Puisi Cinta: Surat Buat Yang Maha Kasih (1)
16 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Ahai … tiba-tiba ada keinginan membaca bait-bait lama. Ngak paham juga kog mengapa, bagaimana, dan kenapa menulis puisi ‘kekagumam’ kepada Allah SWT. Rintihan jiwa? Entahlah.
Bagaimana Menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Desember 2007.
Surat Buat Yang Maha Kasih
Malam ini, Ya Allah
asma-Mu bahana puncak-puncak gunung
lampaui pucuk langit menaik ke arasy-Mu
dari julang menara-menara gema
berirama melayang lampaui lembah-lembah
dari relung hati hati menggapai fitrah
menyapu awan
menghalau hujan
membunuh sepi,
hanya nama-Mu, Ya
Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik
Menuai ujian, wahai Yang Mahaterkasih!
dalam kalah dalam menang
qalbu terguncang damai
dalam renung pada sujud
pada dahaga uji asih-Mu
bersimpuh nyaman
di bulan penuh berkah,
Ramadhan ya Ramadhan, Ya
Al-Quddus, Al-Salam, Al-Mui’min
Pada pertempuran akbar limpahan rahmat, maaf
perjuangan belum seujung rambut dibelah seribu
ujian-Mu pada penyadaran
agar mantap kuala jiwa pada tatapan danau rindu
hanya pada-Mu, hanya untuk-Mu, Ya
Al-Muhaymin, Al-Azis, Al-Jabbar, Almutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’,
Al-Muhawwir, Al-Ghaffar, Al-Qhohhar
Langkah belum lurus, ya Al-Wahab
tangan belum menggapai
anggukkan belum sempurna
niat belum berbaris
bibir-bibir tersalah
abai mampir tak tertendang,
kasih-Mu tak putus, ya
Al-Razzaq, Al-Fatah, Al-Alim
Cibir-cibir enggan ke laut lepas, ya Al-Qabidh
sayang-Mu tak henti
lihatlah, juang tak lelah
selama firman-Mu ke dada
kesempatan jangan dipalang
biarlah matahari tetap berkhabar
bulan merindu mengirim pertanda
kirim pesan menuju persuaan abadi
di rumah-Mu yang di atas segalanya, ya
Al-Basyith, Al-Khafidh, Al-Rafi’, Al-Mu’iz
Ya Al-Mudzil
kalau ada pongah menggoda
sombong hadir tanpa diminta
beraja diri pada buhul tali imam-Mu, tersalah
maaf kirimkan pengingat
agar terpana diam dan terhenti, ya
Al-Sami’, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-Adl
Bagaimana lagi, ya Al-Latif ya Al-Halim
durjana bersarang laba-laba menjerat laku
Si Pungguk rindukan bulan
Petruk mimpi dadi raja, lancung hina
maaf dipinta
kuasa kerajaan-Mu
yang tidak berbatas, ya
Al-Azhim, Al-Ghafur, Al-Syakur, Al-Aliy
Hati ini tergadai luluh, Ya Al-Kabir
walau tangan masih berlumpur
telinga belum bening
qalbu bersandar
mata mengelana ke dimensi tak terbatas
pelajaran jangan dihentikan
rindu jangan dicabut
kesempatan bukalah lempang
hari-hari biarlah menyapa
agar ada waktu untuk bercumbu
dalam asih-Mu yang tak putus,
wahai, penentu segala yang baik, ya
Al-Hafizdh, Al-Muqid, Al-Hasib
Kemana-mana langkah diayun, Ya Al-Jalil
jangan kikirkan percaya
pikir dibentuk dan dibentuk, ya Al-Karim
limpahkan rasa aman di dada, ya Al-Raqib
pelihara, lindungi raga dan jiwa, ya Al-Mujib
Ya Al-Wasi’
kuatkan bathin tegarkan semangat
dunia fana bukan tujuan
agar perjalanan tak bernoda berbuah petaka
