Menulis: Teori Berak

4 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

BACA, TULIS: Tulisan saya bermuatan Teori Berak banyak direspon. Beberapa orang mengutip. www.urip.wordpress.com. pernah merilis dan dibincang puluhan blogger. Heboh. Saya senyum-senyum saja. Ramai.

E … iseng, karena banyak yang nanya, apa buku Menulis Sangat Mudah dijual di Gramedia, saya baca buku itu. Biasa-biasa saja tu. Apalagi soal Teori berak. Saya malah ngak tahu mengapa menulis sedemikian.

Syaharuddin (Mhs UGM) mencek di Gramedia Jogja. Katanya … tiga bulan yang sudah habis. Dari daerah lain juga begitu. Sama pernah minta tolong Fira di Jakarta beliin 10 biji, e … dapat empat. Kini saya sudah lupakan, mendingan menulis buku lagi. Masa lalu adalah kenangan dan pelajaran.

Yang saya ingat: Sebelum diterbitkan … malahan dicaci oleh … (). Ih … ngeri. Satu pelajaran: Jangan pernah terpengaruh komentar atau penilaian orang yang tidak menulis, menulis satu dua buku dan beberapa artikel, sudah merasa penulis paling jago sedunia. Mari baca:

Setiap orang dilahirkan dengan bekal setriliun sel neuron; seratus miliar (100.000.000.000) sel aktif dan sembilan ratus miliar (900.000.000.000) sel pendukung. Padahal, otak itu  hanya seberat 1,5 kg.
 
Kalau digunakan, setiap sel bisa berkoneksi 20.000. Hingga, setiap manusia yang lahir pada hakekatnya, born to be a genius. Sampeyan, pembaca tulisan saya, adalah orang cerdas. Jangan lagi memperbodoh diri. Tidak ada manusia dilahirkan bodoh, yang ada, orang yang membodohi diri, memperbodohi diri dan … mau diperbodohi.
 
Saudara ‘sepupu’ Sampeyan yang paling dekat, monyet, hanyalah dibekali 10 juta sel otak. Tikus 5 juta, lalat hanya 100 ribu dan lebah 7 ribu saja. Menghadapi lebah yang secara potensi bodoh saja terkadang kita tidak mampu. Kenapa? Karena kita tidak mengembangkan potensi.

Merenunglah, sadarlah, betapa selama ini ‘membodohi’ diri. Mana pula, belajar dari mereka yang tidak memintarkan, tidak membantu mengembangkan potensi (mudah-mudahan tidak, bo). Saya tunjukkan ‘metode’ memperbodoh yang tidak disadari selama ini. 
 
Sampeyan sekolah, belajar untuk mengembangkan potensi. Agar mempunyai kompetensi. Sangat berkaitan erat dengan pikiran, otak, kemampuan, dan keterampilan. Masalahnya, akan ‘mempekerjakan’ otak, apakah sudah paham apa itu otak? Bagaimana sistem kerjanya, sistem stimulasi, cara menggunakan, memanfaatkan, dan seterusnya. Kalau belum itulah keteledoran mendasar.
 
Bagaimana mungkin mendayagunakan sesuatu (otak) kalau tidak paham sesuatu itu. Keblinger namanya. Bertobatlah dengan mempelajarinya mulai sekarang. Banyak buku-buku tentang otak hingga otak tidak terjerembab menjadi sleeping giant, raksasa tidur di tubuh kita.

Sebagai berian Allah SWT, pada dasarnya otak sudah diinstal sejak dari sononya. Misalnya, kita punya rasa kasih sayang, belas asih, cerdas, kreatif, dan seterusnya. Dalam bahasa agamanya, dibekali Asmaul Husna. Sifat-sifat keilahian. Tidak peduli penganut Islam atau Kristen, Budha atau Shinto, bahkan atheis sekali pun. Semua diberi merata.
 
Untuk mengembangkan potensi tersebut, perlu diinstal dengan berbagai software. Terserah manusia. Allah tidak mengurus tataran ini. Cara paling mudah dengan belajar. Tepatnya, membaca, membaca, dan membaca.
 
Kira-kira, itulah sebabnya Allah tidak memerintahkan manusia (yang beriman) untuk sholat terlebih dahulu. Tetapi, ya tetapi, iqra’, iqra’, iqra’. Bagaimana mungkin sholat kalau tidak bisa membaca.
 
Kalau perintah Allah pada ayat pertama dipraktekkan, Insya Allah akan mudah memahami apa-apa yang ‘ada’ pada diri manusia dan apa-apa yang di luar dirinya, berkomunikasi sesama makhluk dan alam semesta, apalagi dengan Sang Khalik. Begitu logikanya.

Kewajiban membaca bisa dielaborasi dalam pengertian belajar, menuntut ilmu (tapi hati-hati, apa sih salah ilmu kog sampai dituntut?). Sudahkah hal tersebut menjadi prioritas, menjadi kebiasaan.
 
