Puisi Cinta: Lomba Nulis Puisi Ala EWT
1 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Bismillah. Direncanakan, tiap bulan www.webersis.com, dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1430 mengadakan Lomba Puisi Cinta berbagai tema. Tiap bulan dipilih puisi terbaik. Pada akhir tahun 1429 Hijriah, pemenang bulanan, dilombakan untuk mencari pemuncak.
Lomba dimaksudkan merangsang kegairahan menulis puisi (cinta). Tidak banyak yang dijanjikan. Pememang bulanan, dapat hadiah Rp.100.000,00. Lainnya, tanpa hadiah. Pada putaran final, akan dipilih tiga pememang (1) dengan hadiah Rp.1.000.000,00, (2) Rp.500,000,00 dan (3) Rp.250.000,00. Piala dan piagam dari Bandjarbaroe Pots.
Lomba lebih akbar (cerpen) sedang digarap bekerja sama dengan media besar, tunggu saja pemberitahuan. Kami, merancang —berhadiah besar. Sponsor sedang ‘digawi’; kerjaan www.menulismudah.com.
Aturan. Tidak ada aturan. Dalam beberapa hari ini akan ditayangkan contoh. Soalnya langsung didesin dalam bentuk buku, “Antologi Puisi Cinta” guna menampung karya pemenang.
Salam Tahun Baru Masehi.
Banjarbaru, 1 Januari 2008
Ersis Warmansyah Abbas









25 Responses to “Puisi Cinta: Lomba Nulis Puisi Ala EWT”
By Mega on Jan 1, 2008 | Reply
Lama awak ga coment nich…
sebelumnya “Met Taon Baru Uda Ersis..
Salam puisi cinta..he he he
By hanna on Jan 1, 2008 | Reply
Wah, kirim ke mana, Pak?
***Cukup di komen aja. Biar ngak ribet.
By fira on Jan 1, 2008 | Reply
Ass, asik nih the poem of love…boleh tuh pak….wassalam.
***Yoi, buktikan. Menulis puisi itu menyamankan.
By gempur on Jan 1, 2008 | Reply
Puisi cintanya bebas tema ya pak! trus puisi yang ditulis sejak lama boleh diikutkan tidak? Belum pernah dipublikasikan yang jelas.. hehehehe.. trus, dikirim ke mana pak?
***Dah dijawab pada postingan khusus. Jangan sampai ngak ikut ya.
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
ikutan bercinta ah…
eh maksudnya berpuisi cinta
By unai on Jan 2, 2008 | Reply
wah banyak lomba rupanya di sini yah..saya ikutan pak kurt ah :), ikutan bercinta heheh, berpuisi cinta
By manusiasuper on Jan 2, 2008 | Reply
Pak, saya terlambat mengikuti lomba menulis itu, ampun… Kenapa saya tidak mendapat info sejak awal? Ya, penyesalan selalu datang di awal tahun…
Jadi puisi ini saja lah sebagai pelipur lara…
***Ya ya … tidak ada kata terlambat. Kini, mari kita ‘tangkap’ kesempatan selagi mampir.
By Yari NK on Jan 3, 2008 | Reply
Aduh nyerah deh sekarang kalau disuruh bikin puisi cinta. Kalau dulu sih iya pas lagi jatuh cinta karena kepepet dan penuh dengan perasaan cinta maka bisa dihasilkanlah puisi2 cinta (walaupun gombal!
).
Lha, sekarang nulis puisi cinta, harus diinget2 lagi, atau perasaan cinta itu harus dihidupkan kembali seperti 17 tahun lalu ketika **halaaah** pertama kali saya jatuh cinta!
***Kilas balik kan ngak apa-apa, kalau bercinta lagi asyik punya bo, he he
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
Assalamualaikum,
Wah ikutan ya Pak, siapa tau dapat rezeki. Salam dari kawan-kawan di Darul Ma’arif Jakarta. (Tolong doakan untuk kesembuhan DR. KH Idham Khalid).
Jazakumullah..
***Ya ya … Salam juga. Doa kita bersama tokoh pejuang tangguh dan sangat berjasa tersebut. Hai … ada ngak niat teman-teman menyatakan kehormatan dengan menulis buku tentang Sidin? Saya dah lama kepincut. Gimana, bisa kita gawi?
