Memotivasi: Merangsang Menulis
6 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tanya: Pak Ersis memotivasi orang untuk menulis, apanya? Semangatnya? Ataukah, untuk menulis lebih baik dengan teknik yang lebih baik? Apakah segala topik tulisan dapat menjadi tulisan yang baik? Maksud saya, apakah tulisan yang baik tergantung dari topiknya, tekniknya, atau apanya?
MEMOTIVASI. Aha … motivasi menulis secara sederhana agar seseorang atau banyak orang tergerak untuk menulis. Kenapa orang perlu dimotivasi? Ya, karena pada dasarnya manusia memerlukan rangsangan (motivasi). Rangsangan membangkitkan dan mematangkan potensi. Misal, ketika melihat (maaf) bokong J-Lo bergoyang, ada sesuatu yang ‘menggeliat’.
Kalau kita bahas berbasis teori chalangge and response, Toynbee, atau nAch (need for Achievement), David MacClelland, nanti dikira terlalu menukik. Intinya, apa saja yang kita jalani dalam kehidupan pada dasarnya memerlukan rangsangan atau apa pun istilah ilmiah atau agamisnya.
Toynbee yang menyelidiki aneka kebudayaan sampai pada kesimpulan, berkembangnya kebudayaan tertentu karena adanya tantangan, dan dijawab dengan tepat. Tantangan menjadi motivasi untuk maju dan berkembang. Clelland meamsalkan, kenapa Taiwan, Singapura, dan Korea (Selatan) maju sementara …. (sensor) justru tertatih-tatih. Padahal sama-sama dari rumpun Asia? Katanya sih, ada kebutuhan untuk berprestasi. Dan, itu ‘dirangsang’ oleh kesadaran diri (bangsa).
Atau masih ingat eksperimen Pavlov? Itu lho tentang bagaimana seekor anjing apabila diberi makan seiring dengan pembunyian lonceng. Lama-lama, begitu lonceng di kring e … air liurnya menetes. Artinya, bunyi lonceng menjadi perangsang selera makan. Begitu ada bunyi lonceng, kehendak makan terangsang.
Dalam kaitan menulis, saya berpikir, semua orang punya potensi menulis. Lagi pula, apa saja dapat dijadikan bahan tulisan. Lebih lagi pula, sejak dini ‘diajarkan’ menulis. Tinggal rangsangannya saja.
Coba kita berpikir, pasti muncul ide untuk menulis sesuatu, atau setidaknya lebih memikirkannya. Atau, ketika melihat, mendengar, membaca, bahkan meraba, akan ada letupan ide. Persoalannya, bagi banyak orang, ide tinggal ide. Ketika ingin mengatakan atau menuliskan, idenya ‘terbang’. Coba perhatikan, kalau kita lagi senang atau susah, pikiran terangsang meresponnya. Kalau tidur, itu artinya lonceng bahaya bagi seseorang. Hati-hatilah.
Saya punya pengalaman ketika mengikuti ESQ Training 24-26 Desember 2005. Saya yakin, sifat-sfat Allah SWT telah diinstal bersamaan dengan ditiupkannya roh. Mulai dari Ar-Rahman sampai As-Sobur (99 Nama Allah). Kalau melihat orang lagi menderita, pasti muncul rasa iba dan kasihan. Itulah suara hati, keluaran dari hati bening, hati manusia.
Soal nanti mau cuek, itu soal lain lagi. Bisa jadi, instalan build-in telah ditimpa instalan lainnya. Misal, guru-guru ketika dididik di LPTK pasti diajarkan, diinstal teori dasar pendidikan, kejujuran adalah roh pendidikan. Ketika bertugas melaksanakan UN, kalau ada guru yang ‘membocorkan’ soal, pasti bukan dari nuraninya. Bisa jadi, kelakuan curang tersebut dirangsang iblis, atau tekanan atasan, atau motif apa begitu. Artinya, rangsangan itu berpengaruh terhadap potensi bawaan seseorang.
Celaknya, pengalaman dan juga pengamatan, membidik pendidikan kita, bahkan budaya masyarakat, tidak kondusif dalam pengembangan potensi. Pendidikan (maaf) adakalanya menjadi sistem belenggu pengembangan potensi. Tidak heran, anak-anak jenius ada yang ‘rusak’ dan menjadi bandit. Ingat, banyak modus kejahatan diciptakan dengan amat canggih, sementara polisi ‘belajar’ dari modus penjahat. Penjahat dirangsang atau terangsang demi kelangsungan profesinya.
Dalam pendidikan, terutama pendidikan formal, sebenarnya kita telah diajarkan tentang topik, tehnik, sampai mood dan calling. Coba amati, berapa orang (persen) yang canggih secara teori kreatif menulis? Jangan-jangan Sampeyan akan kecewa mengamati faktanya. Itu yang saya katakan, banyak yang tergelincir oleh teori yang baik. Akibatnya, jadi takut.
