Universitas Kolam Ikan
24 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Karya fiktif ini ditulis sebagai ‘tugas akhir tahun’ dari Kang Jupri, http://mathematicse.wordpress.com/ dari Belanda, kelanjutan surat berantai kerjaan Mas Swali, http://sawali.wordpress.com/. Selamat membaca.
Embun pagi menghantar sejuk ke lobang pori-pori. Hujan di akhir Desember membentang nyaman menjangkau awal Januari. Ikan nila merah berkejaran dengan nila hitam, memadu kasih mengitari lobang sebesar baskom raksasa yang terlihat putih di tepi kolam. Sesekali ikan mas, patin, dan haruan mendekat. Mereka usir dengan moncong mengagah. Puizz … kabur terkikih-kikih.
Aku menatap jernihnya air kolam di pagi itu. Fajar menyingsing membukakan jalan bagi mentari memancarkan berkahnya. Tidak ada asap. Jernih. Bersih. Nafas membiarkan udara masuk-keluar tanpa portal. Ya, Allah begitu nikmatnya, nyaman Bumi Kau ‘serahkan’ pada kami. Aku membatin.
Sebelum shalat Subuh, aku berselancar di internet. Memeriksa naskah-naskah kuno. Mataku tergagap di tugop —semacam komputer dinding. Tanah yang kuinjak, Banzarbharo, dua abad lalu berada di pulau, yang dulu dinamakan Borneo. E … salah ding, Kalimantan. Nama Bornea maunya Inggris. Belanda menyebutnya Kalimantan, dan republik Indonesia mengikutinya.
Tanah yang diberkahi dengan hamparan pohon-pohon paruh-paruh dunia, perutnya bermuatan batu bara, minyak, gas, emas, biji besi, dan berkah alam lainnya, rupanya, pada tahun 2113 diamuk banjir bandang. Hujan yang terus menerus sebulan penuh begabung dengan pasang air laut, menenggelamkan dua pertiga pulau terbesar keempat di Bumi tersebut. Dari sepuluh juta penduduknya yang selamat hanya lima ratus ribu orang, termasuk kakekku.
Kusau pikiran, setelah ditenangkan sholat subuh, dan nyamannya udara pagi, tidak mampu menjauhkan pikiran dari informasi tugop. Ikan-ikan yang kesana-kemari menarikan nyanyian air, hanya membantu menenangkan sesaat. Aku tidak habis pikir, kog begitu dungunya nenek-moyangku.
Pohon-pohon ditebang sampai tidak ada yang tersisa. Bumi dibalik, menguras aneka barang-barang tambang. Tanah Berkah Pertiwi berubah menjadi padang pasir. Korang-kerontang. Bila musim hujan banjir melanda, bila kemarau, asap menghadiahkan sesak nafas, kebakaran dimana-mana. Bagaiman bisa terjadi?
Lucunya, kekayaan hasil kurasan tersebut entah untuk apa. Para penguras tersungkur dililit hutang. Konon, pemerintah menghamburkan uang untuk menyelamatkan mereka. Dana BLBI dikucurkan. Apa itu BLBI? Sungguh membingungkan.
Hasil ekploitasi itu ditanamkan di Singapore, Hongkong, Cayman Island, dan Swis. Dana BLBI yang mereka peroleh semakin menebalkan tabungan pundi-pundi kedurjanaan. Lalu, kabur ke luar negri meninggalkan kesengsaaraan. Tidak ada yang bersalah. Pemberantasan korupsi jadi retorika sempurna. Mereka berdendangria, hidup berpoya-poya. Dan, kemudian ‘membeli’ republik murah-meriah. Ah … (?).
***
Embun pagi menguap. Pikiran berkelana. Bukankah nenek-moyangku bukan orang-orang bodoh? Universitas bertebaran di seantero negeri. Lembaga pengkajian berdiri gagah. Mengimpor beras tak terkira, produk tehnologi apalagi, sampai kondom bekas pun diterima; food gathering. Bangsa saudagar yang kurang paham inventasi, berlagak jago dunia. Ditipu para tetangga, apalagi oleh ‘polisi dunia’. Fuuuui, Bumi kog dikuras habis?
