Dosen Pelit Menulis

28 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Menulis keperluan profesional sebaiknya didahulukan, apalagi sebagai tenaga edukatif. Penghalangnya, alasan, alasan, dan alasan. Melawan alasan adalah perjuangan tersendiri

DOSEN PELIT. Ya ya, saya (mungkin) dosen pelit. Suatu kali, di perpustakaan kerja saya, Daud Pamungkas, dosen senior mata kuliah Membaca, menghadiahkan buku: Membaca Mertas Jalan Sukses. Buku pertamanya setelah 23 tahun mendosen. Saya sering mengingatkan sekaligus memotivasi, menulislah kawan. Satu hal yang saya ingat: “Sampeyan tulislah buku teks untuk keperluan kuliah”, katanya setengah menyindir setengah memotivasi. Saya jawab dengan senyum bermakna.
 
Ya ya, saya tersadar. Bahkan, bisa jadi termasuk dungu. Buku teks yang dibuat baru dua; Memahami Sejarah, dan Bab-Bab Antropologi, karya Prof. Fudiat Suryadikara (almarhum) yang saya sunting. Saya asisten beliau. Ya ya, kata-kata Daud menantik alam sadar. Saya bertekad, menulis buku teks —bidang apa saja. Tahun 2008 ini, Insya Allah akan dimulai selepas buku serial menulis sampai tujuh buku.
 
Sebagai dosen, terutama di lingkungan sendiri, setidaknya ada dua hal lucu soal tulis-menulis. Pertama, jarang dosen membekali diri memberi kuliah berbekal karya sendiri. Buku orang dengan segala kehebatannya ‘didongengkan’ di muka kelas.
 
Orang itu adalah saya. Kata-kata Daud tidak akan dilupakan dan (motivasi) akan diaplikasikan. Belajar menulis buku teks untuk keperluan perkuliahan. Makasih kawan. Alasan apa pun akan ditendang. Wakunya, menulis, menulis, dan menulis.
 
Kedua, strategi menulis lebih umum, nampaknya baik diimbangi dengan dataran keilmuan, berhubungan langsung dengan profesi. Ya, para pembelajar yang menjadi (bagian) tanggung jawab harus diutamakan. Mohon maaf kepada mahasis-mahasiwa. Insya Allah, ke depan setiap mata kuliah akan didukung dengan buku penunjang karya saya. Terlepas ngak mutu, he he.
 
Dalam pada itu, ketika berselancar di dunia maya, bersirobok tulisan Saiful Mahdi yang sangat menghentak, Ketika Orang Kampus Belajar Menulis. Tulisan dimulai bersandar pada hadis Rasulullah: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” .
 
Lebih menakjubkan, tentang  Gerakan IAIN Ar-Raniry menulis. Betapa tidak, dalam rangka Dies Natalis ke-41, kampanye “mari menulis” menjadi tema sentral yang digaungkan. Hasilnya, seperti ditulis Serambi (5/10), IAIN Ar-Raniry meluncurkan 45 judul buku pada peringatan diesnya. Bagaimana bisa terjadi?
 
Tidak tanggung-tanggung, Prof. Rusjdi Ali Muhammad, SH., Rektor IAIN Ar-Raniry langsung memimpin gerakan menulis dan “menulis kembali” tersebut. Rusjdi bertekad akan terus menerbitkan karya-karya dosen dan mahasiswanya. Bahkan IAIN Ar-Raniry bersedia menerbitkan karya-karya pemuda Aceh lainnya.
 
Sampeyan mau pakai analisis apa saja, pastilah akan berdecak kagum. Wajar saya, dan tentu banyak orang, terpantik menggiatkan tulis-menulis (buku). Universitas Gadjah Madah, misalnya, punya percetakan dan penerbitan kampus. Tentu banyak perguruan tinggi lain yang melakukan hal serupa, namum lebih banyak yang masih adem ayam saja. Mana tahu, kampus-kampus menjadi pusat penulisan dan penerbitan buku. Suatu saat nanti.
 