Kita tahu, teori (menulis) itu baik, aturan kebahasaan, dari huruf sampai EYD, sangat ideal dan memang seharusnya diikuti. Tetapi, justru disitu letak masalahnya. Segala hal baik kebahasaan menjadi belennggu. Menulis adalah tindakan kreatif, dan (ada) ahli atau orang berpengetahuan kebahasaan menakut-nakuti. Harus begini, harus begitu, harus begana, dan begete. Harus melulu. Salah ini, salah itu. Salah melulu. Itu bukan rangsangan, tetapi ‘pembunuhan’.
Saya jadi maklum, dan harus jujur, pada saat ini tingkat motivasi yang saya kembangkan melalui Ersis Writing Theory (EWT) menitiktekan pada, memotivasi menulis (doang). Dalam angan, kegairahan menulis menjadi tipping point, meepidemi. Hal tersebut, karena semua orang berpotensi menulis, bahan untuk ditulis berlimpah ruah, kesempatan terbuka, sarana dan prasaran tak terhingga, dan seterusnya.
Saya juga yakin, kalau menulis dilatih dengan menulis, dengan mengabaikan (sementara) segala teori, menulis akan menjadi fasih. Pastilah, ketika orang sudah terjangkit virus menulis akan menggali ‘ilmu’ menulis, bukan saja dari pengalaman menulis itu sendiri, namun akan lebih mudah meinternalisasi ragam teori, style, dan seterusnya.
Ibarat latihan karate, mula-mula akan susah memahami kidangbarai (ejaannya?) tetapi karena dilakoni akan menjadi refleks. Kalau bersamaan dengan latihan timbaan ilmu dimantapkan, bukankah menjanjikan? Bukankah dengan belajar teori (saja) kita kurang kreatif dan produktif menulis? Kini kita cari cara baru, cara yang tidak membeban. Pada ranah itulah saya memotivasi, mengembangkan EWT.
Artinya, EWT pada tingkat awal bertumpu pada, mari menulis. Menulis apa saja. Menulis dari apa yang paling dekat dengan diri kita.
Tulisan yang baik ya tergantung topik, tehnik, gaya, bahasa, bahasan, sajian, dan seterusnya. Kalau semua itu kita pahami, bahkan jadi ahlinya, tetapi tidak menulis, sama aja boong. Menulis, mari mulai dari yang sederhana. Menulis, menulis, dan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Desember 2007.









22 Responses to “Memotivasi: Merangsang Menulis”
By Mega on Dec 7, 2007 | Reply
Lagi kena virus menulis dari EWA nih….
Tp aku menulis rasanya belon berguna bagi orang2 lain..kapan bisa ya..? Dah diransang tetap aja nihil, seperti kata2 diatas..begitu mendengar,melihat,membaca dan meraba..
Kenapa semua ide2 itu terasa konyol dihatiku ya….gimana itu..?..Apa karena aku selalu kurang PD yah..?
**Jangan minta anti virusnya dulu ya
By unai on Dec 7, 2007 | Reply
aih pak, perumpamaannya kok pake bokong J-Lo sih..heheh
***ha ha maaf deh kalau … yah tapi kata yang lain meraik tu.
By LiezMaya on Dec 7, 2007 | Reply
Biasanya rangsangan menulis saya semangat 45 nya timbul kalo pas lagi emosi memuncak, apa itu sedih atau bahagia…tapi masalah saya kalo pas memulai semangat menggebu2 eh tapi pas pertengahan, keseliwer sama hal sepele…langsung deh ilang moodnya, alhasil tulisannya gak jadi alias gak nyambung hehe
***Ya ya … tapi saya baca web mBak bagus kog. Soal semangat yang berujung ilang mood, soal memenej semangat aja tu. Saya pernah nulis tentang mood dan calling, yang sebenarnya illusi saja tu. Salam.
By MAW alias Kombor on Dec 7, 2007 | Reply
Saya setuju, Pak EWA. Tradisi menulis harus diajarkan sejak dini. Guru-guru Bahasa sebaiknya merangsang murid-muridnya untuk menulis. Guru jangan hanya melulu menyalahkan bahwa ini ejaannya salah, ini kalimatnya tidak “bicara”, ini paragrafnya tumpang tindih. Guru seharusnya memberikan koreksi, bukan menyalahkan. Sudah bukan lagi saatnya untuk memberi nilai atas tulisan murid tanpa disertai penjelasan mengapa si murid dapat nilai 6, 7, 8, 9 atau 10. Percaya deh, murid nggak bakalan tahu di mana letak kekurangan mereka kalau tidak diberitahukan. Saya mengalami sendiri kok. Saya dulu paling tidak bisa kalau disuruh mengarang.
