Mungkinkah Rasulullah Ketakutan?

1 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MEMBACA karya Karen Amstrong, Muhammad, A Biography of The Prophet (1991) yang diterjemahkan menjadi, Muhammad Sang Nabi; Sebuah Biografi Kritis (Risalah Insani, 2005), Sejarah Muhammad (Pustaka Horizona, 2007), sungguh jelas, Amstrong ‘bersimpati’ terhadap Islam (Muhammad SAW). Rupanya mantan biarawati penulis buku Sejarah Tuhan tersebut ‘berkampanye’, masyarakat Barat telah salah paham sangat dalam terhadap Islam.  
 
Amstrong, di luar ilmuwan Barat setelah mempelajari Islam dan kemudian Muslim, nampaknya makin memperpanjang daftar yang mau melihat Islam lebih ‘jernih’. Bukan tidak mungkin, barisan cendekiawan  ‘obyektif’ seperti Michael H. Hart akan semakin panjang.
 
Tersentak dengan peristiwa World Trade Center, 11 September 2001, Amstrong menulis, Muhammad; Prophet for Our Time. Harap maklum, persepsi keliru tentang Islam, lebih ‘memantap’ dengan kasus Satanivc Verses, Salman Rushdi dengan fatwa hukum mati dari Khomeini. Ironisnya, belakangan di negara-negara Eropa muncul karikatur Rasulullah dengan gambaran kejinya. Salah paham terhadap Islam nampaknya makin menjadi. Terakhir, ada yang mau ‘mempengadilkan’ AlQuran karena dianggap buku yang menyebabkan terbunuhnya jutaan manusia. Ih … ngeri (sebagian) logika orang-orang Barat.
 
Jujur saja, membaca karya Amstrong, ada kesan kuat maksud, tradisi melihat Islam dalam pandang serba durjana dibebaskan untuk diganti dengan ‘memahami’. Tidak mudah memang, sebab sejarah kesalahpahaman tersebut telah berumur berabad-abad.
 
Dalam situasi demikian, saya membaca buku Amstrong, Muhammad Prophet our Time. Pikiran terpantik dengan pengantar Jalaluddin Rahmat, Karen Armstrong: Simpatik tapi Tidak Kritis. Tidak kritis? Ya ya, Kang Jalal menghantar pesan tanya ke pikiran. Apa itu?
Sirah ‘Standar’
 
Perjalanan spritual Muhammad yang rutin ‘merenung’ di Gua Hira mencapai puncaknya ketika pada suatu malam datang malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah SWT.  Muhammad ketakutan, pulang ke rumah, minta diselimuti oleh Khadijah, lalu di bawah ke Waraqah, dan bla-bla. Selintas pintas biasa-biasa, tetapi kalau sikap kritis dikenakan, masalahnya jadi lain.
 
Malaikat Jibril berkata: “Bacalah”.
Jawab Muhammad: “Aku tidak pandai membaca”.
Lalu Jibril menarik dan memeluk hingga Muhammad  kepayahan. Kemudian dilepaskan dan disuruh menbaca lagi. Muhammad menjawab: Aku tidak pandai membaca”.
 
Kata Muhammad: “Aku ditarik dan dipelukkan pula sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan dan disuruhnya pula membaca, ‘Bacalah!’.
 “Kujawab: ‘Aku tida pandai membaca.’
 “Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskannya seraya berkata:
 Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq
 Khalaqal insana ‘alaq
 Iqra’! Warabbukal akram”.
 
Harap dicatat sirah Nabi Muhammad SAW lebih bersandar kepada hadis. Nah, ‘asal muasal’ hadis itulah yang terkadang ‘membumbui’ penulisan. Apalagi kalau sampai sanadnya meragukan. Hadis kisah wahyu pertama ini disebutkan berasal dari Al-Zuhri, Urwah, dari A’isyah. Pendek kisah, Zuhri dan Urwah tergolong pendusta. Mereka politisi yang mengikuti siapa yang berkuasa. Menurut Kang Jalal, karenanya patut diduga hanya dusta.
 
Lagi pula, pada saat wahyu diturunkan A’isyah belum lahir. Pada riwayat hadis tersebut tergambar seakan-akan A’isyah melihat dan mendengar sendiri ‘perjalanan’; sebelum, saat, dan sesudah ayat itu diturunkan. Yang dipersoalkan seolah-olahnya itu, A’isyah ‘melihat’  peristiwa maha besar tersebut.
 
