Menulis, Dipuji dan atau Dikritik.

15 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA:  Yah, kalau saya sih dipuji senang, dikritik juga senang. Berarti tulisan saya diapresiasi. Kalau didiamkan atau dicuekin, itu namanya tidak diperhatikan orang, tidak diapresiasi. Bukankah begitu?
PUJI en KRITIK: Dipuji, dari akar kata puji yang berarti (pernyataan) rasa pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan (keunggulan) sesuatu. Memuji, memberi pengakuan atau penghargaan. Dipuji, diberi pengakuan dan penghargaan. Hal yang didambakan banyak orang. Ringkasnya, menghargai, memuliakan, mengagumi, dan sejenisnya.
 
Dikritik, dari akar kata kritik yang berarti, kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Dikritik artinya karya kita dikecam, ditanggapi, ‘ditimbang’, atau ‘dihajar’. Kalau menurut bahasa Pluto —yang baru dipecat statusnya sebagai planet matahari— diblejeti (bercanda, euy). Pokoknya, dalam arti telisik kekurangan.
 
Tetapi, kalau dipahami secara radiks, justru dari kritikan banyak hal menjadi sempurna. Betapa tidak. Kritik ‘memperlihatkan’ kekurangan, kelemahan, atau kesalahan untuk diperbaiki. Dengan kata lain, dari kritik itulah kita belajar lebih baik.
 
Aku suka dipuji, tapi emoh dikritik. Ahaaa … memang Sampeyan sempurna? No body perfeck. Lagi pula, pujian dan kritik, esensinya terfokus pada bermutu tidaknya karya dalam pandangan perespon. Makanya, tidak sembarangan orang sebenarnya pantas memberi pujian atau kritikan.
 
Coba, kalau kita tidak paham sesuatu memberi pujian atau kritikan. Bagaimana bisa. Misal, orang yang tidak pernah menulis, mengkritik atau memuji tulisan orang menulis, apa pada tempatnya? Bisa sih bisa, tetapi minimal kurang pada tempatnyalah. Apalagi, kalau belajar menulis kepada orang yang terbukti tidak menulis. Lucu.
 
Suatu kali saya ‘mencandai’ seorang pejabat: “Pak, Sampeyan jangan menyebarluaskan kebohongan. Mana ada Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Melotot dia menyanggah: “Dari buku sejarah. Saya kan belajar dari SD. Jangan menganggap saya bodoh, ya”.
 
“Coba”, kata saya mengaduk-aduk pikirannya, “VOC menyerahkan “kekuasaan” pada pemerintah Belada, 31 Desember 1799.  VOC yang didirikan 1602 untuk menyanigi EIC (Inggris), akhirnya bangkrut. Tersebab, para pegawainya korup.
 
Agar ‘teror’ lengkap: “VOC itu persekutuan dangang. Ya, semacam konglomerat atau asosiasi dagang era sekarang. Kalau mau jujur, ada fase kita tidak dijajah bangsa Belanda dalam artian pemerintahannya, tetapi oleh konglomerat Belanda. Wajar kan, kalau bangsa ini begitu hebatnya perhatiannya terhadap konglomerat. Ingat kasus BLBI?”.
 
Sampeyan tentu bisa menduga kira-kira ‘hasil’ perbincangan tersebut. Pada perkuliaahan, terkadang ‘lebih maju’. Boleh saja Muhammad Yamin menulis: Sang Saka Merah Putih berumur 6.000 tahun. Tapi, fakta sejarah membuktikan lain. Emang ketika Sriwijaya atau Majapahit jaya, sebagai bangsa Indonesia? Kerajaan-kerajaan di Nusantara telah punya kesadaran ke-Indonesia-an? Kalau soal garis sambung sejarah dalam artian spasial, OK-OK saja.
 
Istilah Indonesia saja ‘tercipta’ baru pada parohan abad XIX. Terserah, mau mengatakan dari Renan atau Robinson, atau siapa saja. Yang pasti, Indonesia itu mantan jajahan Belanda. Lagi pula, nation state kan fenomena baru. Artinya, pemahaman politik boleh jadi tidak sesuai dengan realitas kesejarahan.
 