jalan lurus sebagaimana telah Engkau berikan
perkasakan rona tegarkan jiwa, ya
Al-Hakim, Al-Wadud, Al-Majid, Al-Bai’it
Ya Al-Syahid, Al-Haq, Al-Wakil, Al-Qawi
petuah disambut sudah
gerak terbata-bata
rimbun petunjuk limpahkan sempurna
jangan turunkan kehendak-Mu pada nestapa
seperti Kau janjikan ketika roh ditiup
seperti Kau vonis ketika nyawa dicabut
impian baru bermula nyata dalam lingdungan-Mu, ya
Ya Al-Matin, Al-Wali, Al-Hamid, Al-Muhshi
Wahai Kekasih, Yang Memilki Kebesaran
permainan ini ciptaan-Mu
kedunguan milik kami
Iblis Kau biarkan bersenda gurau, berkeliaran
mengoda jiwa-jiwa rapuh
disitu kami berjuang tidak berpaling
dada kami tidak dibedah Rasulullah
ketidaktahuan dari keterbatasan, penyebab alfa
Kebesaran dan Keangungan-Mu, pengampunnya, ya Al-Mubdi-u, Al-Mu’id, Al-Muhyi
Ya, Al-Mumit
sajadah dihampar tangan memanjat hati berhikmad
nama-Mu dalam bisik dalam bunyi dalam terang
hamba belahan titik di ciptaan tak terhingga,
dari tiada menjadi ada, ya
Al-Hayy, Al-Qoyyum. Al-Wajid, Al-Majid
Wahai, Yang Mahaesa, ya Al-Ahad
kesendirian berkelana mencari sua
Kau datang dalam rasa
lebih banyak hilang dalam dunia
helaan nafas aliran darah kendali pikir bisik hati
masih bergelombang
ku rindu, bersatu dalam genggam, ya
Al-Shamud, Al-Qodirt, Al-Muqtadir
Maafkan, Ya Al-Muqaddim
usaha ditancap memancang harap
upaya tak henti dikibar dari pagi ke sore
dari senja ke Subuh, sepanjang udara ada
agar titik-titik menyatu pada garis-Mu
perjuangan panjang,
selama hayat bersama roh, ya
Al-Mua’akhir, Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Zhahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muhta’ali, Al-Barr,
Al-Tawwab, Al-Muntaqim, Al-Afuww, Al-Rauf, Al-Malik Al-Muluk, Dzu Al-Jalal wa Al-Ikram
Janji atas nama-Mu, ya Al-Muqsith
takkan pernah tercabut, firman-Mu ladang hidup
padang merdeka kiprah
tercatat di tangan malaikat-malaikat,
menjadi bekal kelak saatnya tiba, menemui-MU
ya Al-Jami’, Al-Ghaniyy, Al-Mughni, Al-Mani’
Ya Al-Dharr, Al-Nafi’, Al-Nur, Al-Hadi
kemanakah lagi tangis kan dikirim
rintihan sayat-sayat kerinduan simponi jiwa
derai kelopak mata rindu buah pikir
rindu serindu-rindu dendam asal bermula
ikhlas berserah lautan cinta samudera ingin
kalau bukan ke haribaan-Mu,
di sorga, rumah yang kau janjikan
Ya Al-Badi
Ya Al-Baqi, Al-Warits, Al-Rasyid
riak riuh tawa bukanlah nafsu
senyum menang madah-madah gembira
syukur diucap senang dipangku
ketika tugas membawa ke medan arti
saat petuah menjadi nyata
serpihan tugas baru tertunai,
intinya di dalam angan di awal juang,
sabar ku pulangkan pada-Mu,
Ya Al-Sahbur
Ya Allah Ya Allah
sumber terang segala terang, pohon ampun maaf
sumber energi sumber sukses sumber bahagia
dari hati yang tenang
awal aman di lubuk batin,
ya Yang Mahatahu
Jauhkan hempasan bosan, Ya Yang Mahapenyayang
fatwa Rasulullah memelihara-Mu
nebula rindu inti jiwa
hanya pada-Mu
hanya untuk-Mu
ampun mohon berlabuh
cengkerama damai abadi bersama-Mu
Ya Allah
Yang Mahapengasih.













