Ejakulasi Dini Menulis
11 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TANYA: Cukup merangsang perumpamaan bokong J-Lo. Tapi Pak…. bagaimana jika rangsangan itu tiba-tiba hilang?
EJAKULASI: Dalam sharing menulis di dunia maya, inilah pertanyaan paling pendek yang diajukan. Kalau dibaca selintas pintas, terkesan main-main. Padahal, maknanya dalam. Minimal, begitu tangkapan ‘suasana kebatinan’ saya. Betapa tidak. Ketika rangsangan menulis bergelora, kog tiba-tiba hilang. Ngak mungkin lah yaw. Emang ejakulasi dini, tak iye.
Dalam menulis, pada kondisi dimana secara mental kita ‘siap menulis’, lalu ada rangsangan yang menghentak, aktivitas menulis akan langsung ‘meledak’. Ibarat wanita hamil tua, begitu air ketuban pecah dan airnya mengalir menjadi penanda, kelahiran dalam hitungan waktu. Kalau normal, mengalir begitu saja. Atau, perlu bantuan dokter atau dukun kampung. Kalau tidak melahirkan dalam takaran waktu, bisa membahayakan Si Ibu atau janinnya.
Bagi yang sudah akig balig, apalagi sudah beristeri —yang belum dewasa lampaui saja membaca bagian ini— kalau melihat (maaf) bokong J-Lo, kalau terangsang, jalan ke luarnya harus dicari. Menahan nafsu penting dalam pemahaman agar terjelas mana yang halal mana yang haram. Tetapi, kalau ditahan terus-menerus, bisa berakibat tidak baik. Ya, seperti wanita hamil, kalau bayinya tidak keluar, sangat berbahaya dan membahayakan.
Pengihtibaran memanah pemahaman, menulis tidak bisa ditahan-tahan, dan tidak mungkin mandeg kalau mental sudah siap, bahan sudah cukup, dan … rangsangan mematangkan, … sekali lagi … tidak mungkin hilang tiba-tiba. Ibaratnya, apabila kedewasaan telah mejadi posisi seorang laki-laki dewasa, spermanya akan menjadi. Dikeluarkan, menjadi lagi, dikeluarkan menjadi lagi. Tidak habis-habisnya selama normal. Sumber air takkan menjadi padang tandus, selalu terbarui.
Kalau spermanya tidak jadi-jadi, bisa jadi, rangsangan menjadi sesaat yang tidak menjadikan Si Buyung gagah perkasa, tegak-tegap layu sebelum memancarkan air kenikmatan. Artinya, ada yang tidak normal. Pada tingkat paling merisaukan, begitu sperma menjadi, belum matang, mati. Ketidakmatangan berulang, berulang, dan berulang lagi. Kalau demikian jangan mimpi punya keturunan. Keabadian sperma adalah ketidakmatangan. Perlu diobati secepatnya.
Muatan pesannya, dalam menulis kita memerlukan ‘penjagaan’ materi (bahan) tulisan dengan raupan membaca, melihat, mendengar, merasa, meraba, dan atau, memikirkan apa yang sudah ada di pikiran menjadi bahan tulisan. Masukan ke kuala pikir dan olahan dari memori otak akan mematangkan apa yang dipikir dan terpikirkan, apabila … sekali lagi apabila matang … akan mengalir menjalani kodratnya. Mimpi basah adalah akibat penyaluran dunia nyata tidak terpenuhi, ya ke alam mimpi.
Kalaulah ketika dewasa, apabila sudah berkeluarga, masih mimpi basah, pertanda ada yang tidak beres, he … he … Dalam menulis jangan sampai terjadi. Kalau terjadi, bisa jadi tulisan akan ngawur sebab terkeluar ‘tanpa sadar’. Memang ada yang namanya reflek menulis, namun setelah dituntun pikiran sadar (sudah saya tulis pada bagian lain).
Dengan kata lain, apabila urat menulis telah terangsang, lalu tiba-tiba ‘hilang’ begitu saja, harus dicari penyebabnya. Hal serupa juga banyak ditanyakan, ide yang begitu ‘kuat’, tiba-tiba kog hilang ya Pak? Tulisan berhenti di tengah jalan (emang mobil), baru dua alinea, semangat menulis yang semula mengebu-gebu mandeg, ada apa ya Pak? Apa sebab?
Bahannya belum cukup, ide belum matang (emang telur mata sapi), latihan menulis cekak, … sekalipun rangsangan menghentak ubun-ubun. Kalau terus terjadi, berhati-hatilah, Sampeyan menuju penyakit permanen. Penyakit permanen?
Ya. Lebih celaka, jangankan dicari obatnya tetapi dijadikan perilaku yang berulang. Lama-lama menjadi pola. Akan sangat berbahaya apabila menjadi pola tingkah laku. Ini wilayah kuliah Antropologi Sosial. Kalau manusia memapankan tingkah laku maka akan menjadi karakter. Kalau menjadi karekater akan susah berubah. Dus, sadarilah akar masalahnya. Apa itu?
