Zikir Menulis: Segenggam Berkah
15 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
DEKLARASI: Saya justru belajar dzikir menulis dari Bang Ersis.
ZIKIR. Ya ya, kosakata zikir saya pahami sebagai ‘menyenandungkan’ doa puji-pujian kepada Allah SWT. Pemahaman tersebut, pada kenyataannya, tidak dilakoni dalam praktik kehidupan. Bukan karena tidak meyakini eksistensi Alah SWT, atau berhendak bersombong-sombong di kehidupan pinjamanNya. Tidak. Sekali-kali, tidak.
Tidak lain tidak bukan karena kedunguan. Dungu. Ya, dungu. Biarlah Bersihar Lubis atau pendahulunya ‘didenda’ karena melempar kata itu, dungu. Ya, dungu. Jerat hati memagut sadar, berbenah, membuat lompatan makna, berterima kasih, bersyukur, berserah diri, tidak cukup dengan: Alhamdulillah. Ada nikmat berlarut nyaman, memuji Engkau, wahai Sang Maha Sempurna. Berzikir.
Saya tidak ingat persis, tetapi dalam kehidupan sosial agamis komunitas sosial, apabila Salawat Badar didendangkan, bulu kudu berdiri dalam keharuan relung hati. Gambaran The Message, Mohammad Akkad, berbayang kokoh perjalanan Nabi Muhammad SAW, bersambut lemparan batu masyarakat jahiliyah, Thaif. Air mata kesenduan menyapa pipi.
Lebih-lebih, ketika berlibat di ‘pesantren’ ESQ Training, Balai Sidang Jakarta, 23-25 Desember 2005. ‘Cuci-piring-hati’, Salawad Badar disempurnakan Zikir, memantik relung jiwa pada Laillahaillah, menguncang rasio menenangkan batin. Allahu Akbar.
Jala kesadaran menangkap God-Spot; sesuatu yang berawal dariNya. Hati melempangkan damai, pikir membuka cakrawala. Relativitas Eisnten berbuah makna. Lengkaplah ketika seruak Ary Ginanjar Agustian, memanah zero mind proses (ZMP). Laillahaillah memunculkan berkah tak terhingga.
Pada metode ZMP, ‘hal’ di pikiran terkosong, rasa di batin dipulangkan, jemari lincah menenun huruf menjadi kata, kata jadi kalimat, menganyam alinea memanah makna. Menulis tidak memerlukan apa-apa, mengalir begitu saja. Pikiran berbunga merajut warkah tanpa diduga, menulis menjadi mudah.
Seorang sahabat berkata: jari-jari telah bermata, melukis firman-firman raksasa. Megirim berita, kabar suka, peringatan tanpa kutukan, nyaman di dada. Menjadi mudah. Ya Allah, ya Rabb, berkah Kau limpahkan di dada. Tawaf hambaMu memanggil, nyanyian kasmaran, wahai Kekasih Sejati.
Puji-pujian, adalah mula sadar pada zikir sesungguhnya. Kau kirimkan sebait kata melaui pena maya, dari ikwan yang matanya tidak bertatap, suranya yang tidak terdengar, melingkupi arasy bumi kitorang nan jalang. Menuai lazuardi indahkan sumur cintaMu yang tak berdasar, dalam sedalamnya sampai tidak ada yang terdalam.
Malam ini, Ya Muhaimin. Air sajadah membasuh luka lama, mengirim obat ke jantung harap, di geladak genggam kapalMu yang tak berlabuh, berlayar di laut tak bertepi, tak bertambat, sinar merah delima tanpa ultra-violet, menyaman di rongga dada. Ber-ZMP, berzikirria, panggil-panggil namaMu. Adakah sapa yang lebih indah dari senyumMu?
Turunkan karomah bertimbun-timbun tanpa beban agar hati menyeruak relung-relung makna kuala emas kalam. Beta sampaikan pesan berkahMu dalam nakalnya hentakkan pelangi kata-kata, menghampar, memangut elus muka-muka insan dalam syair syiar syariah dan syariat. Zikir menulis melintas anak panah mengirim ujar-ujar anak negeri terhimpit termimpi.
Mimpi bukanlah khayalan yang tak tertangguk. Mimpi adalah formula harap geliah Sang Pencari arti. Menyabit padi yang tumbuh di hamparan padang rahmanMu. RahimMu yang tak bermuara. Dengan namaMu segala bermula. Ya, Ar-Rasyid.
Ya, ya. Saya tak hendak bersyair. Saya hanya ingin berkabar: zikir menulis dalam sekejab menusuk jantung sadar, adalah puncak metode ZMP berbasis karunia milik Sang Maha Kuasa. Buku ini, saya tasmiahi dengan Zikir Menulis.
Zikir Menulis, kumpulan tulisan yang dipungut dari www.webersis.com ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para bloger dengan berbagai persoalannya. Ajaibnya, hampir tidak pernah membaca, melihat refernsi, dan atau berpikir panjang. Begitu ada tanya, kalau lagi OL, langsung dijawab. Automaticly. Bahkan, Si Penanya terkadang tercengang ketika tiba-tiba, ada yang dalam hitungan belasan menit, ‘persoalannya’ telah terjawab. Itulah kuasa Allah SWT.
