Menulis, Jangan Belajar

5 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA: Bang saya sangat ingin menulis. Ajarin dong bagaimana supaya pintar menulis.

MENULIS, YA MENULIS SAJA. Pertanyaan dan atau permintaan ‘Bang, ajarin dong menulis’, dalam berbagai versi ungkapan, paling sering ditujukan kepada saya. Terkadang, merasa gagal ‘kampanye’, menulis tidak perlu berguru. Tidak perlu berguru? Ya, iyalah kalau ingin menulis. Kalau mau belajar menulis untuk tidak menulis, baru belajar menulis.
 
Menulis adalah pengungkapan diri, menuangkan apa yang ada di pikiran atau terpikirkan. Proses berpikir dapat didekati secara sederhana: otak kita siap beroperasi kapan saja. Ada ‘bahan’ yang siap ‘memperlicin’ proses berpikir. Otak berhenti bekerja apabila berpulang ke Rahmatullah.
 
Otak yang standby tersebut, apabila mendapat stimulus, bisa secara internal otak akan mengutak-atik bahan di otak, katakanlah entry behaviour. Bisa pula, bila ada rangsangan dari luar melalui panca indra, akan bangun dan berkerja. Dikenamakan, dikenapakan, ya terserah yang punya otak. Misal, ketika melihat BH Madona berisi buahdadanya yang montok ada sesuatu mengeliat di otak, dan secepat kilat menyebar ke berbagai bagian jiwa dan raga.
 
Kalau dalam diri bersemayam hal-hal cabul, ya responnya tentu akan berbeda dibanding yang instalannya hal-hal agamis. Reaksi munculannya, bisa Alhamdulilah bisa Au’zubillah, atau kedua-duanya. Ada yang menemukan secara tak sengaja, lalu menutup untuk selamanya. Ada yang mencari-cari, dan terlena cabulan rangsangan Madona.
 
Saya ingin mengambarkan, kesemua itu bermain pada diri masing-masing. Sejak hal paling awal, dalam aktivitas menulis, dunia di luar diri sebenarnya tidak ada apa-apanya. Hanya perangsang. Lho?
 
Yoha. Coba, yang punya diri siapa? Yang punya otak siapa? Yang punya entry behavioure? Yang berpikir? Yang mendapat respon pancaindreranya? Yang berpikir? And than … yang menuliskan apa yang dipikirkan —tentu setelah diseleksi— hayo, siapa? Pasti sesorang, Sampeyan misalnya. Nah, kalau sudah demikian, apa gunanya belajar menulis? Apa sih peran Ersis ketika Sampeyan menulis? Tidak ada.
 
Begini saja. Baiklah, saya merangsang membaca Sampeyan membaca buku Tasauf Modern karya Hamka. Pahami, internalisasi, lalu mengkomparasikan dengan berbagai hal, muncul ide, membangun konstruk tulisan, menuliskannya, jadilah tulis. Bukankah pekerjaan tersebut sangat mempribadi?
 
Atau begini. Betapa lamanya kita belajar menulis, dari SD sapai PT. Pertanyaannya, mampukah menulis sebagaimana diharapkan? Atau, perhatikan guru (dosen) bahasa atau teman-teman kita yang menggeluti ‘ilmu bahasa’, lebih piawai dan produktif apa tidak menulis? Emang Plato, Dante, Hamka, sampai Kiyosaki ahli bahasa? Tidak bukan? Lalu, apa?
 
Artinya, guru bahasa adalah pengajar, bukan yang menjadikan kita penulis. Beliau mengajarkan ‘ilmu’, kita mempaktikkan. Praktik itu terserah kita. Jadi, titik tumpu menulis, diri sendiri. Dalam menulis tidak diperlukan guru. Emang mesin cetak apa?
 