Dengan kata lain, terlepas di kampus masing-masing kegiatan dan fasilitas menulis dan menerbitkan karya belum mengembirakan, tidak ada salahnya dimulai dari diri sendiri. Amatiran dululah. Kalau masa ketika hampir, tinggal bergabung dengan gelombang positif tersebut.
 
Di kampus saya, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dosen-dosen yang menulis cukup banyak. Tetapi, lebih banyak lagi yang belum sempat menulis (buku ajar) tersebab berbagai alasan. Ketika baru-baru ini ada proyek SP4, banyak yang memasukkan program menulis buku ajar. Hasilnya, beberapa buku ajar diterbitkan.
 
Mana tahu, kalau kebijakan demikian dikembangbiakkan, suatu saat kelak (bukan kemudian hari, lho), menerbitkan buku bagi dosen bukanlah hal mewah. Mula-mula untuk dipakai sendiri, yah … katakanlah baru ‘berani’ memasarkan untuk mahasiswa sendiri. Kalau sudah sampai waktunya, kan bisa keluar dari ‘teritorial’. Dipakai dimana-mana.
 
Ibarat melangkah, saya memang baru mampu menulis (buku) ‘kacangan’, belum yang berbobot seberat Kapal Selam. Namanya saja belajar, lari dari kedunguan. Hanya saja, kalau tidak berani memulai, ya kapan akan fasih. Dosen, guru, atau siapa saja sebenarnya, apalagi ilmuwan sekelas doktor, sebaiknya memang giat menulis.
 
Produksi buku Indonesia, konon, jauh tertinggal dari India, dan tentu saja, apalagi kalau dibanding negara-negara maju. Yang pasti, dulunya negara-negara tersebut bukan sehebat sekarang. Ketika ‘kita’ membuat candi Prambanan dan Borobudur, mereka ada yang masih telajang, he … he … Duna berputar, kata pepatah, dan kenyataanya demikian.
 
Konon, menurut sejarawan, suatu bangsa memasuki jaman sejarah manakala telah ditemui tulisan. Sebelumnya, masih jahiliyah. Menurut antropolog, tinggi-rendahnya kebudayaan suatu masyarakat, sampai mencapai puncak peradaban,  karena daya pikir dan kreatifnya, unggul. Menulis hasil pikir, karya pemikiran, dan meimplementasikannya akan jadi penanda tingkat kebudayaan dan keunggulan dari bangsa lain.
 
Pada ketika sekarang, penerbitan buku di Indonesia cukup marak. Misalnya, ketika mengoleksi lebih seratus buku tentang Nabi Muhammad SAW, sebagian besar karya terjemahaan. Padahal, kalau lebih banyak orang menulis —toh bahannya berhamburan— akan lebih baik. Menerjemahkan karya asing tidak ada salahnya, adakalanya sangat bagus. Namun, akan lebih bagus kalau yang digenjot karya anak bangsa. Kalaulah kita tidak menulis, dan mematenkan, misalnya, karya budaya kita, suatu saat dicolong orang, kita akan kecele.
 
Dus, marilah menulis apa yang bisa ditulis. Siapa pun Sampeyan, bidang apa pun yang digeluti, kalau sempat dan mampu menulis, mari menulis. Menulis bukanlah pekerjaan haram.
 
Apalagi, dosen atau guru seperti saya. Alhamdulillah, muncul kesadaran, dan karena itu sedang berusaha belajar menulis dengan menulis. Akan sangat membanggakan manakala Sampeyan memberi masukan, arahan, dan atau kritikan konstruktif.
 
Akhirnya, sekali lagi, menulis mari menulis. Mudah-mudahan dengan niat tersebut dan melakukannya, bisa beranjak dari dosen pelit, pelit menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 28 Desember 2007

  1. 13 Responses to “Dosen Pelit Menulis”

  2. By mathematicse on Dec 28, 2007 | Reply

    Wah, kalau saya, (buangga sendiri nih, bukan narsis ya… :D), sewaktu belajar mengajar, selalu mempersiapkan diri dengan cara menuliskan apa-apa yang akan disampaikan. Dalam satu semester, sudah bisa terkumpul sekitar 100-an halaman (walau berupa tulisan tangan dulu…, banyak perhitungannnya sih…). Rencananya akan ditulis ulang, diketik, eh keburu sekolah dulu nih…. :D (Jadinya cuma catatan kuiah sendiri aja… )

    ***Siiip, Insya Allah jadi buku. Tapi, waktu sekolah adalah waktu emas menulis kan Pak? Semakin sibuk kita semakin banyak hasil (karya). Menulis di lintasan waktu menangkap peluang, memanfaatkankesempatan. Sibuk? Aha, cuman alasan (he he, sekali-sekali mencadai Kang Jupri).

