Menulis en than Ngantuk
23 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: … Pak, sering kalau sedang menulis, apalagi kebuntuan datang, bawaannya ngantuk. Kalau sudah begitu, ide yang semula diyakini bagus, hilang deh. Menulis lalu mengantuk?
Wow itu ‘hal baru’ bagi saya. Ada pula yang mencengangkan, seorang yang lain, katanya sih, menulis sambil ngatuk. Wah akan lebih seru kalau sambil tidur he he. Sesuatu yang menurut saya, hil yang mustahal.
Someone in somewhere
NGAK MAU TIDUR. Dalam perkuliahan kalau melihat ada mahasiswa mengantuk, biasanya saya terapi dengan kata-kata: begitu mengantuk berarti otak Sampeyan sedang tidak dipakai. Kalau ke ruang kuliah kantuknya dititip dulu di tempat parkir. Geeer.
Sepanjang karir sebagai guru, jarang tu menemukan mahasiswa mengantuk. Biasanya mereka melongo, sakit hati, atau ngedumel … Kalau ngak percaya, sekali-kali coba ikut perkuliahan saya. Mengantuk? Tidak mungkin kalau sedang beraktivitas, kalau otak lagi digunakan, manalah mungkin mengantuk.
Coba ingat-ingat ketika jatuh cinta, atau sedang ada persoalan rumit, sampai makan pil tidur, kantuk ngak mau mampir. Di otak, Si Dia selalu hadir, ngak mau pergi-pergi. Berbagai hal ‘bermain’ di kepala. Macam-macam strategi, dari yang baik sampai buruk, datang silih berganti. Pokoknya yang ada ‘beliau’ itu pang. Mata tidak mau terpejam. Ya wajarlah, otak sedang bekerja.
Makanya, kata saya, kalau membaca buku, majalah, atau koran, langsung ngantuk, segeralah ke psikiater atau ahli jiwa. Sudah ada tanda-tanda tu. Periksa. Kalau sampai stadium III, bahaya bo. Berikutnya si korban tidak membawa kantuknya ke ruang kuliah.
Ya ya, kalau membaca koran atau majalah, konon banyak diidap orang, kantuk datang, setidaknya ada dua hal. Pertama, pertanda otak sudah rusak. Membaca itu mengaktifkan otak, tidur mengistirahatkan. Kalau terjadi, sungguh bertolak belakang. Ya, periksalah. Mana tahu ada yang rusak entah di bagian mana.
Kedua, pertanda bagus. Kalau mau tidur, atau susah tidur, membacalah. Yang pasti, kalau penyakit beginian sudah diidap, agak susah tu menambah pengetahuan. Otak ‘tertidur’, atau mudah tidur, jangan-jangan sudah dekat untuk tidur selamanya. Kalau umur Sampeyan belum 40 tahun, siap siagalah. Ini persoalan serius.
Dengan kata lain, kalau sedang menulis, lalu mengantuk, itu lebih bahaya lagi. Kalau menulis sembari mengantuk, apalagi tidur, itu penemuan baru. Perlu ditiru, disebarluaskan agar manfaatnya dapat dinikmati banyak orang.
Tapi, saya tidak yakin hal sedemikian. Dulu, konon Gus Dur kalau diskusi, dia tidur … e begitu bangun langsung nyambung. Banyak yang terkagum-kagum. Suatu kali pada acara Andy Kick di Metro TV, Gus Dur bikin pengakuan: Saya ingat omongan terakhir, lalu ‘bangun’ dan langsung merespon. Itu saja sudah mengangumkam.
Saya ingin menekankan, menulis sambil mengantuk sesuatu yang tidak mungkin. Setidaknya, jagnan dibiasakan. Itu tidak baik. Beban otak menjadi ‘berat’, melakukan hal berlawanan sekaligus. Memang, kantuk bukan bermuasal dari pikiran saja. Ada kontribusi perasaan, keletihan dan sebagainya. Tindakan paling bagus, kalau ada tanda-tanda, hentikan aktivitas. Biarkan otak dan raga beristirahat. Istirahat adalah bagian kehidupan.
Apalagi dalam menulis. Pada kondisi otak fresh saja terkadang menulis susah banget. Harap maklum, menulis bukan saja mempekerjakan otak, disitu rasa juga bermain, raga secara keseluruhan aktif, kita tidak mungkin mengisolasi indera dari respon yang datang. Artinya, menulis itu memenej diri. Memenej yang memerlukan enerji.
Dus, bila mengantuk, mata berada pada posisi lima wat, pertanda keletihan, dapat dikira hasilnya. Tulisan tidak akan maksimal. Setidaknya, membuat otak terpaksa bekerja. Apa pun bentuk paksaan, pada apa pun, akibatnya tidak baik.