BTW, mau diubah kayak apa webersis.com ini, Pak EWA? Sudah bagus gini kok.
***Saya sependapat, ini hal yang belum saya tulis, ‘penjelasan’, boleh ya saya ambil over pemikirannya Maz? Oh ya, mau bikin lebih keren aja. Mulai dari atas sampai bawah biar rada baru he he. Tolong ya.
By meiy on Dec 7, 2007 | Reply
saol rangsang merangsang (dalam menulis) emang penting nih pak, buat nambah semangat.
dg semangat apapun bisa dilakukan, ya gak pak
***Yap sangat penting. Kalau ngak ada rangsanga yeah tidur deh …
By meiy on Dec 7, 2007 | Reply
waduh kan salah ketik saking semangatnya
apalagi kalo ada j-lo2 nya
***Ngak apa-apa he he J-lo … he he. Apanya sih yang menarik?
By sawali tuhusetya on Dec 7, 2007 | Reply
Setuju banget Pak Ersis. Kaidah bahasa jangan sampai jadi kendala dalam menulis. Bangkitkan dulu motivasi agar mampu menggali potensi diri. Kalau tu dah OK, baru ngutak-atik kaidah bahasa biar lebih nyaman dan enak dibaca ketika dipublikasikan.
Salam.
***Ya ya tulisan yan awut-awutan tanpa logika bahasa yang benar jelas saja buruk. Semua itu telah diajarkanguru bahasa, yang kurang diperhatikan guru kan menulisnya itu. Itu yang dirangsang, dilatih, dibiasakan. Maaf, wong guru saja banyak yang cupek menulis he he
By Kurt on Dec 7, 2007 | Reply
Sharing pengalaman:
ketika saya mengunjungi sebuah sekolah *eits cuma mau numpang pipis* di balckboard sekolahan itu terpampang sebuah tulisan yang mengandung virus EWA:
<b>”Tulislah apa saja yang kau ketahui, maka tulisanmu akan menjadi pengetahuan.” </b>
***Kog ada saja ide dan ‘teumannya’ ya … Yoha, tulis, tulis, dan tulis.
By mathematicse on Dec 8, 2007 | Reply
Kalau “sesuatu” itu sudah terangsang, biasanya akan merespon rangsangan tersebut. Kalau tidak merespon maka “sesuatu” itu tak lain dan tak bukan = mati.
Begitu pula dengan menulis…
Nah, responnya bisa positif atau negatif.
Dalam hal menulis, bila sudah terangsang menulis kemudian menulis berarti respon positif dan sebaliknya disebut respon negatif (Lho kok kayak berteori sih..?)
***Tinggal pilih, dirangsang ‘diri’ atau dari luar diri. Hasilnya menulis he he
By ichal on Dec 8, 2007 | Reply
saya juga masih perlu rangsangan menulis kayaknya,, apalagi dengan perumpamaan bokong J-Lo, heheheh (walah ngawur gw)
***Yang lebih seru juga ngak apa-apa … tapi ingat dosa, he … he …
By Kurt on Dec 9, 2007 | Reply
bang Ersis, bahasanya kok “dirangsang diri” … wahh ini sih mirip “masturbasi” (sory becanda)
***Emang ada jenis menulis masturbasi dan banyak dipraktekkan orang, nglacyur juag ada. Apa perlu saya tulis?
By mathematicse on Dec 9, 2007 | Reply
Mau numpang OOT: Nih, Pak, saya menulis artikel jawaban atas pertanyaan bapak (dulu) tentang satu dan nol. Artikelnya saya beri judul <a href=”http://mathematicse.wordpress.com/2007/12/09/satu-kemudian-nol/” rel=”nofollow”>Satu Kemudian Nol</a>
*Siiip … makasih, saya udah mampir.
By Sigit on Dec 9, 2007 | Reply
Cukup merangsang juga perumpamaanya menggunakan bokong J-Lo
Tapi Pak…. bagaimana caranya jika rangsangan itu tiba-tiba hilang..?
***Yap saya jawab di artikel aja ya.
By Zulfaisal Putera on Dec 9, 2007 | Reply
Sumber motivasi bisa dari mana saja dan muncul kapan saja. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana memanfaatkan ketika motivasi itu hadir menyergap kita.
Dengan menikmati blog Abang ini semoga makin banyak makhluk yang termotivasi untuk menulis.
Sukses!
Tabik!
***Amin. Sukses. Tabik.
By hanna on Dec 9, 2007 | Reply
Mari melatih menulis dengan terussssss menerus. Memulai dari yang paling sederhana. Setelah termotivasi mari belajar untk lebih baik lagi, lagi, dan lagiiiii. Wah, sepertinya semangat menulis EWA bisa menular ke siapa saja yang sempat membaca di web ini.
