Menulis Memaafkan
21 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Kalau tulisan dikritik, dicaci, dan atau, diblejeti wajar ada perih hinggap di dada. Itu belum seberepa. Bagaimana kalau difitnah? Apalagi kalau sampai ide tulisan dicuri lalu oleh Si Pencuri, kita dijelek-jelekkan? Biasanya, bawaanya marah-marah saja.
Â
Dasar babi, maki seseoang. Sudah tidak menulis menghajar pula, mana tidak punya ide, berlagak orang paling hebat di muka bumi. Dasar turunan iblis.
Â
Ersis Warmansyah Abbas, Banjarbaru
DIFITNAH. Dalam suatu percakapan dengan seorang teman —Kepala Daerah— kami berbincangria tentang tema fitnah. Duga-duga saja, bejibun fitnah dilayangkan. Apa saja yang dikerjakannya, salah. Salah. Dan, salah. Banyak pejabat yang bernasib malang sedemikian.
Â
Setelah berdiskusi tentang kondisi obyektif masyarakat berbasik kajian-kajian psikologi sampai Ihya Ullumuddin Al-Gazali, dia bertanya: Bagaimana menurut Sampeyan? Seperti biasa saya jawab: Semua orang ‘bebas’ berpendapat. Kalaulah tidak mematikan, atau kelewatan, ya biar saja. Lihat sisi positifnya.
Â
Yap, begitu pula ketika dia berkata: Surat kaleng tentang Sampeyan bertumpuk-tumpuk tu. Saya tidak memperlihatkan karena ngak ada gunanya. Dan, yakin Sampeyan ngak mau baca. Begitulah, dalam diskusi malam kami biasanya membicarakan apa saja.
Â
Saya bisa memaklumi, dekat dengan pejabat dimaui banyak orang, namun keinginan tersebut tidak selalu sesuai harapan. Kebetulan, saya juga tidak tahu sebabnya, agak banyak memang berteman dengan orang-orang penting. Padahal, ditinjau dari segi apa pun jauh dari pantas. Lho kog?
Â
Betapa tidak. Kalau bicara langsung ke hal pokok, tidak suka basa-basi. Berpakaian cenderung seenaknya. Saya biasa saja tu bercelana pendek atau bersarung ke rumah dinas pejabat. Jangankan minta dikritik, melihat yang tidak seseuai dengan pikiran saya, langsung diomongin. Menulis? Apa lagi. Banyak orang tidak senang karena tulisan saya.
Â
Yang tidak diketahui banyak orang, semua itu bukan dimaksudkan untuk ‘membunuh’ apalagi memfitnah. Kalau tidak setuju, ya sudah. Habis sampai disitu. Tugas saya mengatakan atau menuliskan. Tidak ada embel-embel lain. Apalagi memaksakan ide atau kehendak, no way. Never and never again.
Â
Suatu kali saya tanya: Kenapa Sampeyan betah berteman dengan orang seperti saya? Dia jawab enteng saja: Kalau ngritik karena kurang sesuai, kalau muji pasti tampa embel-embel. Jadi, ngampang mencernanya. Tidak ada muatan lain. Duh, bangganya dengan kawan seperti itu.
Â
Mungkin, mungkin lho, karena terkadang ide muncul begitu saja. Utarakan habis perkara. Padahal, untuk memperbaiki diri sendiri, kurang ide atau tidak mampu merealisasikannya, he … he …Â Lebih mendasar, ada teman berbincang, berdiskusi.
Â
Berbeda dengan menulis, hal-hal seperti itu jarang diperoleh. Kritik dan caci-maki dari teman sendiri sering didapat. Aneh. Begitulah. Saya sampai disidang segala macam. Lebih gawat lagi, ide ‘dicuri’ tanpa ada rasa malu. Hebatnya, sudah begitu, eh … dijelekkan lagi. Kapok?
Â
Ngak tu. Semakin disakiti, semakin banyak ide muncul. Anggap saja pembuka jalan, habis perkara. Kan biasa tu, orang yang terbiasa memakai mobil dinas, menganggap mobil pemerintah itu miliknya. Dapat digunakan mengantar sekolah anak, isteri ke pasar sampai arena perselingkuhan.
Â
Apalagi kalau sekadar laptop atau spidol. Kalau orang mau meminjam saja, salah. Padahal, apa sih yang dihasilkan untuk memajukan negara dari kangkangan barang negara tersebut?
Â
Hal ini sengaja saya kemukan, dalam menulis, hal-hal sepadan sangat, sangat sering terjadi. Tidak perlu diperdulikan. Kalau pun hinggap, lihat sisi positifnya, ambil pelajaran, dan berusalaha untuk menulis ebih baik.
Â
Intinya, menulis akan lancar apabila kita memaafkan apa yang menimpa kita, bukan terlarut dalam kesedihan. Lebih penting, memaafkan diri sendiri. Nah, apa pula ini?
Â
Ya ya, memaafkan dan memaknai segala timpaan pihak lain sembari mengambil sisi positifnya, akan menenangkan batin menyehatkan jiwa. Lebih powerfull manakala memaafkan kebodohan, kesalahan, dan kebobrokan diri. Berdamai dengan diri sendiri adalah landasan roket menuju jagat raya menulis.
Â
Bagaimana menurut Sampeyan?
Â
Banjarbaru, 21 Desember 2007.










6 Responses to “Menulis Memaafkan”
By Suci on Dec 21, 2007 | Reply
Saya suka artikel ini, pak…
***Kalau saya suka yang menulis lipatan kata.
By hanna on Dec 21, 2007 | Reply
Kalau dikritik kita kritik kembali. Katakan, “Maaf, kritikkannnya kurang cocok untuk pemula seperti saya yang masih belajar” heheheeheheh.
***ha ha …
By kurtZ on Dec 21, 2007 | Reply
biasanya, orang yang diserang oleh penyakit, ada virus yang memasuki tubuh. Kemudian sang antibody tercipta, lalu virus diserang dan sembuh. Kecuali AIDS.
Nah pada kasus bang Ersis, virus apa aja (kritikan, makian, serangan, bahkan penjara) semuanya lewat! sebab antibodynya sudah menjalari tubuh.. tak butuh di maki, caci dan dipuji… semuanya lewat… sebuah gambaran hati yang terbuka luas seluas cakrawala.
***Aha … itu kesimpulan Maz Kurt. Soal yang terakhir, kita harus banyak belajar dari Pak Kiai. Salam selalu memnyemangati.
By fira on Dec 21, 2007 | Reply
Ass, kok saya ikutan setuju tuh ama pak Kurt tentang virus bapak hehehe. Soale emang benar sih pak. Wassalam.
***He he … borong komen ya, lama ngak muncul. Gimana, kapan tu bayi ke Bumi?
By fira on Dec 22, 2007 | Reply
Assalamualaikum pak,hehehe iya nih pak lagi ingin buka web bapak aja… Sekarang masih lima bulan pak Insya Allah tak ada halangan bulan mei depan saya melahirkan doakan yah pak…semoga impian saya terkabul punya jagoan hehehe…salam buat keluarga bapak di Banjar. Wassalam.
***WWW … Ya ya didoakan. Moga Allah SWT mengabulkan.
By Dhan on Dec 24, 2007 | Reply
Jadi, daripada emosi karena difitnah, maka syahwat sebaiknya disalurkan dengan menulis. Barangkali begitu ya?
***Bisa jadi, tapi bukan begitu intinya, he he. Semua di luar menulis, anggap tidak ada. Kita akan bebas belenggu.