Pendidikan Curang Guru Curang?

6 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh: Ersis Warmansyah Abbas

Guru SD Singapura mengajarkan pelajaran bisnis di pusat kegiatan bisnis Menulis tentang guru (dan pendidikan) nampaknya tak ada akhirnya. Wajarlah, kaisar Jepang, selepas Hiroshima dan Nagasaki dibomatomi Amerika Serikat pada Perang Dunia II —satu-satunya negara yang mencobakannya pada manusia— bertanya pada petinggi Jepang: Berapa orang guru yang selamat? Bukan tentara atau ilmuwan. Tapi, ya tetapi, berapa orang guru yang selamat. Mengharukan.

Sampeyan jangan pula iri, (ada warga) Malaysia sebagai bangsa serumpun, dengan gagah perkasa melecehkan Indonesia —dari Indon sampai perlakuan buruk terhadap TKI— karena ‘kecerdikan’ dan kemajuan mereka. Padahal, dulu minta tolong guru-guru Indonesia untuk ‘membenahi’ pendidikannya, 30 tahun lalu. Kini, tergolong negara ‘maju’ diantara negara-negara kasta paria dunia. Semua karena guru. Sekali lagi karena guru.

Bukan keseriusan pemerintah Indonesia yang saya dicemaskan. Itu soal waktu. Pada dasawarsa ke depan yakin, para pemimpin, eksekuti dan legisltaif, ‘dikendalikan’ oleh mereka yang sadar pendidikan. Dalam pikiran nakal, terkadang terbesit: Biarlah Indonesia terpuruk seterpuruknya … asal era anak dan cucu nanti bisa jaya. Kenapa?

Dengan prestasi buruk —kalau perlu ke bibir ‘negara gagal’— akan ada sentakkan sadar: Kalau ingin maju, benahi pendidikan, perhatikan guru. Kapan itu? Entahlah. Yang pasti, di segala lini kesadaran akan pentingnya pendidikan, dalam arti perilaku dan tindakan, memuncul dimana-mana. Lihatlah perkuatan UU untuk memantapkan tapak-tapak pancang pendidikan. Beberapa pemerintah daerah ada yang betul-betul menampakkan kesadaran aksi nyata, bukan sekadar retorika.

Jujur saja, pada posisi demikian, saya menaruh harap pada pendidikan ndonesia. Ya ya ya, optimis. Generasi yang rada-rada cuek terhadap pendidikan, para pengambil keputusan yang dipintarkan oleh gurunya, namun tidak ‘kesetanan’ memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan guru, akan berganti. Tidak ada yang abadi di dunia, apalagi dalam panggung peran. Sabar. Sabar.

Guru Curang
Satu hal yang menyentak, dan menjadi pikiran ketika suatu kali berkomentar pada blog seorang teman: saya geram dengan guru (kalau benar-benar ada) yang ikut curang dan mencurangi ujian nasional UN. Oleh seorang teman, dikatakan tidak pernah ke lapangan. Jujur —di kalangan guru— sudah barang langka. Kira-kira begitu. Guru tidak jujur?

Alkisah, ada kecurigaan curang dalam UN demi mendongkrak kelulusan —kata teman tersebut— bagaimana mungkin guru berkutik, kalau pihak berwenang (saya tidak tulis instansinya, Sampeyan pasti tahu), memerintahkan supaya ‘membantu’ peserta UN —murid-muridnya. Ya Allah, ampunilah mereka. Apa pasal?

Kita juga disajikan berbagai keluhan, bahkan diadukan sampai ke DPR, praktik kecurangan UN. Di kelompok Air Mata Guru Medan atau di Bandung, misalnya, justru guru yang berkendak jujur dapat semprit. Ini pendidikan atau pendidikan curang? Yang salah dibiarkan, yang berusaha benar dicuekin. Kalau benar, sungguh memalukan dan memilukan.

Jujur saja, saya coba kerahkan kemampuan pikir dan landasan llmu kependidikan yang dipelajari secara akademis, ternyata tidak membantu menjawabnya. Kog bisa ya, pendidikan yang dikeluhkan dari segala lini, meluluskan 90% lebih peserta UN. Artinya, ini sukses. Sangat sukses.

