yang jatuh dari reranting kering
    adalah rahasia alam yang dilipatsembunyikan
    : gulungan ombak, badai, tanah liat, udara
    seluruh semesta sebegitu tegak menjaga rahasia
    yang sewaktu-waktu membisikkan kepada kita
    tentang rahasianya:
    kita hanya menunggu saja; nafas kita terhenti
    pada detak jantung yang mati – bradikardi
    dan, hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai.
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Onak

    Setiap dosa yang kugambar dengan sebilah kelamin
    menjadikan rotan berduri – onak
    pada jantungku, pada sepasang telapak kakiku
    : sementara, semakin cepat kuberlari
    semakin cepat detak jantung ini, berarti
    :semakin banyak duri di telapakku
    semakin dalam duri dalam detakku
    harapanku hanya semoga ada telaga di depan sana
    sebelum habis seluruh sisa tenaga
    untuk lelahku, menjumputi onak di jiwaku
    – satu persatu
    Bengkel Imaji Malang,
    Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir
    Kalaupun milyaran bebatuan menghadang
    Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu
    Jadikan saja aku angin, Ya Allah
    Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang
    Senantiasa bergerak selayak awan di langit
    Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu
    Knapa tak kau jadikan saja aku tanah
    Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang
    Telapak kaki telanjangnya
    Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu
    Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku
    Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
    Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api
    Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat
    Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
    Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan
    Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil
    Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah
    Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan
    Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu
    Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….
    Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca
    Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja
    Yang tengah luruh di atas pekuburan
    Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah
    Bahwa kesombongan manusia telah terbungkam
    Di balik nisan yang terpahatkan namanya
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Menjadi apa saja, asal jangan jadi manusia
    Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
    Wajah yang Beku di Saku

    Sebidang tanah di tengah kota ini
    yang dulu kau cat dengan warna langit
    tiba-tiba saja runtuh membentuk lingkar
    membenamkan gedung-gedung
    trotoar, lampu kota, mobil, aspal
    sementara aku berdiri terpaku
    diujung garis lingkaran itu
    pun dirimu tengah membeku
    yang wajahmu dulu masih kusimpan
    di salah satu saku bajuku
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Mempelai dalam Mimpi

    tadi malam aku bermimpi
    menjadi mempelai laki-laki
    tapi perempuan itu bukan kau
    tiba-tiba saja aku memilih lari
    mencari kau di tumpukan hari
    tak ingin hadirmu kupungkiri
    walau hanya sekedar mimpi
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Sebuah Nama yang Melintas Masa

    Ya Muhammad
    Waktu seolah telah bermain estafet
    membawa tongkat yang terukir namamu
    melewati tahun, melintasi abad
    menjelma air yang terus membisikkan tentangmu
    kepada tanah, kepada bebatuan di kali, rerumputan
    air tak mengenal lelah menceritakan dirimu
    saat ia berubah menjadi uap. Diberitakannya kepada
    udara tentang kebesaranmu, diceritakannya kepada
    matahari tentang kagunganmu
    airpun menjelma menjadi mendung
    mengisahkan kepergianmu kepada
    : langit, awan, dan bebintang
    Dan hujan adalah kesedihan alam tentang kepergianmu
    hingga air terus mengalir hingga ke tepi samudra
    waktu pun terus mengalir seolah bermain estafet
    membawa tongkat yang terukir namamu
    hingga waktu menyelesaikan permainnya di ujung finish sana
    Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

  12. By kurnia ps on Jan 13, 2008 | Reply

    Adakah aku melintas di benakmu kasih
    Ketika langit malam tersenyum cerah
    Diiringi bintang yang menari riang
    Memberikan kecup mesranya pada kita

    Adakah kau ingat padaku kasih
    Dikala hujan turun membasahi bumi
    Dengan suaranya yang bersahut-sahutan
    Seolah mengerti apa yang hatiku katakan padanya

    Dapatkah kau mengatakan padaku kasih
    Adakah aku di dalam hatimu
    Atau hanya seperti setetes air di samudera luas
    Bagaikan angina lalu hilang tak berbekas