Dus, biarkanlah guru pada fungsinya, mengajarkan huruf, tata bahasa, fungsi dan tetek-bengek kebahasaan. Kesemua itu ‘modal’ menulis. Dari guru belajar aturan, dalam menulis kita mempraktikkan secara mandiri apa yang dipahami. Pada katup ini, yang diperlukan adalah motivasi, bukan guru. Motivasi dari guru mungkin lebih baik.
 
Saya juga ingin menekankan, jangan sampai terjerumus belenggu-belengu dimana segala aturan bahasa, ajaran guru, menjadi penghalang menulis. Misalnya, harus begini-bgitu, begana-beganu. Kalau mau menulis, menulis saja. Jangan prosesnya dilakukan bersamaan dengan belajar menulis atau berguru. Sering saya tulis, kalau mau belajar aturan menulis, sebelum atau setelah menulis.
 
Pada tataran radikal, saya berpikir, jangankan tamatan SD, apabila mampu berpikir, kita bisa menulis. Modalnya sederhana saja, membaca. Baca apa saja. Pengalaman menunjukkan, ketika menulis apa yang dibaca, dialami, pernah dipikirkan —puluhan tahun lalu— e … bergabung dengan tema yang sedang ditulis (tanpa dipkirkan). Believe it or not.
 
Kuncinya, disamping hal paling pokok membaca, menulis itu sendiri. Tulis saja. Pada kegiatan menulis itu kita membaca, belajar, memperbaiki. Pokoknya semuanya. Dan, itu dilakukan sendiri kan?
 
Dengan kata lain, guru menulis itu adalah menulis itu sendiri, bukan Ersis, apalagi Ersis Wrtiting Theory.  Kalau masih ragu, cobalah rutin menulis dalam seminggu satu jam. Jangan pikirkan apa yang ditulis, jangan dinilai, tulis saja. Tidak penting tema atau bidang apa, pokoknya tulis. Setelah seminggu baca. Pasti akan menelorkan penyadaran: Oh begini, oh begitu, seharusnya begini-begitu. Lalu, … tulis lagi sebagaimana dipikirkan. Pasti hasilnya lebih baik.
 
Proses tersebut lakukan lagi, dan lakukan, tulis, tulis, dan tulis. Pada saatnya, apabila konsekuen melatih diri, akan sampai pada titik: “Oh, tulisan saya saatnya memasuki wilayah publik”. Kirim ke media cetak, Insya Allah tidak ditolak redaksi. Ini baru menulis dalam tahap ‘berlatih’ sudah merasa pantas dimuat media tertentu. Ketika dikirim, dicuekin redakturnya, marah-marah. Emang redaktur tidak punya hak?
 
Maksud saya, yang menentukan baik-buruk, berkualitas-tidaknya, atau pantas tidaknya tulisan dipublis di ruang publik, pertama-tama adalah kita. Baca dong yang serius karya sendiri. Tanya pada ‘kata hati’, akan dijawab, OK atau ah … masih perlu berlatih. Kata hati tidak pernah dusta.
 
Jadi, menulis tidak perlu belajar atau diajar-ajarkan. Syaratnya, perbanyak membaca, lalu, tulis apa yang hendak ditulis. Kalau sudah lancar menulis, beralihkan ke menulis ‘berkualitas’. Sederhana kan.
 
Dengan kesimpulan lain, tidak usah belajar menulis, kecuali, menulis dengan menulis. Menulis, menulis, menulis, dan menulis lagi. Menulis itu belajar, menulis itu guru itu sendiri, tau?
 
Dan, Insya Allah, Sampeyan akan pintar menulis. Menulis dari timbunan menulis. Bukan belajar teori, teori yang tidak pernah habis-habisnya. Memangnya mau menghabiskan umur belajar menulis, belajar teori menulis? Ntar, jadi profesor yang tidak produktif menulis baru tau rasa, he … he …
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 5 Desember 2007.

