Menulis, Ih … Malu Dibaca (Orang).

12 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA:  Aku, sebenarnya seneng menulis, tentang apa saja yang dilihat, dan dirasakan tiap hari. Tapi, terkadang malu bila tulisanku dibaca orang. Bagaimana tuh Pak, cara mengatasinya?

MALU: Malu aku malu … pada semut merah … he … he … Seperti syair lagu Obbie Messakh ya. Ya, bagus malu dari pada malu-maluin atau memalukan. Masih ingat ketika ditaksir atau menaksir seseorang lalu ada perjumpaan, ih … malu. Suhu badan menaik, muka memerah (dilihat orang) dan dada, dag … dig … dug … Kenapa? Karena perasaan tersalurkan. Malu.
 
Begitulah perasaan orang yang baru jatuh cinta pada menulis, malu tapi mau. Orang-orang normal kalau menulis ya begitu. Lama-lama, bukan malu lagi, tapi senang. Adakalanya bangga, apalagi kalau direspon. Kesananya, kalau dilakoni terus, bisa menjadi sumber finansial. Libido menulis bisa mengalahkan banyak hal. Menulis menjadi candu. Bisa pula, ‘kesetanan’, bukan ‘ke-Malaikat-an’. Saking gigihnya menulis.
 
Pertanyaannya, kenapa harus malu? Kalau nyolong atau berselingkuh, apalagi korupsi, baru pantas malu. Seharusnya bangga. Lebih mendasar, malu dan bangga itu ‘permainan’ diri. Malu satu sisi, bangga sisi lain. Intinya, kedua hal tersebut merupakan respon ‘perasaan’ atas respon orang lain pada tulisan sendiri. Hal wajar-wajar saja sebenarnya.
 
Kalau malu itu berasal dari inti diri, sebelum melakukan menulis, sebelum tulisan menjadi, ya tidak mungkin seseorang menulis untuk diketahui umum. Kecuali, tujuan awalnya memang untuk dibaca sendiri. Atau, dirahasiakan dimana kalau sudah almarhum baru diketahui orang. Surat wasiat, atau penulis misterius biasanya mengambil pola demikian.
 
Tetapi, kalau berkehendak menulis, tapi malu dibaca orang lain, itu agak kontroversial. Kalau berasal dari dalam diri, wah perlu pisau analisis psikologi. Masalahnya serius, he … he …
 
Tetapi saya yakin, yang dimaksudkan kawan yang satu ini, malu tapi mau. Malu karena belum yakin akan kemampuan menulisnya, takut dilecehkan atau diulu-ulu (diejek). Kalau yang ini penyakit banyak orang, terutama penulis pemula. Obatnya tidak susah-susah amat. Gampang saja.
 
Ibarat orang hendak nikah, sebelum nikah banyak pertimbangan ini-itu. Bahkan, dipandang saja bisa merah padam mukanya. Apalagi, di pegang, ih … merinding bulu kudukku … Gimana gitu. Namun, bila sudah merasakan nyamannya dicium, yang semula minta ampun malunya, diam-diam dalam hati minta tambah. Kapan lagi, kapan lagi, lagi, lagi … dicium oleh Si Dia. Ih, malu-maluin aja.
 
Lebih seru kalau sudah nikah, minta terus. Laki bertawaria dengan wanita lain saja cemburu, maunya ‘kita’ saja yang ‘dikerjain’, he … he … Keluar sifat egoisnya. Sudah tahu nikmatnya. Sampai-sampai menyesal: Kenapa ngak dari dulu nikah ya. Ini dialami hampir semua orang. Kog ngak dari dulu-dulu.
 
Intinya, belum yakin diri. Padahal, peduli amat dengan respon orang. Tarohlah pada awalnya tulisan kita jelek. Apa salahnya dengan jelek. Sebagai orang yang berakal, kan tidak mau selalu jelek, kan? Nah, kalau sudah tahu jelek, ya perbaiki. Tingkatkan kemampuan. Jadi, menulis dulu, baru perbaiki.
 
