Menulis Lipatan Kata
20 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: “Saya justru belajar dzikir menulis dari Bang Ersis.” Waah ini deklarasiku. Ternyata dari sekalimat kata bisa melahirkan tulisan sepanjang ini? Salut letupan pikirannya. Ibarat pemantik atau korek api, mampu membakar semangat.
Samoeone in Somewhere
MELIPAT DUNIA. Saya tidak tahu persis. Apakah kawan yang satu ini bagarah-garah atau maulu-ulu. Dipantik sebait kalimatnya lahirlah (emang bayi?) tulisan Zikir Menulis (www.webersis.com) dan dijadikan judul buku, Zikir Menulis (2008). Kalau, ya kalau, penerbit tidak menegokan judulnya. Sementara, itu judul pilihan saya.
Manakala kita menulis dari ‘diri’, apabila ada pemantik, apakah itu satu kata, kalimat, atau setelah membaca buku atau novel, bisa pula melihat, mendengar, merasakan sesuatu, jadilah tulisan. Jujur saja, saya tidak terlalu percaya (atau peduli) dengan ilham. Kata-kata ilham mengandung arti lebih rumit. Kebiasaan saya, begitu ada sesuatu yang menarik (emang tangan?), muncul ide, tulis, jadilah tulisan.
Setelah buku Menulis Sangat Mudah (2007; dua kali cetak), banyak pertanyaan, atau katakanlah sharing menulis dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan mancanegara. Pertanyaan atau kasus yang diajukan langsung dijawab di blog. E … tidak pernah dibayangkan, jadi empat buku; Menulis Mari Menulis (MATA KHATULISTIWA, 2007), Menulis dengan Gembira (2008), Zikir Menulis (2008), Menulis Berbunga-Bunga (2008). Kalau diterbitkan penerbit, he … he …
Pertanyaanya, kenapa begitu ada pemantik bisa menjadi? Begini saudara-saudara. Pikiran kita, c.q. memori otak, bisa menampung ‘ke-ada-an (eksistensi) apa saja, baik yang bendawi atau non-bendawi, yang konkret atau tak berbentuk. Keduanya kita ‘lipat’ dalam konsep. Konsep tentang sesuatu itu disimpan di memori. Ingat, apa saja.
Disela-sela mengerjakan bukunya, Syamsuwal Qomar dan Suciati, dua mahasiswa pemula menulis, di ruang pustaka kerja saya bertanya tentang zero mind process (ZMP) dan konsep. Sebab, pada kopi darat Komunitas Penulis EWA’MCo. kedua hal tersebut dikemukakan.
Coba, sekarang bayangkan Bapak Sampeyan. Dari ujung rambut sampai telapak kaki, dari bicaranya yang meledak-ledak (emang dinamit) sampai ‘gaya’ memberi uang. Sosok yang secara lahiriah dan batinah begitu rumit, hanya ‘disimpan’ dalam satu kata, Bapak. Itulah konsep.
Siapa saja, tidak akan pernah bisa memasukkan bapaknya ke kepalanya. Apalagi Jupiter, nebula, kangguru, puasa, pacar, puisi, atau apa saja. Yang bisa disimpan di memori otak, konsepnya, bukan ‘barangnya’.
Coba hitung berapa konsep yang tersimpan di memori kita, sampai mati tidak akan selesai menghitungnya. Dunia dan pilahannya sampai yang terkecil ada dalam otak kita. Artinya, pengetahuan kita begitu melimpahruah. Dari hal-hal sepele sampai yang serius, dari hal-hal menyenangkan sampai menyedihkan, dari yang menyagkut diri sendiri sampai persepsi tentang berbagai hal.
Tidak salah para neurolog mengatakan, otak itu tak terbatas muatannya. Bayangkan, kalau si jenius, Albert Einsten saja konon dikatakan baru menggunakan 3% kapasitas otaknya. Penggunaan otak Sampeyan? Kira-kira sendiri dong.
Masih ingat perintah Allah SWT kepada Rasulullah yang pertama? Iqra-, iqra’, iqra’ … Atau, begini saja. Semakin banyak membaca semakin banyak memori menyimpan konsep, semakin mudah memenejnya. (Maaf, saya bukan mengatakan saya banyak membaca lho, ntar ada pula yang sirik. Hal ini sekadar contoh, bo).
Lalu, apa kaitannya dengan menulis? Membaca itu gerbang utama menulis. Membaca dalah busur, menulis anak panahnya. Teori, tehnik, gaya, sajian, atau apalah begitu, hanya ‘bumbu’ penyedap. Kog bisa begitu?
