Menulis membunuh Kekonyolan
22 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TANYA: Bagaimana ya Pak, saya jadi ragu. Setelah dibaca ulang, rasa-rasanya (emang makanan) tema tulisan saya kurang pas, bahasanya terlalu ‘telanjang’, banyak hal yang peru diperbaiki. Apa tidak memalukan kalau diterbitkan menjadi buku?
KONYOL: Kosakata konyol mengandung arti: (1) tidak sopan; kurang ajar, (2) agak gila; kurang akal, (3) tidak berguna; sia-sia. Dalam tulisan ini, dalam kaitan menulis, saya memakai arti ketiga: tidak berguna; sia-sia. Konyolnya, yang melakukan kekonyolan, adalah penulis terhadap tulisannya. Sungguh konyol.
Soal konyol dan kekonyolan penulis (terhadap tulisannya), sungguh mengherankan. Betapa tidak. Bukan menyangkut satu atau dua orang, tetapi puluhan orang. Dalam sharing menulis saya sering menangani kasus-kasus bermuatan konyol.
Ada penulis yang beranggapan, apa yang ditulisnya tidak pernah bagus. Ada yang mengatakan tidak bisa (mampu) menulis, tulisannya tidak ini tidak itu. Pokoknya, jelek. Lucunya, dia terus menulis, belajar menulis, memantapkan kemampuan menulis. Lalu, dikomparasikan dengan karya Kahlil Gibran, Ernest Hemingway, Shakespeare, Victor Hugo, sampai Boris Patersnak. Sungguh konyol.
Alkisah, sehabis melatih mahasiswa mendisain blog, seorang pelaku sharing menulis berbincang-bincang agak panjang lebar dengan saya. Begitu dia bilang: “Pak … Saya tidak pede (percaya diri). Setelah dibaca ulang, bahasanya terasa kurang bagus. Saya jadi ragu menerbitkan jadi buku’.
Ah, … serasa putus asa. Berkali-kali hal serupa terulang. Banyak orang berkehendak sharing menulis, dilayani, dia bersemangat, jadilah tulisan. Sebagai penulis maklum, tulisan tersebut tidaklah sempurna. Jangankan dia yang baru belajar menulis, Karl May, penulis cerita petualangan kesohor itu, adakalanya melakukan kesalahan.
Apa tidak konyol, baru belajar menulis sudah menganggap kemampuan sekelas penulis tingkat dunia. Baru menulis beberapa artikel, satu atau dua cerpen, atau sekeumpulan puisi, berlagak lebih hebat dari ‘kritikus’ kelas wahid. Coba, menurut saya, tulisannya bagus, tapi dia bersikeras, tulisannya jelek. Padahal, dia minta pendapat, minta tolong diperbaiki, tetapi, tetap berpikir dengan polanya. Emang, kalau jelek-jelek amat saya loloskan?
Hal paling esensial yang ingin saya tuangkan, jangan memvonis. Kasus yang dikemukakan dalam bentuk rendah diri, tetapi tetap saja melampaui wilayah kewenangan. Maksudnya, penilai terbaik karya kita adalah orang lain. Coba, kalau terperosok ke sebelahnya, menvonis karya kita terbaik. Apa-apa yang kita buat adalah hal sempurna. Apa tidak celaka?
Dengan kata lain, rendah diri (menganggap karya jelek), sok hebat (menganggap karya baik), sama konyolnya. Bukankah ketika menulis berdasarkan filter diri? Apa-apa yang tertulis adalah apa yang ada di diri, dari dalam diri. Emang Sampeyan mau (sengaja) menulis yang jelek dalam diri (pikiran) Sampeyan?
Jadi, soal ‘penilaian’ serahkan kepada orang lain. Jangan semua pekerjaan dan kemampuan mau diboyong. Jadi penulis, penilai, kritikus, atau apa begitu, hendak dipagut semua. Mana tahan.
Sekarang mari berpikir rasional. Ketika kita bersemangat belajar menulis, kita akan menulis apa saja yang ingin ditulis, tanpa … terbelenggu apa pun. Jadilah tulisan. Kalau memang berkeinginan menulis, setelah menulis sesuatu, biasanya membaca dan membaca lagi. Kita belajar dari beragam sumber. Internalisasi yang kita lakukan menjadikan kemampuan naik tingkat.
Lebih tepatnya begini. Setelah menulis skripsi, itulah hasil jerih payah menulis. Pertanda hebat, ya lulus ujian skripsi. Ketika menulis tesis, melakukan hal yang sama, dan … akan menyadari, skripsi kita banyak kekurangan. Ketika menulis disertasi, skripsi dan tesis, boleh jadi, jauh tertinggal.
Kalau kita tidak pernah menulis skripsi, jelas susah menulis disertasi. Kemampuan menulis, bisa jadi, sudah setaraf doktor (disertasi), tetapi karena tidak pernah menulis skripsi, tesis, dan disertasi, yah, mana mungkin menjadi doktor.