Itu contok kritik atau sikap kritis. Sekalipun demikian, bukan persoalan pemahaman kesejarahan yang ingin saya bahas. Itulah contoh kritik lebih akademis. Bisa pula kritik asal kritik. Bahkan, maki-makian pun tidak jarang. Namanya saja manusia, macam-macam mau dan kehendaknya. Yang penting, kalau mengritik lakukan proporsional.
 
Memuji juga begitu. Pujian itu bagus dan digandrungin kog. Apalagi kalau kritik dalam niatan motivasi. Tapi, kalau tidak pantas dipuji, dilakukan pujian, itu sama dengan menjerumuskan. Akibatnya bisa lebih buruk dari kritik. Pujian, kalau tidak bisa memaknainya atau memenejnya, bisa tergelincir bak menyiapkan lobang menganga untuk berkubur. Bisa jadi, pujian dan kritik, sama baiknya asal dipahami secara proporsional, dan bagi pelaku, dilakukan proporsional, dan … profesional.
 
Lebih mendasar, pada hakikatnya, pujian dan kritik adalah respon. Dapat dikatakan, dipuji atau dikritik, penanda tulisan direspon, diperhatikan.
 
Dengan kata lain, pertama-tama terkarena kita sudah menulis, sudah berkarya. Kalau tulisan belum menjadi, tidak ada tulisan, dipuji atau dikritik, dipastikan pelakuknya gila. Hal-hal tersebut dalam versi berbeda telah ditulis pada buku Menulis Sangat Mudah (2007) dan Menulis Mari Menulis (2007).
 
Kalu dipuji atau diritik, pertanda diperhatikan, minimal dibaca. Yang payah, kalau dicuekin. Nah, ini baru persoalan. Pandai-pandailah menulis agar jangan dicuekin.
 
Kembali ke soal puji en kritik, berarti kita dapat kaca. Kalau dipuji, pertahankan dan kembangkan, agar lebih bagus. Kalau dikrtik ambil makna tersurat dan tersirat demi perbaikan tulisan, dan atau, untuk tulisan berikutnya. Buat enteng sajalah. Bayangkan kalau misu-misu atau mandeg menulis, yang rugi siapa?
 
Jangan-jangan yang megkritik, begitu melempar bola api, dia sudah lupa. Sementara kita yang menjadi sasaran memikirkan dan jadi stres. Kalau demikian, multi kerugian menjadi buahnya.
 
Sadari pula, pujian dan kritikan, di luar aktivtas menulis. Yang utama menulisnya. Nah, hal menulis itu yang penting dibiakkan. Lainnya, risiko. Yah, bak kata pepatah, kalau takut dilamun omba jangan berumah di pinggir pantai. Kalau takut dikritik, jangan jadi penulis. Setidaknya, siap-siaplah menerima kritik.
 
Kesiapan mental, tidak kalah pentingnya. Karena itu, bersiapsiagalah menerima segala kemungkinan. Kalau, mau jadi penulis, kalau takut menghadapi risiko, lebih tidur saja. Celakanya, tidur pun berisiko. Kalau begitu, ya menulis saja. Kalau menulis, hasilnya jelas, berupa tulisan.
 
Akhirnya, semua terpulang pada diri masing-masing. Jangan menyiapkan mental untuk dipuji saja, siapkan lebih kokoh untuk dikritik.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 Desember 2007.

  1. 9 Responses to “Menulis, Dipuji dan atau Dikritik.”

  2. By Ani on Dec 15, 2007 | Reply

    Betul kok mas, seharusnya kita siap untuk dipuji sekaligus dikritik, keduanya adalah bentuk apresiasi terhadap tulisan kita. Paling tidak, ada yang baca tulisan kita to? bukan dilihat tok sekilas.
    Kalau tulisan kita dicuekin, wow itu sedih sekali rasanya.
    Pujian dan kritikan akan sama-sama memacu kita dari sisi yang berlainan. Udah ah…saya jadi sok gaya aja ngomongnya, lha mas Ewa lebih tahu soal ini.

