Menulis Sampai di Draf
22 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Saya kurang bisa membuat tulisan panjang. Sebab, kalau menulis terkadang terbentur waktu. Belum selesai suatu tulisan sudah harus mengerjakan pekerjaan lain. Maklum, ngeblog di sela waktu kerja. Nah, saat masuk draft, ide awal tulisan itu hilang, dan untuk melanjutkannya jadi kurang nikmat. Akibatnya, cuma menumpuk di draft blog.
Bagaimana bagusnya, Pak?.
Someone in somewhere
KONSEP. Menurut kamus (KBBI, 1988: 213) draf berarti rencana konsep surat. Pada tradisi menulis, draf tulisan biasanya diartikan tulisan untuk dikoreksi atau diperbaiki. Artinya, memang belum final, belum selesai.
Misalnya, kalau kita menulis skripsi, tesis, atau disertasi, setelah melalui proses panjang, terkadang berlika-liku, sampailah kepada draf untuk ‘diperiksa’ pembimbing. Setelah dibaca (dosen) pembimbing, digarismerahi atau diberi catatan disana-sini, plus anjuran ini-itu, diperbaiki. Kalau tidak parah, beberapa kali konsultasi jadi deh. Ada yang bertahun-tahun, mengutak-atik draf saja. Sampai di draf, dan … DO.
Menulis populer tentu tidak seketat itu. Saya punya sahabat, berpikirnya bagus, idenya selangit, kalau diskusi, apalagi seminar, wui … kesannya gimana gitu. Tapi, kalau menulis, payah. Suatu kali kami terlibat pembicaaran agak serius tentang menulis.
Rupanya dia punya kebiasaan jelek, kalau ada ide, ditulisnya dua atau tiga alinea, dan … stop. Tidak diselesaikan. Alasannya, mandeg begitu saja. Files komputernya lebih banyak berisi draf-draf tulisan, bukan tulisan yang telah menjadi.
Dalam ‘pengelanaan’ sebagai (ih sok hebat, euy) motivator penulisan, dari (kira-kira) sepuluh yang sharing menulis, paling satu orang yang terbebas penyakit ‘mematikan’ tersebut. Heran juga, menulis kog ngak sampai selesai. Setelah mengamati agak serius, sampai pada simpulan, karena: (1) ide dan bahannya belum matang, (2) latihan menulis belum sampai pada makrifat. Silahkan baca Ejakulasi Dini Menulis, dan beberapa postingan lainnya, kira-kira 4-6 seri tulisan. Ditambah variannya, mungkin ada puluhan tulisan.
Balikannya, ya penuhi syarat tersebut agar dendaan ‘penyakit mematikan’ kabur. Akan lebih sempurna manakala memperkaya penguasaan kosaka hingga pemilihan kata (diksi) lebih bervarasi. Penguasaan kosakata akan menjadikan tulisan enak dibaca dan menyenangkan. Tidak memakai kata-kata yang itu-itu saja. Hal ini hampir mutlak bagi penulis puisi.
Seperti telah ditulis pada Menulis Lipatan Kata, setiap kata mengandung konsep (term). Konsep-konsep yang berhamburan di memori (otak) itu yang dipanggil. Kalau konsep untuk menulis (sesuatu) dipanggil, padahal belum disimpan, ya bagaimana akan disahuti. Ngak mungkin kan?
Kalau pun pernah ‘direkam’, puluhan tahun lalu, kalau tidak pernah dipanggil agak susah memang (lupa). Masih ingat kan, otak kita memuat setriliun neuron. Ketika dipakai, otak akan bekerja ‘menjelajahi’ jaringan selnya yang kalau diluruskan bisa mengelilingi Bumi.
Nah, ibarat pohoh-pohon di hutan, kalau sering dipakai, selusurnya dari satu pohon ke pohon akan lurus. Kalau jarang dipakai, akan memerlukan waktu cukup lama. Untuk sampai ke refleks, sering-seringlah menggunakan informasi di memori. Akan terbentuk sistem lebih ringkas. Kalau komputer tidak pernah di degfrah ya proses kerjanya agak lamban.
Itulah fungsi utama latihan menulis dengan menulis, menulis, dan menulis. Adalah keliru besar kalau melatih menulis dengan belajar teori atau berguru kemana-mana. Semakin banyak teori — coba saja kalau ngak percaya— semakin membentengi diri dengan belenggu. Teori, atau apa pun istilah, untuk memudahkan. Intinya, ya menulis. Dengan menulis itu kita ‘meringkas’ cara kerja sel-sel syaraf sampai pada tingkat refleks. Kalau sudah demikan, menulis tidak memerlukan ‘pikiran’ (Perhatikan, ditulis dalam tanda kutip).