  1. 8 Responses to “Menulis, Jangan Belajar”

  2. By Mega on Dec 5, 2007 | Reply

    Menulis itu memang Indah,,apalagi menulis hal hal yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari2,,sangat banyak sekali manfaatnya,,tak terasa begitu bulan berganti, setelah kita buka file diblog2..ternyata kita tanpa sadar akan senang,,karena masalah dan kejadian yg telah luput dr ingatan akan terkenang kembali,,
    jadi tak salah kalo menulis itu dilakukan sebagai hobby ya Da..?

    ***Siip pintar and hampir sampia makrifat … menulis itu adalah diri sendiri, tulisan adalah gambaran diri, diri dalam tulisan … OK, tinggal menyburkan karya aja lagi lah yaw

  3. By daeng limpo on Dec 5, 2007 | Reply

    Terima kasih atas wejangannya Bang Ersis.

    ***Ha ha, kog pakai wejangan. Menulis terus ya

  4. By Fakhriati on Dec 5, 2007 | Reply

    Makasih ya dah diajari bikin blog.

    ***Sama-sama

  5. By Faujiah Herlina on Dec 5, 2007 | Reply

    Saya sangat setuju dengan teori belajar “menulis dengan menulis”.Karena kendala kita sekarang ini untuk menulis adalah takut salah menulis. Takut salah tidak sesuai dengan kaidah menulis.

    ***Menulis, menulis, dan terus menulis

  6. By Dasmi Nil Wardah on Dec 5, 2007 | Reply

    Ternyata menulis menyenangkan juga, tapi untuk memulai terasa susah, dengan adanya pelatihan membuat blog, mudahan gairah menulis akan
    timbul dan semua guru akan berlomba-lomba untuk membuat karya tulis, sehingga sulit untuk memberi penilaian, karena semua very good

    ***Ya ya sangat menyenangkan

  7. By hanna on Dec 5, 2007 | Reply

    Menulis banyak sekali manfaatnya. Dan, kalau ditulis di sini bisa panjang, boh, he he he. Siapa pun tidak akan bisa menjadikan kita seorang penulis kalau kita sendiri tidak ada kemauan untuk berlatih.

    ***Ya ya … sangat sangat sangat buanyaaaaaaaaaaak. Latihlah diri sendiri memang. Selamat berlatih mempertajam menulis. Salam menuls.

  8. By Ram-Ram Muhammad on Dec 6, 2007 | Reply

    Assalaamu ‘alaikum Bang Ersis. Sehat dan terus berkarya ya… SAya termasuk orang yang sangat penakut ketika menulis. Maksudnya, saya termasuk jenis yang terbelenggu oleh pakem. Saya agak sulit atau suka merasa was-was ketika menulis dengan gaya penulisan bebas. Suka merasa kalau ada guru menulis saya sedang duduk di samping memperhatikan saya. Hehehe… Mungkin karena terlalu lama mondok di media, jadi selalu pakai pakem. Itu sebabnya saya bikin blog, tidak lain supaya saya punya kemerdekaan dalam menulis.


    ***WWW. Jalan Sampeyan dah betul tu. Saya juga lama jadi wartawan, bahkan sampai hari ini. Yang pasti, … ‘merasa kalau ada guru menulis duduk disamping ‘ … itu kan pikiran bohong ya Pak. Jadi, kita nulis sajalah Pak.
    Menulis yang merdeka. Tema ini ada beberapa yang saya posting Pak. Mohon komenya Pak. Saya berkunjung ke blog Sampeyan, e asyik punya tu tulisannya. Salam.

  9. By Kurt on Dec 6, 2007 | Reply

    Menulis memang pekerjaan susah ketika belum tahu pemicunya. Namun setelah otak di onkan, maka menulis itu mudah. menulis apapun. Hanya saja untuk isi dan derajat tulisan itu yang memang diakui susah oleh sebagian penulis. karena sesuai dengan input dan pengalaman dalam setiap informasi. Bang Ersis sudah banyak mengupas masalahnya. Saya bisa menulis komentar seperti ini, atas informasi dari bang Ersis. jadi tanpa membaca dkk, memang sulit sih menulis.

    ***Apakah kita perlu cari virus anti menulis he he

Post a Comment