Katanya, illegal loging, illegal minning. Bagimana bisa. Bukankah pohon itu berkilo-kilo meter jauhnya? Ditebang. Diangkut berlama-lama. Melewati sepuluh juta pasang mata. Dinaikkan ke kapal. Diekspor melalui pelabuhan negeri. Tidak terlihat?
Kemana mata penegak hukum? Apakah mereka buta? Kemana suara dibunyikan? Apakah dari SD sampai PT tidak diajarkan, bahwa Bumi harus dipelihara. Atau, yang diajarkan matematika atau teori bahasa yang tidak dikuasi gurunya, orang tua, hingga anak didik bingung? Aha, Pak Kiai berbusa-busa mulutnya, para guru membantu siswa mengkhatamkan UN. Pendidikan curangkah hingga ketika menjadi sarjana tidak bisa berbuat apa-apa? Entahlah.
Bertanya tidak menyelesaikan masalah. Isteriku memanggil untuk sarapan. Anak-anak sudah siap ke sekolah. Lamumku terlalu lama hingga lupa mandi.
***
“Kog, kurang bersemangat nampaknya, EWA”, Prof. Dr. Al Jupri, Rektor Universitas Sadar Alam menegur setengah bertanya setengah memperingatkan.
“Ya, tidak seperti biasa”, timpal Prof. Dr. Swali, Mpd., Dekan Fakultas Menulis Sastra (bukan teori sastra) setengah heran.
“Hmmm, ada masalah apa”, ledek Prof. Dr. Yari, MPA, Dekan Fakultas Keamanan Nasional setengah bercanda.
“Ahai, jangan-jangan lagi beramtem ama bini nich”, ujar Prof. Hanna, tidak mau kalah. Para Profesor, pembimbing disertasiku, seolah menghakimi tanpa ampun.
“Ya, Prof”, kataku lemas. “Dari risetku, para perancang pendidikan dulu itu tidak me-link-and-macth-kan’ antara teori dan praktik. Sehingga, lulusan perguruan tinggi —era itu— tidak piawai berbuat. Kuat di teori saja”.
“Ya ya bagus. Kami sudah paham. Draft disertasimu kami setujui … dengan satu syarat!”
“Apa itu Prof?”
“Nanti, realisasikan delapan tesis dalam disertasimu. Jangan berteori saja, realisasikan. Apa mau meniru nenek moyang? Jago berteori, teori orang lagi?”
“Ya. Siap Prof
“Desember tahun depan sudah harus klir. Di awal Januari, kamu sudah jadi Doktor”.
“Siap Pak Satpam, e … maaf Prof. Maklum grogi karena terlalu gembira”.
“Ya sudah. Bubar”.
***
Aku disambut teman akrabku, Erwin dan Kurtubi. Teman yang satu ini IT minded. Draft disertasinya tak kunjung diterima. Dia merancang kendaraan tanpa memakai energi, berbasis tekanan udara. Padahal, tahu saja, para profesor pembimbingnya adalah ‘sisa-sisa Laskar Pajang’ rantai panjang ilmuwan teoritikus setengah matang.
Bagaimana mau bergagas dan menerima gagasan orang lain, wong menulis apa yang diomongkannya saja tidak mampu. Buktinya, cuma mengutak-atik pikiran ahli-ahli dari Nauru, Bushman, dan Eskimo memanfaat powerpoint. Berlagak paling hebat. Erwin terlalu idealis, memaksakan gagasan yang tidak mampu dicerna pembimbing. Dasar keras kepal sih. Ho oh kan saja, nanti setelah selesai baru salip. Habis perkara.
Lain Erwin, lain Kurtubi. Bagaimana Pak Kiai kog sampai tidak arif. Jelas saja ide-idenya dakwahnya ke luar dari mainstraim, mengobrak-obrak tradisi. Bersikukuh, bahwa nalar itu berian Allah SWT yang paling berharga. Tetapi, kog ya ngak menalar, nalar orang —walaupun profesor— bahwa nalar mereka ya tidak bernalar.