By lubis grafura on Jan 7, 2008 | Reply
Assalamualaikum wr.wb
Yth. Bpk Ersis Warmansyah Abbas
Pak Ersis, Saya Lubis Grafura mengirimkan beberapa puisi. Mungkin lebih tepatnya banyak puisi. Berikut adalah biodata saya: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Singkat Kata
seperti seorang gadis yang jatuh hati
kepada seorang lelaki yang wajahnya
larut pada laju bingkai jendela kereta
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Kata tak Pernah Dusta
rindu yang terlewat kau baca
pada isyarat sepasang mata
kusimpan rapi di balik kata
dan saat kuucapkan lewat gurauan
ternyata, luput juga kau eja
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Pada Sebuah Stasiun
___Dian Hartati
Kita sama-sama memandang rel
yang bersejajar dari awal hingga akhir
tapi tak pernah saling bertemu
Malang, 2006
Pertemuan Senja
___Wa Oda Wulan Ratna
Kenapa kita musti bertemu
Pada waktu yang sesingkat itu?
Malang, 2006
Arbitrer
Sepatutnya
kuketuk daun pintumu terlebih dahulu
daripada diam menunggu
sebabnya
aku sendiri tak tahu alasanku
kenapa aku berdiri di depan pintumu
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Wijayanti
Sempat kuintip sebait kesedihan di kelopakmu
menjelma telaga peluh yang sedang kau kurung
bersambut kabut yang menggulung mendung
penantianmu telah melewati hitungan jari
seseorang yang memekarkan kembangmu
belum juga melunasi hari yang dulu kaupinjami
kau selalu sembunyikan derai air matamu
pada bulir-bulir air hujan atau sisa embun tadi pagi
tapi, kau tak selamanya bisa membiarkanku
berdiri diam menunggu hingga layu.
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Di Bawah Cahaya Rembulan, Kutulis Puisi Seorang Diri
___kepadamu, kekasih
Kutuliskan puisi ini seorang diri
hanya berteman sepasang bayang
yang dihadirkan cahaya rembulan
yang bersembunyi di balik reranting daun jati
dua tiga dan empat kata sudah kugoreskan
di atas angin yang mengusik gemerisik
bunga-bunga melati layu menjadi tirai kelambu
menemaniku menuliskan puisi ini
seorang diri
lantas bulan telah merangkak naik
memberanikan diri memandangku
walau separoh wajahnya ditutup selendang awan
kelabu
tak luput dari untaian kata-kata puisiku
kutulis juga sebuah syair untuknya
kutitipkan juga kepada angin yang mengusik gemerisik
dedaunan dan reranting
berharap ada sehelai daun yang jatuh
melayang seperti selendang jatuh
terbawa angin masuk ke jendela kamar menembus
tirai kelambu pada ranjang seorang perawan
yang tengah terlelap dalam dekap mimpi-mimpinya
kuharap daun itu jatuh
tepat di tengah dadanya.
Malang, 2006
Kepadamu, Ibu
Kau datang menyulut kendil pada ruang gelap
merajut jantungku dari benangbenang cinta pilihan
mendetakkan jantungku
mengalirkan darahku
menghembuskan nafasku
lantas kau ajarkan kepadaku
tentang penglihatanku
tentang lisanku
tentang pendengaranku
tentang seluruh organ tubuh
padaku
dengan apa aku harus membayar ini semua, ibu
kau tak pernah menjawab
berpaling
pura-pura tak mendengar
“kau sudah makan siang ini?”
jawaban itu yang selalu kudengar.
Malang, 2006
Pada Sebuah Stasiun
___Dian Hartati
Kita sama-sama memandang rel
yang bersejajar dari awal hingga akhir
tapi tak pernah saling bertemu
Malang, 2006
Pertemuan Senja
___Wa Oda Wulan Ratna
Kenapa kita musti bertemu
Pada waktu yang sesingkat itu?
Malang, 2006
Dua Bintang
___Aziz San
Dulu, kau pernah bercerita tentang
dua bintang yang bersinar di langit malam-
malammu
dulu, kau enggan menyebut bintang
kau lebih suka menyebutnya dina
bintang adalah dina yaitu bintang
sama saja bukan?
Apapun kau sebut benda langit itu
Kau tetap sahabatku!