  3. By mathematicse on Dec 28, 2007 | Reply

    Eh yang tadi perdanax ya…? Eh pertamax maksudku… :D

    ***Sama saja. Tapi, ini kan bukan blog seleb he he

  4. By Gede H. Cahyana on Dec 28, 2007 | Reply

    Pak…, tak hanya di kalangan dosen yang sulit menulis tetapi di kalangan guru juga idem ditto. Hanya saja, kalangan guru dapat “dimaklumi” lantaran kewajiban administratifnya demikian tinggi dan menjadi beban tersendiri. Apalagi pembagian raport pada hari ini atau Sabtu besok. Guru-guru sudah dibuat pusing untuk mengisi buku raport karena isinya sangat-sangat-sangat-sangat dan sangat berbeda dengan raport zaman saya dan pasti juga berbeda dengan raport pada masa bapak sekolah di sekolah menengah.

    Guru nyaris tak punya waktu lagi untuk menulis lantaran waktunya habis untuk urusan di luar “akademis” dan lebih berat pada urusan administrasi. Apa misalnya? Itu tadi, pengisian raport dengan puluhan kompetensi, menuliskan nilai angka dan nilai hurufnya termasuk mendata kehadiran siswa. Wah… seabreg atau seabrek..

    Demikian dan salam tulis.

    Gede H. Cahyana
    http://gedehace.blogspot.com

    ***Ya ya kalau kita beralasan terus, ya buku-buku lucu, komik ngak keruan, seks, atau novel picisan akan membanjiri pasar, dan merka dapat duit. Guru? Kalau beralasan terus, ya nanti yang dipakai buku ‘cara ketawa ala guru; he he. Maaf becanda. Mari kita (mulai) belajar menulis. Alasan …. buang jauh-jauh. Pebisnis bekerja hampir 24 jam, tanpa libur. Guru paling banyak libur.

  5. By unai on Dec 28, 2007 | Reply

    di kampus tempat saya bekerja saat ini juga sudah ada percetakan dan penerbitan buku. Kebanyakan malah mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas itu.

    ***Malah bagus. Bisa potong generasi … acung tu ama mahasiswa.

  6. By kombor on Dec 28, 2007 | Reply

    Waktu SMA dulu, saya terkagum-kagum dengan guru Bahasa Indonesia saya karena beliau memberi pelajaran dengan buku ajar karya beliau. Beliau adalah Drs. Asul Wiyanto. Personal brand beliau juga cukup oke. Silakan googling saja dengan kata kunci “asul wiyanto” untuk membuktikannya.

    ***Berterima kasihla pada beliau. Saya bangga dengan guru sedemikian. Insya allah secepatnya diintip. Salam Mas.

  7. By Yari NK on Dec 29, 2007 | Reply

    Ya begitulah…. bangsa yang pelit membaca biasanya (apalagi) pelit menulis. Wong apanya yang mau ditulis kalau yang dibaca juga jarang. Apalagi atmosfer membaca/menulis juga tidak mendukung. Udah, klop deh. Atau kebalikan ya? Karena dosennya pelit menulis, maka mahasiswanya jadi pelit membaca dan masyarakat pada umumnya juga jadi pelit membaca juga?? Apa justru kebalikannya begitu ya?

    Ya udah…. yang penting sekarang saya mulai dari dalam keluarga saja… saya biarkan anak2 saya melihat saya kalau lagi mengetik atau mengeblog meskipun dia nggak sepenuhnya mengerti apa yang saya tulis. Biarin aja kalau dia mau mengetik ngaco pakai “Notepad” yang penting saya usahakan supaya memperkenalkan dunia tulis umumnya atau dunia blogging khususnya (dan juga dunia informasi tentu saja) kepada mereka sedini mungkin. Yah mudah2an berhasil. Memang segalanya harus diawali dari rumah dulu dan sedini mungkin ya?