Kritik matan juga diketengahkan, bagaimana mungkin Jibril sampai tiga kali menyuruh Muhammad membaca, apakah Jibril tidak tahu ‘calon’ Nabi pilihan Allah SWT tidak bisa membaca? Ah, Jibril sungguh disayangkan sampai membuat Muhammad ketakutan. Ingat, Rasulullah adalah kekasih Allah.
 
Belum lagi soal kisah-kisah ala perdukunan yang menyerta, dan puncaknya Rasulullah dibawah ke Waraqah. Waduh, kog harus berkonsultasi ke Waraqah. Padahal, bukankah dulu ketika Muhammad ke Syam sudah diingatkan Buhara. Dan, dalam pengalaman spritual tertinggi, manusia terpilih sangat ketakukan. Ada-ada saja.
 
Kang Jalal, disamping mengingatkan Amstrong sebagai pesimpatik yang tidak kritis, karena itu kita harus kritis membaca tulisannya, terlebih mengingatkan kita (umat Muhammad), lebih hati-hati ‘membaca’ sirah Rasulullah. Sebab, bukan tidak mugkin berasal dari hadis yang tidak benar, atau diragukan kebenarannya. Diriwayatkan atau berasal dari orang yang kejujurannya dipetanyakan.

Penulisan Kritis
Dipicu dan dipacu analisis Kang Jalal, ada terbesit kehendak, para ilmuwan (ulama; ahli hadis) memberi penjelasan lebih luas. Sangat disayangkan, sirah Rasulullah yang kini semakin banyak —dan fatkanya dicari pembaca— ditulis lebih kritis. Sejarah, apalagi kisah Rasulullah, bukan saja bersandar pada apa yang terjadi, tetapi terlebih makna keteladanan itu yang akan menyelamatkan kehidupan ummat, dan … dunia.
 
Bahwa perdebatan akan terjadi, setidaknya berbagai arugemen akan menyerta, ya wajar saja. Harap diingat, tidak semua orang mampu memahami hadis —tidak semua orang harus jadi ahli hadis. Karena itu, alangkah lebih baik, untuk orang-orang seperti saya dan ‘pembaca umum’ lainnya, tulisan obyektif tanpa ganjalan dihidangkan sedemikian rupa. Agar, generasi Islam ke depan, lebih mantap pegangannya.
 
Ya Rasulullah, hamba tidak akan meragukan kebenaran dan risalahmu. Tapi, pikiran akan lebih nyaman, hati semakin membuncah mencintai dan mengaplikasikan risalahmu manakala didapat dari rawian perjalanan kehidupanmu yang tidak ada ganjalan sedikit pun.
 
Doakan pengikutmu yang masih jahliyah ini ‘menemukan’ kedamaian dalam risalah dan riwayatmu yang menuntun. Ya rasulullah, Ya Kekasih Allah, kami adalah pencinta. Pencinta yang berusaha menggali potensi cintamu. Salam ya Nabi, Salam Ya Muhammad Rasulullah, Salam Ya Kekasih Allah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 1 Januari 2008.

  1. 14 Responses to “Mungkinkah Rasulullah Ketakutan?”

  2. By mathematicse on Jan 2, 2008 | Reply

    Iya juga sih? Kenapa Jibril tidak tahu ya?

    Apakah Allah tidak memberi tahu Jibril terlebih dulu?

    ***Atau Allah merahasiakan agar Jibril menaku-nakuti Muhammad?

  3. By mathematicse on Jan 2, 2008 | Reply

    Jadi terpantik berpikir kritis nih……. :D

    ***Ya sama. Minimal kita beripikir lebih kritis.

  4. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    Waaah tulisan berat ini dan melawan arus.
    Begini Bang, saya kira hadits2 yang sudah tenar itu kemudian di kritisi oleh Kang Jalal justru menjadikannya sebagai pembanding. Bukan sebagai kritik yang bisa menyebabkan sejarah turunnya wahyu itu berubah.

    Saya pun tidak meliha di tulisan Bang Ersis ini ada urutan sejarah selain dari versi hadtis tersebut. Yang saya tahu versi sejarah turun wahyu itu sudah tenar sejak dari madrasah.