Malang, 2006
Hahan
___ Handoko, untukmu
suatu malam kau ketuk pintu rumahku
kaugambar wajahmu sendiri pada
mawar layu pada pot samping rumahku
“Tolong aku, Gar. Tolong aku…”
ada sesuatu semacam kabut yang meng-
gelayut pada sorot wajahmu.
Entah ini yang keberapa kesekian kali-
nya
jantungmu berdarah oleh cinta seorang
perempuan. Entah yang keberapa kalinya
darahmu membeku berhenti mengalir
oleh dinginnya hati perempuan.
pada gemerisik daun rambutan aku ingin
menyampaikan kepadamu
“biarlah perempuan itu datang dan pergi
dari hatimu. Aku di sini tetap sebagai sahabatmu”
dan kau pamit pulang!
Malang, 2006
Di Jalan Itu
kisah kita begitu sederhana
kau sadarkan aku akan cintamu
ketika kubonceng kau di motor bututku
tiba-tiba saja kau kalungkan lenganmu
menalikan tali helm di bawah daguku
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
99 Jalan Menuju Mekah
sepasang kekasih bercerita di keremangan
tentang cendrawasih yang terbang ke bulan
dan ketika kita berdiri pada persimpangan
ingatlah ada sembilan-puluh-sembilan jalan
Malang, Desember 2007
Pulau Kenang
sampanku melabuh pada pulau kecilmu
kau hidangkan kelapa muda selembut bibir
perawan kesepian yang belajar meramu
sunyi pada galau yang menjadi tabir
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Saat Kembali
cuaca yang kau pesan masih sama juga
semi pada reranting bunga bakau
sampan tak lagi sauh, aku masih belaga
barangkali saat kukembali nanti, masih juga kau
Malang, Desember 2007
Ma’rifah
betapa hati ini sebegitu pekat
pada hijab-hijab relung menyekat
lewat pengetahuanmu adalah cahaya
mengangkat derajat dari para sahaya
menyingkap hijab pada relung pekat
Malang, September 2007
Mahabbah
aku bersaksi tiada selain tulusnya udara
yang memberikan jiwanya pada semesta
yang nyata ada, tetapi tak berupa
aku pun bersaksi tiada selain setianya laut
yang memberikan kedalamannya
pada setiap keluh ujung sungai
mendengarkan tangis langit
gemuruhnya ombak dalam badai
karam dalam satu kata cintamu
Malang, September 2007
Makhafah
ada yang lebih gelap dari gulita
menjelma pusaran pada berita cuaca
mencipta gempa pada lempeng jiwa
adalah kedalaman pada siksa neraka
ada yang lebih sepi dari kematian
Malang, September 2007
Mujahadah
perang yang sesungguhnya telah dimulai
adalah perjuangan melawan jiwa-jiwa rendah
adalah perjuangan suci besar
pada dzikirullah yang terus berkobar
di bawah bendera al jihad al akbar
Malang, September 2007
Munasabah
aku dan kau adalah sepasang kutub
pada lauh mahfud kisah pun termaktub
rindumu tak pernah usai kutulis
pada pelepah-pelepah tanah
yang samudra pun kering kujadikan tinta
Malang, September 2007
Kota Kenang
kutelusuri sendiri sepi kota ini
berharap temukan serpihan suaramu
barangkali jejakmu yang tertinggal
atau kisahmu yang masih tersimpan
untuk menyulam rindu yang berlubang
Malang, Agustus 2007
Sekat
batas itu sebegitu jelas
walau kau hadir di setiap:
sel darah dan urat nadi
hanya lewat kematian sajalah
batas itu akan segera tergilas
Malang, Agustus 2007
Setapak di Blitar
kulewati pada musim tahun lalu
menuju kampung kecil ke rumahmu
sekedar berteduh menggu reda hujan
saat kupulang, ada rindu yang tersimpan
Malang, Agustus 2007
Ode untuk Kekasihku
__kepada Wijayanti
kita bertemu pada gesekan
dedaun dan reranting kering
ketika angin mencoba mendahului
setelapak tanganku untuk membelai
rerambut panjangmu itu
adalah dirimu ketika
selaksa jiwa kering membutuhkan setetes embun
dari setiap paras teduhmu
dari setiap tutur tulusmu
dari setiap jengkal milikmu
lantas waktu membeku
dedaun dan reranting berhenti
pada satu titik tatapan sepasang matamu
pada satu titik takdir yang suatu saat
entah berpihak pada kita atau tidak
dan kita masih terdiam membeku
Tulang Rusuk
__Wijayanti
adalah sebentuk keresahanku
ketika kutahu bahwa hawa adalah
tulang rusuk adam yang hilang
dan dari segolongan umat manusia
adamlah yang paling beruntung
ia yakin pada pilihannya, ketika
memang hawa adalah satu-satunya perempuan di dunia
pun hawa, adam adalah satu-satunya pria di dunia
jodoh adalah sebentuk
tulang rusuk. Bagaimana
jika dirimu bukan tulang rusukku?