24 Responses to “Puisi Cinta: Surat Buat Yang Maha Kasih (1)”
By Yari NK on Dec 17, 2007 | Reply
Wah…. puisi ini sangat mengisi kekosongan jiwa dan hati yang tengah dibuai dengan kehidupan duniawi. Sungguh merupakan angin penyegar bagi jiwa yang tengah panas memburu kenikmatan duniawi yang seringkali menyebabkan seseorang terjerembab dalam kenistaan yang tak disadarinya dan seringkali juga lupa akan keberadaan sang Khaliq yang telah memberikan kenikmatan dan kesuksesan bagi seseorang tersebut….. sungguh menyejukkan…..
***Amin. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmad dan hiyahnya kepada kita semua. Amin.
By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply
Dzikir menulis tak jua berbentuk artikel, tapi sebuah puisi… melangkah jauh hingga ke ufuk pradaban silam dan yang akan datang…
ah semakin jauh langkah murid dan guru…
***Nah tasalah am. Posisi guru dan murid itu tidak benar, kita sama-sama belajar, saling memberi, mengispirasi. Jadi, pada kedudukan yang setara.
By unai on Dec 17, 2007 | Reply
puisi yang indah adalah bagaimana penilaian pembaca dan bagaimana pencitraan yang dibangun oleh penulis itu sendri. Saya merasa begitu kecil membaca puisi ini Pak, indah, menyejukkan sekaligus mengkerdilkan…
***Ahaaaa … saya merasa jadi malu, saya penikmat puisi Sampeyan lho. Jangan dibalik ah … bikin malu saja nih.
By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply
Cinta menulis melahirkan dzikir menulis dan puisi…
Saya pikir dzikir menulis itu hanya di artikel2 ternyata bang Ersis bisa juga bernafsu untuk menulis puisi… saya jadi ketularan nafsu menulis …
***Siiiip mari kita epedemikan …
By Iwan Awaludin on Dec 17, 2007 | Reply
Aku ngga ngerti….Mungkin maqom nya beda kali ya. Aku di bumi, situ di langit.
***Ha ha … bebas-bebas saja.
By Mega on Dec 17, 2007 | Reply
Aku merindukan nyanyi2an merdu-Mu ya Allah…..
di Jepun Ga pernah dengerin A’zan..ga pernah dengerin suara orang ngaji dimesjid..
di Youtube sekali dengerin orang ngaji dan azan..airmata berlinang dan hati deg2an..
ga enaknya hidup diJepang itu aja..Hati jadi rapuh..
***Amin. Semakin jauh dari lingkungan asal semakin rindu, nah disitulah rindu menjadi pahala. Amin.
By unai on Dec 18, 2007 | Reply
saya baca berulang ulang pak…duh duh nebula rindu inti jiwa…indahnya
***Amin. SUngguh pandai membesarkan hati. Aku baru pada tingkat belajar euy.
By Ansori on Dec 18, 2007 | Reply
wah… ternyata Bang Ersis dah punya banyak terbitan buku… ;)) perlu berguru nih…
membahas cinta emang tak ada putusnya, lebih lebih cinta pada Ilahy Robby… yang menjadi motor penggerak lahirnya untaian kata-kata indah penyejuk qalbu…
***Ya ya … kini tinggal berjuang ‘dalam diri’ mengalikasikan Cinta Sejati tersebut. Salam.
By panda on Dec 18, 2007 | Reply
dalam kalah dalam menang
qalbu terguncang damai
mungkin agar ekstase kesadaran itu tercapai, maka kegamuman pada Tuhan disajakkan.
ah, benar ga ya?. sori, cuma komen kosong..
***Ha ha … ngak tahu jua. Tanyanya terlalu masuk sih. Salam. Kiat selalu belajar, sepanjang haya. Dan, berusaha mengaplikasikan apa yang dipelajari, apalagi dala kaitan dengan Sang Pencipta.
By daeng limpo on Dec 19, 2007 | Reply
Ya Allah, semua mantra dan doa telah kuucap, mohon jawabMU.