Ya, itu tadi. Diperlukan kematangan dan atau pematanga ide berbasis bahan-bahan yang hendak ditulis. Rangsangan tidak lebih dari pemicu. Kalau rangsangan tergelincir menjadi angan, ya tulisan tidak akan pernah menjadi, ejakulasi dini, bo. Hal tersebut akan menjadi sempurna parahnya apabila tidak dilatih dengan menulis, menulis, dan menulis.
Dengan demikian, sampailah kita kepada obat melawan penyebab ejakulasi dini menulis. Obat mjarabnya, membaca; Iqra’, iqra’, iqra. Mula-mula membaca apa yang tertulis, lalu yang tersurat. Pada tingkat paling tinggi ‘membaca alam’, tanda-tanda kebesaran Allah. Gunakan indera, ya telinga, hidung, lidah, dan syaraf-syaraf peraba. Akan sempurna kalau bisa membaca melalui ‘mata hati’.
Lalu, biasakan menulis. Saya sedikit memberi peringatan, membiasakan menulis dengan yang paling dikuasai, yang paling dekat dengan diri. Jangan menulis hal-hal hebat atau yan dianggap hebat. Menulis adalah menampakkan diri, apa-apa yang ada dalam diri. Tidak mungkin Sampeyan menulis pikiran Ersis apalagi pikiran dan perasaan Thomas Alva Edison. Never and never again. Kalau maulu-ulu atau mengulas pendapatnya, bolehlah. Itu pun harus didukung pengetahuan memadai tentang itu.
Kalau begitu menulis sulit dong? Ah, itu lain lagi soalnya. Banyak hal yang siap meluncur dari pikiran kita atas pengalaman kehidupan, yang mungkin tidak dipunyai orang lain. Saya pernah menulis tentang tahi hidung, e … mendapat respon luar biasa. Siapa bilang tahi hidung tidak berbau, kita saja merasa tidak berbau, wong hari-hari membauinya sampai tidak merasa berbau lagi. Memang pengalaman kita bisa dicuri orang lain? Never.
Akhirnya, sampailah kita ke akhir bahasan kali ini, menulis memerlukan bekal membaca memadai, dan ini lebih penting, latihan menulis dengan menulis. Menulis paling selamat adalah dengan apa yang kita kuasai, paling melekad diri. Teori itu perlu, tetapi bukan hal terpenting.
Yang paling penting dalam menulis adalah menulis, menulis, dan menulis. Dari menulis itulah sesungguhnya kita belajar, menulis adalah guru menulis itu senditi, buakan yang lain.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 11 Desember 2007.









15 Responses to “Ejakulasi Dini Menulis”
By unai on Dec 11, 2007 | Reply
Pak maulu-ulu itu artinya apa?…duh tulisan kali ini percontohannya agak nyerempet2 heheh
***Bahasa Banjar: lebih mengarah pada mengejek, tapi saya lebih sukan memakai dalam arti mencandai.
By Sigit on Dec 11, 2007 | Reply
Pak Ersis, Terima kasih banyak atas jawabannya yang bapak tulis lewat artikel ini. Agar bisa menulis… ya menulis dan menulis. Dan mungkin membaca adalah “obat kuat” yang mujarab agar tidak terjadi “Ejakulasi Dini Menulis”
***Ya ya membaca adalah kunci kehidupan yang lain. Semata menulis.
By santri alit on Dec 11, 2007 | Reply
jare, nulis iku koyo’ (maaf) ngising, yai? Nek mangane akeh lan asupan proteinnya lengkap, ngisinge yo enak lan kepenak. Nek mocone akeh lan sing diwoco apik2, nulise yo gampang.(asal gak sembelit ae). Nopo bener?
***he he he … O ye
By noorlatifah on Dec 11, 2007 | Reply
Hehehe…perumpamaan pada tulisan pa Ersis kali ini agak …, tapi mudah dipahami. Maksudnya menulis itu seperti itu toh.
By Mega on Dec 11, 2007 | Reply
“Bokong J-Lo” itu opo yah..? dari artikel2 sebelumnya jg ada tuch..awak ora ngertos..? G a w a t juga nih perumpaamaannya kalo pake nyerempet2 ha ha ha..
***Podo ae Neng, Aku ora mudeng jua …
By Dhan on Dec 11, 2007 | Reply
Tulisan yang lagi2 provokatif. Tapi tetap positif. Hebat. Saya perlu belajar banyak.
