Menulis Kampung Intelektual
27 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Memang tidak ada aturan, intelektual harus subur menulis. Tetapi, akan lebih bagus intelektual menuliskan kemampuan agar dinikmati yang lain.
LEBARAN 1428 H. Seperti tahun sebelumnya, Abdur Rafi Shadiqin dan Ma’ruful Kahri bersilaturrahmi, bermaaf-maafan di hari mulia penuh berkah. Mereka sahabat saya. Shadiqin, Doktor Kesehatan Olah Raga, dan Ma’rupul calon doktor yang menempuh pendidikan S3 di UPI Bandung. Pembicaraan merembet kesana-kemari. Kami ketawa-ketawa memaknai Hari Lebaran. Saya tersenang ketika Shadiqin bicara: “Saya mau menulis buku. Mudah-mudahan cukup waktu”.
Tidak syak lagi, para sahabat ini sedang terpantik urat menulisnya. Dulu, sering saya ledek, bagaimana ini Pak Doktor, kog menulisnya loyo. Bukan bermaksud menghina, sebab dibaliknya ingin punya contoh, mencontoh teman-teman bergelar doktor dalam menulis. Katakanlah, dalam memperbaiki ‘cara’ menulis yang belum bagus-bagus amat.
Dengan Shadiqin punya ikatan batin yang cukup dalam. Bukan karena dia suka menghadiahkan buku, atau apa begitu, tetapi ketika di dera sakit maag dan mau mudik ke Padang tahun 2002, dia bilang: “EWA, aku tidak minta oleh apa-apa. Pian, puasa penuh. Insya Allah, penyakit maag pian sembuh”.
Saya praktikkan nasehatnya, dan Alhamdulillah, keluhan maag sudah berlalu. Seperti juga kepada Ma’ruful, saya tidak minta apa-apa. Permintaan hanya satu: “Kalian menulislah”. Kini, mereka mau menulis. Saya tersenang teramat sangat. Kenapa begitu senang dan bersemangat?
Kalau ada yang tersinggung, silahkan. Saya hidup di kampus, di rumah kaum intelektual. Suka membaca, terutama buku-buku terbaru. Suka menulis, apa yang bisa ditulis. Teman ‘gila’ membaca dan menulis, justru didapat di luar kampus. Teman berbagi buku, diskusi pemikiran, dan menuliskan apa yang didiskusikan. Tanpa beban, tanpa menyalahkan, dan … ini lebih penting … memotivasi.
Di kampus, lebih banyak terjerembab mengeluh tentang berbagai hal. Dari fasilitas internet sampai penghargaan karya. Pokoknya, membosankan. Ada kerinduan, perpustakaan menjadi tempat membaca, dan membiasakan mahasiswa membaca dengan garang. Ada mau, membaca jurnal-jurnal tebaru terbitan dalam dan luar negeri, buku-buku standar keilmuan. Ada kehendak, menjadi ajang saing menerbitkan buku, apakah buku teks atau sekadar bahan bacaan. Kami harus berjuang lebih keras.
Sebagai orang yang baru belajar menulis, rindu equilibrium kondusif bagi kegiatan menulis. Apa lacur, ketika menulis di surat kabar, terkadang dianggap tidak positif. Jangankan dapat penghargaan, seorang teman sampai mengeluh, ketika ada yang ‘menilai’ sebagai ‘Dosen Koran’ dengan konotasi negatif.
Karena tidak mau mengeluh, membiasakan menulis apa saja. Tanpa, ya tanpa, menanti-nanti atau berharap kondisi kondusif. Lalu, menularkan kepada mahasiswa. Saya yakin, lima atau sepuluh tahun ke depan, buahnya Insya Allah akan bermanfaat.
Kemandulan menulis bukanlah monopoli kampus kami. (Bangsa) Kita memang banyak menghasilkan sarjana, magister, dan doktor dari berbagai disiplin, tapi produk buku kita jauh dari proporsional. Kalah jauh dari India. Apalagi, negara-negara maju. Memprihatinkan.
Saya —juga teman-teman— menatap diri. Sebagai tenaga edukatif, hanya piawai menyampaikan pemikiran orang lain. Comot buku orang, lalu ‘bergaya’ di depan mahasiswa. Muncul pantikan: Kenapa apa yang diomongin, yang dikuliahkan, kog ngak ditulis?
Ya, kenapa tidak menulis? Jawabannya hanya satu, memulai menulis. Ada tambahan peluru seorang teman yang usil: Apa lo ngak malu sebagai PNS golongan IV, dosen pula, ketika harus memeriksa buku karya guru atau dosen yunior, tidak menulis satu buku pun? Waduh, ngeri. Sudah, tahu diri saja, dan mulai belajar menulis. Habis perkara.