Agar jangan terjadi salah pemahaman, membaca itu bukan terpatok pada membaca buku saja. Membaca alam dengan segala isinya adalah membaca dalam pengertian sesungguhnya sebab disitu tersimpan tanda-tanda kebesaran Allah, ilmu Allah. Setelah membaca kita menulis.

Teori Berak
Menulis itu kan ‘menuangkan’ pikiran, melahirkan apa-apa yang ada di pikiran, apa yang dipikir. Kalau banyak membaca akan banyak hal bisa diolah,  otak itu ibarat komputer. Apabila ada input akan terjadi process melahirkan output. Bacaan itu agar otak bisa bekerja dan hasilnya lebih bagus. Tidak lucu kalau otak disuruh bekerja sementara raw materials cekak. Bisa-bisa haus itu sel-sel syaraf. Bisa gila, bo.
 
Atau mau contoh yang sedikit jorok. Kalau kita banyak makan akan menumpuk di lambung. Mesin lambung akan menggilingnya, mana yang baik dijadikan ‘makanan’ tubuh, ampasnya akan menjadi tahi. Dari masukan makanan itu akan terpenuhi kebutuhan tubuh, kita akan sehat. Kalau berlebihan tentu saja sakit. Banyak makan akan banyak berak he … he … Kira-kira begitu contoh gampangnya.
 
Kalau tidak makan, apa yang mau dikeluarkan dubur? Paling-paling kentut. Kalau lambung tidak ada isinya, akan terjadi gesekan yang berakibat penyakit maag. Begitu kata dokter. Begitu juga menulis. Kalau sampeyan merenung terus-menerus, berpikir, tapi bahannya tidak diraup dengan membaca, bisa gila lho, sebab otak bisa rusak. Pendek kisah, harus banyak membaca.
 
Jadi, kalau bermaksud menjadi penulis, ya banyak membaca. Harus banyak masukan ke otak. Kalau punya entry behavioure yang cukup pastilah menulis jadi mudah. Ya itu, kalau banyak makan, tidak berak-berak, perut bisa meledak. Pasti ada kelainan. Sampeyan tidak mau kan punya kelainan?  Ingat, menulis itu adalah mengeluarkan apa yang ada di otak, yang diolah otak. Punya teman yang suka ngomong sepanjang hari? Dia itu orang cerdas yang tidak paham arti kecerdasan. Kalau dia mau belajar menulis, pasti menjadi penulis hebat. Sebab, cara kerja otaknya cepat.
 
Tapi, sekali lagi ingat, agama kita tidak menganjurkan orang suka omong banyak. Omongan itu tidak bisa dipegang, begitu keluar, ditelan ruang. Kalau menulis, bisa dilihat betul-salahnya. Mereka yang punya pengetahuan luas, banyak ilmu, tidak mau menulis, jangan-jangan takut kalau menulis bisa terlihat seketika, dia pintar atau tidak. Menulis itu tidak main-main, lho. Contoh, suatu kali sebuah surat kabar nasional menulis tentang Nabi Muhammad SAW. Tidak ada niat menghina Rasulullah. Tapi, apa lacur, redaktur kurang hati-hati. Nabi yang seharusnya ditulis dengan n tertulis b, jadi babi. Datang protes dari mana-mana, didemo kalangan Islam.
 
Dengan kata lain, kalau pun bahan-bahan untuk ditulis sudah menumpuk di otak, harus pula hati-hati menuliskannya. Kalau tidak, salah menulis satu huruf saja, fatal akibatnya. Itu soal huruf, apalagi soal rangkaian tulisan.

Memotivasi 
Rangkaian tulisan ini memang sarat dendang menyamankan, memandang enteng menulis, atau sedikit maulu-ulu, memang sengaja disajikan sedemikian agar dalam membacanya otak Sampeyan sedikit diaduk-aduk. Kalau yang datar-datar, yang sarat teori, ya beli saja buku teori menulis yang banyak beredar.
 
Tapi, kalau ingin belajar menulis dengan enteng, mudah dan tidak membeban, ambillah manfaat positif rangkaian tulisan saya yang lebih ke arah memberi motivasi dibanding menggurui. Syaratnya pun sederhana, menulis adalah urusan pribadi. Kalau mau menulis, tulis saja, pasti jadi tulisan. Begitu mudahnya. Semoga.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 4 Desember 2007

  1. 9 Responses to “Menulis: Teori Berak”

  2. By hanna on Dec 4, 2007 | Reply

    Bapak ini mang hebat. Buku MSM nya memang sangat menarik dan susah di dapat di Jakarta karena kehabisan stok.