Malang, 2006
Madah Penantian
: Arifiani
perahuku tengah bersauh labuh di pulau kecilmu
tapi aku tak jua beranjak turun menujumu, sebab
ada pertanda yang tak rampung kueja
seperti ombak yang tak sampai menggapai daratan
sementara kau asyik-kusyuk bermadah penantian
mengusung simfoni yang sebegitu merdu
lewat orkestra angin dan pepucuk dedaun
aku turut melagukan sebait syair yang kau tulis
seperti pertemuan kawan lawas, rindupun terbalas
ada aksara di syairmu yang tak bisa kubaca
tapi aku tak beranjak turun menanyakanmu, sebab
perahuku tengah terkayuh jauh dari pulau kecilmu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Malam Penantian
: Dian Hartati
kalaupun pertemuan kita dulu
enggan berulang pada malam berikutnya
sementara kerinduan yang kau sisakan
belum sempat kau bagikan
kukirim saja sajak pengganti
suatu hari kau kan dengar ketukan pintu
saat kau buka, itu aku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Sesajak Kenangan
: Anam
aku tak punya banyak cinderamata sebagai kenang-kenangan
yang kuingat setiap subuh, pepucuk daun jati mulai belajar
menggambar wajah matahari yang tersembunyi di balik cadar fajar
lalu perempuan-perempuan tua menjinjing bakul menuju pasar
kita masih bermimpi di atas karpet yang ada noda bekas tumpahan kopi tadi malam
salah satu dari kita, diam-diam ada yang menyelimutkan koran menundung senyap
saat terbangun, kita tak pernah selalu tahu siapa yang menjaga kita semalam
dari dingin yang merayap menegakkan bulu-bulu remang
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Mencintaimu
Mencintaimu musti kusiapkan pertemuan
cukuplah aku menjelma sebatang nyala
yang kau buang selepas padam
pada hari-hari yang pasti akan ada perpisahan
mencintaimu musti kusiapkan kelahiran
cukuplah aku menjelma bulir hujan
yang kau hapus selepas membasahi tubuhmu
pada kenyataan-kenyataan tentang kematian
cukuplah aku memandangmu
barangkali kau bisa mencintaiku
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Isyarat Cinta yang Tak Terjawab
kenapa aku masih berdiam diri
saat kau mengisyaratkan cinta
yang kau titipkan kemarau panjang
pada hujan yang menjadikan semi
kenapa aku masih juga tak menjawab
senyum tegur sapamu yang lalu
yang kau titipkan ombak beliung
pada rumah-rumah yang tunduk ambruk
yang tersisa tinggalah rasa
kenapa aku masih enggan membalas
surat-surat rindumu yang kau titipkan muhammad
yang tak rampung dikisahkan para penyair
hingga asat air samudra mereka jadikan tinta
yang tertinggal cukuplah sesal
hanya nisan masih setia menunggu
untuk menuliskan namaku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Surat Cinta yang Tak Sempat Dibaca
Aku meragu
menatap nisan yang menulis separo namaku
yang kuingat,
aku lebih sekarat dari golongan jin yang bejat
aku lebih bejat dari iblis yang kau laknat
indera-indera yang kau pinjamkan padaku
tak utuh kukembalikan padamu
sembilan lubang yang kau tunjukkan padaku
tak sempat kujaga seperti pintamu
jika suatu saat, nisan merampungkan menulis namaku
kubur memaksaku
tengoklah aku sehari saja
biar kutatap dan kusentuh wajahmu
kalaupun sehari itu tak bisa membawamu padaku
lantaran durhaka-durhakaku
aku tlah menjadi arang yang terbuang di dasar jahanam
sudikah kau tengok aku barang sedetik saja
kalaupun sedetik itu tak bisa membawamu kepadaku
lantaran dosa-dosaku
barangkali aku tlah menjadi abu
yang menempel di dinding-dinding nerakamu
cukuplah bagiku kau mengingat aku
yang dulu pernah menulis sajak cinta
namun tak sempat kubaca untukmu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Sesajak Rindu
Sungguh,
jiwa ini tak cukup jera
kalau toh mereka jadikan abu
pada tungku api nerakamu
tapi sungguh,
jiwa ini terlalu jera
bila kedatanganku pada hari itu
kau tak sudi menerimaku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Kupu yang Hinggap di Pelipisku
Kau kupu yang hinggap di pelipisku
sungutmu ruas-ruas batang bambu
sayapmu lembar-lembar daun waru
kau bisikkan di pelipisku nama-nama
yang tak habis kueja pada lembaran hari
bahkan hingga ruas batang usia ini lapuk
lantas ambruk dan membusuk
disantap rerayap dan ngengat
tak satupun namamu kuselesaikan
