Menulis Memotivasi Menulis

1 December 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis warmansyah Abbas

TANYA: Saya penulis dari komunitas pesantren yang sedang memotivasi kalangan santri menulis, tapi banyak kendala. Misalnya, fasilitas kurang mendukung. Dan, … susah mengandeng teman seide. Saya tidak mau program ini mandek. Bang, ada masukan ngak?

MEMOTIVASI. Jujur saja, saya terkesan dengan kawan yang satu ini. Berkemauan memotivasi lingkungan. Angan berkelana, kalau para penulis, orang-orang yang diberkati kemampuan menulis, apalagi guru-guru bahasa, punya kemauan baik seperti itu, tidak diragukan lagi, hasilnya akan sangat luar biasa. Menulis menjadi gerakan. 
 
Dalam skala kecil-kecilan, maaf, saya sungguh merasa nyaman manakala memotivasi menulis. Padahal, bukanlah penulis hebat-hebat amat. Tapi, tak mengapalah. Memotivasi sesama untuk menulis kan tidak melanggar etika, apalagi peraturan perundang-undangan. Banyak cemoohan dihujam, namun tetap bersikukuh.
 
Sejak membaca karya-karya Muhammad Arsyad Al-Banjary, penulis (keagamaan) dari Kalimantan Selatan (dulu terirorial kerajaan Banjar) mendapat pencerahan. Kelana pikir berbuah kekaguman. Betapa tidak. Pada Abad ke XVIII Al-Banjary menulis puluhan buku yang dijadikan rujukan ‘sekolah-sekolah’ mancanegara. Ada cambuk diri menghajar: Kamu yang hidup di era serba mudah ini kog malas menulis?
 
Tentu, pada abad itu, mesin tik saja belum ada. Apalagi, komputer. Berapa biji sih buku yang dapat dijadikan referensi zama ‘baheula’ tersebut? Jangan bicara surat kabar, majalah, jurnal, apatah lagi internet sampai e-book. Sungguh sangat susah.
 
Kalau sempat ke Banjarbaru, datangi museum Lambung Mangkurat, disitu ada informasi karya Al-Banjary. Ada Al-Quran tulisan tangannya dalam ukuran koran yang ditulis dengan sangat indah. Sungguh mengagumkan. Menulis dengan jari-jari tangan dengan hasil nyaris sempurna.
 
Dengan kata lain, kita tidak punya alasan untuk tidak menulis. Sarana dan prasarana zaman kita sudah jauh dari cukup, kalaulah tidak dapat dikatakan berkelebihan. Lagi pula, seharusnya memang ada sebagian orang yang ‘bertugas’ menulis. Minimal berlatih menulis dengan harapan, mana tahu nanti menjadi penulis sesunguhnya.
 
Hal kedua, menulis adalah kepanjangan alias lanjutan dari tindak membaca. Membaca adalah kewajiban sebagaimana diamarkan pada ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah. Kita tidak bisa bayangkan kalau Al-Quran atau hadis Rasulullah tidak ada yang menulis. Bagaimana kita bisa membaca dan memahaminya.
 
Pada contoh penulisan Al-Quran dan Hadis sudah terdapat tanda-tanda, bahwa menulis dapat dilakukan pakai sarana yang ada di lingkungan. Bukan tidak terhormat firman Allah ditulis pada batu, pelepah korma, kulit binatang, atau apa saja. Ada siratan, risalah lebih penting dari alat, sarana dan prasarana.
 
Tepatnya, saya ingin menekankan, kekurangan sarana dan prasarana jangan sampai dijadikan alasan untuk tidak menulis. Lajuannya, gunakan apa yang ada di lingkungan demi memotivasi menulis. Misalnya, kalau kesulitan komputer, pakai mesin tik, kalau mesin tik tidak ada, menulislah dengan tangan.
 
Orang sering nengeluh atau beralasan lingkungan sangat berpengaruhi. Secara teoritik iya sih. Tidak usah kita perdebatakan. Tetapi, ada muatan alasan bila tidak tepat memaknainya. Maksudnya?
 
Fakta berbicara lain. Al-Banjary menulis di era serba kekurangan. Thomas Alfa Edison, pencipta ribuan penemuan yang kemudian ditulis, atau katakanlah Ibnu Khaldum, justru ‘lahir’ sebagai penulis di lingkungan yang tidak mendukung. Sejalan dengan itu, ada fakta, mereka-mereka yang dilimpahi sarana dan prasarana lebih dari cukup, tidak berkembang sebagai penulis.
 
