Menulis Guru yang Lucu

26 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Menulis tidak berakitan ketat dengan capaian pendidikan atau gelar akdemik, tetapi lebih pada kemauan dan keberanian menggelar pemikiran.

GURU MENULIS. Tidak perlu diragukan lagi, guru sangat berjasa dalam kehidupan. Tidak bisa dibayangkan, kalaulah guru tidak  mengajarkan  huruf-huruf, dari a sampai z. Lalu, dituntun merakit aneka huruf menjadi kata hingga bermakna. Pendek kata, fundamental membaca, kemudian menulis, yang kita punyai adalah berkat jasa guru. Menjadi manusia durhaka apabila menafikan, dan atau, melecehkan jasa para guru. Terima kasih, wahai Ibu dan Bapak guru.
 
Guru memang pejasa, tetapi bisa jadi, kalau dianalisis secara radiks, bisa pula tergelincir sebagai ‘penghalang’ dalam tatapan pendidikan (menulis). Kog bisa begitu? Ya, bisa dong.

Coba renung-renungkan perjalanan pendidikan yang dialami. Ambil misal hal sederhana dalam lihatan sistem pendidikan. Tidak usah diskusi fundamental pendidikan (formal), terlalu rumit bahasannya. Pendidikan ala Indonesia bersandar pada IQ, alias memberdayakan otak. Di bangku sekolah (kuliah), apakah kita ‘diperkenalkan’ dengan otak? Apa itu otak, bagaimana pilahannya, sistem kerjanya, sistem responnya, sampai bagaimana mengembangkan dan merawatnya. Tidak bukan? Memperkerjakan sembari memberdayakan otak, tanpa memengerti. Apa tidak ajaib? Dan, guru adalah pelakunya. 
 
Kita tidak menyalahkan guru, sebab guru sebagai pendidik (pengajar) bersandar pada sistem. Guru lucu karena sitemnya lucu. Kesalahan guru, barangkali, terletak pada minimnya kreativitas dalam mengembangkan tugas (kewajiban) profesionalnya. Nah, apa pula ini.
 
Begini. Pada praktiknya, mudah-mudahan pengamatan saya salah, guru-guru terjerembab, disadari atau bukan, bukan pada pengembangan potensi peserta didik, tetapi lebih curam menjejar teori di ladang pangkal pikir peserta didik.
 
Padahal, untuk sekadar mengambil bagian kecil dasar pengembangan pendidikan, pendidikan bersandar pada siswa aktif, bukan guru aktif. Guru menjadikan peserta didik aktif sementara guru sebagai fasilitator, motivator, fasilitator, dan tor-tor lainnya. Guru bukanlah cerek berisi air yang dituangkan pada cangkir pikiran peserta didik. Itu teori kuno.
 
Tetapi, nampaknya guru (dosen) lebih nyaman berlaku sebagai penceramah ulung dengan keahlian pokok memanfaatkan metode ceramah. Penataran tentang CBSA, CTL, sampai aneka temuan baru teori dan metode pendidikan (pengajaran) menguap begitu saja di tangan guru. Kini, ketika KTSP sebagai lanjutan ‘lucu’ kebijakan ‘pembaharuan’ (?) Kurikulum Berbasis Kompetensi yang mati muda, guru kembali ke khittah, mengajar dengan metode tunggal ampuh, ceramah.
 
Di era IT ini, masih ada guru memakai ‘jurus’ memperkuat otot. Peserta didik menyalin bahan ajar, lalu siapa yang rapih catatannya dihadiahi nilai bagus. Masih ada guru masuk kelas, memilih peserta didik, menyuruh menulis di papan tulis, lalu guru melayani kebingungannya sampai jam pelajaran habis.
 
Perilaku demikian, tentu akan berbeda hasilnya manakala memfasilitasi membaca, berdiskusi, menuangkan pendapat, dan atau menulis apa yang dibaca dan dipahami. Aktif memberdayakan otak, bukan mengaktifkan ‘otak’ tangan.   
 