    ***Ah pasti muji trus nich kawan

  3. By puputs on Dec 4, 2007 | Reply

    Saya setuju pak, kita memang harus banyak baca, untuk bisa menulis, karena kita tahu dari mana, apa yang kita tulis, kalo tidak dari membaca buku atau membaca alam sekitar kita,

    tapi pak, untuk masalah software buat otak kita, yang sudah disediakan oleh ALLAH SWT, banyak software2 ilegal yang kurang bener terinstal ke otak kita pak, minta saran dong pak, gimana menyaring software yang baik buat otak kita, memang kita punya kemampuan sendiri untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kadang yang menurut saya baik malah berkakibat buruk, eh..hmmm kalo udah gini softwarenya yang salah atau usernya yang gk bisa pake software yah.. :D

    Salam

    ***Ya ya ntar saya tulis dalam bentuk artikel, tolong diingatkan mingu depa ya

  4. By daeng limpo on Dec 4, 2007 | Reply

    Bang Ersis, saya salut dengan anda mohon dong dibagi ilmunya. Kalau bisa tolong dong kirimi aku bukunya satu Tips menulis itu mudah. Kok nggak jual e-book online saja bang?. Salam.

    ***Ya ini saya lagi minta dari daerah lain (TB Gramedia), untuk sementara bisa diunduh to dari http://www.webersis.com kan sudah ditayangkan sejak sebelum diterbitkan. Lihat di kategori Menulis Sangat Mudah.

  5. By Mega on Dec 4, 2007 | Reply

    mana nih buku ntuk awak..kok blon sampe2 ke jepang yak..
    yang bekas juga gpp deh..asal ada buku ntuk dibaca..he he he

    ***Ya ya … saya lagi minta teman ceariin bukunya … katanya ada tu lima biji lagi. Di penerbit juga habis tu.

  6. By Syam al Ideris on Dec 4, 2007 | Reply

    Pak EWA, kayanya virus menulis perlu ditularkan kepada anak-anak kita sejak masih SD.
    Di tempat saya mengajar, nih Pak! Anak-anak paling susah kalau di suruh menulis. Padahal sudah diberikan kebebasan menulis tentang apa saja, tetapi hasilnya tetap saja nol.
    Bayangkan pak, dari anak yang paling pintar sampai anak yang paling “belum pintar” tidak ada yang dapat menuliskan sehurufpun di lembar yang telah di sediakan.
    Apa karena ini daerah terpencil ya, Pak?
    Ada nggak kiat praktis agar anak gemar dan pandai menulis?

    ***Sangat setuju. Gamoang, minta anak-anak menulis apa yang dialaminya. Misal, bagaimana dia ‘memandang’ bapaknya, temannya, gurunya, bagaimana opersaannya ketika diberi eskrim dan seterusnya. Mudah saja itu.

  7. By Mega on Dec 5, 2007 | Reply

    Boleh saya kasih saran ntuk coment bapak Syamal al Ideris..?

    Jadi teringat saya sistem pengajaran di Jepang..guru2 SD setiap hari kasih PR yang habis dipelajari hari itu,setiap terakhir PR itu,disuruh menulis apa yang dilakukan anak2 pada hari itu..walaupun hal yang kecil..dan walaupun satu kalimat..

    misalkan,,sesampai dirumah,sepulang sekolah ibu membelikan ice cream, enak sekali rasanya..

    atau sepulang sekolah diajak ibu pergi kerumah tante di seberang jalan..
    atau..dirumah sehabis bikin PR bermain dengan adek..

    atau.. sore hari menonton film kartun …

    dan yang lainnya,,
    dari situ anak2 akan terlatih belajar menulis nantinya..

    Semoga bermanfaat..salam

    ***Yoi … makasih … nah tinggal praktik

  8. By Yari NK on Dec 6, 2007 | Reply

    Wakakakakakakak…. saya baru sadar ternyata berak dan kentut bisa juga menginspirasi untuk menulis.Kalau menciptakan peribahasa atau pepatah itu juga termasuk ‘menulis’ ngga ya? Pepatahnya pendek2 saja…. nah itu termasuk menulis ngga ya?
    Tapi menurut saya memang benar setiap orang pasti ada potensi untuk menulis hanya bagaimana kita mengembangkan dan mengeluarkannya. Minimal pada saat kita dulu (atau kalau selingkuh hehehe….) pernah jatuh cinta, pasti kita pernah menulis surat cinta (kalau sekarang kali e-mail atau SMS cinta) yang walaupun isinya gombal habis tapi toh kita menulisnya dengan serius dan penuh perasaan. Huehehehe…. bukankah begitu Pak Ersis?? :D

    ***Kawakawa … Ya ya. Dari kosong menjadi berisi, dari yang sederhana menjadi berbovot … berkat menulis. Sutardji bikin puisi terkenal hanya satu huruf O. Sitor Sotomoran bikin puisi menyentak: Bulan di atas kuburan. Mudah dan bermakna. Salam menulis.

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Dec 6, 2007 | Reply

    Iya, memang betul itu..
    Saya sudah membuktikannya, membuktikan apa? “Teori Berak”, Sang Motivator.
    Coba aja!!!

    ***Ha ha itu tulisan candais … Tapi, emang betul kali ya.

  10. By aghni on Apr 1, 2008 | Reply

    saya ingin seklai menjadi penulis, sekarang sedang belajar pelan-pelan, kalau boleh saya minta saran, terima kasih.

Post a Comment