Was-Was Menulis (Bebas)

11 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA: Bang Ersis. Saya termasuk orang yang sangat penakut ketika menulis dalam arti terbelenggu pakem. Agak sulit atau suka merasa was-was menulis dengan ‘gaya bebas’. Serasa ada guru menulis sedang duduk di samping. Mungkin karena terlalu lama mondok di media, he he. Itu sebabnya membuat blog supaya punya kemerdekaan dalam menulis.

WAS-WAS: Kalau kita menulis, ada sikap ragu-ragu, khawatir, itu pertanda baik. Asal, jangan takut atau jadi penakut. Ragu-ragu atau meragukan sesuatu, alias skeptis, sangat normal. Pada perkuliahan awal Metode Penelitian, saya selalu ‘mendongeng’ kepada mahasiswa, sejak hari ini jangan percaya apa saja. Ragukan segala hal, mari kita berskeptisria.
 
Bersikap skeptis terhadap sesuatu mendorong kita menyelidikinya. Misal, ada yang mengatakan, sampai-sampai saya pun menuliskannya, Ersis motivator penulisan. Jangan percaya. Lihat tulisannya, karyanya; amati, selidiki. Kalau ya, baru percaya. Peraguan adalah hal penting. Meragukan sesuatu untuk diteliti, dan setelah diteliti apabila validitasnya meyakinkan, ya akui. Jangan karena iri, yang dicari justru hal-hal jeleknya, atau menjelek-jelekan. Sampeyan akan rugi sendiri.
 
Saya pernah ‘dicandai’ seorang teman. Katanya, www.webersis.com jelek, komunitas EWAM’Co yang saya prakarsai ngak ada apa-apa dibanding kehebatnnya menulis. Konyol memang. Betapa tidak. Padahal, dia bikin web saja tidak bisa, tulisannya masih tergolong ngak karu-karuan, mungkin termasuk pembimbing spritualnya. Baru menulis satu dua artikel merasa makhluk paling hebat di dunia.
 
Maksud saya, orang yang baru belajar menulis saja bisa mematahkan semangat, apabila kita tidak pandai mengelola balikan dampaknya. Apalagi, guru. Redaktur, terkadang lebih sadis. Nah, kesemua itu tidak menjadikan kita merdeka, dan … kita mau-maunya diperlakukan seperti itu. Bagi saya, itu ibarat anjing mengonggong. Kita berpijak kepada bukti. Emang tulisannya, blognya, bukunya, direspon orang? Apalagi kalau hanya pada tingkat angan-angan akan menulis. Dasar bahlul.
 
Artinya, tidak perlu belajar menulis pada siapa pun. Coba pikir. Sampeyan bertanya kepada saya, atau membaca buku, memperhatikan tulisan penulis hebat, setelah itu diinternalisasikan, dan mendapatkan pola dalam pikiran. Semua itu aktivitas pribadi kan? Lalu, apa memang ada guru menulis? Makanya, kalau ada orang yang masih nekat belajar menulis, saya ‘kerjain’ ditambah seabreg syarat.
 
Misal, harus menulis tiap hari. Target, lebih piawai menulis dari saya. Saya kan jadi malu, kalau murid lebih bodoh dari saya. Tidak akan pernah saya biarkan. Memilih murid, dari beberapa ‘pelamar’, sangat selektif. Hanya mereka yang ‘gila’ dan memang nekad. Lainnya, nehi.
 
Itu pun dengan membantu mengembangkan potensi, bukan menggurui. Bahkan, lebih enjoy sharing menulis saja. Mereka belajar, saya belajar. Bagi yang nekad, faktanya mereka mengalahkan saya, menulisnya bagus. Saya bangga dan gembira sekalipun mereka tidak tahu (membocorkan rahasia he … he …).
 
Dengan demikian, tidak menitipkan beban bahwa saya akan ‘mengawasi’ menulis. Menulis adalah aktivitas pribadi, kreativitas individual. Menulis jangan sampai takut, dan ditakut-takuti. Maaf, siapa yang masih terbelenggu hal sedemikian, belum memahami filosofi menulis. Dan, … itu hanya ada di pikiran.
 
Kita, adalah apa yang kita pikirkan. Kalau sedang menulis serasa ada yang mengawasi, itu ciptaan sendiri. Guru (cerdas) mana yang mau menghabiskan waktunya mengawasi muridnya. Pengawas sesungguhnya diri masing-masing. Kalau dianggap orang lain mengawasi, itu adalah pikiran sendiri. Terlalu percaya diri namanya, seolah orang lain selalu memperhatikan. Jangan-jangan orang malah ngak peduli, he … he … Aya-aya wae.
 
Kali ini saya ingin menekankan, berbagai belenggu, ketakutan, dan atau was-wasa, adalah ciptaan pikiran sendiri. Kalau hal sedemikian dipelihara, bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa … eh maaf salah tulis. Sesungguhnya kemerdekaan menulis adalah milik penulis yang tidak bisa diganggu-gugat siapa pun, termasuk oleh Presiden SBY.
 
Pada tulisan sebelumnya — dibukukan menjadi: Menulis Berbunga-Bunga— pada tiga artikel sudah saya tulis. Banyak penyakit serupa dengan model lain diidap banyak orang. Menciptakan belenggu menulis dipikiran.
 