Semoga Allah SWT memaaf, manakala ada betikan riya, pikiran picik, jangan-jangan pikiran telah ‘diarahkan’ untuk semua itu. Biasa, manusia kadang-kadang geer, gede rumongso. Sekalipun demikian, bagaimana saya harus memahami dan menjelaskan fenomena yang tak mampu dicerna ini.
Hal-hal setara, semakin hari semakin menjadi. Naga-naganya, di luar kemampuan yang sangat terbatas. Bayangkan, seperti tertulis di bagian lain buku ini, bagaimana bisa menulis kaitan menulis dalam tatapan fisika, biologi molekuler, kimia, matematika, yang —entah memuji atau meledek— kata seorang teman, empuk dibaca nyaman dipahami.
Kesamua itu menghantar sikap, ah … tiak usah dipikirkan, sebab telah menjadi. Bagaimana menjadinya, bukan menjadi hal lagi. Begitulah, saya juga tiba-tiba harus mengakhiri jawaban berbagai pertanyaan ketika sudah mencapai 26 artikel. Artinya, himpunannya cukup menjadi sebuah buku.
Kabar yang ingin saya sampaikan, dalam kaitan membiasakan dan memasihkan menulis, tulis, tulis, dan tulis. Tanpa terpikirkan, e … menjadi buku. Pesan ini disambungsampaian kepada teman-teman bloger yang cangih-canggih menulis. Terkagum-kagum ketika membaca banyak publikasi yang begitu bagus. Takjub. Saya banyak belajar dari blog kawan-kawan.
Kalau boleh mengusul, bacalah lagi postingan Sampeyan. Edit seperlunya. Lalu, pilah-pilih, dan … jadikan kumpulan tulisan, buku. Buku yang bersal dari ‘kegilaan’ ngeblog. Insya Allah, manfaat lebih banyak menyertainya. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Desember 2007.










8 Responses to “Zikir Menulis: Segenggam Berkah”
By unai on Dec 15, 2007 | Reply
hmmm emang ada yang mau beli pak? hehe…saya pingin ngumpulin puisi saya ituh pak…
***Ya bikin dulu antologinya, baru bisa dibuktiin. Wong karya sampeyan lebih bagus dari karya saya kog, percaya diri dong. Salam menulis.
By perempuan on Dec 16, 2007 | Reply
Ya semua tidak lain karena karuniaNya,
Wah saya ni blogger pemula bang. Kapa ya bisa nulis seperti abang, blogger senior atau penulis buku itu ya?
***Sekarang kan sudah bisa, apa lagi? Ngak ada tu pemula atau senior, itu pengkategorian orang-orang dung … saja. Waktu tidak menentukan, yang menentukan apa yang diblogin. Salam.
By daeng limpo on Dec 16, 2007 | Reply
Menulis membuka hati dan pikiran menerima ilham
***Persis kawan. Salam Menulis.
By Mega on Dec 16, 2007 | Reply
Duh…dengar kata2 zdikir…dah lama ga zikir nih..
***Mulailah berzikir …
By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply
Deklarasiku sepotong itu bisa jadi tulisan sepanjang ini?
luar biasa yaa, saya jadi teringat sebuah definisi otak itu bukan tempat lacai-laci penyampai informasi, tetapi otak katanya, adalah sebentuk guratan-guratan otot yang mirip tangan, kaki jika dilatih, maka guratan-guratan otot itu makin banyak menonjol … jadi tidak heran jika Ade Rai mempu menonojolkan otonya, maka “Ade Rai” dalam otak adalah tulisan-tulisan di sini.. yang sudah terlatih dan terkendali…
*srupuuuut!*
ngopi, sammbil menikmati dzikir menulisnya bang Ersis..
Dibikin buku ya Bang, ide bagus.. tapi saya masih senang goblog dulu… sebab baru keranjingan menulis… keranjang sampah.
***Ya ya … itulah hebatnya Sampeyan … saya terpantik dan menulisnya. Coba kalau sampeyan ngak biki deklarasi, tulisan itu ngak akan menadi. Jadi, terima kasih.
By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply
“Saya justru belajar dzikir menulis dari Bang Ersis.”
Waah ini deklarasiku. ternyata dari sependek kata itu bisa melahirkan tulisan sepanjang beberapa centimeter…
salut letupan pikirannya ibarat pemantik dan ibarat korek api, mampu membakar semangat.. !
***Coba ingat kosakata ‘dunia’. Kita menyimpannya dalam satu kata yang isinya, kalau ditulis tak habis-habis. Apabila kosakata ‘dunia’ itu dipanting, kita bisa bentangkan dalam jutaan halaman. Kata adalah pelipat pengetahuan. Gampang kan penjelasannya?
By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply
Kok saya sudah koment dua kali gak masuk yaa…
***Maksunya? Masuk aja kog. Tu saya komen balik.
By fira on Dec 21, 2007 | Reply
Ass, pak setuju gak kalau menulis itu juga adalah terapi hati? karena saya merasakannya. Sip…Wassalam.
***ya ya, istilah saya menyehatkan jiwa, katarsis.