dari sembilan puluh sembilan namamu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Puisi yang Terlahir dari Sehelai Rambut
/ Wijayanti
Ada puisi yang terlahir saat rambut panjangmu kau sisir
sekuntum bait pada parasmu yang terjebak di kaca
aroma tubuhmu menjelma rima-rima,
yang menelanjangi tubuhmu sendiri seperti kutelanjangi puisi ini
…
Katakan kepadaku berapa lama pengembaraan-pengembaraan kita
yang telah kau tandai jejak-jejaknya dengan puisi
kelak jika kita kembali, kita tidak akan tersesat
“akankah kita kembali setelah perjalanan panjang ini?”
daun yang jatuh tak akan kembali menjadi semi
asap yang mengepul tak bakalan berkumpul
namun kau masih percaya pada pengembaraan yang kau tandai jejaknya
: biarkan tuhan yang punya rencana, kita menjalani saja
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Wijayanti: aku pada labirinmu
: Andris Setyawan
Tadi malam kumimpikan dirimu
lewat kalimat-kalimat yang diucap oleh mantan kekasihmu
yang kini menjadi kekasihku
Dilabirin sunyi ini tak semua ruang terbuka untukku
ruang-ruang ada yang lekat – terkunci rapat
ada rantai-rantai yang mengikat erat, gembok sekepal yang berkarat
seseorang telah mematahkan kuncinya
tak ada celah untuk mengintip ada apa di ruangan sana
ada kembang-kembang yang ikut berkarat
jejak-jekak kaki dan telapak yang melekat
pada lantai-lantai relungmu
detik jarum jam yang kehabisan batrei mengajakku ke masa lalu
di ruangan ini pernah ada tempat yang indah
: tempat kalian bermain – mencipta imajinasi
seperti memecahkan misteri yang tak pernah usai
hingga kapan kau membiarkan aku terasing di labirin ini
bersama udara pekat dan ruang bersekat-sekat
biarkan aku menghias kembali ruangan ini
: tanpa harus membuka pintu yang kau tutupi dengan gembok dan rantai
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Simbur
Mari ciptakan hujan
biar kita bisa menari di atas tanah-tanah basah
mari ciptakan hujan,
menyiram air ke atas dengan tangan – simbur
kita telah mencipta hujan
lupakan janji-janji penguasa langit tentang hujan
biar bumi tak menderita kemarau berkepanjangan
mari ciptakan hujan
kita tunggu janji tuhan saja, sambil menunggu hujan
: karena tidak ada yang lebih bersetia dari pada janjinya
hentakkan kaki, terus menari
tak ada lelah pada rambut dan pakaian yang basah
mari menari – di bawah hujan buatan
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Solenoid
–Muhammad
Perjalanan yang kau tandai dengan waktu
tak habis kubaca: pada jejak-jejak sepatu
sementara tanpamu aku hanya lelaki buta tak bertongkat
ikan yang menggelepar pada danau asat
doaku: jangan biarkan angin menghapus sisa-sisa langkahmu
pada pasir-pasir waktu yang semakin berlalu
sementara tanpamu aku hanya menjadi kawat tembaga
berbentuk sulur batang – solenoid, tak berlistrik
: bimbing langkahku pada butaku
pada gelepar-gelepar sekarat mautku
hingga kupecahkan misteri jejak-jejak langkahmu
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Lindang Landai
jangan habiskan bekal kita di tengah jalan
sebab perjalanan kita masih panjang, kawan
…
Bisa jadi kita hanya mampir meneguk air
lalu, kita melanjutkan perjalanan panjang
yang, mungkin, tak berujung di ukur waktu
: tak bertepi, tak tertandai
bekal kita hanya segenggam amal
jangan tak disisakan sama sekali, menjadi
–lindang landai
yang membuat lalai kepada siapa kita musti kembali
yang habiskan bekal kita di separo jalan ini
karena perjalanan ini; mungkin tanpa henti
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Branwir
: masih kuingat kata-kata itu
jika aku mampu menahan luapan api
pada detak jantungku
pada didih ubun-ubunku
pada deras darahku
kau janjikan padaku, kelak suatu hari,
kau panggil aku untuk memilih bidadari
…
pada sunah-sunahmu ku melangkah
tentang kabar baik dan ancaman
tetapi, api ini terus berkecamuk,
hampir menjadikan utuh aku abu
tetapi air suci yang kuguyurkan pada tubuh-tubuhku
menjelma selang-selang pada mobil pemadam kebakaran
– branwir
Kau menyuruhku duduk pada berdiriku
Kau menyuruhku berbaring pada dudukku
dan pelan; api itu berangsur padam
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Bradikardi
adakah jalan yang lebih mudah daripada kematian?
