Indonesia Sarang Narkoba?
25 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Indonesi negara yang banyak lucunya dalam menangani berbagai kasus. Tetapi, kalau tidak serius menangani narkoba, nasib generasi bangsa ke depan tarohannya.
ROY MARTEN: Artis senior Roy Marten, ditangkap untuk kedua kali di Surabaya. Kasusnya sama, penyalahgunaan narkoba. Roy ditangkap setelah kampanye anti narkoba bersama jajaran Badan Anti Narkoba Nasional dan kepolisian RI. Roy ditangkap bersama dua temannya, sesama mantan narapidana penghuni LP Cipinang, dan seorang wanita.
Penangkapan Roy semakin menampakkan, Indonesia seolah-olah syurga narkoba. Konon, sampai-sampai, jaringan sindikat narkoba internasional berupaya menjadikan Indonesia sebagai fabrik dan pusat edar barang haram tersebut.
Masuk akal juga tapak pikir para mafia narkoba. Sebab, Indonesia termasuk ramah bagi pesandung kasus narkoba. Kalau di banyak negara —Singapura misalnya— apabila tertangkap berulah dengan dadah, pasti ‘diamankan’ di penjara untuk terus memakai tiket jalan lurus ke kematian, digantung atau ditembak. Di Indonesia?
Ya, itu tadi. Penjara, diakui secara jantan atau tidak, (adakalanya) berubah fungsi sebagai ‘toko’ narkoba. Dulu, di penjara Madaeng, Surabaya, malahan menjadi arena memproses barang penghasil duit tersebut. Di penjara, di lembaga pemasyarakatan, milik pemerintah? Ya, iya, emang di mana lagi. Memang ada penjara swasta? Ini Inodonesia Bung.
Jangan bertanya: Kenapa bisa terjadi? Bukankah petugas LP, dari terendah sampai tertinggi, digaji pemerintah dari uang rakyat, untuk ‘memasyarakatkan’ warga negara yang terlanjur berbelok jalan? Bukankah LP dimaksudkan sebagai lembaga untuk memanusiakan manusia? Yes. Begitu teorinya. Kenyataannya?
Itulah yang memprihatinkan. Penjara saja dijadikan basik aktivitas narkoba, apa kelucuannya tidak melewati batas? Lebih tidak masuk akal, hal tersebut terus berlangsung.
Paling-paling, yang bersalah dijatuhkan sangsi, petingginya dicopot dan dipindahkan, dan … kegiatan berlangsung sebagaimana sediakala. Tidak ada perubahan sistem. Tidak ada pembangunan sistem yang kuat. Kalau sistem kuat dan ‘dikendalikan’ oleh mereka berkomitmen, taat hukum, apalagi seorang beragama, kontroversi tidak akan terjadi.
Sungguh tidak bisa dibayangkan, bagaimana narkoba bisa masuk melalui dinding LP yang begitu kokoh, diperiksa secara ketat oleh petugas, dan … lolos? Tarohlah awalnya keteledoran, tetapi, lama kelamaan mayak sih petugas tidak tahu juga? Ada yang bilang, katakanlah Anton Medan, mantan narapidana yang pernah mendiami puluhan LP, bahwa di LP justru bernarkobaria paling aman.
Saya jadi ngeri membaca ‘kenyaaatn’ tersebut. Apalagi menurut hasil suatu penelitian, remaja pencandu narkoba merasa paling aman menikmati benda pendorong khalayan tersebut di rumah. Wah wah … jangan sampai, di rumah tempat bersemainya penikmatan, dan kalau ditangkap, di LP kebiasan lebih terlayani. Akan semakin rusak, kalau sekolah yang semestinya menjadi benteng bagi say no to drugs, justru menjadi tempat paling aman.
Karena itu, sekolah-sekolah nampaknya harus lebih waspada. Kita tidak bisa berharap banyak pada pemerintah karena buktinya justru di tempat sanksi diterapkan disitulah kegiatan bersemai. Mengikuti irama era informasi, para bandar mengendalikan bisnis perusak masa depan bangsa cukup dengan memanfaatkan HP, di LP.
Apa pun yang terjadi, Roy, Polo, Fariz, Doyok, dan seterusnya, jangan-jangan korban. Artinya, sebagai pelaku, mereka adalah ‘korban’ dari jaringan rapih yang begitu kuat. Apalagi, kalau mereka memang menikmati. Itu kolaborasi yang sempurna.