***Yoha, yoi, yeaaaaah
By Yari NK on Dec 10, 2007 | Reply
Wah…. ini sepertinya jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya.
Tapi kenapa ya kok saya sering juga menemukan walau topiknya menarik tapi gaya penyajiannya kurang apik rasanya kurang ‘merangsang’ orang yg membacanya begitupula sebaliknya. Kalau misalnya harus menguasai semuanya seperti: topik, tehnik, gaya, bahasa, bahasan, sajian, dsb., tentu itu akan membuat ‘takut’ para penulis pemula yang mungkin masih kurang pede. Kecuali kalau orang yg nekad tentu saja.
Bagaimana kalau tulisan ‘kolaborasi’? Apakah menjadi lebih baik? Kolaborasi ini maksudnya adalah hasil karya beberapa orang, misalnya yg satu kuat dalam topik, yang satu kuat dalam teknik penulisan dsb. (Tapi itu bukan tugas editor ya, yg mengedit dan memperbaiki tulisan?) Wah, embuh ah…. kita tanyakan saja sama Pak Ersis yg biang virus menulis!
***Kira-kira euy … Maybe yes, maybe no.
By nexlaip on Dec 10, 2007 | Reply
Assalammualaikum, mas ersis nice to meet you……salah seorang manusia hebat yang bersedia mampir ke blog saya…..”Tulisan yang baik ya tergantung topik, tehnik, gaya, bahasa, bahasan, sajian, dan seterusnya. Kalau semua itu kita pahami, bahkan jadi ahlinya, tetapi tidak menulis, sama aja boong. Menulis, mari mulai dari yang sederhana. Menulis, menulis, dan menulis.”(saya setuju dengan mas ersis)
semoga silaturahmi ini dapat berlanjut terus .
***Amin.
By aa-eman on Dec 11, 2007 | Reply
Hehe saya jadi malu hati sama bung Ersis. Makanya gak berani nonghol disini. Saya gemar menulis ngawur bermotto kokakola. Saking ngawur2 nya, sering kali selagi dialam mimpi bahkan kepingin menuliskan apa2 yang penting (terkadang saya ikatkan sebatang ballpoin dan notebook ke tangan saya. Meski saat bangun apa yang tertulis seringnya berupa grafitity yang memerlukan pendalaman psikologis). Tapi saya menulis apa sja meski terpicu oleh kesan sesaat. Selagi nongkrong di wc pun jadi. Tapi kesan2 sesaat itu klo dihimpun bisa membangun satu blog. Saya tahu tulisan saya astul alias tidak mengandung pakem apapun. Semoga aja tidak sampai menjadi contoh gak benar bagi para pembaca blog2 saya. Saya mencontoh ungkapan jurnalis kondang H. Rosihan Anwar, “Saya menulis karena saya ada.” Tadinya saya ingin tampilkan kesan2 semua indera saya apa adanya saja. Tapi takut juga klo saya dianggap vulgar dalam menulis dan tersangka tidak ikutan mendidik. Rangsangan menulis? Tentu saja perlu, seperti suasanan hati disaat tertampak satu sosok yang mempesona. Kita jadi amat hati2 takut gak ketaksir. Tapi ya gitu klo ketemu malahan kayak kesurupan jin botol. Makanya jangan heran, klo lagi in-de-mood sering tampak bengungnya.
***He he … itukan stail … ngak pa pa to, bagus ae Pak ai. Ntar ku tiru lho.
By bedh on Dec 12, 2007 | Reply
yup, motivasi memang intinya
saya sering sekali mengacuhkan kendala dalam berbahasa dan cara penulisan yang benar, bukan karena tidak mau belajar tapi lebih karena merasa apa yang pengen di tulis jadi seperti nggak nyambung dengan yang mau di bilang huhuhu mungkin karna saya baru belaja menulis. seperti bapak bilang “… Yoha, tulis, tulis, dan tulis.”
cuma memang kalau kehilangan motivasi mentok degh nggak ngerti mo nulis apa huhuhuhuhu jadi anti virusnya mentok apa pak?
***A hai ..man mungkin. Menulis itu ngak mungkin mentok, kali aja ‘bahan’ belum memadai tu … perbanyak bahan … Sampeyan dah maju karena dah menulis, tulis … tulis … dan tulis trus. Itu hal pertama dan utama. Setelah ditulis kan ketahuan tu kurang sana-sini, lengkapi. Carai dimana salahnya, dan tampabli. Saya yakin … jadi deh. Sila kirim ke email saya kalau ada persoalan yang agak sulit, atau tulis masalahny. Ntar, saya tulis artikel jawabannya.
By dariman on Mar 13, 2008 | Reply
salam kenal kang……
memang benar kang,semua penulis juga berpendapat seperti itu,aku saja baru mulai belajar nulis nih …
makasih.
***sama-sama. Mari jalin silaturrahmi.