Kalau sukses, naga-naganya buat apa (lagi) berjuang, berterak-teriak, kepada pemerintah, terutama kalangan wakil-wakil rakyat, agar lebih memperhatikan, terutama dana untuk pendidikan. Wong dengan keadaan seadanya begini, prestasi UN begitu bagus. Memang UN bukan ukuran satu-satunya, tetapi setidaknya satu indikator.

Guru dengan kualifikasi minim, kesejahteaan nan memilukan, plus sarana dan prasarana sangat tidak memadai, berprestasi begitu bagus. Entahlah, kalau yang menolong menjawab soal-soal UN para guru. Semoga tidak demikian adanya. Sebab, kalau guru ‘menolong’ peserta didik ‘menyiasasti’ UN, persoalannya sangat serius.

Pendidikan Curang
Kalau menolong siswa dalam UN, atau evaluasi apa saja, dampaknya merajut ke depan. Kalau mereka berhasil menamatkan pendidikan, pada lagkah berikut akan tidak berpihak pada jujur dan kejujuran. Mereka akan enteng saja memakai joki, membeli ijazah, atau menyogok untuk mencapai maksud.

Bukan tidak mungkin, kalau memegang kekuasaan, membawa atau memakai barang kantor untuk kepentingan pribadi, bukanlah hil yang mustahal. Korupsi enteng-enteng saja. Menolong anak, keponakan, atau keluarga (jauh) tidak ada masalah, sekalipun menyingkirkan mereka yang lebih berhak. Bukankah ketika bersekolah sudah ‘diajarkan’ praktik curang?

Bahkan, kalau perlu, guru yang memintarkan cuekin saja. Peduli amat dengan kesejahteraan gutu. Toh guru juga dulu yang ngajarin curang. Kalu demikian logikanya kan jadi berabe. Semuanya terpulang pada guru.

Apa pun jadinya, masih banyak, dan lebih banyak, guru yang berprinsip, mendidik jujur dan kejujuran berlandaskan kejujuran. Kalaupun dulu, tahun-tahun lalu, ikut-ikutan ‘mensiasati’ UN, dengan alasan apa pun, atau ‘tekanan’ apa pun, saatnya kembali ke jalan yang benar. Tidak satu agama pun, atau wejangan, yang mengajarkan kecurangan alias keculasan.

Dengan kata lain, mulai tahun ini —kalau ada diantara pembaca tulisan ini— yang mempratikkan curang demi UN, apa pun alasannya, saatnya bertaubat nasuha. Insya Allah, ‘dosa-dosa besar pendidikan’ yang dilakukan sebelumnya diampuni Allah SWT.

Mari lawan pendidikan curang. Pendidikan curang musuh sesungguhnya pendidikan. Jangan sampai (seorangpun) guru pernah melakukannya (lagi). Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Ersis Warmansyah Abbas, dosen FKIP Unlam, website: webersis. com., email: ersis_wa@yahoo.com.

  1. 12 Responses to “Pendidikan Curang Guru Curang?”

  2. By puput on Dec 6, 2007 | Reply

    takut gagal. menurut saya, mereka yg mlakukan kecurangan dalam apapun belum paham bahwa gagal adalah jalan menuju sukses. kita dan mereka hanya ingin instant. padahal serba instan belum tentu baik.

    **Paling inti, takut diri sendiri, takut akan ketahuan kalau jujur pekerjaan sebenarnya ngak ada apa-apanya, jadi … curang. Lebih buruk dari perilaku instan … curang itu musuh roh pendidikan dan pendidik. Mudahan ngak ada (lagi) guru yang sedemikian.

  3. By noorlatifah on Dec 7, 2007 | Reply

    saya sangat setuju sekali kecurangan dalam pendidikan harus kita basmi pak! Tapi harus semua pihak lho, maksudnya bukan guru aja yang harus berlaku jujur tapi semua pihak. Saya yakin bila kita sudah benar-benar mempersiapkan anak didik kita untuk menghadapi UN Insya Allah hasil yang kita harapkan akan tercapai. Artinya kita yakin akan kemampuan anak didik kita.

    ***Kalau untuk guru yang ngak berental curang, soal mudah. Pihak lain? Mereka kan hanya menunggangi guru yang menurut, termasuk bercuang-curang, he he

  4. By Mega on Dec 7, 2007 | Reply

    Ikut setuju ntuk memerangin guru curang..

    pernah aku lihat sendiri,, kakakku yang salah satu guru di sekolah tingkat umum,,dia punya teman sama ngajar..