Coba hitung berapa karya dosen dan guru yang kerja profesionalanya bermandikan ilmu. Dari 3 (tiga) juta pendidik tersebut, berapa orang yang piawai menulis? Atau, orang-orang kaya atau yang di kantornya tersedia sarana dan prasarana menulis lebih dari cukup, tidak mekar bak bunga kecakapan menulis. Kalau soal bicara atau beralasan, pada strata manapun masarakat kita, kalau tidak salah, paling jago. Artinya, ada hal lain yang lebih penting. Apa itu? Kemauan.
 
Kemauan untuk menulis lebih penting. Kalau kemauan sudah ada, tinggal melatih dan membiasakan. Kita tidak memerlukan ‘teman’ dalam menulis, begitu juga memotivasi menulis, a lone of wolf, juga ngak apa-apa. Kalau ada, apalagi banyak, tentu lebih baik.
 
Hal tersebut akan memperkokoh kemauan untuk menulis dan memotivasi menulis. Saya bisa menulis ratusan alasan betapa pentingnya menulis dan memotivasi menulis, atau hal-hal positifnya sehingga jangan sampai mandek. Masalahnya adalah, pikiran itu lebih cenderung teoritik, ideal, dan atau muluk-muluk. Karena itu lebih baik pratik.
 
Kepada penanya, dan pembaca sekalian, mari tinggalkan teori-teori atau bahasan tentang menulis (memotivasi) menulis. Lakukan saja. Apalagi sebagai motivator terkadang kita tidak perlu meyakinkan dengan aneka teori atau bicara berapi-api, hasil karya lebih bagus sebagai duta atau juru bicara menulis. Orang akan membaca dan melakukan internalisasi. Bukankah contoh nyata lebih afdol?
 
Pengalaman saya sebagai motivator, tanpa bertatap muka, banyak yang termotivasi. Bahkan, ada tulisan mereka yang berkualitas. Sebagai motivator sungguh bangga dan bahagia. Murid yang cerdas harus lebih pintar dari gurunya. Apalagi, hanya motivator.
 
Lagi pula, pada praktiknya saya lebih banyak belajar dari sharing menulis dibanding yang didapat per orangan. Nyatanya, dengan berbagi pengalaman menulis mendapat masukan dan pelajarn berharga. Keberlanjutan menulis lebih terpelihara. Dus, kata-kata mandek —sejauh ini— susah hinggap.
 
Akhirnya, kemadegan atau kegagalan suatu program lebih ditentukan oleh pelaksana program itu sendiri dibanding hal lainnya. Menulis, seperi juga memotivasi menulis, pada hakikatnya mempunyai wilayah kemandegan yang sangat kecil. Ngapain dilayani kalau tidak diinginkan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 1 Desember 2007.

  1. 10 Responses to “Menulis Memotivasi Menulis”

  2. By hanna on Dec 1, 2007 | Reply

    Yupe, setuju, Pak. Bukan hanya dalam hal menulis saja, dalam hal apapun kalau tidak ada kemauan akan payah. Boro-boro mau hasilnya, yang ada mandeg.

    Okey deng.

    Salam.

    ***Sebaiknya begitu, menulis bagian kecil dari kehidupan. Si Neng ini makin OK punya aja nich

  3. By Ahmad nur Irsan Finazli on Dec 2, 2007 | Reply

    Iya, sih. mari belajar menulis, dengan menulis saja.

    ***Yap, menulis mari menulis. Ada buku baru lho.

  4. By WURYANANO on Dec 2, 2007 | Reply

    Menulis itu sebuah panggilan…itu sebuah panggilan menulis…panggilan itu menulis sebuah…itu sebuah menulis panggilan…menulis itu panggilan sebuah… itu panggilan sebuah menulis…panggilan sebuah itu menulis…

    Hehehe…
    Salam Penulis,
    Wuryanano

    ***Salam menulis

  5. By baladika on Dec 3, 2007 | Reply

    saya jarang menulis sekarang. seringnya di depan komputer jadi aktifitas menulis berubah menjadi mengetik keyboard :D.
    keren bos blognya

    ***Ha ha … ada-ada azza … sekarang mari kita menulis … tapi, yang dengan mengetik keyboard he he

  6. By Kurt on Dec 3, 2007 | Reply

    Kang Santri yang bertanya benar tuh kata bang Ersis, saya setelah ketularan virus ADIS Menulis dari bang EWA, langsung terkontaminasi.. apa aja pengen ditulis… jadilah saya ini sebagai pengidap dan ketagihan menulis… *halah* meskipun tulisanku ecek-ecek, yang penting bisa menulis saja senengnya luar biasa… *makasih banyak bang Ersis, emoga Allah memberikan manfaat sisa-sisa umuru*