Sebagai ilustrasi dikutipkan tulisan seorang guru dari Kalimantan Tengah yang memahami inti tarikan KTSP, terutama dalam pendidikan Bahasa Indonesia, khusunya tentang pendidikan menulis. Langsung tancap. Berikut tulisannya.
 
Guru penulis, maksudnya bukanlah guru yang mendidik siswa untuk menjadi penulis, sungguh diperlukan. Saya percaya dengan Ersis Warmansyah Abbas (EWA), penulis buku Menulis Sangat Mudah: “Sangat lucu ketika seorang teman mengikuti penataran menulis. Gilanya, si penatar belum pernah menulis buku. Coba pakai logika yang paling sederhana, mungkinkah orang yang tidak pernah menulis ‘mengajari’ bagaimana cara menulis”. EWA ingin mengatakan: “Jangan belajar menulis kepada orang yang tidak pernah menulis”.
 
Sayang sekali, ketika kurikulum yang dipakai, kurikulum 2006 berbasis kompetensi yang salah satu metode yang dipakai adalah Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual, masih banyak guru yang mengajarkan materi menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dimana guru tidak memiliki kompetensi menulis.
 
Bagaimana mengajarkan menulis kalau guru tidak pernah menulis. Bagaimana siswa akan memiliki kompetensi jika yang diajarkan hanya terori. Teori menulis tidak akan menjadikan siswa mampu menulis.
 
Di sinilah peran CTL. Guru menjadi model berbekal karyanya. Kemudian, siswa belajar menulis dengan praktik langsung menulis. Berapa banyak yang sanggup melakukan itu?
 
Begitulah Wlly Editanto, seorang guru Bahasa Indonesia di Kumai, Kalimantan Tengah menulis di blognya, www.wilyedi.wordpress.com. Tulisan itu telah pula dilansir pada media cetak, Boneonews, 17 September 2007. Lalu, Willy berkolaborasi dengan berbagai pihak.
 
Pada tahap awal, empat puluh orang siswa dari berbagai sekolah dihimpun dalam Komunitas Awan Senja. Dalam kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali itu ‘anak-anak’ muda tersebut mengalirkan energi kepenulisannya yang selama ini terpendam, menjadi karya.
 
Dalam tulisan tersebut, Willy beropini, komunitas semacam ini semestinya dapat digalakkan siapa pun yang berminat dan berdedikasi untuk menggerakkan anak-anak muda yang berpotensi. Selanjutnya proses yang akan menyeleksi para anak muda itu dalam berkarya.
 
Budaya bakesah yang hidup di masyarakat tradisional, sudah semestinya mengalami transformasi menjadi budaya tulis. Dulu, untuk mempublikasikan karya, hanya berupa majalah dinding. Kini beragam media tersedia, dari media cetak sampai internet.
 
Seperti yang sedang penulis rancang, membuat blog untuk karya tulis siswa di internet. Memang baru dibangun, tapi dalam waktu dekat, bagaimanapun karya anak muda itu, perlu publikasi. Setidaknya akan merangsang siswa untuk lebih mampu berkarya. Guru memang harus jadi model dalam pendidikan kreatif.
 
Dalam Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi ada materi pelatihan mengenai Penelitian Tindakan kelas (PTK). PTK, sebelumnya dikenal dengan action research, merupakan kegiatan penelitian oleh guru untuk meningkatkan kualitas pendidik untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam tugasnya. 
 
Upaya meningkatkan kualitas pendidik akan memberi dampak ganda. Pertama, peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang nyata. Kedua, peningkatan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar. Ketiga, peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Keempat, penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
 
Dunia pendidikan kita sepertinya tidak menggerakkkan kakinya untuk maju, pandangan mata saja yang tertuju jauh ke depan. Diperlukan tindakan nyata untuk menyongsong era kesejagatan. Artinya, diperlukan guru kreatif sebagai model. Sudah saatnya dunia pendidikan dipenuhi dengan orang-orang kompeten.
 