    ————-
    Hadits bagaimanapun juga adalah bersumber dari Sabda Nabi saw, cerita dan pandangan para sahabat ketika melihat Nabi saw. Kemudian kenapa menjadi diragukan adalah karena perawinya (sifat, karakter dan macam2) itu mempengaruhi kualitas hadits yang di sampaikan. Sehingga disebut hadits itu doif. Tetapi mutlak bahwa sabda, pandangan dan ketetapan Nabi saw itu tidaklah bahwa hadits itu memang benar dari Nabi saw.

    Kemudian, definisi doif, maudlu, muttasil, munhqoti, marfu, sohih… dll ada puluhan istilah adalah juga produk dari sebuah ilmu pengetahuan bernama Musthalahul hadtis.. sebuah pengetahuan lagi-lagi adalah juga sebuah upaya manusia…

    Jadi saya tetap mempercayai hadits sejarah itu sebagai hadtis yang saat ini berkembang. Perkara Ada keraguan hanyalah untuk memperdalam sejarah dan kritik..

    Hadtis2 doif tetap dipakai asal bukan pada masalah ibadah apalagi ibadah yang murni… sejarah bukanlah ibadah yagn murni.. “hadtis2″ alam pun bakal bicara sebagaimana fakta-fakta tentang sejarah para nabi zaman dulu..

    Wallahu a’lam
    Maaf bang positngannya kok ada di sini.. maksudnya komnetarnya panjang sekali.. :)
    masalah menarik dikomentari yang panjang boleh kan?

    BTW,
    sayangnya Bang Ersis tidak mengungkapkan hadits2 itu yang dianggap valid.

    ****Perkara Ada keraguan hanyalah untuk memperdalam sejarah dan kritik … ya ya … saya ‘bertanya’, bukan hendak berperkara. Ingin memperdalam pemahaman, saya baca seratusan buku tentang Muhammad SAW, dan banyak hal (agak ganjil) demi pemantapan. Termasuk yang Sampeyan diskusikan tentang “turunan Rasulullah”. Dalam ranah hukum Islam, apakah kita menganut patrilinial, apakah bangsa Arab (kuno) penganut patrilinial atau seperti orang Minang mantrilinial. Yang kurang sreg demi ’sesuatu’ berpindah. Saya ingin belajar, termasuk dari Sampeyan.

    Say juga dah siap mental, kalau ini akan mengundang perdebatan kontrarodukti akan ditutup. Saya serius minta nasehat. Salam.

  5. By Kombor on Jan 2, 2008 | Reply

    Selama ini saya tidak kritis terhadap sirah Nabi Muhammad karena tidak banyak buku tentang sejarah Nabi yang saya baca. Mengenai perlunya kritisi terhadap sumber rujukan sejarah turunnya alqur’an seperti yang ditulis Pak Ersis (pengantar Jalaludin Rakhmat), saya baru mengetahui saat membaca tulisan ini. Begitu payahkah saya?

    Lalu mengenai pertanyaan: mungkinkah Rasulullah ketakutan? Tanpa mengurangi derajad keyakinan saya bahwa beliau adalah Rasul Allah, saya menganggap beliau juga manusia biasa yang tidak luput dari rasa takut. Jadi, mungkin saja benar beliau ketakutan pada saat menerima wahyu pertama tersebut.

    ***Kita sama saja, Muhamad sebagai manusia, wajarlah punya ketakutan seperti kita. Tapi, ada juga lho cerita-cerita mistis yang ngak masuk akal alias melawan ketentuan pokok Allah sendiri. Kita jadikan bahan renungan saja agar kritis, bukan untuk saling menyalahkan atau berdebat berkepanjangan. Mari Mas kita sama-sama belajar lebih memahami. Jabat erat dalam Islam.

  6. By hadi arr on Jan 2, 2008 | Reply

    menurut guru saya waktu masih di sekolah dasar bahwa Nabi Muhammad pulang dengan badan gemetar tidak disimpulkan bahwa Nabi Muhammad ketakutan (apa saya yang lupa), tetapi mengingat dalam perenungannya Beliau bisa berhari-hari di gua Hira’ bisa saja hal itu terjadi karena suhu udara malam terlalu dingin buat beliau atau mungkin kondisi beliau yang dalam keadaan lapar, sekaligus juga menunjukan bahwa Beliau adalah manusia biasa juga (ini kata saya sih).
    Bung Ersis, semakin hari perjalanan saya semakin jauh di dunia blogsphere ini, semakin banyak yang saya temui dan semakin banyak yang saya tau disamping tentunya juga banyak yang membuat saya galau terutama perdebatan antar FAHAM, kira nya Bung Ersis bisa meberikan sedikit petunjuk buat saya bagaimana menyikapi hal-hal yang demikian apalagi pengetahuan agama saya relatif minim sekali(dalam hal ini bukan untuk memberikan komen, lho) sedikit pandangan untuk memfilter arus yang masuk lewat apa yang saya baca, terima kasih.