persis ketika bercumbu di balik kelambu semu
pada malam pertamamu
atau pada saat kau bertemu kekasih pertamamu
…
tak pernah ada yang pernah meramal secara pasti
– ilmu pengetahuan tak bergeming,
logika hanya membuat kita berpaling–
kematian adalah silara yang jatuh dari reranting kering
adalah rahasia alam yang dilipatsembunyikan
: gulungan ombak, badai, tanah liat, udara
seluruh semesta sebegitu tegak menjaga rahasia
yang sewaktu-waktu membisikkan kepada kita
tentang rahasianya:
kita hanya menunggu saja; nafas kita terhenti
pada detak jantung yang mati – bradikardi
dan, hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Onak
Setiap dosa yang kugambar dengan sebilah kelamin
menjadikan rotan berduri – onak
pada jantungku, pada sepasang telapak kakiku
: sementara, semakin cepat kuberlari
semakin cepat detak jantung ini, berarti
:semakin banyak duri di telapakku
semakin dalam duri dalam detakku
harapanku hanya semoga ada telaga di depan sana
sebelum habis seluruh sisa tenaga
untuk lelahku, menjumputi onak di jiwaku
– satu persatu
Bengkel Imaji Malang,
Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir
Kalaupun milyaran bebatuan menghadang
Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu
Jadikan saja aku angin, Ya Allah
Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang
Senantiasa bergerak selayak awan di langit
Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu
Knapa tak kau jadikan saja aku tanah
Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang
Telapak kaki telanjangnya
Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu
Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku
Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api
Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat
Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan
Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil
Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah
Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan
Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu
Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….
Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca
Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja
Yang tengah luruh di atas pekuburan
Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah
Bahwa kesombongan manusia telah terbungkam
Di balik nisan yang terpahatkan namanya
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Menjadi apa saja, asal jangan jadi manusia
Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
Wajah yang Beku di Saku
Sebidang tanah di tengah kota ini
yang dulu kau cat dengan warna langit
tiba-tiba saja runtuh membentuk lingkar
membenamkan gedung-gedung
trotoar, lampu kota, mobil, aspal
sementara aku berdiri terpaku
diujung garis lingkaran itu
pun dirimu tengah membeku
yang wajahmu dulu masih kusimpan
di salah satu saku bajuku
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Mempelai dalam Mimpi
tadi malam aku bermimpi
menjadi mempelai laki-laki
tapi perempuan itu bukan kau
tiba-tiba saja aku memilih lari
mencari kau di tumpukan hari
tak ingin hadirmu kupungkiri
walau hanya sekedar mimpi
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Sebuah Nama yang Melintas Masa
Ya Muhammad
Waktu seolah telah bermain estafet
membawa tongkat yang terukir namamu
melewati tahun, melintasi abad
menjelma air yang terus membisikkan tentangmu
kepada tanah, kepada bebatuan di kali, rerumputan
air tak mengenal lelah menceritakan dirimu
saat ia berubah menjadi uap. Diberitakannya kepada
udara tentang kebesaranmu, diceritakannya kepada
matahari tentang kagunganmu
airpun menjelma menjadi mendung