Alaamak, masih banyakkah guru seperti Willy Ediyanto? Insya Allah. Sejauh yang saya amati, sebenarnya guru-guru ‘sadar’ dan kreatif semacam ini bertebaran dimana-mana. Saya termasuk orang yang sangat percaya, guru ‘mandul’ (dalam tanda kutip, lho) bukan karena bodohnya guru, tetapi terlebih karena sistem yang ngak karu-karuan.
 
Bagaimana mungkin kreativitas berkembang kencang kalau guru itu ‘diurus’ dan ‘dibina’ oleh birokrat-birokrat pendidikan yang tidak berakar pendidikan. Misalnya, di Dinas Pendidikan. Dulu, Faisal Tamin, mantan Mempan, pernah bercanda, nantinya Kepala Dinas Pendidikan tidak boleh lagi mantan Kepala Dinas Pemakaman.
 
Karena itu, supaya kelucuan pendidikan tidak semakin kuat dengan lucunya guru, sudah saatnya guru-guru memotong mata rantai lucu-lucuan tersebut. Carannya?
 
Tidak usah terlalu banyak mengeluh. Mulai dari apa yang dapat dilakukan dalam tugas profesional. Ya, seperti rintisan Willy Ediyanto. Dan, hal serupa telah pula banyak dilakukan guru di berbagai tempat. Guru jangan mengeluh lagi, itu kuno. Memulai pembaharuan harus dari individu, meelaborasi dalam kelompok, masyarakat, terus ke tingkat bangsa. Kita memerlukan tindakan nyata, bukan yang bersandar angan-angan. Guru kreatif.
 
Kembali ke kaitan menulis, janganlah guru-guru lucu-lucuan lagi dalam mendidik. Khusus dalam pendidikan menulis, berusahalah dari diri sendiri, jadilah model bagi anak didik. Tinggalkan praktik mengkritik karya peserta didik dengan semangat 4000 derajat, dan atau, membandingkan dengan karya tingkat nasional atau dunia. Teori itu penting, tetapi lebih penting melakukan apa yang dapat dilakukan secara nyata.
 
Wong Sampeyan saja loyo menulis, bagaimana kompeten menilai karya peserta didik yang umurnya baru sebau penciuman. Aanak-anak didik kita adalah anak panah kehidupan di masa datang. Mari jadikan diri kita model bagi mesesatnya kemajuan menuju masa depan lebih baik.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 17 Septemebr 2007.

  1. 18 Responses to “Menulis Guru yang Lucu”

  2. By Iwan Awaludin on Dec 26, 2007 | Reply

    Menurut saya, tulisannya panjang sekali. Jadi ngga kebaca semuanya.

    ***Ya baca sesempatnya saja. Kapan-kapan kan bisa baca lagi. Menulis kan harsu sesuai dengan ‘tulisan’, bisa pendek bisa panjang, he he

  3. By sawali tuhusetya on Dec 26, 2007 | Reply

    saya setuju dg pendapat pak ersis. guru nggak perlu banyak berkeluh kesah. harus dimulai dari diri sendiri. masalahnya, di negeri kita ini jumlah gurunya jutaan. mengharap mereka kayak Pak Willy Ediyanto butuh beberapa pergantian generasi. Yng dibutuhkan sekarang adalah guru yang memiliki kemampuan memotivasi siswa didiknya. Kalo mengajari menulis harus bisa menunjukkan karyanya, jelas malah akan makin banyak siswa didik yang nggak tahu bagaimana cara menulis. jujur saja, pak. berapa banyak sih guru yang sudah punya tulisan yang bisa dipamerkan kepada siswa didiknya :mrgreen: kalo ngajar menulis nunggu sampai punya tulisan, walah, malah makin repot. meski nggak bisa jadi model, mereka bisa kok melahirkan siswa2 yang pintar menulis. saya punya teman di pekalongan. dia nggak pernah menulis di koran, apalagi punya buku, tapi karena di pandai memotivasi, siswa didiknya malah pernah jadi juara menulis tingkat provinsi jateng.
    idealnya sih seperti pak willy semua. itu setuju, pak. tapi kita juga perlu jujur pada kenyataan biar para guru tetap semangat untuk mengajari siswa didiknya dalam menulis :lol:

    ***Saya pikir Pak Swali pahamlah guru sebagi model. Sejarah pendidikan Islam, dimulai dar Rasulullah, guru itu model. Bukan tukang salahin murid. Ya, saya acung jempol dengan kesimpulan … dimulai dari diri sendiri. Itu yang kita kompori, agar guru-guru menulis.

  4. By alief on Dec 26, 2007 | Reply

    sip sip, dua jempol untuk guru penulis…. :)

    memang tragis melihat kemampuan guru dan juga dosen dalam menulis…

    untuk solusi menurut hemat saya, selain ada pada masing2 guru juga terletak pada kepala sekolah maupun ketua jurusan sebagai managernya. Kalo kepala sekolah berwawasan sebagai penulis, maka saya yakin bisa menginspirasi dan mengubah persepsi dari institusi yang dibawahinya…

    ***Ya ya setuju. Lucunya itu … karena ngak kreatif aja, he he. Saya curiga —padahal mengalami— jangan-jangan (ada) guru suka lempar kewajiban atau kesalahan pada orang lain. Idelnya, memang kudu hebat nulis. Minimal, jadi ‘model’. Kalau untut aja pada muridnya, ya gitulah jadinya.

  5. By hanna on Dec 26, 2007 | Reply

    Pinjam kata teman, “Apakah karena guru kecil, lantas pemikirannya juga kecil ya?.”

    ***Ngaklah, banyak yang hebat-hebat, cuman… ngak ditulis aja.

  6. By panda on Dec 26, 2007 | Reply

    <p>wah, maafkanlah jika kali ini aku ikut campur. dalam tulisan ini guru tidak didefenisikan. ini fatal pak. ada kakek teman saya yang menjadi tuli kalo kata ‘kek’ digunakan menyapanya. tapi dia akan sangat respon dan perhatian kalo kita panggil ‘guru’. dia berkeras dia adalah guru. pendidik dan pembaharu. yah, dia guru silat. tapi tak paham, dan tak akan paham apa itu menulis, dan apa itu tulisan.</p>
    <p>lalu ada guru kimia, biologi, fisika, arsitektur dll dan bidang-bidang lain yang memang tak terlalu penting menulis. mereka hanya perlu petunjuk-petunjuk praktis. Kalo mereka menulis, tentu harus banyak berkutat dalam praktikum, itu namanya peneliti. dan mereka juga menulis, tapi menulis bagi mereka adalah mengoret-oret angka-angka, perhitungan-perhitungan, atau mungkin membuat laporan penelitian dll.</p>
    <p>’menulis’ dalam konteks tulisan ini, defenisinya apa ya?</p>
    <p>menulis itu kan tidak hanya menulis tips menulis, mencatat ulang cerita-cerita pusaka, atau menulis puisi, atau mengumpulkan puisi-puisi lama, atau menyadur folklore2 terdahulu. tulisan-tulisan demikian ini juga pantas digugat.</p>
    <p>menulis itu, menurutku, adalah panggilan. sama pentingnya seperti guru. guru sejarah tak perlu menulis, jika panggilannya sebagai guru mampu mengajarkan esensi dan subtansi sejarah, sehingga anak didik memiliki pemahaman dan penghayatan atau present meaning atas sejarah itu, misalnya. makanya sekali lagi, guru dalam tulisan ini harus didefenisikan. agar jangan ada yang terluka.</p>
    <p>tulisan ini tidak percaya diri. guru-guru divonis terjerembab, digugat karena lebih curam menjejar teori di ladang pangkal pikir peserta didik. padahal, sesungguhnya, tulisan berkualitas dan bisa menjadi masterpiece dunia, adalah tulisan yang berdasarkan teori. dari teorilah kemudian muncul gugatan, argumen dan gagasan-gagasan cemerlang. maafkanlah!</p>