    Katakan padaku ku dihinggapi rasa ingin tahu
    Walaupun kita tak dapat bersama
    Atau jika aku telah menyentuh hatimu
    Maka katakana aku adalah dirimu dan kita adalah satu
    060405

    Bintang bersinar terang saat ku berdiri menatap langit yang kelam
    Secercah rasa mengusik hati menari-nari dipikiranku
    Adakah saat ini kau juga memikirkanku kasih

    Mungkin tidak ada satu bagian darimu yang mengenang diriku
    Apalah arti diriku, yang tak sengaja jatuh dalam jerat cintamu
    Aku yang mungkin tidak akan pernah menjadi bagian dari dirimu
    Namun percayalah hatiku kan selalu jadi milikmu

    Tatap matamu yang membuatku tak berdaya
    Senyum tulus yang membelenggu jiwaku
    Suara hangat yang melenakan pikirku

    Kugoreskan pena ini menjadi untaian kalimat
    Hanya sedikit dari dalamnya perasaanku padamu
    02 09 07

  13. By fariek on Jan 16, 2008 | Reply

    lomba puisi cintanya sampai kapan ya?

  14. By A.K. Muryanto on Jan 21, 2008 | Reply

    MENCINTAI

    mencintai
    adalah menanam,
    memupuk, dan menyiram,
    tanpa keinginan
    harus memetik
    sang kembang.

    Semarang, Jun’02

  15. By achmad on Jan 24, 2008 | Reply

    cinta itu kenyataan yg tak nyata
    dmn kau tau jika cinta
    telah datang dan berpacu

    kau pasti hnya berpuitis
    tanpa realistis

    cinta bukan hepatitis

    cinta harus menangis
    tersenyumlah
    jngan kau tertawa
    senyum adalah pahala
    tertawa adalah lumbung duka

  16. By Fadhila Eka Ratnasari on Jan 27, 2008 | Reply

    assalamu’alaykum wr. wb…
    afwan, kirm puisinya langsung disini yagh, pak ??

    -reply-

    ***WWW ya langsung aja.

  17. By shanty on Jan 31, 2008 | Reply

    Ada tanya yang tertinggal
    Saat nafas dihentikan
    Saat jiwa dibuai harapan
    Tanya itu belum ada jawaban
    Dimana letak dinding antara cinta dan kebencian?

  18. By shanty on Jan 31, 2008 | Reply

    Cerita seorang dara
    terperangkap sepi dan air mata
    terpenjara risau dan rasa gundah
    terjerat penat dan putus asa

    cinta terjamah hanya sekejab
    impian hadir sesaat kemudiam lenyap
    sang dara menangis dan bersimpuh
    kuasa siapa yang telah terbunuh?

    yang tertinggal hanya butir air mata
    sisa tangisan dulu yang tak jua mereda
    sang dara tak jua bahagia

  19. By sylvia on Feb 3, 2008 | Reply

    2 cinta

    Hati bagai disayat sembilu
    Menahan rasa penuh rindu
    Tak dapat kutuangkan rasa itu
    rasa kepada yang tlah lalu

    Wajah yang selalu kutunggu
    Yang mengisi sebagian waktu
    2 cinta yang merubut hati
    satu tlah pergi jauh kunanti

    Dari awal tlah kukatakan
    Kamu dan kamu adalah cintaku
    Aku benci..memilih 1 antara 2
    2 cinta yang ada di hati
    Tak boleh satupun miliki aku
    Tertawa aku kini
    cinta tak bisa buatku menangis
    kuucap sumpah di altar gereja
    Kumiliki 2 cinta dan 1 suami

  20. By sylvia on Feb 3, 2008 | Reply

    SEPERTI BLACKBOARD

    Hitamnya papan tulis ada di hadapku
    di hiasi warna-warni kapur di permukaannya
    Seperti halnya kamu
    yang kini hiasi relung hatiku
    Yang bumbui manisnya angan-anganku

    Jangan GR dulu…
    Kamu itu sudah punya pacar
    Kamu seperti ayahku..
    kamu PEROKOK
    Aku anti rokok tau!!

    seperti blackboard dan coretan kapurnya
    kamu hanya cimon* yang mampir di hatiku
    Mungkin esok atau lusa akan terhapus
    Suatu saat kelak
    Saat kita telah dewasa
    Hati ini, bukan lagiseperti blackboard
    tapi bagaikan whiteboard dan spidol permanentnya
    mungkin kau yang jadi cinta sejati
    Yang terus melekat sampai mati

  21. By amin on Feb 20, 2008 | Reply

    cinta yang sederhana saja..

