Menulis Memaafkan Diri
21 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: … tersentil dan syahwat menulis susah terbendung … Lagi-lagi, Bapak ini kalimatnya mencengangkan saya. Terima kasih Pak.
Someone in somewhere
BERDAMAI. Dalam menulis, terutama bagi pemula, setidaknya ada dua hal pengganggu. Pertama, ketidakpercayaan diri. Hal ini tersebab mulai dari minornya self-concept yang ditancapkan sampai kurangnya latihan. Kalau dikaji detail, bisa beberapa buku dibuat tentangnya.
Kedua, mengendalikan syahwat menulis begitu libido menguasai ubun-ubun. Syahwat menulis perlu dipelihara, sebab dengan adanya syahwat yang siap ‘membakar’, menulis akan lebih mantap dan kencang larinya. Kalau berlebihan —hati-hati— bisa mati di tempat tidur.
Untuk hal petama, sudah dibahas pada bagian terdahulu, atau buku-buku saya yang lain. Memenej syhawat menulis berbasis pada bagaimana mengendalikan diri; kemauan, keinginan, kehendak, dan atau, lainnya sebagai aplikasi mengapa menulis. Untuk ‘menjinakkannya’ perlu memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri.
Memaafkan dan berdamai dengan diri akan melahirkan persepsi baru, kita betul-betul menjadi kita yang sesunguhnya. Bukan, ya bukan, kita sebagaimana diangankan. Banyak orang hidup sebagai dia ‘di pikirannya’ bukan dia ‘dalam kenyataan’. Ada diskrapensi lempang antara kedua persepsi demikian.
Kalau kita kerucutkan dalam tindak menulis, akan ditemukan berbagai kekurangan atau kelemahan. Wajar, apalagi bagi pemula. Masalahnya, angan selalu membawa ke hal-hal ideal. Ini penyakit tak berkesudahan banyak orang.
Karena itu, bagi yang betul-betul sharing menulis serius, selalu saya tekankan, mari buang (sementara) virus-virus menulis yang selama ini hinggap. Baik yang baik, apalagi yang buruk. Telanjang dulu. Adakalanya, lebih suka mereka yang belum menulis. Kalau perlu, mengetik belum pernah. Lebih mudah mendadaninya. Tinggal ‘on’ kan potensi dirinya, jadilah. Kalau yang sudah menulis satu dua tulisan, apalagi pakai embel-embel pernah diajari guru yang hebat, bakalan bermasalah. Biasanya sok itu orang.
Memaafkan diri berarti (berani) mengakui kekurangan. Misalnya, kurang membaca. Ya, perbanyak membaca. Kurang penguasaan kosakata, ya baca kamus. Kurang paham konsep, jelajahi ensiklopedia. Kurang piawai menyusun kata merangkai kalimat, ya latih dan latihan.
Agar naluri menulis makin terpacu, bacalah secara mendalam tulisan banyak orang. Mulai dari tema, analisis, sajian, sampai utak-atik kalimatnya. Setiap orang punya gaya sendiri.
Kesemua itu, apabila sistem internalisasnya benar, akan melahir pola baru di pikiran. Kenapa candi Prambanan dan Borobudur jauh lebih aduhai dibanding candi-candi di India, asalnya? Karena oh karena (mirip syair lagu ya), ada unsur kreativitas. Dalam bahasa akademiknya, local genius.
Itu dalam inovasi. Dalam menulis kita bukan sekadar discovery, tetapi invention. Penulis adalah pencipta, pencipta kata-kata yang di dalamnya terkandung konsep. Bisa discovery bisa invention. Karena itu, bila memulai, sebaiknya mengosongkon diri (ZMP methode) dengan membebaskan diri, dan mengisinya. Kesombongan atau sok tidak diperlukan pada tataran ini.
Ya itu tadi, kita akui kekurangan, dan diimbuhi dengan mempelajarinya. Tidak ada cara lain, sekali lagi, tidak ada cara lain selain belajar dan melatihnya. Kita maafkan diri kita yang kurang. Sadar diri. Buang sikap sok ke laut tak bertepi. Enyahkan. Tidak usah malu.