    ***<em>Secara umum sudah jelas, dan … guru sangat berjasa, seperti pada alinea pertama; guru secara umum yang mengajar (tidak termasuk guru silat, dst.). Lalu, lebih spesifik kepada guru dalam tatapan menulis …. mengajarkan menulis. Ini diperkuat dengan mengutip apa yang dilakukan Williyanto. Intinya, guru yang mengajarkan menulis, piawai menulis. Ini berkaitan dengan teori, guru adalah model. Seseorang yang dicontoh, ditiru, yang dengan demikian pengajaran akan lebih bermakna. Begiotu teorinya.

    Guru kimia, fisika, dst. yang di labor, kan akan lebih baik menulis ‘Buku Petunjuk;, hasilnya lebih bagus. Bisa saja demikian, tapi lebih baiknya tulis sendiri dong … nyambungnya lebih lekad.

    Ya, guru memang tidak harus jadi penulis, tetapi lebih ideal mampu menulis; minimal apa yang diucapkannya. Bisa sendiri-sendiri atau berkelompok, hingga apa yang diajarkannya lebih mantap. Kalau mencerna karya orang, kalau salah gimana? Kalau menulis, sudah ada filter, lebih mantap.

    Tulisan tersebut memang dalam mau motivasi, dan … sedikit. Eiiit … siapa bilang dari ‘teori’. Teori, ditemukan dulu, dan menemukan bisa dari penelitian, pengalaman, pengamatan, … sampai karya (tulisan). Lalu, disusun sistematik, logis, dst, baru jadi teori. Teori bisa ditemukan tiap saat, dirakit oleh siapa saja (dalam kenyataan oleh pakar).

    Jadi, jangan dibalik (maaflah).

    Sekalipun demikian, inti komen ini sangat saya perhatikan, terima kasih. Saya suka yang beginian, dan… masukan baik bagi saya yang belajar, dan terus belajar. Makasih banyak. </em>

  7. By unai on Dec 27, 2007 | Reply

    guru saya dulu…*curhat, kalo pelajaran mengarang..saya jadi tukang koreksinya. Saya yang membaca tulisan teman2 saya itu, dan dia sibuk dengan urusan yang lain.

    Duluuu sih saya senang senang saja menjadi tukang koreksi, pastinya saya akan memberi nilai yang baik untuk pekerjaan saya sendiri. Tapi…kok ada ya guru yang demikian ini? menyedihkan

    ***Waduh … membaca (kenyataan) tersebut saja ngeri. Kog ya ada ya, apa perlu saya tiru he he. Kalau untuk Sampeyan ambil baiknya aja, jadi nafsu membaca khan?

  8. By ansori on Dec 27, 2007 | Reply

    Jadi inget pilem lawas “Monalisa Smile”..pilem yg dibintangi julia robert.berperan sbg guru baru seni di sebuah sekolah. Pertama mengajar, slide2nya sesuai handbook, dan ternyata semua murid sudah paham, dan hapal dg seluruh isinya. begitu satu slide dibuka, spontan ada salah satu murid yg menjelaskan, slide ke-2 dst pun begitu… di sesi awal mengajar tampak kalau si julia robert “down”.
    Untunglah dia bkn guru kolot…lgsg mengubah pola mengajarnya ke metode yg lebih atraktif…
    dengan tetap pada tujuan mengenalkan “rasa” & memahami “nilai” dari seni, dia tampilkan slide2 baru yg tak ada di handbook, meminta muridnya menjelaskan nilai dari seni dlm slide tsb… ternyta tak satupun yg bisa komen…. mereka malah menganggap karya seni dlm slide itu hanyalah sebuah corat/coret belaka….terbukti… ternyata nalar seni mereka tak ada… lambar laun akhirnya mereka menjadi “sadar”…
    Mdh2an semakin banyak guru “julia Robert” di Indonesia….
    (maap kl kepanjangan)

    ***Amin. Wah kalau gurunya Julia Robert … ih seru. Intinya, guru kreatif. Yoi.

  9. By Kurt on Dec 27, 2007 | Reply

    Anu Pak, kalau para “fundamentalis” itu apakah karena salah menerjemahkan tulisan guru atau karena merasa bisa menyaingi tulisan guru?