Dengan kata lain, menulis sampai di draft itulah yang (maaf) dikatakan ejakulasi dini menulis. Jangan pelihara, itu penyakit. Obat mujarapnya, tumpukan pengetahuan di memori, dan latih mengambil penggalannya sesuai kebutuhan, ya itu, itulah menulis.
Kembali pada ilustasi teman terdahulu, ajaibnya, kalau bicara, berdebat, atau beragumen dalam diskusi atau seminar, sungguh memukau. Saya ingin tandaskan, menulis pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan ‘bodoh’ atau ‘pintar’ seseorang. Menulis karena dilatih, latihan menulis. Itulah penulis sesungguhnya, penulis yang melakukan aktivitas menulis.
Akan halnya kasus pada awal tulisan ini, menulis mandeg karena waktu terbatas, ya ya, hal itu bisa jadi. Tapi, saya punya tip. Menulis tidak memandang waktu. Ini pengalaman pribadi. Boleh percaya boleh tidak, boleh dicoba bebas pula untuk diabaikan atau dicemooh.
Saya menulis kapan mau. Kalau ada pemamtik, jadilah. Kalau tidak sedang nampang di Deshtop, laptop, atau HP, ya menulis di otak. Pokoknya menulis. Sedang menyetir adalah saat menulis paling nikmat.
Menulis di otak, satu kesukaan saya. Saat mata diperlukan, telinga dibutuhkan, rasa, pikiran, atau seluruh komponen diri harus waspada, itulah saat menulis paling nikmat. Saat menikmati pemakalah yang menjemukan atau argumen menggurui pada diskusi, menulis. Akan halnya, menulis di otak adalah tulisan andalah buku Menulis Sangat Mudah. Banyak yang kepincut setelah membaca tulisan tersebut.
Kalau di depan kumputer apalagi. Saya tidak mau tulisan ‘dihentikan’ sebelum selesai. Paling toleran, tulis idenya pada bagan kasar (sangat jarang). Makanya kalau sedang menulis ada tamu, rusak deh. Atau, lagi asyik menulis ada yang invid chat, duuuh Gusti. Dilayani tulisan taruhannya, ngak dilayani dikatakan manusia sombong. Itulah risiko relasi sosial.
Apa pun yang terjadi, menulislah kapan saja. Dan, apa pun penganggu, usahakan tulisan sampai selesai. Mau salah ketik keg, mau salah saji keg, mau salah istilah keg, selesaikan. Setelah selesai baru berhenti. Bekerjalah. Kalau ada waktu luang perbaiki, edit, atau apalah begitu sehingga menjadi tulisan sebagaimana diinginkan. Jangan ada tawar-menawar sebelum tulisan jadi.
Satu hal, semakin banyak memanfaatkan, menggunakan waktu, semakin banyak hasil yang kita peroleh. Menulis tidak memerlukan waktu, apalagi waktu khusus, sebab pada hakikatnya kita menulis di lintasan waktu (silahkan baca 4 tulisan khusu tentang menulis di mlintasa waktu). Tinggal milih, ‘dimana’ yang tepat kita sambar.
Jadi, menulis sampai di draft itu adalah modal, sebab kita sudah memulanya. Kalau ingin menyelesaika, ya teruskan. Kalau ditumpuk, dalam setahun saja, sungguh sayang, buah pikir yang begitu briliyan dibuang percuma menjadi draft. Kasihan deh draf, menjadi recyle bin.
Mari kita bunuh penyakit mematikan tersebut dengan melatih meninggalkan menulis sampai di draft. Komputer baru sampai Core2Duo, otak tak terhingga, meminjam Einstein:E=MC2.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 Oktober2007.









11 Responses to “Menulis Sampai di Draf”
By imcw on Dec 22, 2007 | Reply
Hati hati nulis sambil nyetir, bisa bisa nabrak.
***Ya Pak Dokter, tapi kalau nulis di otak malah mikmat tu. Makin digunakan berbagai elemen tubuh, kog makin yahud gitu. Salah ya Pak?
By Totoks on Dec 23, 2007 | Reply
memang bakat menulis harus dilatih terus dan terus. saya mencoba dengan banyak membaca dulu supaya tulisan saya bisa mengalir. paling tidak saya menulis untuk diri saya sendiri dulu hehehe… tipsnya muantabb semua lho mas
***Persis. Mas Totok tulisannya dah bagus kan? Tapi, jangan untuk diri sendiri. Hati-hati egois ngak baik he he. Membaca adalah perintah Allah pertama buat manusia, bukan yang lain. Selamat.