Dalam pada itu, ketika berselancar di internet, menemukan tulisan di HU Pikiran Rakyat, 8 Januari 2007. Rada serem dan membuat balikan tanya bagus dalam ranah berpikir positif: Aneh, Guru Besar tidak “Pede” Menulis. Silahkan disimak isinya.
BANDUNG, (PR).
Guru besar tidak percaya diri (pede) untuk memublikasikan hasil-hasil penelitiannya adalah sesuatu yang aneh. Hal itu terjadi karena faktor kemampuan menulis guru besar yang terbatas. Sama halnya yang terjadi pada sebagian besar dosen yang tidak mempunyai kemampuan menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.
“Faktor penghambatnya adalah, kemungkinan guru besar merasa bahwa penelitian yang dilakukannya belum bisa dipublikasikan,” kata Ketua Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Ir. H. Rochim Suratman, usai memberikan materi pada lokakarya kurikulum PS PPKN yang diselenggarakan FKIP Unpas, di Ruang Micro Teaching Unpas, Sabtu (6/1).
… Untuk menumbuhkan kebiasaan menulis di kalangan guru besar, Rochim mengatakan, ada beberapa ilmu yang harus dikembangkan, yakni ilmu advance dan terapan. Untuk mengembangkannya, perguruan tinggi harus mempunyai jejaring dengan industri agar nantinya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, yaitu penelitian.
… Pemerintah, menurut Rochim, sudah cukup banyak menstimulasi guru besar untuk melakukan hal tersebut. Antara lain adanya riset keunggulan, riset kemitraan, riset unggulan internasional, dan ada hibah.(A-148)
Apa yang disajikan Pikiran Rakyat, tentu saja ungkap keprihatinan. Tetapi, begitulah kenyatannya. Seorang kawan malahan menambahi, jangankan hasil penelitian, Disertasi Doktor saja banyak para ‘ilmuwan sejati’ tersebut yang ‘tidak berani’ menerbitkannya. Yang mengemuka, justru hal sebaliknya, mengeluh tentang ini-itu, dari dana sampai berbagai kesibukan.
Entahlah. Hal itu tidak terlalu penting lagi. Moga-mogahan teman-teman sepakat, lebih baik menapakati (merintis) jalan menulis. Gelar ini-itu tidak penting dalam kreativitas menulis, menulisnya yang penting. Tetapi, itu tentu tidak mudah. Pertama-tama, setelah mengukur bayang-bayang diri, memang banyak kekurangan. Semangat boleh saja, tetapi kompetensi perlu diasah.
Kedua, semangat menulis harus dibeking dengan bahan bacaan, yang sumbernya, harus pula dilengkapi. Tantangannya tidak mudah sebagai PNS yang berpenghasilan pas-pasan.
Berkikutnya, tantangan lingkungan. Ya, seperti telah disinggung terdahulu, ketika hasil menulis menyata, bergabung ‘tanggapan’ penghalang tidak sedikit. Semua itu tentu tidak dapat dijadikan alasan.
Artinya, siapa pun kita, kalau hendak menulis, ya itu urusan pribadi. Kalau sudah demikian, berbagai alasan yang ikut bergabung akan tercampak dengan sendiri. Patokan demikian adalah hikmah yang mungkin selama ini tidak disadari.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 27 Desember 2007.









9 Responses to “Menulis Kampung Intelektual”
By mathematicse on Dec 27, 2007 | Reply
Pertamax…dulu ahhh…
***Wah, kaya seleb aja nich.
By mathematicse on Dec 27, 2007 | Reply
Memang sih kalau sudah doktor apalagi professor (katanya) suka malu kalau tulisannya kurang bermutu, alias kacangan. Makanya banyak di antara mereka (kaum intelek) yang tidak berani alias tidak PD menulis.
Karena takut dianggap asal-asalan makanya mereka cari aman, ga nulis… (hehehe.. ini sih bukan tuduhan, tapi cuma nebak-nebak doang. Kalau salah maafkan saya. Kalau benar maafkan juga…
)
Kok aneh ya komennya jadi tukang tebak gini sih… Kacau….
***Jangan-jangan antara menulis bermutu dan tidak mampu menulis batasnya setipis sutera he he
By Yari NK on Dec 27, 2007 | Reply
Sepertinya memang semangat menulis erat kaitannya dengan semangat membaca. Dan memang perpustakaan modern merupakan salah satu faktor yang dapat memupuki minat membaca dan tentu saja minal penulis. Saya pernah mengunjungi perpustakaan pusat ITB (Institut Teknologi Bandung) dan astaghrifullah aladzim, saya bertanya dalam hati, itu buku sains dan teknologi atau buku sejarah yaa??? Lha wong sains dan teknologi kok buku2nya kebanyakan terbitan tahun 1950an 1960an, ya bagaimana mahasiswanya mau dipacu untuk gemar membaca, sudah gitu penerangannya buruk pula! Lengkap sudah gambaran suram perpustakaan2 kita! Tempat tersebut lebih cocok sebagai tempat mojok dibandingkan tempat membaca!