    ***Apa perlu dibuat artikel khusus? Kura-kura dalam perahu nich ye, … en zen … kayaknya agak bingung deh kaitannya he he. Fundamentalisme berasal dari gerakan puritan kalangan Kristen, kembali ke ajaran Kristus —katanya sih, begitu juga agama atau paham lainnya. Pelakunya para fundamentalis, ei … hubungannya?

  10. By Kurt on Dec 28, 2007 | Reply

    Ok lah kalau kristen saya tidakmendalami kristologi apalagi fundamentalnya..

    Untuk agam kita saja lah. Tidak sedikit fundamental itu juga mengkalim ajarannya dari guru2 kita. Quran/hadits dll. Mereka lalu menafsirkan buku2 suci (quran) dengan begitu tragis kesimpulannya.. kalau tidak pake otak, dan tenaga pake BOM.. nah asumsi saya itu : apakah benar mereka salah menerjemahkan atau memang mau bersaing dengan guru2nya yang tidakfundamentalis… contoh Big Teacher kita: Rasulullah saw… sepertinya beliau itu diakui kejujuran dan halusnya oleh pra penentangnya waktu itu…

    tapi kok sekarang begini begitu begono… what wrong sir!

  11. By Suci on Dec 28, 2007 | Reply

    Guru memang profesi yang amat baik jika diiringi dengan kebiasaan menulis yang tentunya dapat ditularkan kepada siswa didiknya.
    Tapi, fenomena yang cukup membuat saya heran, setiap kali berkunjung ke toko buku, buku-buku yang dipajang di sana kebanyakannya malah lebih didominasi dengan penulis-penulis dari kalangan pengusaha dan pebisnis….
    Guru yang menerbitkan buku masih kalah banyak kayaknya…hehehe

    ***He he yang salah pengusaha dan pebisnis kali ye … mereka ngak banyak alasan. Menulis, dapat doku, dan populer. Kalau guru melakukan hal sama, lebih baik dong. Tapi, … ketika kuliah yang diajarkan kan alasan, argumen he he bukan nulis.

  12. By taufik on Dec 29, 2007 | Reply

    Bravo!
    Salut buat pa Ersis…
    Pengiin bgt bisa nulis kayak pa Ersis, tolong saran dan motivasinya slalu…
    kunjungi saya di blog-taufik.blogspot.com

    salam

    ***Ya ya ntar dikunjugi. Pasti bisa asal dilakukan …

  13. By Mega on Jan 1, 2008 | Reply

    Teori menulis akan lebih afdal JIKA dilakukan dengan prakteknya sekaligus..yaitu M U N U L I S

    ***Ya ya menulis, menulis, dan terus menulis. Moga resep itu membawa kebaikan. Amin.

  14. By Zulfaisal Putera on Jan 3, 2008 | Reply

    Sekadar info, Bang!
    Ada seorang widyaiswara di LPMP daerah kita yang sering memberikan bahan tataran soal penelitian, khususnya PTK, tapi sesungguhnya beliau tak pernah sekali pun terlihat hasil penelitiannya sendiri yang pernah dia lakukan. Belum lagi jika menulis untuk media massa. Nyaris tak terdengar.

    Kasian, ya Bang!
    Lucu ga guru kaya gitu!

    Tabik!