Lagi pula, kita jangan selalu menyanyikan lagu pesimis. Polisi RI kini —ada buktinya— berupaya agak serius menggulung sindikat narkoba. Penggerebekan ‘fabrik’ ekstasi di Batam dan Surabaya menjadi bukti, betapa polisi betul-betul nyata memerangi narkoba menyusul sukses sebelumnya di Tangerang. Mana pula, rajin membasmi ladang ganja di Aceh.
Tetapi, apakah langkah tersebut akan dijaga kontiniutasnya? Ini persoalan lain yang tidak kalah serunya. Kalau polisi Indonesia mau serius, bukan lucu-lucuan, jangan beri ruang untuk perkembangan narkoba. Dalam kaca mata awam, tidak susah mendeteksinya.
Ambil misal ekstasi. Pergi saja ke diskotik, jelas kog sejelasnya siapa yang memakai ekstasi atau tidak. Masyak sih membedakan pemakai dengan tidak pemakai tidak mampu? Tidak mungkinlah. Apalagi, polisi yang bertugas khusus di seksi narkoba. Jangankan hal-hal transparan tersebut, mengungkap pelaku teror saja polisi kita sanggup dan sukses.
Nampaknya, kalau penangagan narkoba betul-betul diseriusi, kerjasama lintas instasi sangat diperlukan. Hukuman atas ‘produsen’ dan ‘bandar’ perlu ditingkatkan, kalau perlu hukuman mati. Kalau pelaku narkoba tertangkap, beberapa bulan bebas, di penjara seperti di ‘syurga’ pula, popularitas menjadi menanjak gara-gara ditangkap, ya susahlah.
Hukuman, disamping berupa sanksi, juga adalah pemberi efek jera, pelajaran bukan saja bagi pelaku, tetapi bagi yang lain. Namun, kalau pelaku justru semakin enjoy ketika dan sesudah tertangkap, siapa takut ditangkap?
Lagi pula, faktor apa yang menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan Indonesia ladang operasionalnya? Yang pasti, jawabannya bukan karena penegak hukum Indonesia galak-galak. Bukan karena Indonesia negara hukum. Kalau, resiko beroperasi sangat enteng, entahlah.
Indonesia memang negara yang banyak lucunya dalam menangani berbagai kasus. Tetapi, kalau tidak serius menanggani narkoba … coba saja … nasib bangsa ke depan tarohannya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 November 2007.










14 Responses to “Indonesia Sarang Narkoba?”
By mathematicse on Nov 25, 2007 | Reply
Saya kalau melihat berbagai kasus beginian, narkoba, kriminal, dsb, seperti nonton film-film India. Lucu, mengemaskan, namun sangat mengenaskan. Antara pelaku, pengedar, koran, aparat, sama-sama tahu. Ya, seperti di film-filim India itu (apa sekarang masih diputar engga ya film-film India itu)
***Kolabiorasi yang sempurnakan? Ada tu di TV-TV nasional. Aku kagum lho dengan mental, cara kerja, dan dedikasi mereka melestarikan kebobrokan. E … maksusdkan usaha memberantas kebobrokan sehingga Indonesia jadi baik
By mathematicse on Nov 25, 2007 | Reply
Lho, kok aneh, saya menulis kata “koran” lucu ya… hahaha.. refleks menulis (ga mikir kali nih… ). Maaf, Pak!.
***Justru yang aneh ketika merasa aneh he he
By Kurt on Nov 25, 2007 | Reply
Duuh iyaa ya miris sekali kita dibuatnya. Tapi entah sejak zaman azali apa semenjak zaman Pak ‘Jazuli’ yang namanya Narkoba itu bisnis yang dibenci dicaci hatta kaum banci. Tapi anehnya, dianggap barang ’suci’ sampai diumpetin di dalam laci.
Ah, NARKOBA, NARoka kok dicOBA-cOBA…
***Ya ya ya
By Kurt on Nov 25, 2007 | Reply
@mathematicse
hebbat yaa bisa automotive eh autowrite…
***Autowrite because what not what what aya-aya wae
By Ani on Nov 26, 2007 | Reply
Sampai-sampai koran beberapa hari isinya penangkapan bandar narkoba & shabu2 melulu ya.