Akan halnya penanya pada pokok tulisan ini, saya yakin dia bergurau. Saya paham ‘kehidupan’ wartawan; menjadi wartawan, redaktur, dan pemilik media cetak. Karena itu, selalu memantapkan, kemerdekaan menulis adalah milik paling pribadi. Jadi, jangan mau ditukar dengan apa pun.
 
Dari kalimatnya saja sudah jelas, yang dimaksudkannya adalah ‘kebiasaan’ menulis selagi jadi pewarta. Ya iyalah, setiap media punya ciri tersendiri, punya gaya khas. Lagi pula, dalam penulisan berita, juga feature ada aturan tersendiri. Nah, ketika memasuki area bebas menulis, menulis artikel (opini), cerpen, puisi atau apa saja, ‘kebiasaan’ menulis ala media (pakem) masih terbawa-bawa. Tidak mengapa. Dalam kehidupan hal biasa, lama-lama akan berubah sebagaimana yang diinginkan.
 
Artinya, kalau untuk penanya tidak ada masalah esensial. Saya belajar tertib menulis, ya ketika jadi wartawan. Kebiasaan itulah yang menjadi penuntun dalam menjaga kebiasaan menulis ditambah dengan penimbaan dari berbagai hal pendukung. Jangan sampai apa pun dan dari mana pun datangnya menjadikan belenggu dalam menulis.
 
Karena itu, artikel ini bukanlah ditujukan langsung pada penanya, tetapi lebih meumum. Jangan sampai kita seolah-olah dijaga oleh siapa pun atau hal apa pun dalam menulis. Jangan sampai, menulis yang berpangkal pada kebebasan berpikir menjadi kebebasan menulis, tergadai oleh ‘kebiasaan’ atau sempritan-sempritan yang tidak perlu. Menulis, dalam arti menuangkan apa yang ada dipikiran atau terpikirkan, jauh berbeda dengan membuat reportase. Menulis adalah pekerjaan bebas, merdeka.
 
Kalau sudah demikian, mari jabat tangan, menulis, menulis, dan menulis dengan merdeka. Menulis adalah kemerdekaan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 Desember 2007.

  1. 4 Responses to “Was-Was Menulis (Bebas)”

  2. By Mega on Dec 11, 2007 | Reply

    Lho..Emang ada juga yang suka sirik2an dalam web web ginian yak..?
    Heran dech..ga ada kerjaan itu orang,,apa ya..?

    Aku setuju sekalee….Menulis itu
    “M E R D E K A..”

    ***Merdeka … merdeka … justru itu kerjaannya … merdeka … merdeka

  3. By mathematicse on Dec 19, 2007 | Reply

    Saya suka kata-kata “ragukan segala hal…”

    Iya, jangan percaya sama omongan orang dulu, terkadang bisa menjerumuskan.

    Pernah ada seorang kawan berkata ke saya, “wah tulisan mu ga enak dibaca, jelek,” begitu katanya dengan PD-nya. Mendengar itu, saya senyum-senyum saja, biarin saja. (tapi bukan dibiarkan begitu saja).

    Saya introspeksi diri. Saya baca tulisan-tulisan saya (memang untuk beberapa hal, ada kekurangan).

    Terus saya bandingkan dengan tulisan teman saya yang berkata seperti tadi. Saya berkesimpulan, sepertinya dia iri dengan tulisan saya (yang walaupun katanya jelek, tapi banyak yang baca juga.. )… :D

    ***He he kalau jelek siapa mau baca. Tulis saja habis perkara. Nyatanya masuk 100 top bloger kan.

  4. By Siti Jenang on Dec 24, 2007 | Reply

    sepertinya masalah saya memang di seputar sini. seringkali terlalu berhati-hati dalam merangkai kalimat. akibatnya, macet di tengah jalan dan kehilangan gairah. jadi, sekarang saya tulis aja dulu, baca lagi, rombak lagi, baca lagi, rombak lagi, sampai puasssss…. 8)

    terimakasih.

    ***Siiiip … itu yang benar. Itu tu tu … saya sangat senang membaca kesimpulan cerdas tersebut. Dalam sebulan dijamin deh kaya Sampeyan akn lebih gencar keluarnya. Tapi, ketika berkunjung ke blog Sampeyan … kog ngak seperti dikomen ini. Saya rasanya yang perlu belajar.

  5. By Siti Jenang on Dec 24, 2007 | Reply

    ah bisa aja… :D
    kalau maksudnya soal tata bahasa, saya punya teman yang kalau ada waktu luang mau mengkritik ejaan. dia juga pernah meminjamkan buku soal menulis. mungkin karena mau persis seperti teori di buku itulah saya jadi sering kehilangan gairah.

    ***Ya ya … saya beli, dikasih teman, tentang EYD, dsb. Kalau sempat ya liat-liat dan gunakan, kalau ngak ya ora opo-opo. Kalau dikirim ke media cetak, kan ada redaktur yang memperaiki. Kalau ke penerbit, ada editor. Kalau mereka ngak edit, salah pada mereka he he he … Maksudnya jangan sampai kreativitas menulis terganggu. Saya punya beberapa teman ahli bahasa, dosen bahasa, nah tinggal minta tolong. Jadi, jadikan enteng saja …

Post a Comment