    Teman kk ku itu dalam bertugas seminggu itu 1 hari selalu minta ijin keluar,dan ternyata dia punya bisnis kecil2an,,mengkreditkan dagangan baju dan tas2 keliling kampung,,padahal jam ngajar,,anak muridnya dibiarkan mengerjakan tugas dari guru itu..trs dianya pergi jualan..

    ha ha ha..apakah itu juga termasuk curang…???

    ***Ya ya, andaikan daku tahu lebih banyak tentang pendidikan Jepang, akan kutulis sebagai komparasi. Ya, begitulah kondisi obyektif di tanah Air.

  5. By unai on Dec 7, 2007 | Reply

    Guru curang kaitannya dengan reputasi sekolah itu mungkin pak, kalau siswanya lulus smua kan sebuah indikator bahwa sekolah itu baik. walaupun kelulusan itu buah kecurangan. AH entahlah…pak, bagaimana nasib pendidikan di negeri yang terlanjur rusak ini

    ***Ya itulah. Dirusak sekalian atau diperbaiki secara radikal. Ntar akan ada masnya yang ngurus pendidikan yang ngerti pendidikan. Soal curang itu harus lebih digiatkan dihajar. Untuk tahun depan, saya siapkan sedikit pasukan he he

  6. By Zulfaisal Putera on Dec 7, 2007 | Reply

    Seandainya terlahir kembali, aku tidak akan jadi guru di Indonesia. Bukan menyesal, tapi kehadiran aku dalam dunia ini seakan telah menjadi duri dalam daging bagi sistem di sini. Aku tak bisa teriak tidak melihat betapa pendidikan pura-pura di negara ini sudah mendarah daging. Pendidikan di Indonesia - seperti dalam kasus UN - telah menjadi lokalisasi pelacuran intelektual. Dan anehnya, kita bangga melihat prestasi dari hasil ‘jual diri’ itu.

    Okelah, aku sudah jadi guru di Indonesia. Yang bisa kulakukan adalah bersuara dengan ‘nyaris tak terdengar’ bahwa setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhir hayat nanti. Jadi, bersiaplah …

    Ok, Bang!
    Tabik!

    ***Makasih nich atas omennya. Ya ya itulah perjuangan. Jangan menyesal, kalau perlu bersyukur. Rasulullah diturunkan di wilayah yang auzubillah berandalnya. Untuk apa? Disitu ada hak perjuangan. Kita berjuang bersama, mula-mula dari tindakannyata diri, lama-lama menyebar seperti bola salju. Yakinlah, peran guru sangat penting, dan kita disitu. Selamat jadi guru.

  7. By sawali tuhusetya on Dec 7, 2007 | Reply

    Kecurangan memang harus dilawan, Pak. Dan itu butuh tenaga dan spirit dari semua guru. Kalau yang teriak2 hanya beberapa gelintir guru saja, kasihan mereka. Sebenarnya kalau kita melawan kecurangan dalam UN itu sama saja kita menyelamatkan jutaan generasi yang kini tengah menimba ilmu. Sayangnya, mereka senang yang serba instan. Pernah ada cerita, beberapa murid SMA lulus dengan nilai bagus sehingga diterima di PTN favorit. Tapi sungguh iba. Setelah masuk di lingkaran kampus, anak SMA tersebut seperti rusa masuk kampung. Nggak mudeng apa2.
    Saya kira butuh perubahan kultur yang sudah demikian kuat mengakar dan membelit dunia pendidikan kita. OK, salam hormat, Pak Ersis.

    ***Melawan dengan tidak melakukan. Nah, kasihan kan. Akibatnya akan membeban ke depan … Mari Pak Swali, kita berani tidak ikut-ikutan curang. Saya ngak mau ikut proyek begituan, biar saja dibilang ngak laku. Minimal kita sebarkan semangat di dunia maya. Salam.

  8. By Dhan on Dec 7, 2007 | Reply

    Saya cenderung setuju sama perasaan Pak Ersis : “Biarlah Indonesia terpuruk seterpuruknya … asal era anak dan cucu nanti bisa jaya.” Saya sering terpikir demikian juga. Namun setelah kembali pada kesadaran, saya sangat berharap semuanya itu tidak terjadi. Andai cukup negeri ini belajar saja dari kesalahannya tanpa harus diberi keterpurukan apalagi adzab.