    ***Ya ya semua kita tahulah soal itu … bukan sok gaya he he … Sampeyan ini aneh-aneh aja deh. Ya, terus saja menulis. Komen adalah menulis secara eringkas, tapi proses panjang, dari membaca, mencerna, dan berpendapat. Itu latihan membiasakan.

  3. By extremusmilitis on Dec 15, 2007 | Reply

    Pujian dan Kritikan harus sejalan, karena dengan begitu kita tidak hanya tahu sisi baik kita saja, tapi juga tahu sisi ter-buruk sekali-pun dalam kehidupan kita, bukan begitu Mas? :roll:
    Dan menulis menurut-ku adalah ungkapan hati yang ter-tulis, yang belum tentu di-amini oleh semua orang ;)

    ***Ya ya … sependapat. Ya, … belum tentu diamini semua oan. So, itu tanda kita paham bahwa manusia itu ragam-ragam. Salam.

  4. By erander on Dec 15, 2007 | Reply

    <blockquote>Kalu dipuji atau diritik, pertanda diperhatikan, minimal dibaca. Yang payah, kalau dicuekin. Nah, ini baru persoalan. Pandai-pandailah menulis agar jangan dicuekin.</blockquote>

    Setuju .. jadi, lebih baik dikritik dari pada di cue’in. Iya ga pak. Dikritik itu membuat kita lebih baik lagi. Dipuji itu membuat kita lebih percaya diri.

    ***Ya ya … kita harus pandai dan mantap memahami dan mempraktikkan hal tersebut, keduanya bak dua sisi pada satu mata uang. Kasiah dech kite kalau dicuekin sementara mauanya diperhatikan, he he

  5. By undercover on Dec 16, 2007 | Reply

    Ya.. ya… kepribadian seseorang itu memang terbentuk atas pujian dan kritikan. Seharusnya balance antara pujian dan kritikan agar kepribadian matang. Melulu yang kita terima adalah pujian membuat seseorang lengah dan lemah. Melulu kritikan yang kita terima membuat seseorang temperamental dan emosional. Tapi masih lebih baik seseorang yang terus berkarya meski apapun penghargaan yang diterima ketimbang sesorang yang merasa aman karena jauh dari kritik dan pujian padahal dia gak melakukan sesuatu apa. Begitukah pak Guru?

    ***Begitulah intinya, begitulah … kita harus tahu diri. Salam en makasih silaturrahim dan komennya.

  6. By Mega on Dec 16, 2007 | Reply

    Aku lebih suka koment yang berbentuk kritikan,,biar bisa dikoreksi..kalau koment yang berbentuk pujian malah malu pada diri sendiri..

  7. By Kurt on Dec 17, 2007 | Reply

    dipuji dan dikritik dua hal yang menjadi penyeimbang kehidupan seseorang. Tapi bagi yang sudah seimbang hidupnya, konon tidak perlu pujian dan cercaan. Dia akan bisa tinggal tenang dan lurus seperti timbangan yang tidak berat sebelah..

    namun rupanya mencari ini susah sekali.. :)

    ***Ya ya … ‘pneyimbang’ dan menjadikan ‘matang’. Setujuuuu.

  8. By atalanta on Dec 18, 2007 | Reply

    Dengan dikritik sebuah tulisan, maka kebenaran akan nampak dengan sendirinya, dengan mudah…bukan begitu, Pak EWA?

    ***Ya ya … selalu lihat sisi positif.

  9. By unai on Dec 19, 2007 | Reply

    pujian dan kritikan, keduanya penting. Kritik yang melulu pedas dan menyakitkan akan membuat orang menjadi kecilhati, sebaliknya dengan pujian akan membuat berbangga hati, salah salah bisa menjadi sombong. Keduanya harus sejalan, tidak berlebihan

    ***SEjalan seimbang, tapi … semua terserah pelaku. Sebagai penulis, siap untuk segal cuaca, he he

  10. By fira on Dec 21, 2007 | Reply

    Ass, tanpa kritik kita tak akan maju kok so memang lebih baik tulisan itu di kritik jadi tau dimana letak salahnya ya pak. Wassalam.

    ***Itu intinya. Yang ngak bener, kritik ‘mengalahkan’ kita, bunuh diri menulis.

Post a Comment