mengisahkan kepergianmu kepada
: langit, awan, dan bebintang
Dan hujan adalah kesedihan alam tentang kepergianmu
hingga air terus mengalir hingga ke tepi samudra
waktu pun terus mengalir seolah bermain estafet
membawa tongkat yang terukir namamu
hingga waktu menyelesaikan permainnya di ujung finish sana
Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
By kurnia ps on Jan 13, 2008 | Reply
Adakah aku melintas di benakmu kasih
Ketika langit malam tersenyum cerah
Diiringi bintang yang menari riang
Memberikan kecup mesranya pada kita
Adakah kau ingat padaku kasih
Dikala hujan turun membasahi bumi
Dengan suaranya yang bersahut-sahutan
Seolah mengerti apa yang hatiku katakan padanya
Dapatkah kau mengatakan padaku kasih
Adakah aku di dalam hatimu
Atau hanya seperti setetes air di samudera luas
Bagaikan angina lalu hilang tak berbekas
Katakan padaku ku dihinggapi rasa ingin tahu
Walaupun kita tak dapat bersama
Atau jika aku telah menyentuh hatimu
Maka katakana aku adalah dirimu dan kita adalah satu
060405
Bintang bersinar terang saat ku berdiri menatap langit yang kelam
Secercah rasa mengusik hati menari-nari dipikiranku
Adakah saat ini kau juga memikirkanku kasih
Mungkin tidak ada satu bagian darimu yang mengenang diriku
Apalah arti diriku, yang tak sengaja jatuh dalam jerat cintamu
Aku yang mungkin tidak akan pernah menjadi bagian dari dirimu
Namun percayalah hatiku kan selalu jadi milikmu
Tatap matamu yang membuatku tak berdaya
Senyum tulus yang membelenggu jiwaku
Suara hangat yang melenakan pikirku
Kugoreskan pena ini menjadi untaian kalimat
Hanya sedikit dari dalamnya perasaanku padamu
02 09 07
By fariek on Jan 16, 2008 | Reply
lomba puisi cintanya sampai kapan ya?
By A.K. Muryanto on Jan 21, 2008 | Reply
MENCINTAI
mencintai
adalah menanam,
memupuk, dan menyiram,
tanpa keinginan
harus memetik
sang kembang.
Semarang, Jun’02
By achmad on Jan 24, 2008 | Reply
cinta itu kenyataan yg tak nyata
dmn kau tau jika cinta
telah datang dan berpacu
kau pasti hnya berpuitis
tanpa realistis
cinta bukan hepatitis
cinta harus menangis
tersenyumlah
jngan kau tertawa
senyum adalah pahala
tertawa adalah lumbung duka
By Fadhila Eka Ratnasari on Jan 27, 2008 | Reply
assalamu’alaykum wr. wb…
afwan, kirm puisinya langsung disini yagh, pak ??
-reply-
***WWW ya langsung aja.
By shanty on Jan 31, 2008 | Reply
Ada tanya yang tertinggal
Saat nafas dihentikan
Saat jiwa dibuai harapan
Tanya itu belum ada jawaban
Dimana letak dinding antara cinta dan kebencian?
By shanty on Jan 31, 2008 | Reply
Cerita seorang dara
terperangkap sepi dan air mata
terpenjara risau dan rasa gundah
terjerat penat dan putus asa
cinta terjamah hanya sekejab
impian hadir sesaat kemudiam lenyap
sang dara menangis dan bersimpuh
kuasa siapa yang telah terbunuh?
yang tertinggal hanya butir air mata
sisa tangisan dulu yang tak jua mereda
sang dara tak jua bahagia
By sylvia on Feb 3, 2008 | Reply
2 cinta
Hati bagai disayat sembilu
Menahan rasa penuh rindu
Tak dapat kutuangkan rasa itu
rasa kepada yang tlah lalu
Wajah yang selalu kutunggu
Yang mengisi sebagian waktu
2 cinta yang merubut hati
satu tlah pergi jauh kunanti
Dari awal tlah kukatakan
Kamu dan kamu adalah cintaku
Aku benci..memilih 1 antara 2
2 cinta yang ada di hati
Tak boleh satupun miliki aku
Tertawa aku kini
cinta tak bisa buatku menangis
kuucap sumpah di altar gereja
Kumiliki 2 cinta dan 1 suami
By sylvia on Feb 3, 2008 | Reply
SEPERTI BLACKBOARD
Hitamnya papan tulis ada di hadapku
di hiasi warna-warni kapur di permukaannya
Seperti halnya kamu
yang kini hiasi relung hatiku
Yang bumbui manisnya angan-anganku
Jangan GR dulu…
Kamu itu sudah punya pacar
Kamu seperti ayahku..