Jangan sok jagolah. Baru mulai menulis, tulisan sudah mau disandingkan denga karya Ersis, e … maksudnya, karya Al-Qarni atau Al-Jauziyah. Manalah mungkin, bo. Ya, kalau tataran pendidikan SD, janganlah membandingkan dengan patokan Doktoral. Jauh amat. Namun, untuk sampai ke jenjang S3, ya dimulai dari SD, Kecuali mau beli ijazah palsu.
 
Artinya, tidak usah malu pada tingkatan atau kadar tulisan. Yang penting, menulisnya. Dalam menulis itulah kita belajar, memperbaiki, menimba ilmu, meraih kemampuan, membelajarkan diri, membaca, menajamkan pikiran, dan seterusnya. Menulis itu adalah guru sesunguhnya.
 
Lagi pula, kalau dibaca orang, dikritik, bahkan dihina, bukankah akan lebih tertantang memperbaiki karya? Jangan terlalu memandang remeh orang-orang yang mencela, jangan-jangan mereka dikirim khusus Allah SWT agar kita terpacu menulis. Saya menemui banyak orang-orang sirik, apa saja tulisan Ersis dianggapnya tidak beres. Cuek saja, … mereka akan ahli dengan sikap joroknya, saya semakin berlatih menulis. Siapa yang untung?
 
Jadi, tayangkan tulisan Sampeyan. Kasihan mereka yang suka mengritik, namun tidak menulis. Mereka berkeinginan, tetapi tidak mampu. Dan, mereka menjadi iblis agar kita mengikuti Rasulullah. Enteng saja.
 
Hal berikutnya, jangan sampai jadi korban perasaan sendiri. Coba perhatikan teman-teman di blog, lebih cenderung memuji. Ada yang saya catat, ini orang memuji terus, kapan ngritiknya. Mental harus dipersiapkan, jangan hanya untuk menerima pujian, tetapi juga kritikan. Kalau disiapkan hanya untuk dipuji, apalagi dipuja, tunggulah kekecewaan akan menghadang sebagai portal.
 
Dengan demikian, kita tidak takut dikritik. Kita siap untuk malu dalam arti positif, tetapi … tidak untuk malu-maluin atau memalukan. Memula menulis, pahamilah seperti kelahiran, tanpa pakaian. Dari ‘ketelanjangan’ kita diajarkan berpakaian, dan atau belajar berpakaian. Lalu, memilih, mencari uang pembeli pakaian, dan seterunya. Kehidupan ini, bermula dari ketiadaan.
 
Dus, hidup saja tidak boleh malu. Apalagi, menulis. Saya pikir, tidak apalah dikatakan orang, penulis itu narsis. Biar saja. Harap dicatat, dibalik keinginan menulis itu ada banyak hal positif  pemacunya. Bisa jadi menyalurkan pikiran, menghilangkan beban pikiran, menghindari stres, atau yang lebih mulia untuk sesama, berdakwah, menyebarluaskan pengetahuan, berbagi ilmu, pengalaman, kesenangan atau mengingatkan duka, berbagi kegembiraan, dan sebagainya. Dengan menulis kita menjadi bersama, keluarga besar manusia.
 
Alhamdulillah, kalau tulisan malu dibaca orang. Kalau dibaca warik (monkey) malu, baru masalah besar. Atau, warik saja malu membaca tulisan Sampeyan, itu masalah sangat sangat serius, he … he …
 
Mari menulis, menulis yang tidak memalukan dan mempermalukan. Salam menulis, menulis, dan menulis again.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 12 Desember 2007.

  1. 13 Responses to “Menulis, Ih … Malu Dibaca (Orang).”

  2. By hanna on Dec 12, 2007 | Reply

    Pujian hanyalah motivasi. Kritikan ialah dorongan untuk kita lebih maju lagi. Berterima kasihlah kepada mereka yang mengkritik kita, setidaknya mereka peduli dan berani menunjukkan kelemahan diri kita.