    ***Ya begitulah … mari kita mulai dari lingkungan terdekat, keluarga. Setujuuuuuuuuu.

  8. By Kurt on Dec 29, 2007 | Reply

    “Pada ketika sekarang, penerbitan buku di Indonesia cukup marak. Misalnya, ketika mengoleksi lebih seratus buku tentang Nabi Muhammad SAW, sebagian besar karya terjemahaan.”

    Bahasa memang sangat menarik namun sayangnya tertegun-tegun dengan terjemahan. Kalau saya liat di tokok buku memang kebnyakan terjemahan bahkan dibuat se lux mungkin. Dan untuk Islam kebanyakan adalah buku2 dari pengarang di mana negaranya itu mendapat tekanan dan kebetulan bermusuhan dengan negara2 sekuler… sehingga bau2nya hingga ke mari…

    ***Ya ya … akibatnya ….(?)

  9. By tok on Dec 29, 2007 | Reply

    Ya, sudah seharusnya, guru dan dosen itu banyak-banyak menulis. Kebetulan, meski masih relatif muda, saya juga seorang dosen di sebuah PTS. Dan kebetulan juga saya sudah merampungkan satu buah buku, kini tinggal menunggu penerbitan. Satu buku lagi, masih sedang disusun. Ya…Mudah-mudahan bisa memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan kita!!!
    Pak Ersis, terus menulis. Hm… saya juga punya koleksi buku yang pak ersis tulis. he..he…

    ***Amin. Menurut buku klasik J. Romein, Aera Europe, suatu bangsa akan maju manakala ada segelintir orang yang menyimpang dari pola umum, nah Sampeyan mungkin termasuk yang menyimpang, menulis di kawasan dimana orang tidak menulis. Jelas itu merupakan kontribsi.

  10. By sawali tuhusetya on Dec 29, 2007 | Reply

    Waduh, Pak, ternyata dosen saja pelit menulis, ya, Pak apalagi guru, hehehehe :lol: semoga psotingan ini juga dibaca oleh temen2 guru agar mereka tak hentl2nya memotivasi diri sendiri utk terus menulis dan menulis.
    BTW, untuk Kang Kombor ternyata pernah diajar Pak Asul Wiyanto, yak. Beliau memang guru yang hebat dan layak diteladani. saya sudah sering baca buku2nya untuk referensi bagi kepentingan pembelajaran.

    ***Ya Pak, tugas kita ngompori guru-guru. Saya betul-betul ingin mendedikasikan (sedikit) kemampuan untuk ‘menghasut’ guru menulis. Mari sama-sama.

  11. By taufik on Dec 29, 2007 | Reply

    salam

    saya sebenarnya “pengagum” tulisan-tulisan pa ersis lho!
    di mana saya bisa dapatkan buku2 karangan bp ya??

    ***Ha ha ha yang benar nich, jadi bangga he he .. Kalau di saya stok habis tu. Entah di Gramedia.

  12. By Mega on Jan 1, 2008 | Reply

    Menulis itu bukan hanya ntuk orang “penulis penulis yg terkenal aja yak..:D

  13. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    hehehe…
    OOT
    tapi, waktu saya hampir 2 tahun bolak balik aceh, pengen ikut sedikit bantu2, IAIN Ar Raniry memang sangat enak diajak kerjasama. kaget aja waktu saya mewakili beberapa teman ICT via Yayasan AirPutih ingin menyumbangkan komputer, yang responsif cuma IAIN. Bahkan rektornya masa itu yang menerima langsung. jadilah 20 komputer kita pasang disana, hasil sumbangan teman2.
    semoga komputer2 itu membantu :)

    ***Bagus itu. Selamat deh Sampeyan dan teman-teman ‘menyegarkan’ bangsa ini. Semoga berlanjut.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Dec 28, 2007: XWOMAN dan Joerig | Kombor.Com

Post a Comment