Kukuliahi dua sahabat ini. Coba kalau dulu dipilih pembimbing seperti pembimbingku, kan selamat sudah. Aku sedikit berlagak.
“Kamu sih duluan milih profesor yan bagus. Kami tinggal yang ….”
Biasa, canda kami keras-keras renyah. Kami bergegas ke rumahku, ke kolam ikan. Kami akan pesta makan ikan merayakan draf disertasiku yang di OK sembari mencari siasat menundukkan profesor pembimbing Erwin dan Kurtubi tanpa menggadaikan idealisme.
***
Ikan-ikan berenang riang gembira. Makan, bertelur, makan, bertelur, makan, bertelur … Moga-mogaan universitas tempatku menuntut ilmu (emang apa salah ilmu kog dituntut, ya) bukanlah kolam ikan.
Aku tertawa geli membaca cerpen yang konon dibuat untuk keperluan surat berantai. Sebagai mahasiswa pengambil spesialis Kebudayaan Kuno aku sering membaca cerpen-cerpen kuno. Tugop mencatat miliran cerpen. Ah … cerpen yang tidak menarik. Tapi, kog kalian baca juga, ya. Kacien dech lo.
Banzharbaro, Desember, 17th, 2220. Cerpen yang ditulis dua abad lalu.`









18 Responses to “Universitas Kolam Ikan”
By mathematicse on Dec 24, 2007 | Reply
Pertamax..
By mathematicse on Dec 24, 2007 | Reply
Hahaha… lucu euy para pembimbing disertasinya (masih junior-junior….) …. Hahahahaha…
Wah terimaksih sekali nih Pak… udah langsung dijawab PR-nya…
*Sekarang yang seriusnya*.
Aneh memang, jutaan kubik kayu dicolong, ga kelihatan. Limpahan bahan tambang dikeruk juga tidak ada yang tahu…
Eh tahu-tahu nanti pulau terbesar ke-empat di dunia itu sudah tennggelam (jangan-janagn ini jadi kenyataan ya… siapa tahu… ).
———————————————————
Memang para sarjana “era itu” cuma pandai berteori saja. Tak mampu berpraktek (tak mampu mempraktikkannya..). Bahkan teorinya juga bukan teori diri sendiri, tapi teori orang lain. Sebabnya apa?
Jadi, sangat parah sekali. GA bisa teori sekaligus ga bisa praktik…
———————————————————-
Kata para pembimbing disertasi: “Hai EWA, draft disertasi Anda kami setujui dan ANda berhak bergelar doktor tahun depan. Tapi… dengan satu syarat!”
EWA: “Apa syaratnya?”
Para pembimbing: “Sederhana saja, coba kamu praktikkan apa-apa yang kamu tulis dalam disertasi Anda! Setidaknya dari delapan thesis yang Anda kemukakan dalam disertasi, bisa direalisasikan setidaknya tiga saja… “
EWA: “Bagian yang mana Prof yang pertama-tama harus saya realisasikan? “
Pembimbing: “Tuh kan. Anda ini bagaimana? Ya tentu yang paling mungkin Anda lakukan dong…
“
EWA kemudian ngloyor pergi (Setelah tak mendapat petunjuk dari para pembimbingnya… ). Dia berpikir keras, bagian mana yang akan dia segera realisasikan. Dari delapan intisari thesis yang ada dalam disertasinya, semuanya bagus-bagus. Namun tak mudah untuk merealisasikannya.
Kemudian dia berpikir. “Apa mungkin ini akibat warisan jaman nenek moyangnya yang cuma pandai berteori tapi tak mampu berpraktik… ” pikir dia dalam hati.
Kemudian semangat EWA erontak! Meronta untuk mendobrak mitos itu dan bertekad merealisasikan thesis2 yang ada dalam disertasinya.
Mampukah EWA merealisasikannya?