By aditya on Dec 23, 2007 | Reply
Assalammualaikum pak Ersis, mampir sekejap……silaturahmi
***WWW … jangan sekejap ah, lama-lama kenapa sih. Yoi, mari bersilaturrahmi dan … menulis.
By hanna on Dec 23, 2007 | Reply
Boleh *sok tahu on* heheheh. Sedikit narsis nih, maaf ya sebelumnya.
Kasus yang pernah saya alami juga. Supaya ide saya tidak meluap saya menulisnya di buku nota yang memang saya siapkan untuk itu. Kadang bisa juga disimpan sementara di HP, atau langsung komputer.
Tulisan tidak selalu mesti panjang. Yang penting isinya, ya ga, Pak?
Saya lebih suka tulisan pendek, ringan, padat, berisi, dan mencerahkan.
Untuk zaman sekarang tulisan yang panjang malah akan membunuh pembaca, hehehehe. Karena keterbatasan waktu.
***Ngak penting itu, pengalaman kan bisa bermanfaat buat sesama, kalau ada yang percaya yah uda. Soal panjang pendek bukan hal pokok yang penting makna dan manfaat. Selamat menulis.
By Kurt on Dec 23, 2007 | Reply
Iya juga sih bang Ersis, waktu kadang membatasi dalam setiap tulisan. Namun memang bagi pecandu tulis… tak ubahnya pecandu rokok, dimanapun bisa memantik korek api.
meskipun sambil berak sekalipun, ia pun berak tulisan di mana-mana .. bukankah begitu bang:? maaf kalau dulu komennya nakal sekarang jorok heheheh
***Ya ya, tapi ngapain ‘menghitamkankambing’ waktu, ya ngak? Tulis di otak ntar tinggal salin, atau ya itu dimana saja kapan saja. Pokoknya, waktu jangan pernah disalahkan sebab waktu siap digunakan atau dbiarkan berlalu. Soal kita memanfaatkan saja. Nakal atau joro yang penting esensinya. Salam.
By imcw on Dec 23, 2007 | Reply
@ Ersis WA : Nggak salah sih, tapi biasanya saya kalo kebanyakan memikirkan sesuatu malah bisa jatuh ke alam lamunan.
***Alam lamunan, masih berpikir kan Pak Dokter. Menulis melahirkan pikiran, jadi ngak kesampaian dong.
By sawali tuhusetya on Dec 24, 2007 | Reply
sering kali juga kalo perasaaan menggebu ingin segera mosting malah ndongkrok di laci drfat. emang ada baiknya penguasaan bahan tulisan itu penting ya, pak ersis. kalo tahuya hanya serampangan doang, nasibnya ya paling2 masuk ke laci drfat itu tadi, hehehehehe
***He he bisa aja, kura-kura dalam perahu nih, sudah tahu memberi tahu pula. Makasih.
By fira on Dec 24, 2007 | Reply
Ass, mau panjang atau pendek yang penting ada hasilnya ya gak pak… trus saya juga suka begitu tuh pak,saat ada ide saya tulis biar cuma sedikit trus saya tinggal jika waktu gak sempat tapi saat akan meneruskannya kok jadi mandek ya pak. Timbul tulalitku hingga berjam-jam kalau sudah gitu saya bingung mau di apain lagi nih…hehehe tapi itu dulu pak sekarang sih masih tapi agak berkurang (jujur lo pak saya) samimawon atuh yah hehehe….Wassalam.
***Ya ya … he he … proses itu kan bukan sim-salabim. Ingat kata-kata diawal sharing? Trus, nulis, nulis, en nulis.
By caplang™ on Dec 24, 2007 | Reply
kadang sulit juga menghindari ajakan ceting
tulisannya mencerahkan, pak
makasih
***Ya ya. Chatting itu perlu selama bermanfaat, minimal bikin fresh. Tapi, kalau merusak lajuan menulis, ya tolak saja. Soal prioritas. Harap pula dicatat, dengan chating kita kan bersliturrahmi dan bisa menimba pengetahuan.
By Mirna on Dec 24, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum
Makasih atas inspirasinya, sepertinya folder kumpulan draft di komputer saya sudah penuh, dan sudah saatnya tulisan2 pendek itu diselesaikan.
***Siiiiiiiiip, saya yang pertama senang. Banyak yang mengdap hal tersebut, bongkar foldernya …. bungkuuuuus.
By unai on Dec 26, 2007 | Reply
kalao sudah dalam bentuk draft bukannya lebih mudah untuk menjadikannya kalimat utuh. KArena umumnya menulis itu sulit di awalnya, kalau sudah ditengah lancar saja, bebas hambatan seperti tol.
***ya, cuman orang punya penyakit berbeda. Kalau saya jarang mau ‘menabung’ pada dfraf, malas utak-tik lagi. Mendingan baru, kecuali … Ya, yang bagus itu sejak mula samapai selesai baru stop.