***Motivatid, aplikatif, ispiratif, dan tif-tif lainnya, he he
By fira on Dec 11, 2007 | Reply
Ass,hebat oi dari ejakulasi dini merembet ke J-LO hehehe bapak bisa aja nih tapi yang penting isi dari inti postingan ini yaitu menulis kok susah ya gak pak…hehehe yang bilang aja lelet postingnya maaf pak…tar lagi koar-koar kok…tenang tenang dan tenang oke pak.Wassalam
***Ya ya yang penting cecularnya bukan cashingnya. Salam.
By humaidi on Dec 12, 2007 | Reply
Pak, anda pernah kena ejakulasi dini nggak dalam menulis sebuah tulisan..??? Hee… hee.. he…
***Lain kai lebih hati-hati … dunia TIK, alatnya, ngak bisa ceroboh … dan tidak dusta, bo.
By Anang Banjar on Dec 12, 2007 | Reply
Maaf bozz… tadi kepake nama Humai.. Bukan Humai Pak yg nulis, melainkan antum…hehe.. Pak, anda pernah kena ejakulasi dini nggak dalam menulis sebuah tulisan..??? Hee… hee.. he…
***Dulu, udah lama … Sekarang terbebas sudah. Sampeyan masih toh ejakulai dini, he he?
By sawali tuhusetya on Dec 12, 2007 | Reply
Walah, ejakulasi dunia agaknya berlaku juga dalam dunia kepenulisan ya, Pak? Tulisan belum klar tapi dah kehabisan energi untuk melanjutkannya. Mungkin sama dengan idiom: “Nafsu tinggi tenaga rendah”, hehehehe
Resepnya dengan banyak membaca saya kira tepat sekali, Pak. Konon menulis dan membaca atau sebaliknya itu sama dengan dua sisi mata uang. *Halah!*
***Persis … Nafsu cukup, tenaga kuat, menlis yahud, he he. Ngapain melihara ejakulai, ya kalo?
By Iwan Awaludin on Dec 12, 2007 | Reply
Lah, kalo kayak aku ini, menulis aja ngga ketauan juntrungannya itu apa ya? Ejakulasi bukan, kayaknya nafsu besar aja ya, hehehe.
***Saya belum liat euy … Pokoknya, aku semangt kalau orang maunya nulis. Nafsu besar baik toh, Mas asal jangan … he … he ..
By ulan on Dec 12, 2007 | Reply
nyun sewu..om Ersis..
tapi memang benar begitu ada nya om Ersis, saya sering kehilangan ide tiba-tiba:lol:
hehehhe..
*sok merasa penulis*
*jadi malu*
memang bener, saat ide itu muncul, rasa nya meluap-luap, dan tangan ini tidak akan cukup cepat untuk menulis semua yang sedang berlangsung di otak, beberapa kali saya mencoba menulis plot, garis besar agar tidak kehilangan ide, tapi, setelah akan di jabarkan ternyata tidak se-”hot” saat ide itu sedang berlangsung..
wah mental saya belum matang ya om??
***Kan obatnya mujarabnya sudah saya tulis, tinggal oleskan, dan … terus menulis, menulis, dan menulis. Yakinlah, Insya Allah akan menjadi mudah. Amin.
By mathematicse on Dec 13, 2007 | Reply
Analogi yang menarik, unik. Dan saya pikir banyak benarnya Pak.
Saya pikir ada perbedaan antara pemicu (trigger) dengan perangsang. Pemicu adalah titik awal menulis, ya sesuatu yang menggerakkan. Sedangkan perangsang, adalah yang merangsang kita untuk terus menulis sampai jadi tulisan. Kalau rangsangan berhenti, maka berhentilah aktivitas menulis kita di tengah jalan. (BEner ga ya… ?
)
***Ya ya … Sampeyan jeli, trims.
By mathematicse on Dec 13, 2007 | Reply
Mau nambahin (ada yang kelewat).
Jadi, bokong J-Lo itu hanyalah pemicu (bukan perangsang). Sedangkan perangsangnya sendiri adalah… (duh saya belum bisa menganalogikan, masih “gelap” nih = belum tahu apa-apa… ). Dan yang dikeluarkan oleh si “Buyung” adalah hasil tulisan kita.
Jadi, kalau yang dinamakan ejakulasi dini itu, dia mudah terpicu, tapi ga kuat dirangsang.
Akibatnya tulisan cepat keluar (walau belum rampung benar, dan hasilnya tentu tidak memuaskan. Alias belum jadi tulisan yang sesungguhnya. Paling jadinya, ya itu tadi cuma satu alinea. (bener ga ya…
)
***Yoha … harus ‘jelas dan terpisah’ yah penggunaan istilahnya. Makasih.
By mathematicse on Dec 13, 2007 | Reply
Nambahin lagi.
Iya, betul Pak. Marilah kita menulis sesuai apa yang kita mampu dan kuasai saat ini. JAdi, jangan menulis di luar kemampuan dan pengetahuan kita. NAntinya ga jadi-jadi deh menulisnya… (betul?
)
***Itu itu intinya, khan.