    Kejahatan bisa menang hanya karena orang baik tidak bertindak apapun.

    ***Itu kalau dah kesel banget Mas Dhan. api, kita kan ngak boleh begitu, jadi tetap usaha. Ya, makanya kita harus memperkuat barisan pelawan kejahatan, dan tahu apa salah kita agari bisal belajar. Tabek.

  9. By Mega on Dec 7, 2007 | Reply

    Wah..jadi muncul juga ide ntuk menulis tentang pendidikan dan guru di Jepang nich..

    Ntar deh, kapan2 aku coba menulis..
    Tapi kayaknya harus kena virus dulu kali yak..

  10. By Yari NK on Dec 8, 2007 | Reply

    <p>Hmmm saya ada yang nggak setuju sedikit, boleh dong ya? Huehehehe….<br />
    Kalau menurut saya memang betul kemajuan Malaysia tentu juga akibat dari peran guru yang telah ikut memajukan bangsa tersebut (meskipun saya yakin guru2 Indonesia banyak yg jauh lebih baik daripada guru2 Malaysia, sekarangpun!). Namun sebenarnya banyak analis mengatakan kemajuan Malaysia sangat artifisial artinya mereka maju baru dan hanya dalam satu sisi saja: ekonomi atau kemakmuran dan itupun seperti api dalam sekam karena Malaysia mengorbankan segalanya untuk menjadi makmur termasuk demokrasinya sendiri! Bukan itu saja Malaysia sudah tumbuh menjadi negara yang sangat rasis. Jikalau anda ingin mencari negara2 rasis tidak usah ke AS atau ke Eropa, lihat saja jiran kita sendiri benar2 rasis.</p>
    <p>Lantas kemakmuran Malaysia juga tak terlepas dari sedikitnya penduduk negara tersebut. Tentu orang Malaysia akan sakit hati atau tidak bisa menerima kalau dibilang kemajuan atau kemakmuran Malaysia akibat penduduknya yang jauh lebih sedikit. Saya pernah berdebat dng orang Malaysia, dia duluan yang mencoba berdebat lalu saya lemparkan fakta bahwa penduduk Malaysia yg sedikit sangat mendorong kemakmuran Malaysia. Si Malaysia, spt biasa, tidak bisa terima dengan argumentasi itu. Lalu saya tanya, kalau begitu kenapa Singapura bisa lebih maju dari Malaysia? Mau bilang orang2 China lebih hebat dari orang Melayu dia malu, lantas apa jawaban yg keluar? Dia bilang itu karena Singapura negaranya jauh lebih kecil daripada Malaysia! Aku ngakak dalam hati, maksudnya adalah itu karena penduduk Singapura lebih sedikit dari penduduk Malaysia, tapi karena dia malu mengeluarkan jawaban seperti itu akhirnya jawaban yang keluar ya seperti yg di atas itu… Singapura adalah negaranya jauh lebih kecil dari Malaysia….. wakakakak…. yo podho wae!</p>
    <p>Ada lagi orang Malaysia berdebat dengan saya, bilangnya Indon negara miskin lihat saja mata uangnya nilainya rendah sekali. Wakakakak… aku ketawa (sekaligus sedih) melihat logika orang Melayu spt itu…. Lha kok maju mundur kaya miskinnya negara bisa dilihat dari tinggi rendahnya mata uang, lha wong lihat aja Jepang atau Korea Selatan, mata uangnya lebih rendah daripada ringgit Malaysia, apa itu berarti membuat Jepang atau Korea lebih miskin atau lebih mundur dari Malaysia? Yang benar saja….! Saya hanya bisa ngakak…!</p>
    <p>Sebenarnya saya sudah sering menjebak di Internet argumentasi2 orang Malaysia yang sangat dangkal itu, terlalu panjang kalau diceritakan di sini. Ini yang jelas masih banyak orang2 Malaysia yang secara intelektual masih sama atau bahkan jauh di bawah orang Indonesia. :D</p>
    <p>Namun terlepas dari itu semua, saya setuju dengan Pak Ersis, kalau pendidikan itu penting, tetapi ya itu, sebelum kita membereskan anak didik kita melalui pendidikan tentu kita pertama2 harus membereskan kualitas para guru yang akan mendidik anak didiknya. Lha wong gimana mau mendidik anak didiknya kalau pendidiknya saja juga sama memerlukan pendidikan juga! Ya kan? :D</p>