Anjuran saya, jangan beraktvitas apa saja selagi mengantuk. Tempo-tempo memang bisa dilawan, minum kopi keg, pijat tengkuk keg, mengingat yang indah-indah atau yang serem, jelas semua itu bentuk pemaksaan.
Akhirnya, saya tidak mau mendiskusikan menulis sambil mengantuk, atau begitu menulis langsung mengantuk. Itu sudah kapling psikiater. Menulis dalam kondisi normal saja deh.
Sekali lagi, sekalipun saya menanjurkan menulis kapan saja dan dimana saja, tetapi tidak ketika kantuk menyapa. Itu tidak baik. Itu saja.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Desember 2007.









10 Responses to “Menulis en than Ngantuk”
By Kurt on Dec 23, 2007 | Reply
Bisa saja ngantuk sambil menulis… tapi maaf itu pekerjaan orang2 khusus..
BTW, ngantuk dan tidur bukan alam kita. Saya jadi teringat bagaimana saat Nabi saw Isra Mi’raj diawali beliau sedang tidur…
Syariat Qurban juga diawali oleh tidur… Awalnya Nabi Ibrahim as bermimpi dan jadilah mimpi itu adalah wahyu, nah mimpinya kita, adalah …… ?
<strike> nah kenapa menulis sambil tidur tidak bisa dilakukan?
</strike>
***Ya, kita hidup di lam kita aja ya. Kalau ngak ntar berani memproklamirkan diri jadi nabi palsu kan berabe tu, he he
By ndoro kakung on Dec 23, 2007 | Reply
kalau susah tidur, biasanya saya baca buku, koran, atau majalah. dan biasanya memang jadi ngantuk. mungkin karena sudah 40-an. mungkin karena memang ada yang rusak di otak
***ha ha … bisa aja
By sawali tuhusetya on Dec 24, 2007 | Reply
setuju banget, pak ersis. kalao ngantuk dipaksakan menulis, hasilnya kaco, bener. mending istirahat dulu, kalao dah ndak ngantuk, baru nulis!
***Resep paling cintrong …
By mathematicse on Dec 24, 2007 | Reply
Hahaha.. tapi Pak, kalau sedang ngerjain tugas (bikin paper, sedang deadline.. rasa kantuk tuh bisa hilang kabur… ) Bisa tahan 24 jam…
MEmang sih kalau dikerjakan pas ngantuk, menulis itu tidak optimal… (bisa terjadi salah ketik, salah ingat sehingga keliru mengemukakan ide.. dst). Memang menulis dalam keadaan fresh lebih baik, apalagi kalau didahului membaca … (kalau cuma fresh tapi ga baca dulu, tetep aja susah dan hasilnya tidak optimal… )
***Kantuk memang bisa dilawan, kadang perlu dilawan, tapi … kalau kesesingan nanti mekanismenya rusak. ADa kasus orang puluhan tahun ngak bisa tidur. Tu syaraf kantuknya pagat (putus). Jangan sampai ya.
By caplang™ on Dec 24, 2007 | Reply
Kalo ngantuk trus dibawa nulis saya malah ga bisa tidur.
***Sama dong. Artinya sel-sel otan ‘on’ jadi hilang kantuknya. Tapi, kudu dibiasakan, kalau ngantuk ya tidur aja, biar baik untuk kesehatan raga dan otak. Salam.
By unai on Dec 26, 2007 | Reply
kalo nulis malah gak ngantuk buat saya pak, tapi kalo baca nahhh ini yang sering bikin mata lengket kaya dilem
***Baguslah, kalau nulis jangan ngantuk, kantuk simpan aja tu kantuk. Ngak mungkin ngantuk selama otak aktif.
By daeng limpo on Dec 27, 2007 | Reply
ini nih penyakit saya sejak mahasiswa, Nguantuuuuk……… apalagi kalau terlibat dalam pembicaraan politik dan gosip, tapi kalau humor wah mata saya langsung terang.
***Wow … artinya memang bila ’sumbernya’ ngak menarik, ngak nyantol, ya begitulah. Bagus khan? Yang penting nulis jangan sampai ngantuk atau tidur he he.
By sains untuk anak-anak on Dec 27, 2007 | Reply
hla kalo ‘dah ngantuk mbok ya bobok aja..
btw, than ato then?
hehehe… (^_^)
salam,
adi.n
***He he … en … endless
By Suci on Dec 28, 2007 | Reply
Kalau menulis sambil mengantuk sih jarang…tapi, sebelum tidur ngantuk duluan sih sering, pak..hehehe…..
***Jangan dipahami hal seperi perintah Allah SWT atau hadis Nabi Muhammad SAW, ntar dosa
By Suci on Dec 28, 2007 | Reply
Eh, diralat pak…kalau ngantuk sebelum nulis sudah duluan sih sering, pak, maksudnya….
***Kapan duluan ke psikiater he he (becanda)