    ***
    1. Saya juga pingin memahami lebih dalam. Sama kita. Sama-sama belajar.
    4. Ngak usah ikut perbedaan faham … saya meratikan mereka ngak faham esensi agama (Islam) … belum nemu tu ajaran (Al-Quran dan Hadis) kalau kita ngak sepaham … berantem … namun cari pemahaman, bukan berbantah-bantaham.

  7. By Gempur on Jan 2, 2008 | Reply

    Terlepas dari hadits yang mungkin dianggap dhoif, maaf, saya miskin ilmu musthalatul hadits.. saya hanya ingin menanggapi tentang respon Muhammad SAW yang gemetar ketakutan..

    Menurut saya, menanggapi judul di atas, jawabannya SANGAT MUNGKIN

    Asumsi saya, respon Rasulullah SAW yang gemetar dan ketakutan adalah respon yang wajar sebagai manusia. Gak perlu malaikat Jibril, melihat barang ‘halus’, respon pertama manusia pasti merinding bulu kuduknya.. Apalagi yang datang utusan penyampai wahyu Tuhan bernama Jibril.. Saya kira yang menjadikan Muhammad gemetar, tentunya beban amanah yang sedemikian besar yang akan disandangnya yang menjadikannya sedemikian gemetar, Rasul seorang yang rendah hati dan sangat tidak menyombongkan diri, sehingga ketika diamanahi misi kerasulan, beliau ketakutan, meskipun beliau manusia pilihan. ALMUSTHAFA.

    Allahumma Sholli Ala Muhammad Wa Ala Alihi wa Ashabihi Ajmain

    Justeru itulah yang menurut saya menunjukkan kemanusiaannya Rasulullah SAW. Malah aneh, ketika melihat Jibril pertama kali, Rasulullah tersenyum atau malah siap sedia. Wallahu A’lam.

    Sejalan dengan itu, saya teringat film garapan Mel Gibson tentang Yesus. Passion of Christ, mengungkap kemanusiaan Yesus yang merintih menggugat Tuhan. Menganggap Tuhan telah meninggalkannya. Rintihan menjelang kematian Yesus di tiang Salib dalam sepi tiada tara. Bahwa Yesus adalah manusia seperti umatnya. Meskipun ia manusia pilihan, bahkan Tuhan dalam pandangan Kristiani.

    Sekali lagi, Wallahu A’lam. Terlepas dari polemik tersebut. Mohon do’anya agar saya bisa mengikuti sunnahnya, mencintainya sebagaimana sahabat2 mencintainya. Meski itu hampir mustahil.. derajat kemanusiaan saya masih jauh di bawah panjenengan semua, apalagi dibandingkan dengan sahabat dan Rasulullah SAW.

    Kepada Pak Ersis, terima kasih telah memberi pelajaran telaah kritis atas Sirah Nabawiyyah. Mudah2an menjadi amal shalih untuk panjenengan. Amin Allahumma Amin.

    ***
    1. … Saya kira yang menjadikan Muhammad gemetar, tentunya beban amanah yang sedemikian besar yang akan disandangnya … ini pemahaman dan kalimat cerdas … hanya kenapa Muhammad sampai konsul ke Waraqah? Ya Mas, mari kita sama-sama memperdalam dengan hati damai.

    2. Banyak hal akan kita diskusikan … asal jangan menagcung pedang kebenaran sendiri.

    2.1 Misal, … kenapa Rasulullah beristeri sampai 10? Anak lelaki Beliau meninggal semua. Risalah Islam itu patrilinial, seperi juga bangsa Arab. Kalau ada turunan (langsung beliau) tinjauan logisnya gimana? Ngak mungkin dong berpindah jadi matrilineal.
    2.2 Bisa ngak Rasulullah membaca? Pada awal mungkin, tetapi masa selamanya ngak bisa membaca (ummi). Beliau penganjur membaca dan menulis paling dahsyat?
    2.3 Kenapa umat beliau menjadi umat paria? Padahal, bukankah beliau penganjur menuntut ilmu?
    2.4 Beliau penganjur kebersihan, banyak lembaga di kelola umat Islam, jorok. Kalah jauh dari yang dikelola umat agama lain.