kamu PEROKOK
Aku anti rokok tau!!
seperti blackboard dan coretan kapurnya
kamu hanya cimon* yang mampir di hatiku
Mungkin esok atau lusa akan terhapus
Suatu saat kelak
Saat kita telah dewasa
Hati ini, bukan lagiseperti blackboard
tapi bagaikan whiteboard dan spidol permanentnya
mungkin kau yang jadi cinta sejati
Yang terus melekat sampai mati
By amin on Feb 20, 2008 | Reply
cinta yang sederhana saja..
Aku mencintaimu..
Dengan sangat, sangat sederhana.. seperti saat kau buka mata di kala pagi
Masih, masih serupa.. seperti saat kita berbincang pertama kali
Biarkan, biarkan saja.. hingga tak lagi terhitung hari
Mencintai tanpa berkelebihan
Mencintai tanpa berkekurangan
Cinta yang sederhana saja..
Seperti matahari meninggalkan senja, dan kembali datang di keesokan harinya
Seperti embun yang hilang dalam hangat sinaran, dan kembali ada ketika fajar datang
Cinta yang sederhana saja..
Seperti ketika aku datang dan berkata padamu bahwa aku mencintaimu.. dalam ramaimu, dalam sepimu..dalam riangmu.. dalam nestapamu..
Mencintaimu meski engkau tak menoleh padaku, menunggu meski engkau mengabaikanku, dan berlalu ketika engkau menginginkan aku pergi darimu..
Aku datang atas nama cinta
Dan pergi karena mencintaimu..
By amin on Feb 21, 2008 | Reply
salam kenal..
saya dah ngirim puisi tuh.. hehehe
unik juga idenya bikin lomba di blog, ngirim-nya juga simpel..:)
***Sama-sama.
By Giant on Feb 23, 2008 | Reply
surat cinta buat tuhan.
akan kukemankan cinta
bertangakai lebih dari satu
akan kukemanakan jingga
sekawan hati nurani
surat cinta buat tuhanku
berisi cerita tentang segala hati
segala rasa, segala bimbang tak tertoreh
By Giant on Feb 23, 2008 | Reply
cinta gila
sobe-sobek
tinta tak hitam lagi.
meja tulisku berdendang. gedebug….gedebug
teriak menjahit kain cinta yang robek
menyelam, hampir saja mati
ha…..ha…..ha…
buat apa hidup di selah bumi
tanpa cinta mataku buta
tanpa cinta hatiku gersang
tanpa cinta lidahku kaku
tanpa cinta air mataku tak mengalir lagi.
memang cinta gila
gila setiap jiwa
seperti harta cinta tergeletak di ubun-ubun
jangan cintai aku
kalau aku hidup
jangan beri aku hati
kaau aku masih bisa
jangan cium aku, aku masih bisa mencium bau busukmu
seperti gemabala cinta sdi setiap raga.
cinta……oh….cinta
gila memang aku di hatimu
dan biar semuanya melumat hartaku
harta kelam dari duniamu
dunia dan peristiwa cinta bercinta di atas ketidakwarasan
By Lukman Hakim on Mar 29, 2008 | Reply
Stop breathing for a second, for your eyes looked serious.
There my ears stopped hearing. Stardust loneliness, because I cherish only my love.
I’m so timid of hearing other voices. I pretend not to see my teardrops. How many times have we crossed each other ?
How many detours must we take to touch each other ?
Please touch me… Touch me in here
Reach for me. Hold out your hand and receive,
this bouquet of flowers that bloom in my heart.
By Lubis Grafura on Apr 7, 2008 | Reply
Bang Ersis, nerikut no rekening saya : Lubis Grafura.
No Rekening 9512126-4 (Atas Nama Lubis Grafura). BNI CABANG MALANG
Biodata: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Nominator Lomba Cerpen Kolomkita.com, Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Puisinya tergabung dalam Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra), Puisi Cinta (webersis), dan La Runduma. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116. No Rekening 9512126-4 (Atas Nama Lubis Grafura). BNI CABANG MALANG