  15. By Syaharuddin on Jan 3, 2008 | Reply

    wah gua juga ikut prihatin, mas zul. Mestinya kita itu tau dirilah, sebenarnya kita itu kompetensinya di bidang apa. Kalau ngajar buat cerper tapi gak pernah buat cerpen, atau ngajar sejarah padahal lulusan ekonomi kan orang-orang yang seperti ini yang merusak pendidikan. Pantas saja SDM Indonesia gak maju-maju. Seperti hal-hal semacam ini harus diakhiri jika kita ingin membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan. Mungkin kita harus kembali membaca hadis nabi: “jika sesuatu dikerjakan bukan bukan pada orang yang ahli maka tunggulah kehancurannya”, maka itu agar kita gak keburu hancur mari kita bernah secara bersama-sama sesuai dengan bidang kita masing-masing.

  16. By ella on Jan 3, 2008 | Reply

    wah…wah… ini memalukan juga (info pa Zul) saya orang LPMP jadi gregetan juga nih. Ada solusi gak memperbaiki keadaan demikian (harusnya penentu kebijakan di LPMP yang diberi tahu).

    ntuk EWA sebenarnya guru-guru banyak juga yang sudah menulis (seperti pengungkapan nurani seorang pengajar), tapi mereka tidak ada keberanian untuk memperlihatkan pada pihak luar, karena orang hanya bisa mencela dari pada memuji, hasil karya orang lain.

    ***Dunia ini ada terpilah: dunia alam khayal (pikiran) dan dunia nyata. Ya, kalau mau di alam khayal ya silahkan menghayal terus. Kalau ke alam nyata konsekuensi dan risikonya ya itu, dipuji dan dicela. Kalau yang terakhir takut, itu pertanda memang kompetensi tanda tanya besar. Dan, … orang seperi ini mudah tersinggung, iri, dan seterusnya. Tinggal pilih saja kog. Kenyataanpun bisa dicari alasan he he. Itulah potrek kita. Mari benahi dan buktikan, karya nyata memang susah kog … yang enak itu melamun, dan ‘menatar; he he. Habis ngomong dimakan udara (menguap). Kalau menulis? Berisiko.

  17. By miss unita on Mar 2, 2008 | Reply

    Sebenarnya waktu kecil saya suka pelajaran mengarang. Cuman sayangnya tdk bisa berkembang karena pelajaran seperti bahasa indonesia kurang memberikan kesempatan untuk berimajinasi melalui bahasa. Jujur aja belajar bahasa indonesia lebih banyak dengan tujuan bisa tembus UMPTN, tapi saya kehilangan kenikmatannya. Sekarang ini saya baru belajar lagi menulis…yahh…kata orang better late than never. Semoga keadaannya udah jauh berubah…

  18. By setyawan dharma on Mar 24, 2008 | Reply

    sepakat dengan pernyataan anda bahwa jangan belajar menulis dengan orang yang tidak bisa menulis…anggap saja bila dunia ini dihuni oleh 10 orang saja, dan berkomposisi 2 orang sukses dan 8 orang tidak sukses. maka ketika seseorang belajar dengan orang yang delapan maka kita akan menjadi orang yang ke-9 “new” non sukses, maka sebaliknya apa bila kita belajar dengan orang yang 2 maka kita menjadi orang suskes ke tiga.

    permasalahan ketidak mampuan guru untuk menulis sebenarnya memalukan…
    apanya yang salah, mungkin gurunya guru, dosennya guru juga tidak bisa menulis…

    lalu bagaimana anak sang guru…mudah-mudahan menjadi variabel pengubah image itu…tentu mengubah dengan “kalam”

    ***Analisis cerdas, saya simak

  19. By aswar on Jul 9, 2008 | Reply

    puas saya baca tulisan mas EWA. Betul banget tuh, karakter guru sekarang seperti itu. dulu, masa SMA dulu, guru yang sok pinjar kebanyakan teori bil-lisan daripada bil aksi, bil nulis, hehe. Tapi saya juga calon guru lho. kudu belajar banyak sebelum ngajarin anak-anak berteori. tapi dengan kerja nyata, nggak asal ngomong doang, atau nyuruh ini itu. Guru harus kreatif dan punya karya, kali ya?

    ***Yang pasti dunia selalu berubah khan (berubah ke arah kemajuan, juga guru).

Post a Comment