    3. Tolong saya memahamai, atau kita sama-sama memahami, tentang Rasulullah (contoh 1 dan 2), dan umatnya (3 dan 4) yang kalau dikritis … jangan-jangan kita yang pengikut Rasulullah … tidak menjalankan amanah Beliau.

    Salam.

  8. By Willy Ediyanto on Jan 3, 2008 | Reply

    Saya ingin menanggapi masalah Pengadilan Al-Qur’an. Itu bagus, karena dengan diadili, kitab ini mau tidakmau harus dibaca dengan kritis. Tentu akan seamin banyak yang menyebrang kemari. Bukan begitu, Bang?

  9. By Ansori on Jan 3, 2008 | Reply

    Masalah berpikir kritis saya sepakat, dan harus… Allah memberikan kita prasarana utk mencapai hidayah, yaitu akal.

    pengetian yang bermacam2 ttg “gemetar”nya Rosulullah adalah sebuah penafsiran, dan itu merupakan hasil kerja akal (dalam konteks lain: berfilsafat), dengan mengolah informasi2; bisa dari alquran, hadits dan nalar.

    Sepakat dg yai Kurt, informasi dari hadits dhoif adalah boleh kalau itu merupakan hikmah2/fadlilah2, bukan penetapan hukum atau ibadah murni.

    sebagai seorang nabi, dari tidak bisa membaca menjadi bisa, bukanlah sesuatu yg susah, kalau yg memberi mandat menghendaki, seperti kisah nabi ibrahim dalam alquran, sbg smber yg utama dan pertama, yg tak terbkar api walau dia sama2 manusia.

    menurut saya takut adlah hal yang biasa dan manusiawi, takut juga merupakan bagian dari taqwa.
    Wallahu a’alm bishshowab

    ***Ya ya kita sealiran saja he he … sikap kritis positif memaknai ‘tanda-tanda’ Allah SWT, amanah rasulullah, kiranya amal. Kalau … melahirkan pertentangan kontraproduktif, baru celaka. Saya ngak suka itu, dan ngak mau terjerembab. Tapi, akan berpikir kritis sesuai ‘perintah’ Allah SWT.

  10. By sawali tuhusetya on Jan 4, 2008 | Reply

    kaum orientalis barat banyak yang salah dalam menafsirkan esensi islam. sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong setidaknya ingin menetralisir pendapat itu. gambaran bahwa islam disebarkan dengan simbol kekerasan melalui pedang agaknya itu yang membikin orang2 barat alergi terhadap islam. bagi mereka, islam dipahami tidak rahmatan lil-alamiin. di indonesia saja agaknya penafsiran2 pun juga banyak berkembang. lihat saja kata2 yang suka mengkafirkan orang lain yang dinilai tidak sepaham. semoga saja perbedaan penafsiran semacam itu nggak sampai memperparah pefasiran orang barat tentang substansi islam.

    ***Amin, tapi ini perlu beberapa abad Pak. Soalnya mindset mayoritas Barat sudah terpola. Ini berkaitan dengan beban sejarah, dendam sejarah. Islam (Turki Usmani) pernah menjajah Eropah … dibalas dengan amcient imperialism dan modern imperialism plus kembangnnya. Kini, apalagi sejak peristiwa WTO gagasan Huntington, clash of civilizations … sampai mengover fundamentalis yang berakar dari gerakan Kristen di US menjadi dosa … Islam fundamentilsm, radicalism, terorism, dan so on. Dan … kalau ho oh saja, itu namanya? Salam Pak.

  11. By gempur on Jan 4, 2008 | Reply

    Maaf, pak ersis, saya belum ada bahan lagi.. nanti saya kembali lagi, nimba ilmu dulu baru kita diskusikan lagi.. hehehehe.. tanggapan bapak menarik di komentar saya.. menggelitik untuk menjawab.. tapi, maaf, nanti ya pak.. miskin ilmu nih! ;-)

    ***Ha ha bisa aja … ngak ada orang miskin ilmu sebab berasal dari Allah SWT, yang ada yang belum memiliki he he … dan semakin memiliki semakin miskin. Jadi, yang paling kaya yang tidak mengerti he he. Bingung?