***Allah SWT telah dan selalu menjawabnya pada hati nurani kita. Mari kita pindai. Allahu Akbar.
By kendi™ on Dec 19, 2007 | Reply
Alhamdulillah, ternyata rangkaian tulisan-Mu menjadi bertambah indah oleh seorang blogger ini ya Rab
***Alhamdulillah, Amin. Yu kita nlis yu.
By Siti Jenang on Dec 19, 2007 | Reply
wah ini dia pondok silat pena masa kini
saya diajarin juga dong om. saya tipe cowok cupu masa kini nih…
***Haik … Sama-sama belajar, tidak ada guru menulis, mari lakukan. Sharing boleh. Gimana?
By titiw on Dec 19, 2007 | Reply
Hemm.. Nice deh mas. Jadi inget buku <a href=”http://www.titiw.com/2007/12/12/ayat-ayat-cinta/” rel=”nofollow”>Ayat2 cinta</a>..
***Iyakah? Tapi, beda. Dan, beda juga paparan dan jenisnya. Saya juga dah baca, bagus tuh buku. Kapan-kapan kita nulis novel bagus.
By perempuan on Dec 19, 2007 | Reply
Pusisi cintanya lumayan panjang euy…
Boleh dunk belajar mempuisikanNya sama bang ersis
***Ya boleh dunk, dengan senang hati. Kalau bagus ntar dibukukan … kaya Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru. Berani?
By andi bagus on Dec 20, 2007 | Reply
puisi nya keren…
***Yuk ikutin bikin puisi yu
By hanna on Dec 20, 2007 | Reply
Salut, puisi bapak selalu panjang dan mencerahkan.
Met Idul Adha, ya, pak.
***Amin. Met Idul Adha to.
By sawali tuhusetya on Dec 20, 2007 | Reply
Sewbuah puisi religi dengan sebutan Asamul Husna yang sangat fasih. Puisi ini saya yakin akan banyak memberikan inspirasi bagi para pemburu kebenaran untuk selalu dekat dengan-Nya.
*Makin salut nih, piawai juga Pak Ersis bikin puisi religi*
***Amin. Kan Bapak lebih bagus. Ok kita memang saling salut he he
By Kakanda on Dec 23, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum
Alhamdulillah, bisa silaturahim dengan bang Ersis.
Mudah-mudahan kita dapat lebih dekat lagi denganNYA.
Saya perlu banyak berguru nih,…
tentang kerinduan pada Sang Kekasih,…
tentang aplikasi wordpressnya (sudah ngga gratis lagi ya…,)
Wassalam
***Ya sama-sama belajarlah kita. Kita sama-sama berusaha, dan saling berbagi caranya. Akur?
By Kurt on Jan 3, 2008 | Reply
bang puisi2 sperti ini sudah berapa dan punyakah ontologinya??? saya haus … pengen minum air kelembutan ….
***Ya nanti saya kirim. Minggu di pak anaka-anak di kantor. Air … kali
By Rosdiana on Mar 23, 2008 | Reply
Saya sangat suka dengan puisi - puisi ini karena sangat menyentuh hati para pembaca yang sudah membacanya
By Eko on Dec 7, 2008 | Reply
Kirimin puisi2 ny donk.q jg haus ni.
By Nur H F on Mar 20, 2009 | Reply
aku bersyukur alhamdulillah banget di bimbing utk buka blog ini krn disini aku bisa ikut menikmati untaian kata dr seorang hamba Ilahi yg mampu memberi penyejuk pembuka hati yg sepi sunyi jauh dr AsmaNya . . . . Kapan2 aku mau berbagi tp gimana caranya sih . . . Bantu aku dong akhi. . .
By +++++ on Aug 31, 2009 | Reply
Qu menulis dengan jemari qu aku berpikir dengan hati dn nurani qu jika malam tiba akn qu lukiskan senyuman mu di hati qu di saat
Diri qu menangis bukan karna kesedih
Han di hati qu tapi qu menangis karna diri mu telah membeku kan hati qu malam berganti malm qu mengiasi wajah mu 100 cinta tidak bisa
Di uji dengan kebohongan satu cinta qu dapat di uji dengan kesetian qu pada mu tidak ada malam tampa diri mu
Teralu banyak untuk di cintai tapi hati qu berkata cinta qu hanya untuk mu seorang abadikan cinta kita