Gimana mau tuntas, lha banyak penjahat narkoba yang kong kalikong sama oknum petugas.
***Penjahat dan penjabat, beda huruf h dan b aja kali, kira-kira bersaudaru he he
By Yari NK on Nov 26, 2007 | Reply
Begitulah…. walaupun bagaimanapun juga drug trafficking pasti akan terus ada di negeri ini, seperti halnya terjadi di negara2 lain termasuk negara2 maju. Memang sangat sulit dan kompleks (baca: hampir mustahil) utk memberantas tuntas perdagangan narkoba ini, yg bisa kita lakukan hanyalah meminimalisasi dan memperkuat benteng pertahanan pada diri kita dan pada orang2 terdekat kita yg kita cintai.
Omong2, apakah kita dapat ‘berperang’ dengan narkoba lewat sebuah blog? Dan bagaimana caranya agar ‘perang’ tersebut menjadi lebih efektif???
***Memberantas … narkoba bisa kita lakukan dengan meminimalisasi dan memperkuat benteng pertahanan pada diri kita, dan pada orang2 terdekat kita yg kita cintai … kalimat bagus dan mendalam.
Ya bisa dong Pak, dalam kapasitas ‘kampanye’, murah meriah lagi. Menurut saya lebih efektif dari baliho … dan dengan ‘berenang’ kita kemana-mana masuk jiwa banyak orang, dari 1000 masyak 100 ngak masuk. Cara lebih efektif? Suntik keberanian aparat. Menyuntikannya itu saya yang ngak berani … he he
By prayogo on Nov 26, 2007 | Reply
Sebenernya buat saya tidak ada kata ampun untuk pemakai dan pengedar, lebih2 pengedar. hukuman seumur hidup atau tembak mati mungkin saya rasa akan memberikan efek jera yang sangat ampuh.
Maaf kalau terlalu kasar….
***Ngak juga, di Sinagpura dan Malaysia sudah dilaksanakan … duh pada ngeri kalai main narkoba di sana. Di Indonesia, santai saja, hukumannya ringan.
By hanna on Nov 26, 2007 | Reply
Topik yang menarik, Pak. Sejauh ini belum ada penanggulangan yang baik. Intinya mungkin yach… masih bisa diselesaikan dengan uang. Moga ke depannya Indonesia bisa lebih baik, lebih maju, lebih serius dengan hukum KUHPnya, he he he.
***KUHP asal jangan … kasih uang habis perkara, ya to
By unai on Nov 27, 2007 | Reply
APa yang tak bisa di negeri yang rusak ini Pak? uang berkuasa..apa lagi? makanya mereka yang di LP itu tak sakau berada di sana. Lah di sana itu sarangnya sabu-sabu dan teman2nya.
***Ya itulah … bangsa kita ini pantas didenda Allah, tapi jangan kita2lah, yang salah ajalah …eit kayaknya ngak pernah salah he he
By Mega on Nov 27, 2007 | Reply
Uhss..sebel banget kalo ingat2 peraturan2 dinegara sendiri..waktu itu pernah lagi makan siang..nonton TV..masa lagi memberitakan ada pabrik ganja/sabu-sabu di indonesia..?.kaga bisa ngomong lagi dah..:-(
By Mega on Nov 27, 2007 | Reply
[***KUHP asal jangan … kasih uang habis perkara, ya to..]..
ha ha ha.ketawa pas baca replyannya disitu..
bener banget tu da..ha ha ha..Poning awak..!
By febry on Nov 27, 2007 | Reply
Memang jelas semua wajib serius dan tegas memberantas narkoba.Generasi Indonesia perlu di selamatkan.Kita seharusnya sebagai generasi Indonesia paling tidak mencegah dari diri kita sendiri sebagai pengguna atau pemakai.Kita jangan saling menyalahkan Tapi berusaha menyelamatkan diri kita dan generasi kita yang akan datang. eitzz..Jangan bandar narkobanya yang diselamatkan..
***Amin
By Suci on Nov 28, 2007 | Reply
Nanya Pa, ya…berulah dengan dadah itu apa yakh?
***Dadah … narkoba dalam istilah Singapur dan Malasia