  12. By gempur on Jan 4, 2008 | Reply

    <blockquote>2.1 Misal, … kenapa Rasulullah beristeri sampai 10? Anak lelaki Beliau meninggal semua. Risalah Islam itu patrilinial, seperi juga bangsa Arab. Kalau ada turunan (langsung beliau) tinjauan logisnya gimana? Ngak mungkin dong berpindah jadi matrilineal.</blockquote>

    Sepertinya, Tuhan sengaja memutuskan rantai keturunan Rasulullah, karena memang ‘dunia milik lelaki’, seperti juga kata ‘Aristoteles’ kalo gak salah, ‘bahwa wanita makhluk yang tidak sempurna’. Fenomena yang lantas menarik untuk dikaji adalah ‘ahlul bait’ yang merupakan keturunan Rasullullah, tapi dari anak wanita. Meskipun patrilinial, tapi ‘ahlul bait’ keukeuh menganggap keturunan Rasulullah, bukan Ali r.a. Terus terang saya bingung dan tak punya ilmu untuk yang satu ini.

    <blockquote>2.2 Bisa ngak Rasulullah membaca? Pada awal mungkin, tetapi masa selamanya ngak bisa membaca (ummi). Beliau penganjur membaca dan menulis paling dahsyat?</blockquote>

    Pak Ersis, menulis dan membacanya Rasulullah SAW derajatnya sudah beda. Membacanya kita, jelas pegang buku, tapi membacanya Rasul langsung qolbu dunia dan para manusia. Sedangkan menulisnya rasul, langsung menulis di langit dan di hati para sahabatnya.. hehehehe… Mudah2an gak salah..

    <blockquote>2. Banyak hal akan kita diskusikan … asal jangan menagcung pedang kebenaran sendiri.</blockquote>

    Sama sekali tidak, Pak Kurt! Mudah2an, kita saling mengacungkan pena atau keyboard komputer kita ajah.. hahahahahahahaha..

    <blockquote>2.3 Kenapa umat beliau menjadi umat paria? Padahal, bukankah beliau penganjur menuntut ilmu?
    2.4 Beliau penganjur kebersihan, banyak lembaga di kelola umat Islam, jorok. Kalah jauh dari yang dikelola umat agama lain.</blockquote>

    Ini hanya masalah sejarah pak Ersis! Di masa Islam menguasai Eropa, umat lain masih pada meler, pilek, teler, kumuh dan jorok. Begitupun sekarang, ketika barat menguasai sebagian besar dunia, jelas Islam ganti yang kelihatan jorok dan kumuh! Kuncinya, seperti orang Yahudi, kuasai Sejarah dan buat sejarah..! La kita masih berkutat pada ‘Membaca Sejarah’ dan belum kuat untuk mencipta sejarah, gimana mau hebad! tul gak?! hehehehehe

    ***Setuju … dalam kerangka belajar pemahaman lebih dalam. Yang tidak setuju yang terakhir. Apabila kita berbuat, apalagi bangsa, berarti dia membuat sejarh. Nah, ngaku aja deh … itu yang tidak (kurang) kita lakukan. Kita sibuk memahami teori-teori mereka, sementara mereka berbuat. Ambil contoh, saat sekarang adalah puncak paling banyak institusi dan lembaga kehutanan, pemerintah menyekolahkan cerdik cendia ke berbagai negara … belajar teori sampai profesor … hutan kita gundul. Tul ngak?

    Kenapa kita menginpor beras, durian, mentimun … sampai kondom bekas? Padahal, kita punya segalanya. Kita terjerembab teori, teori, tatar-menatar. Sesuatu yang tidak dilakukan dimasa kejayaan Bangsa dan Islam tempo hari. Dulu, fokus berbuat yang terbaik.

    Coba perhatikan hal paling lucu terakhir. Sungguh menggelikan. Pemerintah mau mengoper minyak tanah ke elpiji. Bukannya menyiapkan industri tabung elpiji, yang bertehnologi sederhana, pasti bisa dibuat industri dalam negeri … e diimpor dari Thailand. Sabar pang, beberapa bulan produksi sendiri. Wong bikin kapala laut dan pesawat terbang aja bisa kog. Kita, mungkin bangsa saudagar he he.

    Wah bisa makin asyik nich diskusinya.