Ketika menulis pada dasarnya kita memanggil, mengaktifkan, menyeleksi, memfokus, merangkaitautkan, dan atau mengambil bagian terkait dengan apa yang akn ditulis. Kalau terpantik dengan itu tu … itunya … Pamela Anderson, konsep-konsep terkait Pamela segera berkumpul, dan siap untuk disajikan pada tulisan.
Soal tehnik atau gaya penyajian, bisa dibaca di bagian lain buku-buku saya. Proses memasukkan konsep, terelebih ‘memasak’ adonan konsep-konsep menjadi konsep baru tersktruktur, itulah menulis. Makanya saya tetap pada pendirian, menulis dari dalam diri, tidak usah berguru, atau tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan.
Ersis Writing Theory (EWT), tanpa menafikan teori menulis konvensional, bersandar pada ‘mengeluarkan’ apa yang ada dalam diri, yang tersimpan di memori atau pada rasa di jiwa. Mengeluarkan apa yang ada dalam diri kog susah? Itu namanya garam berulat.
Hanya ada tiga syarat. Pertama, latihan menulis. Kedua, latihan menulis. Ketiga, latihan menulis. Melatih menulis pun dilakukan dengan tiga cara. Apa itu?
Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketika (sampai tak terhingga), ya menulis. Saya jamin, Sampeyan belajar teori menulis sampai jadi profesor, punya ribuan murid, kalau tidak menlis, ya tidak akan ada tulisan. Kalau tidak berlatih menulis dengan menulis, tidak akan malu jadi profesor teoritikus menulis, tanpa menulis. Tidak akan produktif menulis. Menulis bukan teori, melainkan melahirkan pikiran menulis. Bingung? Syukur.
Kembali ke pokok soal, menulis sangat mudah dapat dipahami dengan memanggil konsep-konsep di memori dengan menertipkannya sesuai dengan tema tulisan. Tidak kurang tidak lebih. Semakin banyak memori menyimpan, semakin sering latihan menulis dengan menulis … apabila ada pemantik … dijamin, jadilah.
Dengan kata lain, kita tidak perlu balampah (bertapa), merenung bermalam-malam, berburu ke padang lepas, atau menujum untuk sekadar menulis. Apabila ada pemantik, tentu manakala bahan siap, ada ‘rasa tersentil’, wuaw … syahwat susah dibendung. Sayang sampai hari ini saya belum menemukan virus anti menulis. Sudah dua orang penyangkit virus meminta serum antinya. Maaf, belum ditemukan.
Puisi apa yang paling berkesan? Kalau hal itu ditanyakan kepada saya, karya Sutardji Cholsum Bahri. Puisi apa itu? Puisi, ‘O’. Hanya satu huruf. Ya, hanya satu huruf. Bisa pula angka, nol. Itulah karya besar sastrawan peminum bir tersebut.
Tapi, saudara-saudara sekalian. ‘O’ tersebut bisa dimaknai berpanjang-panjang. Banyak analisis tentang makna terdalamnya karya Sutardji tersebut. Kalau Sitor Situmorang bikin geger dengan puisi Malam Lebaran, dengan empat kata … Bulan di atas kuburan … Sutardji lebih pendek. Ibarat iklan halo-halo, paling murah, 0.
Terimah kasih sobat atas kalimatnya: “Saya justru belajar dzikir menulis dari Bang Ersis”. Ya, apabila stimulus frekuensi sesuatu nyambung pada tataran memori kita, itulah pematik menulis. Dari satu kata bisa lahir satu novel. Belive it or not.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 Desember 2007.









5 Responses to “Menulis Lipatan Kata”
By unai on Dec 21, 2007 | Reply
tersentil dan syahwat menulis susah terbendung, lagi lagi Bapak ini kalimatnya mencengangkan saya…terimakasih pak
***Mencengangkan? Ya ya, biasa saja tu. Salam Iugul Adha.
By Suci on Dec 22, 2007 | Reply
Ya..ya..syahwat menulis vs ejakulasi dini menulis = kemauan besar tenaga kurang..hehe
By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply
RASANYA SEPERTI CINTA…
AKU MERINDUKANMU…
By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply
AKU MERINDUKANMU…
085274789805
By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply
THANK’S GOD FOR ALL….
THANK’S GOD FOR THE BIRD IS SINGING…..
THANK’S GOD FOR THE SUN IS SHINING….
THANK’S….FOR LIFE….
^_^