    Jangan membandingkan hasil karya kita dengan orang lain. Sejelek apapun tulisan kita, yang penting kita sudah melakukan yang terbaik.

    ***Setujuuuuuu.

  3. By mathematicse on Dec 13, 2007 | Reply

    Ya, saya pikir bagi penulis pemula (seperti saya ini), perasaan malu kalau tulisan kita dibaca orang itu wajar alis biasa dan normal.

    Yang saya alami ada beberapa penyebab kenapa kita malu bila tulisan kita dibaca. Bisa jadi karena kita tidak PD dengan yang kita tulis karena merasa kurang menguasai topik yang kkita tulis. Bisa jadi karena kita terlalu khawatir akan dikritik oleh orang lain. Bisa jadi pula karena kita khawatir ada kekeliruan dalam tulisan kita (kekeliruan berpikir, tata tulis, dsb). Dan bisa jadi-bisa jadi yang lainnya. Karena beberapa sebab itulah, makanya kita malu. Betul ga ya? :D

    ***Ya ya … yang penting dah tau penyakitnya, tinggal obati aja lagi.

  4. By Yari NK on Dec 13, 2007 | Reply

    Yah, kalau saya sih dipuji senang, dikritik juga senang. Berarti dengan kedua2 cara tulisan kita diapresiasi. Sementara kalau didiamkan atau dicuekin saja itu justru tanda tidak adanya apresiasi. Bukankah begitu? :D

    ***Ya, apresiasi, diperhatikan.

  5. By Endang on Dec 13, 2007 | Reply

    Hehe… terima kasih banyak Pak.. pertanyaan saya bisa jadi tulisan panjang kayak gini. Semua yang Bapak terangkan diatas adalah benar semua.

    Kenapa saya malu bila tulisan saya dibaca orang adalah karena takut dilecehkan orang, kurang menguasai topik dan kayaknya penyebab utama adalah masalah dari dalam diri saya sendiri. Saya orang yang sangat tertutup, sulit sekali mengungkapkan kepada orang lain apapun yang saya lihat dan rasakan, hal baik maupun buruk yang kadang bertentangan dengan batin saya. Semua saya simpan sendiri, rasakan sendiri dan mikir sendiri. Hehe.. aneh ya..

    Tapi setelah ini, insya alloh saya akan berusaha sedikit demi sedikit mengurangi sifat “tertutup” itu dalam diri saya. Saya akan berusaha cuek bebek dan berani menulis dan mengungkapkan apapun tanpa takut dan malu lagi bila tulisan saya dibaca orang.

    Trima kasih Pak Ersis

    ***Sama-sama. Moga-moga bermanfaat. Salam menulis.

  6. By Mega on Dec 13, 2007 | Reply

    Aku juga tidak pandai menulis..memang susah sekali bagiku ntuk menulis dengan bagus,,dan jauh sekali bagiku ntuk berhayal jadi penulis yang hebat..tidak akan pernah itu..walau sekalipun dalam hayalanku.

    Tapi aku selama ini tidak pernah merasa malu ntuk mau sharing menulis.apa aja yang kalau menurutku bisa menggerakan hatiku dan jari2ku aku tulis saja..aku banyak punya blog..rata2 apa yang ada di maya ini ikutin,MP, FS, Blogspot, serta macam2 dan termasuk WP ini aku ikutin..Bodoh amat aku pada orang2 yang akan mengejek blogku,mereka bebas berkata apa aja,,dan akupun M E R D E K A mau berbuat dan menulis apa aja.

    Karena aku berprinsip..kalau memikirkan kesalahan diri trs menerus,kapan mengerti sesuatu..?..Aku sering belajar sesuatu dari kesalahan..termasuk dalam ngeblog juga..dengan KAMUS tidak mau mikir tentang MALU & di EJEK..
    Lha..!..kok aku berciloteh disini yak….he he he..maaf Uda Ersis..Emosi awak..:-))

    ***Merdekaaaaaaaaaaaaaaa.

  7. By unai on Dec 13, 2007 | Reply

    haha warik bisa baca…iya betul itu pak…saya juga pelan pelan mulai pe de nih, tadinya malu juga tulisan saya dibaca warik eh orang :).