Kita tunggu tahun depan…
***Ha ha ha … aku tambahkan kan euy …
By mathematicse on Dec 24, 2007 | Reply
maaf tertulis “erontak” seharusnya “berontak”
By edratna on Dec 24, 2007 | Reply
Menurut saya bukan salah sarjananya, tapi peraturan pemerintah hendaknya komprehensip. Seingat saya tahun 90 sudah dilarang ekspor kayu gelondongan, juga ekspor kayu asalan. Bahkan aturan dibuat bertahap (termasuk rotan), boleh jika setengah jadi, dan setelah 3 tahun harus ekspor barang jadi (kayu olahan, industri rotan yang sudah berupa barang jadi). Kenyataannya, masih ada ekspor gelondongan….
Kemudian para sarjana teknik, yang rata-rata anaknya orang kurang mampu, bagaimana mereka bisa menjadi ahli teknik, kalau akhirnya bekerja diperusahaan seperti Siemens (hanya merakit), Astra (juga merakit)….dan tak ada yang produksi sejak bahan baku s.d barang jadi. Bahkan industri garmen, sepatu, sebenarnya adalah tukang jahit….karena menggunakan merk dari luar. Begitu MNCs mendapatkan pemasok yang lebih murah dan kualitas lebih bagus, mereka menghentikan impor dari Indonesia. Banyak industri sepatu gulung tikar (Nike, Reebook dll).
Tapi kita tak perlu menyalahkan saja, tentunya kedepan, bagaimana agar lapangan kerja tumbuh, dan pertumbuhan ekonomi bukan untuk konsumsi saja (pendirian Mall, property untuk kaum menengah atas dsb nya).
***Ya ya setuj mBak. Bagian akhir sangat pas, … emang koh mau jadi buruh ya. Ih … sebel. Kita ini jadi bangsa tunggangan saja. mari kita didik anak didik agar jadi dirinya dan bangsa. Amin.
By Yari NK on Dec 24, 2007 | Reply
Wakakakakakak….. tugas Fakultas Keamanan ngapain nih?? Mengamankan aja harus bertitel profesor ya? Siiip deh hebat euy!
By windede on Dec 24, 2007 | Reply
Ini cerpen seorang pengkhayal atau pemimpi? Atau kombinasi kedua2nya?
# penasaran ma tugop made in ewa dream…
***Kombinasi ‘impian’ dan ‘realitas’; habis Kang Jupri pakai aturan, harus unsur ini-ini itu masuk di karya fiktif. Nguci kali beliau he he
By unai on Dec 24, 2007 | Reply
hahaha..ceritanya menarik, sayang tak ada saya di sini hiks..
By Ersis W. Abbas on Dec 24, 2007 | Reply
Ha ha ha ceritanya memang menarik (emang tangan), sure (maaf) tak tertulis, padahal ada hiks. E … tugas dulu ngak dikerjakan ya?
***Sekali-kali ngomentari komentar EWA ah …
By mathematicse on Dec 24, 2007 | Reply
Hahahaha… makin lengkap aja mimpinya euy…
Mudah-mudahan dengan berani bermimpi, berani juga merealisasikannya…
***Wuallah hebatnya ngerjain teman.
By jowopinter on Dec 24, 2007 | Reply
Saya suka membaca cerita di atas. Saya suka cerita dan gaya bahasanya.
[Terima kasih memautkan blog saya di sini, saya juga telah memautkan blog sdra di blog saya. Salam silaturahim yang berpanjangan :)]
***Yoi, sama-sama. OK Ok, ungkapan baru tu … selaturahmi (bukan rahim) yang berkepanjangan. Saya populerkan istilah tersebut ya Mas Jowopinter. Pie kabare Malaysia?
By Donny Reza on Dec 24, 2007 | Reply
wah, itu ikannya kok habis makan langsung bertelur? kapan kawinnya? :p
***kan ngak ikan beneran he he … jangan diseriuskan Mas Don
By Kurt on Dec 24, 2007 | Reply
waaah satu contoh bikin cerita yang seru..
saya tertarik dengan ajaran moralnya:
“Nanti, realisasikan delapan tesis dalam disertasimu. Jangan berteori saja, realisasikan. Apa mau meniru nenek moyang? Jago berteori, teori orang lagi?”