  13. By haniifa on Jan 5, 2008 | Reply

    <p>Salam,<br />
    Allah Ta’ala berfirman:<br />
    “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas “KERTAS”, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’ “. (QS 6:7)</p>
    <p>Kata “QIRTHOSIN” diterjemaahkan sebagai “KERTAS”, menurut pemahaman saya sebaik diterjamaahkan sebagai suatu bentuk “tulisan yang nyata”, baik melalui media Kertas, Tulang, Batu dsb…sdb.<br />
    Dalam surat Al An’aam ayat 7 tersebut diatas jelas seluruh “Wahyu” Allah tidak disampaikan dalam bentuk tulisan, melainkan dengan cara diluar “tulisan”, mis. melalui ucapan Malaikat jibril, Langsung masuk ke hati Rasul, lewat frekwensi lonceng ….dsb.</p>
    <p>Jadi pada wahyu pertama:<br />
    Malaikat Jibril berkata: “Bacalah”.<br />

    Jika jawaban Muhammad: “Aku tidak pandai membaca”. ini krontradiktif dengan ayat (QS 6:7), sebab Muhammad seolah-olah melihat object tulisan yang dibawa oleh Malaikat Jibril.</p>
    <p>Muhammad ketakutan ??<br />
    Bagaimana mungkin orang yang “Al Amin” dan selalu mengharapkan petunjuk dari Allah, menjadi ketakutan manakala petunjuk itu datang.<br />
    so…<br />
    Malaikat Jibril berkata “Bacalah”<br />
    Muhammad menjawab : “Apa yang musti saya baca”, dalam keheranannya karena ada orang (Jibril menyerupai orang) menyuruh membaca sementara bentuk tulisan yang hendak di baca tidak ada.<br />
    Kata Muhammad: “Aku ditarik dan dipelukkan pula sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan dan disuruhnya pula membaca, ‘Bacalah!’.<br />
    “Kujawab: ‘Aku tida tahu apa yang musti dimembaca.’<br />
    “Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskannya seraya berkata:<br />
    Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq<br />
    Khalaqal insana ‘alaq<br />
    Iqra’! Warabbukal akram”.<br />
    Setelah 3x barulah Nabi Muhammad s.a.w mengerti bahwa yang dimaksud adalah “HAPALKAN” ini ayat pertama dari Allah kepada seorang hambanya yang telah dipersiapkan untuk menjadi Nabi dan Rasullullah terakhir.</p>
    <p>Wassalam.</p>

    ***Ya ya … <em>begitulah yang kita ‘pelajari’ semala ini, dalam kaitan keimanan. Ok banget. Itu hubungan vertikal Rasulullah dengan Sang Khalik, ketika Rasulullah sudah menjadi utusanNya dan menyiarkan ke ummat, sesuadh itu … tidak mungkinkah Rasulullah akhirnya bisa ‘membaca dan menulis’ versi manusia? Trim atas masukannya. Ingat, saya sedang belajar. Jadi, bukan untuk mendebat pendapat atau pemahaman. Moga-mogaan saya mendapat kemamntapan. Trims. </em>

  14. By Mega on Jan 5, 2008 | Reply

    Wow..Tulisannya yang ini berat bagi otakku..
    blon kemakan sama awak euy..
    paniang jadinyo

    ***Padahal, ringan-ringan aja tu. Persaan Sampeyan aja kali.

  15. By Kurt on Jan 5, 2008 | Reply

    Nah komentar saya di atas itu terkesan menyerang habis2an yaah heheheh :)
    padahal swer saya sedang happy menuliskannya, dan tanpa ada kerutan di atas mata saya… semoga saja dipahami juga tidak sedang meneyrang… :)

    Tentang patri dan matri dalam hal keturuanan bang Ersis lebih banyak membaca sementara saya lebih banayk berhubungan dengan patri-patri itu. Jadi alam yang berbeda juga memberikan nuansa perbedaan dalam menulis komentar heheeh :)

    *dari aroma terbayang kelezatannya
    dari komentar terbayang sifat oranyga
    kira2 saya bersifat bagaimaan nih bang?
    :)

    ***Itu kan perasaan sampeyan saja. Seseorang yang melempar ‘pikirannya’ ke ruang publik, kan sudah mempersiapkan mental sebelumnya. Serang aja, he he.

    Sampeyan berpikirnya secepat mengambil keputusan … hati-hati terkadang bisa ngawur (itu saya he he). Hal paling jelek di sampeyan, kalau rasa percaya dirinya hilang (mabur). Nah, ini yang akan menjadi penghalang sebagai orang hebat. Padahal, wuaw … potensinya luar biasa. Ak peang sampeyan deh.

Post a Comment