Selanjutnya, kita berdamai dengan diri sendiri. Kalau perlu belajar lagi, a sampai z, O sampai 9. Gabung-gabungkan. Bukankah a+b+a+h=abah? Pada kosakata abah terkadung konsep bapak. Apa itu? Pelajari. Kalau biasanya sekadar pengetahuan lepas, kini secara hakikatis.
Dengan demikian, hasil berdamai dengan diri yang serba kurang akan menggali sekaligus memanfaatkan potensi besar diri. Tapi, kalau belum apa-apa, sudah menganggap diri paling hebat, suka melecehkan tulisan orang, ya silahkan saja. Tidak akan dapat memperbaharui self-concept. Bagaimanapun akibat hidup dan kehidupan tanggung jawab masing-masing.
Jadi, dengan memaafkan diri, berdamai dengan diri, kita dapat mengelola libido, syahwat menulis. Bukan saja dapat dijadikan stimulus, tetapi sebelum mencapai kulminasi, kita bisa memejnya supaya tidak berakibat buruk.
Jangan pula sampai, nafsu besar tenaga kurang. Masih ingat tulisan tentang ejakulasi dini menulis? Selamat menghubungkannya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 21 Desember 2007.










13 Responses to “Menulis Memaafkan Diri”
By Siti Jenang on Dec 21, 2007 | Reply
wah kebetulan mo nanya, kang. kalo saya latihan sih latihan, tapi kenapa di tengah-tengah menulis tiba-tiba bisa hang, mandeg, macet? ide kadang muncul banyak tapi seringnya cuma bisa nulis sebaris-dua baris di kolom komentar
kalo bisa, baca tulisan saya dong… pengen minta pendapatnya sekalian. pengen nulis fokus dan detail, tapi ya itu tadi… tiba-tiba macet
trims.
***Coba baca dulu postingan terdahulu … ada ejakulasi menulis, ada memfokus sampai detail. Kalau masih ada hal, ingatkan saya ntar ditulis khusus?
By unai on Dec 21, 2007 | Reply
wah saya ndak jadi yang pertamax komennya yah pak…
Iya, memang sudah seharusnya kita yang ‘ingin’ piawai menulis ini berdamai dengan diri sendiri. Mencari tahu dimana letak kekurangan dengan banyak belajar.
Dan yang membuat tulisan itu menjadi enak dan tak enak dibaca itu tergantung dari interprestasi pembacanya sendiri. Dengan kata lain, pembaca memiliki selera bacaan sendiri. Nah bagi saya yang pemula ini, belum perlu mencari tau dan berusaha memenuhi selera pembaca kan pak?
Bagi daya menulis adalah menulis, ringan, indah, bagus, berbobot tidaknya terserah kita saja yang ingin menentukannya. Betul pak, syahwat menulis saya cukup besar hehe, tapi lagi lagi nafsu doang tenaga kurang haha maaf pak lah jadi ngelantur
***Ya tergantung pembacaya, tetapi terlebih, dari bagaimana kita merakitnya. Ya ya, menulis adalah menulis, ‘ketentuan’ berawal dari kita. Syahwat besar modal tu. Ngaklah, syahwat dan tenaga itu paralele saja. Entah … keyakinan he he
By Suci on Dec 21, 2007 | Reply
ejakulasi dini menulis????
Ada-ada aja pian, nih…
Tapi, oce juga istilahnya.he
***Aha … ada-ada saja. Karena ada kita ada toh? Buatlah yang ada hngga ada yang ada dan ada, adanya. Kalau ngak ada ada, ya empty dong.
By edratna on Dec 21, 2007 | Reply
Ada yang bilang, kalau mau menulis bersihkan semua pikiran….dan mulailah dari pikiran yang kosong, sehingga kita bisa mengambil jarak dari semuanya, sehingga tulisan bisa dilihat dari kacamata siapa saja.