    Masalah sarana, saya kira benar apa saja bisa dijadikan… yang penting kemauan sebab Tuhan akan memfasilitasi kemauan hambanNya yang mau maju…
    jangankan yangmau maju yang mau merusak saja terfasiltiasi seperti AIDS itu sendiri… :)

  7. By Kurt on Dec 3, 2007 | Reply

    Maaf bang, tag strikenya belum ditutup jadinya dicoret semua… nih yang benar…

    Kang Santri yang bertanya benar tuh kata bang Ersis, saya setelah ketularan virus ADIS Menulis dari bang EWA, langsung terkontaminasi.. apa aja pengen ditulis… jadilah saya ini sebagai pengidap dan ketagihan menulis… *halah* meskipun tulisanku ecek-ecek, yang penting bisa menulis saja senengnya luar biasa… *makasih banyak bang Ersis, emoga Allah memberikan manfaat sisa-sisa umuru*

    Masalah sarana, saya kira benar apa saja bisa dijadikan… yang penting kemauan sebab Tuhan akan memfasilitasi kemauan hambanNya yang mau maju…
    jangankan yangmau maju yang mau merusak saja terfasiltiasi seperti AIDS itu sendiri… :)

  8. By Kurt on Dec 3, 2007 | Reply

    salah lagi deh.. buru-buru…

    Maaf bang, tag strikenya belum ditutup jadinya dicoret semua… nih yang benar…

    Kang Santri yang bertanya benar tuh kata bang Ersis, saya setelah ketularan <strike> virus ADIS </strike>eh virus Menulis dari bang EWA, langsung terkontaminasi.. apa aja pengen ditulis… jadilah saya ini sebagai pengidap dan ketagihan menulis… *halah* meskipun tulisanku ecek-ecek, yang penting bisa menulis saja senengnya luar biasa… *makasih banyak bang Ersis, emoga Allah memberikan manfaat sisa-sisa umuru*

    Masalah sarana, saya kira benar apa saja bisa dijadikan… yang penting kemauan sebab Tuhan akan memfasilitasi kemauan hambanNya yang mau maju…
    jangankan yangmau maju yang mau merusak saja terfasiltiasi seperti AIDS itu sendiri… :)

    ***Yop itu teman kita dari Aceh … Kami dari RBP selepas tsunami membantu membangun pesantern … kalau sempat ke Aceh ntar saya cari deh kawan kita yang satu ini. Ya ya … Allah SWT akan memfasilitasi … saya yakin itu.

  9. By meiy on Dec 3, 2007 | Reply

    ah bapak ini bukan hanya motivator, tapi juga inspirator :)

    ***Pie to, iso ae. Kasado kito motivator jo insiparotr to.

  10. By Yari NK on Dec 4, 2007 | Reply

    Wah kalau menurut saya sih Pak Ersis ini bukan saja motivator tapi juga provokator wakakakakak….. becanda deh! Tapi benar sih, provokator untuk menulis! Ya, itu positif kan?? Asal jangan memprovokasi orang untuk menulis sesuatu yang ‘heboh’ saja ya…. nanti malah jadi provokator beneran! HUehehehe…..

    O iya, serius nih, saya mau tanya, kalau Pak Ersis memotivasi orang untuk menulis, Pak Ersis memotivasi apanya? Semangatnya? Atau apakah pak Ersis memotivasi untuk menulis lebih baik dengan teknik yang lebih baik? Dan juga apakah menurut Pak Ersis segala topik tulisan dapat menjadi sebuah tulisan yang baik? Maksud saya apakah tulisan yang baik tergantung dari topiknya, tekniknya atau apanya? Wah…. pertanyaannya banyak nih! Sorry ya! Huehehehe…. :D

    ***Nanti saya tulis artikelnya. Saya lagi nyiapkan Grand Design Pendidikan untuk satu keperluan. Makasih provokasinya wakakakak

  11. By shandy on Dec 20, 2007 | Reply

    saya sangat mendukung sekali program umat islam dalam menulis al-qur’an sejak dini, karena pelestarian al-qur’an bukan tugas alim ulama atau orang ahli agama tetapi tugas setiap insan manusia yang mengakui agama islam sebagai agamanya. Tetapi tambahan dari saya adalah selain membaca dan menulis perlu di titik beratkan pada mengartikan atau memahami ayat baik secara kata atau lafadz atau ayat keseluruhan sehingga menanggulangi masalah al-qur’an yang selama ini masih sebagai mantra atau nyanyian saja dengan mengerti dan memahami maka mengembalikan fungsinya sebagai tuntunan hidup bukan mantra hidup.

    ***Ya ya. Amin. Saya setuju kalimat terakhir. Saya baru belajar euy … doain dapat dipraktikkan.

Post a Comment