    Aku mencintaimu..
    Dengan sangat, sangat sederhana.. seperti saat kau buka mata di kala pagi
    Masih, masih serupa.. seperti saat kita berbincang pertama kali
    Biarkan, biarkan saja.. hingga tak lagi terhitung hari

    Mencintai tanpa berkelebihan
    Mencintai tanpa berkekurangan

    Cinta yang sederhana saja..
    Seperti matahari meninggalkan senja, dan kembali datang di keesokan harinya
    Seperti embun yang hilang dalam hangat sinaran, dan kembali ada ketika fajar datang

    Cinta yang sederhana saja..
    Seperti ketika aku datang dan berkata padamu bahwa aku mencintaimu.. dalam ramaimu, dalam sepimu..dalam riangmu.. dalam nestapamu..

    Mencintaimu meski engkau tak menoleh padaku, menunggu meski engkau mengabaikanku, dan berlalu ketika engkau menginginkan aku pergi darimu..

    Aku datang atas nama cinta
    Dan pergi karena mencintaimu..

  22. By amin on Feb 21, 2008 | Reply

    salam kenal..
    saya dah ngirim puisi tuh.. hehehe
    unik juga idenya bikin lomba di blog, ngirim-nya juga simpel..:)

    ***Sama-sama.

  23. By Giant on Feb 23, 2008 | Reply

    surat cinta buat tuhan.
    akan kukemankan cinta
    bertangakai lebih dari satu
    akan kukemanakan jingga
    sekawan hati nurani

    surat cinta buat tuhanku
    berisi cerita tentang segala hati
    segala rasa, segala bimbang tak tertoreh

  24. By Giant on Feb 23, 2008 | Reply

    cinta gila

    sobe-sobek
    tinta tak hitam lagi.
    meja tulisku berdendang. gedebug….gedebug
    teriak menjahit kain cinta yang robek
    menyelam, hampir saja mati

    ha…..ha…..ha…
    buat apa hidup di selah bumi
    tanpa cinta mataku buta
    tanpa cinta hatiku gersang
    tanpa cinta lidahku kaku
    tanpa cinta air mataku tak mengalir lagi.

    memang cinta gila
    gila setiap jiwa
    seperti harta cinta tergeletak di ubun-ubun

    jangan cintai aku
    kalau aku hidup
    jangan beri aku hati
    kaau aku masih bisa
    jangan cium aku, aku masih bisa mencium bau busukmu
    seperti gemabala cinta sdi setiap raga.

    cinta……oh….cinta
    gila memang aku di hatimu
    dan biar semuanya melumat hartaku
    harta kelam dari duniamu
    dunia dan peristiwa cinta bercinta di atas ketidakwarasan

  25. By Lukman Hakim on Mar 29, 2008 | Reply

    Stop breathing for a second, for your eyes looked serious.
    There my ears stopped hearing. Stardust loneliness, because I cherish only my love.
    I’m so timid of hearing other voices. I pretend not to see my teardrops. How many times have we crossed each other ?
    How many detours must we take to touch each other ?

    Please touch me… Touch me in here
    Reach for me. Hold out your hand and receive,
    this bouquet of flowers that bloom in my heart.

  26. By Lubis Grafura on Apr 7, 2008 | Reply

    Bang Ersis, nerikut no rekening saya : Lubis Grafura.

    No Rekening 9512126-4 (Atas Nama Lubis Grafura). BNI CABANG MALANG

    Biodata: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Nominator Lomba Cerpen Kolomkita.com, Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Puisinya tergabung dalam Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra), Puisi Cinta (webersis), dan La Runduma. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116. No Rekening 9512126-4 (Atas Nama Lubis Grafura). BNI CABANG MALANG

Post a Comment