    ***Saya paham dan setuju argumen Maz Yari … kemajuan tentu banyak aspek pendukungnya. Yang jelas kita sama-sama Melayu, beda … nasib aja kali he he. Ya ya menjadikan guru berkualitas itu yang paling susah … bak komen Maz Yari kemaren, sistemnya yang buruk. Biar entropi kali ya. Kira-kira kaya sepakbola tu … dibantai terus. Habis, yang diputar kompetisi, disewa pemain asing, pengurusnya itu-itu saja, untuk liga pro saja pakai dana APBD. Coba Pemko bikin lapangan bagus tiap kota, lalu … latihan, Insya Allah dalam lima tahun bagus deh hasinya.

    mindset kita kali yang perlu dipermak. Logika punya, ilmu tidak memalukan, tekad dan mimpi apa lagi, melaksanakannya saja yang malas. Giman korupsi mau berkurang, komponen penegak hukumnya sih … tapi kan ngak ada yang mau disalahkan dan ngaku salah. Potng generasi kali. Tempat belajar (kuliahnya) atau pendidikannya perlu dipremak juga, dan … disuruh membaca kitab suci agama masing-masing. Ah, pilu … rasa hatiku … (ssss ntar dicuri orang pula).

  11. By meiy on Dec 12, 2007 | Reply

    nyatanya cukup mudah menemukan guru yang curang daripada yang jujur sekarang ini, aku alami di sekolah anak-anakku :( ada yg terang-terangan minta uang ke wali murid untuk beli nilai…what a…b…..?

    kalau sistem pendidikan diperbaiki, mudah2an juga aspek moralnya bukan materialnya saja.

    ***Pecat saja guru seperti itu, beres … e … jangan-jangan, saya ngak mau memprovokasi sedemkian he he. Ya ya ntar akan datang pendidikan diurus oleh orang-orang bekrepribadian, bermoral, dan …. bergama. Amin.

  12. By aurilya w. listyasari on Jan 26, 2008 | Reply

    saya sangat setuju sekali, memang benar yang namanya pendidikan adalah dasar pondasi dari mental seseorang (selain iman). jika seorang guru sudah melakukan kecurangan demi keinginan yang semu belaka karena nafsu seorang maka telah menghancurkan sebagian persen dari bibit penerus bangsa,
    bangsa ini memang mempunyai pemimpin2 yang curang tetapi akan hilang dan digantikan oleh seiring waktu jika pengajar2 (guru) di indonesia memberikan bekal kejujuran bagi anak cucu penerus bangsa.
    jika gurunya aja udah ga jujur, maka mau dibawa kemana bangsa ini, bangsa ini tuch udah terpuruk masa’ mau ditambah lebih terpuruk lagi sich???
    mari bangkit dan tegak kan kejujuran wahai engkau para pendidik anak bangsa, walaupun gaji dan pengorbanan guru ga sebanding.
    engkau orang2 yang duduk di pemerintahan, yang menjadikan kau pintar itu siapa, hah??
    maka perhatikanlah para pendidik anak bangsa ini, karena mendorong mereka untuk mendidik lebih jujur, jujur, dan jujur lagi…

    ***Ya ya ya, kita mulai dari apa yang bisa, … beginilah nasib bangsa malang ini, tapi … kita yakin akan mengarah baik. Salam.

  13. By PRISONER 71 on Apr 28, 2008 | Reply

    takut gagal, itu mungkin salah satu faktor guru berbuat curang, tetapi saya yakin guru berbuat curang karena kasihan terhadap muridnya yang sudah membayar mahal-mahal uang sekolah selama 3 tahun dan harus ditentukan selama 3 hari yang belum tentu jg yg ia ajarkan selama 3 tahun masuk di UN. jadi pada dasarnya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela merusak moralnya dan berbuat apapun untuk melihat kita lebih baik. hal ini yang belum didasari pemerintah yang seenaknya saja menaikkan standar dan menambah 3 mata pelajaran. mana yang lebih tahu kemampuan murid menteri pendidikan yang berada jauh disana yang banyak omong atau guru kita yg mengajar setiap hari dan mengetahui proses kemajuan kita.

    ***He he … berarti kurang cerdas kan? Tapi, curang tetap curang. Agama manapun melarang, kecuali ‘agama iblis’

Post a Comment