Puisi Cinta: Surat Buat Yang Maha Kasih (2)

16 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Ketika Bayangku Melayang ke Rumah-Mu, Ya Rabb
 
Ketika bayangku Kau bawa melayang ke rumah-Mu, Ya Al-Rahman
bisikmu makin kencang
lupaku jadi ingat
dustaku jadi amal
aku, keakuan menjadi atom tanpa elektron
bertawaf suka cita

Ketika Kau bawa hatiku dalam pelukan-Mu,
Ya Al-Khalik
otak merangkai
emosi mencubit
qolbu berfungsi
adakah nikmat senikmat itu,
ya Al-Rahim

Ketika Kau bawa qolbuku dalam nikmat-Mu,
Ya Al-Ahaad
kutemukan diri dalam-Mu,
Ya Rabb

Banjarbaru, 7 Februari 2004
 

SinarMu Memancar Ulu Hati
 
Di hamparan wajahMu, ya Rabb
lapisan halimun tanda-tanda
selusup tegur sayap-sayap qolbu
belenggu alfaTanda-tandaMu suar di lautan samudera angkasa
berkhabar tentang Sunnatullah tentang asal
tentang kedatangan dan kepergian
berpilin   merasuk jiwa

Terima kasih Ya, Muhaimin
sinarMu memancar dari ulu hati
 
Langit, Batavia Air, (07.50) 09-04-06
 

Aku yang Tertegun

Aku adalah pancang tulang-belulang
daging syaraf darah keagungan
ketika Yang Di Atas Sana meniupkan seruling nafas
dengan segumpal piranti qalbu
menyiangi perang menuju asal muasal
amunisi ujian angin kehidupan

Aku adalah segumpal piranti qalbu
yang tak pernah mengerti dalam pencarian tak terbatas
pada halaman-halaman tinta petuah
pada ujar-ujar pujangga
pada bengisnya kuasa alam
serapah manusia
terkalah dikungkung kebebasan

Aku adalah kelana
terpaku di kuala sadar menyoal kebodohan
pencarian jauh melupa perjanjian awal kala
rerindang salju menikmat putih agar terbeda abu-abu
musafir pencari kaca dunia
aku yang tertegun

Banjarbaru, 5 Februari 2006 (10.30)
 

Proklamasi

Malam ini, Ya Rabbi

Tunduk mengadai jiwa
saat bisikMu sayup menegur
memalu dongeng-dongeng kebenaran
mitos-mitos nisbi kalam
tikam tali rohul
sempurna tegun terpancang

Malam ini, Ya Rahman

Lalu kemana tambang kan ditambat
kalau Kau masih mendenda penuh asih
tangan terangkat
memoriMu galaksi
kikirMu hikma
melipat dijepit “Si Pemutus”
yang menerkam dengan kearifan
rumah di atas angin

Malam ini, Ya Rahim

Sejarah arif dimamah
sempurnakan bodoh bersila
menerjang kebenaran mutlakMu
bising silopsis berkecamuk hiruk pikuk
menusuk jantung membunuh harap
empat puluh empat purnama jiwaku terjerat
melelahkan
Malam ini, Ya Allah

Air nikmat membasuh dahaga
akulah aku
Kau penghulu
cumbuan kita kian mesra
dalam sujud cintaku
proklamasi kalah dalam memang
Hamba SejatiMU
EWA

Bandung, 15 November 1994
(Tertoreh di halaman dalam depan tesis S2ku)
 

Aku yang Tertegun
 
Aku adalah pancang tulang-belulang
daging syaraf darah keagungan
ketika Yang Di Atas Sana meniupkan seruling nafas
dengan segumpal piranti qalbu
menyiangi perang menuju asal muasal
amunisi ujian angin kehidupan

Aku adalah segumpal piranti qalbu
yang tak pernah mengerti dalam pencarian tak terbatas
pada halaman-halaman tinta petuah
pada ujar-ujar pujangga
pada bengisnya kuasa alam
serapah manusia
terkalah dikungkung kebebasan

Aku adalah kelana
terpaku di kuala sadar menyoal kebodohan
pencarian jauh melupa perjanjian awal kala
rerindang salju menikmat putih agar terbeda abu-abu
musafir pencari kaca dunia
aku yang tertegun

Banjarbaru, 5 Februari 2006 (10.30)
 

Negeri di Atas Awan
 
Beribu-ribu langkah kutinggalkan
berjengkal-jengkal goresan terlukis
kini lukisan sesungguhnya menyapa
di tanah tak berbumiTegunku kini terjaga ya Allah
harapan yang kau serahkan di pundak kami
terlena tak buat apa-apa

Kiasan selalu dilukis tangan tidak tengadah
menyelam keagunganMu
melalui tangan mereka dalam decak
batu cadas menyeramkan di puncak langit
jurang menakutkan dililit hutan
tiang-tiang tegak membawa kotak-kotak harap
naik tak mengeluh
subhanallah

Di sini ya Rabb
di Genting Highlands
hembus lembut dinginmu menyapa hati mengelus dada
bukan rollet yang terlihat di belantara asihmu
keagunganMu bukan lukisan kami
wajahMu di mana-mana menyapa ramah
di Genting Highlands
jabat tangan makin sempurna

Genting Highlands, 14 April 2006
 

  1. 3 Responses to “Puisi Cinta: Surat Buat Yang Maha Kasih (2)”

  2. By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply

    Dari Banjabaru, dari langit Batavia Air, dari Bandung hingga Genting Highlands dengan durasi waktu yang berbeda…

    Agaknya ini perjalanan penulis dari ujung langit dan bumi tah? :) hehehe

    ***Mengalir begitu saj, pante rae.

  3. By unai on Dec 17, 2007 | Reply

    how could u wrote this poem so well?…am so proud to be here sir

    ***he he … bisa saja.

  4. By unai on Dec 19, 2007 | Reply

    pak saya minta beberapa puisinya..izin publish di blog saya yah pak, boleh?

    ***Dengan senang hati. SEbagai ganti, puisinya ntar dicopot ya, saya mau nerbitkan Antologi Puisi; on teh blog.

Post a Comment