Sekarang sudah mendingan ada fasilitas internet meski ngga gratis tapi terhitung murah (Rp. 1500,- per jam) untuk umum. Layar monitornya LCD semua tapi sistem proteksi sistem operasinya lemah alias buruk, dan rentan terkena virus.
Yah, lagi2 saya hanya bisa berharap mudah2an di masa mendatang perpustakaan2 kita bisa lebih baik lagi guna mendukung dalam menghasilkan pemikir2 dan penulis2 ulung di negeri ini. **halaaah**
***Ya itulah Mas Yari … bangsa ini katanya mau memajukan ilmu, e … fasilitas dan aplikasi komitmen ke arah itu minim, ya gimana mau ngejarnegara-negara maju. Ya ya ya … harus memenuhi kebutuhan sendiri aja lah yaw. Kapan ya ada pemimpin yang mau serius memperhatikan hal sedemikian?
By unai on Dec 27, 2007 | Reply
Gak perlu sekolah tinggi untuk bisa menulis, yang penting kenal huruf saja sudah cukup…tapi tulisan itu akan menjadi tulisan yang bermutu atau tidak? pastinya bergantung dengan kualitas pengetahuan si penulis itu, ya kan pak
***Setuju … dan obatnya membaca, membaca, dan membaca. Kalau ngak punya pengetahuan, apa yang akan ditulis, ya ngak?
By esa on Dec 27, 2007 | Reply
Sebuah tulisan yg bagus. Mengkritik tapi ga men-<i>judge</i>. Memang bener, yang punya ilmu harus nulis, biar bsia berbagi..toh buku-buku dan artikel yang ada di tangan kita saat ini, yang kita baca saat ini adalah hasil karya tulis orang-orang berilmu kan..?! Klo ga gituh, gimana kita bisa dapetin ilmu-ilmu itu, ya ndak? Kebayang klo sistemnya kaya dulu, harus berkeliling untuk dapetin satu ilmu aja.. :p
***Ya ya itu intinya. Setuju. Kini kita termudahkan oleh tehnologi, mari dimanfaatkan. Maaf … saya mencoba melihat sisi agak ‘jelek’ dalam kerangkan memotivasi diri, dan … (lain-lainl). Tulisan berikut makin seru lho.
Eit … Komen ini tadi ditempatkan WP di spam area … ngak tau kenapa. Untung dicek. Kemarin ada yang komplain komennya kog ngak ada … e … ke spam area. Kog bisa begitu ya.
By Kurt on Dec 27, 2007 | Reply
<b>Karena tidak mau mengeluh, membiasakan menulis apa saja. Tanpa, ya tanpa, menanti-nanti atau berharap kondisi kondusif. Lalu, menularkan kepada mahasiswa. Saya yakin, lima atau sepuluh tahun ke depan, buahnya Insya Allah akan bermanfaat.</b>
Smoga saya bisa mempraktekkan ilmu dari 4 baris huruf ini… berat memang tapi itukan kata fikiran… bukan kata tangan.. yang nulis itu kan tangan bukan pikiran.
*Narsis banget ya saya*
***Amin … Amin.
By sawali tuhusetya on Dec 29, 2007 | Reply
<blockquote>Aneh, Guru Besar tidak “Pede” Menulis.</blockquote>
apakah ini juga bisa dikategorikan sebagai bentuk intekelektual yak Pak Ersis seperti yang pernah disentil oleh UJulian Benda? Masak iya sih guru besar tidak percaya diri dalam menulis.
Hahahaha
*Berlalu sambil mengelus dada*
***Ya begitulah kenyataan … apa boleh buta, yang ngomong guru besar lho.
By Qalam on Dec 30, 2007 | Reply
Selamat ya anda salah seorang yang melestarikan dan menggelorakan budaya menulis.
Salam dari
http://danummurik.wordpress.com
***Amin. Salam juga. Ntar jalan-jalan deh ke blog sampeyan.
By Mega on Jan 1, 2008 | Reply
Wah..Kalau doktor2 yang telah menulis..pasti tulisan2nya sangat bermanfaat sekali dibaca yak…
Nggak Ngaruh kali ya..?
***He he itu harapan semua, tapi … kenyataan adalah milik kita, harapan tidak harus jadi kenyataan to.