    ***Ha … ha …

  8. By MAW alias Kombor on Dec 13, 2007 | Reply

    Kenapa pula harus malu? Betul kata pak EWA, ada ada proses belajar. Di mana saja ada proses belajar. Kata orang bijak, practice makes perfect, artinya berlatih/praktek membuat semakin menguasai. Berlatih pingpong membuat kita semakin jago main pingpong. Berlatih menembak membuat kita makin jago menembak. Berlatih menulis membuat kita semakin jago menulis. Membaca, memperkawa wawasan. Berpikir, mengasah sudut pandang.

    *** … Di mana saja ada proses belajar. Kata orang bijak, practice makes perfect. … Kata penuh makna yang sangat kuat dan bermanfaat.

  9. By sawali tuhusetya on Dec 14, 2007 | Reply

    Ibarat pisau tumpul, kalau makin banyak disepuh dan diasah makin lama akan makin tajam. Kritik akan bagus untuk memotivasi semangat berkarya. Setuju banget dengan resep Pak Ersis. Jangan takut dan malu dikritik.

    ***Iyolah, resep bagus dari resep bagus. Kita perlu berjuang dan memperjuangakan yang bagus-bagus khan. Selamat Idul Adha.

  10. By Kurt on Dec 14, 2007 | Reply

    waah ini persis mewakliki perasaan saya saat menulis awal2. Tapi seiring dengan menulisi terus rasa kemaluanku dengan cara menulis, maka akhirnya jelek/bagusnya tulisanku tak jadi soal… biarlah kafilah berlalu dan suara anjing bergema.

    ***Kira-kira begitu. Kafilah berlalu, anjing tidak menggongog, karena tidak ada hubungan keterkaitan antara keduanya, he … he …

  11. By adipati kademangan on Dec 14, 2007 | Reply

    saya punya penyakit seperti ini pak ewa
    kalo dipuji langsung membumbung tunggi, kalo dikritik langsung mungsret ….
    saat ini dah mulai belajar nerima kritikan kok, malah saya pengen dikritik oleh penulit ternama hahahhaha

    ***Bagus, itu tanda normal. Kalau sudah tahu simptomnya tinggal cari sosuli, gampang.

  12. By esa on Dec 14, 2007 | Reply

    wah..jd malu..bener ada perasaan kaya gituh. Tp sy sedang berjuang untuk memperbaiki tulisan sy di blog dulu..
    sekarang dapet tawaran untuk nulis..untuk dijadikan buku n dicetak..tp blm tau mo bahas apa temanya apa dsb. Sy g muluk-muluk, tp sy pengen kaya bapak dan yang lainnya..yg punya buku. harapan sih minimal ada satu buku best seller yg saya punya. Mohon doanya ya Pak..oya..makasih dah mau berkunjung ke blog sy dalam blogwalking bapak :P

    ***Syaratnya jangan malu tulisan dibaca orang he he. Ya, jangan pengen, tapi realisasikan … Allah SWT tidak ragu mengabulkan niat baik.

  13. By neen on Dec 21, 2007 | Reply

    hihi, kemarin saya sedikit malu, karena baru aja tau klo tulisan saya di blog dibaca sama Pak Ersis :D

    ***Lho lho kog malu? Saya senang dan bangga malahan. Kamu bagus kog menulisnya. Sure saya terkesan, tinggal difasihkan.

  14. By fira on Dec 21, 2007 | Reply

    Ass, masih mending malu asal jangan malas ya pak….apapun alasannya benar gitu kan pak.Wassalam.

    ***Antara malas, bodoh, beralasan, dan sirik, bedanya tipis aja tu. Ujungnya ngak berkarya.

Post a Comment