Kalau Dosen seperti itu hmmm itu dosen yang tidak ngasal..
***Dosen postmodernis kali.
By Kurt on Dec 24, 2007 | Reply
tapi ini pasti dosen penulis blog ini yang bilang begitu.. beruntungnya para mahasiswa yang berdosenkan panjenengan
***Nah … karya fiktif Pak Kiai.
By hanna on Dec 25, 2007 | Reply
Hahahahahahaaha, ceritanya lucu. Imajiansi bapak luar biasa…
Hanya satu kata, Pak. SALUT!!!
***Ha ha lucu dan … bermakna
By hanna on Dec 26, 2007 | Reply
Embun pagi menghantar sejuk ke lobang pori-pori. Aku menatap jernihnya air kolam di pagi itu. Fajar menyingsing membukakan jalan bagi mentari memancarkan berkahnya.
Ya, Allah begitu nikmatnya, nyaman Bumi Kau ‘serahkan’ pada kami.
Tanah yang diberkahi dengan hamparan pohon-pohon paruh-paruh dunia, perutnya bermuatan batu bara, minyak, gas, emas, biji besi, dan berkah alam lainnya.
Kini Pohon-pohon ditebang sampai tidak ada yang tersisa. Bumi dibalik, menguras aneka barang-barang tambang. Tanah Berkah Pertiwi berubah menjadi padang pasir. Korang-kerontang.
Embun pagi menguap. Pikiran berkelana. Bukankah nenek-moyangku bukan orang-orang bodoh?
Kemana mata penegak hukum? Apakah mereka buta? Kemana suara dibunyikan? Apakah dari SD sampai PT tidak diajarkan, bahwa Bumi harus dipelihara.
para profesor pembimbingnya adalah ‘sisa-sisa Laskar Pajang’ rantai panjang ilmuwan teoritikus setengah matang.
Coba kalau dulu dipilih pembimbing seperti pembimbingku, kan selamat sudah. Aku sedikit berlagak.
Ikan-ikan berenang riang gembira. Makan, bertelur, makan, bertelur, makan, bertelur … Moga-mogaan universitas tempatku menuntut ilmu bukanlah kolam ikan.
Aku tertawa geli membaca cerpen yang konon dibuat untuk keperluan surat berantai.
Sudahlah!, aku sudah menulis sebuah cerita. Tugas selesai, pulang membawa ilmu dengan hati riang.
Salam…
Sesuai pesanan EWA.
***Haiya … tse tse … kamsiah
By sawali tuhusetya on Dec 26, 2007 | Reply
<blockquote>
“Ya, tidak seperti biasa”, timpal Prof. Dr. Swali, Mpd., Dekan Fakultas Menulis Sastra (bukan teori sastra) setengah heran.</blockquote>
jadi merasa kesindir nih. jangan2 bener nama saya *menebak-nebak* *jadi geer*
BTW, tokohnya kok nama2 bloger ya, pak?
*berlalu sambil menahan tawa*
***Jangan merasa kesindir ah … maaf deh kalau gitu. Ya ya habis diminta nulis fiksi apaki aturan ini-itu, ya ngebalaslah he he he
By Suci on Dec 28, 2007 | Reply
jadi, ini ceritanya yang nulis berantai gitu ya, Pak?
Good message in it then….
***KIra-kira he he … kena tembak, ya gitulah
By mathematicse on Jan 24, 2008 | Reply
Waaaaaaaaaaaaaaaah saya baru tahu kalau artikel (cerpen) ini dimuat juga di koran ya? Wah jadi malu nama saya disebut-sebut…
Saya barusan berselancar, ngetik nama saya, eh ada di sini: http://www.cakrabudaya.uni.cc/cetak.php?id=56
***He he kalau saya lagi mau, kopiannya terkadang di kirim ke surat kabar, jadilah. Alinea terakhir kan kontribusi Sampeyan. Makasih.