Pendapat lain, tulislah apa yang ada dipikiranmu, uneg2mu…kemudian endapkan…besok lihat lagi, rapihkan, baca lagi…lama-lama akan mulai terlihat arahnya
***Dua-duanta benar saja. Soal cara. Sebenarnya saya mau bkin artikel, tapi dah banyak dikupas di artikel terdahulu. Kosong dalam pengertian siap bahan dan tema, aplikasinya menfokus. Tulis dan tulis, intinya tanpa dicampur ide lain. Nah … kalau ke soal … bisa dilihat dari kacamata siapa saja, setingkat dari membiasakan menulis. Kita mengarah kesana. Kalau sudah dipagut, wow … itu yahud.
By caplang™ on Dec 21, 2007 | Reply
saya kurang bisa bikin tulisan yg panjang
kalo udah sampe di draft biasanya ga akan dilanjutin
enaknya gimana, pak?
***banyak yang enak, enaknya kita ambil yang enak. sayangnya mau saya bikin artikel, maksud sampai draf itu apa?
By caplang™ on Dec 21, 2007 | Reply
maap nambah komen
barusan saya japri, pak
By hanna on Dec 21, 2007 | Reply
Maaf, pak, baru bisa koment, nih.
Jangan pula sampai, nafsu besar tenaga kurang
(Ini yang serang terjadi dalam diri saya, pak. Jadi malu, hehehehehe)
***Soal memenej aja. Bagus dalam berlatih, lama-lama terbiasa, dan semuanya hadi mudah, terkontrol.
By hanna on Dec 21, 2007 | Reply
@Camplang
Plang, jangan katakan padaku bahwa Camplang sudah jatuh…
Oh! No! No!, Plang, please deh…
Masih banyak… yang menanti, wekekekekeekek.
By kurtZ on Dec 21, 2007 | Reply
Huahahaha..
si abang kita ini benar-benar “nafsunya” gak ada matinya… jika dihubungkan dengan ejakulasi dini, berarti si abang kini ini, “klikmaks” puanjang banget…
maaf rada porn, sebab tulisannya porn..
semangat terus
***H ha … belum nyampe …
By kurtZ on Dec 21, 2007 | Reply
duuh makin “bernafsu” saya… “dirangsang” terusss…
***Ya ya … tapi sebagi manusia kita ‘dibatasi’ keterbatasan. Pindai dimana garisnya, kalau ngak bahaya juga tu.
By Yari NK on Dec 22, 2007 | Reply
Iya nih…. pak Ersis selalu saja merangsang orang untuk mencapai orgasme dalam menulis! Huahahaha……
Tapi kalau difikir2 memang menulis dan seks banyak pralelnya. Kalau lagi bernafsu dan lagi punya libidonya besar maka langsung saja tuh kita beradu di komputer. Tetapi kalau lagi dingin ya berhari2 komputer kita tetap bersih dari noda menulis.
Tetapi ada juga perbedaannya, kalau dalam seks kita tidak dapat mengendalikan hasil dari orgasme kita (itu jabang bayi bakal pinter atau nggak kita nggak tahu atau itu jabang bayi bakal ganteng atau nggak kita nggak tahu) tapi dalam menulis tentu kita banyak bisa mengatur hasil tulisan kita, apalagi kalau seperti yang dikatakan pak Ersis di atas, kita harus berdamai dulu dengan diri kita sendiri agar hasil orgasme kita dalam menulis menjadi lebih baik. Bukan begitu pak Ersis??
**halaaah** kok aku jadi ikut2an suparno begini!
By huda on Dec 22, 2007 | Reply
wah2x.. emang para blogger itu orang2 yg selalu onani kata-kata ya..
***Ha ha itu simpulan Sampeyan lho. Salam Mas Huda.
By fira on Dec 24, 2007 | Reply
Ass,wah bapak ini paling bisa yah namanya juga sang motivator menulis so kita-kita ini terbius deh tapi biusannya yang bagus dan mantap tap tap. Hehehe sip tul tuh pak harus bisa memaafkan diri sendiri dulu dan berdamai agar hasil tulisan kita juga mantap tap tap eh kok keranjingan tap tap yah hehehe.Wassalam.
***Yoi, itu baru murid, … e maksud saya teman sharing. Tap tap mantaaaaaaaaaap.