Atau, ketika tahap skripsi, tidak menulisnya. Pada taraf tesis, tidak menulisnya. Pada fase disertasi, tidak menulisnya. Kalau begitu, mana mungkin punya karya (ilmiah). Hal sedemikian khas para pelamun besar yang tidak punya keberanian, alias pengecut ‘melahirkan’ lamunannya. Penulis adalah pemberani, orang yang berani menampakkan diri.
Anjuran saya, kalau Sampeyan siswa SMP, menulislah setaraf anak SMP, kalau pengagum cintrong … e maksudnya pencinta, menulislah sebagai pencinta. Jangan sampai, capaian akademis doktor, kemampuan menulis tergelincir setingkat anak SMA. Saking takut, sudah jadi profesor … tetap saja menjadi penyambung setia pikiran dan pemikiran orang lain. Tidak berani atau tidak mampu menuliskan apa yang paling dikuasai, misalnya. Memberi kuliah bukan dari buah pikir sendiri, tapi menghapal buku orang. Wajar kan produk buku di negara Non-BBM ini termasuk langka.
Dengan kata lain, ketika memulai menulis, begitu juga buku pertama, karya pertama, biarkan saja sebagaimana ‘karya pertama’. Tidak usaha berkhayal melampaui batas-batas teritorial kemampuan. Belajar bertumpu kepada kondisi obyektif jauh lebih bagus dari mengandalkan harap pada impian. Impian adalah patokan capaian, sementara tempat kaki hingap adalah landasan pijakan sesungguhnya.
Dengan kata lain, kalau berani menulis, berani berkarya, sekalipun jelek, akan dapat bukti, segitulah kemampuan gue. Dari situ akan datang semangat untuk memperbaiki, berkarya lebih baik, dan lebih baik lagi. Tapi, kalau pola pikir yang ditanamkan, karya harus setaraf karya J.K. Rowling atau Habiburraman El Shirazy, ya kapan akan jadi kenyataan. Memulai saja belum.
Saya tidak usah bercerita kelemahan-kelemahan Ptolemus, Plato, atau Aristoteles. Pernah baca perihal “Abad Pertengahan” dimana agama mengungkung ilmu pengetahuan? Sampai-sampai Copernicus, Bruno, Galilie, dihukum gereja (Vatikan) karena membawa ajaran baru, bumi mengelilingi matahari (helliocentris). Padahal, menurut keyakinan saat itu mataharilah yang mengelilingi bumi.
Dengan kata lain, pada setiap etape kehidupan, pada jenjang dan tingkat kemampuan, kesempatan menulis ternganga. Manfaatkan kesempatan jangan ditungu dan atau ditukar dengan kesempatan berikut. Kesempatan tidak pernah berulang. Caranya?
Enyahkan alasan, buktikan kemampuan secara nyata. Menulis pekerjaan halal dan bermanfaat. Membuang kesempatan menulis adalah konyol dan kekonyolan, membuang waktu sia-sia, hasilnya kesia-sian.
Alhamdulillah, tokoh ilustrasi tulisan ini kembali ke jalan lurus: “OK Pak, saya terbitkan itu buku”. Saya ke luar ruangan. Akan mecarikan segala biayanya. Semoga Allah SWT memudahkan. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 November 2007.










10 Responses to “Menulis membunuh Kekonyolan”
By mathematicse on Nov 23, 2007 | Reply
Ya terkadang perasaan kurang PD terhadap tulisan sendiri itu muncul. Contohnya, saya merasa kurang PD dengan tulisan saya yang judulnya “Dongeng baru: Kancil cerdik dan kerbau baik.” Karena kurang PD, maka saya langsung nulis artikel berikutnya, biar tulisan dongeng itu ga banyak yang baca. Eh tahunya, ada yang mengcopy-paste dongeng buatan saya itu (ga bilang-bilang lagi, tapi nyantumin sumber sih…
). Aneh, dikira ga begitu bagus, eh malah ada yang mau memiliki… Jadi, percaya dirilah dalam menulis…. (kayak yang udah PD aja ya… hehe.. maaf deh klo gitu..).
***Jadi, percaya dirilah dalam menulis … itu makrifat Kang. E … buka warung Fisika ya.
By Yari NK on Nov 23, 2007 | Reply
Dengan kata lain, kalau berani menulis, berani berkarya, sekalipun jelek, akan dapat bukti, segitulah kemampuan gue
Lha…. nanti kalau hasilnya jelek terus diketawain sama Pak Ersis, kita kan jadi malu! wakakakak… (becanda deh!)
***<em>Membuat orang ketawa … ketawa asli, lho … adalah pahala he he. Ketawa penanda kegembiraan … Kalau ngetawain orang kanganlah , … kurang iluk … wakakak.
By unai on Nov 23, 2007 | Reply
Betul Pak, karena selera kita terhadap bacaan tidaklah sama. Adayang suka tulisan dengan bahasa sastra yang berat, ada suka cerita ringan ringan, ada juga yang sukatulisan konyo (bukan dalam arti tulisan sia sia) jadi serahkan saja tulisan kita kepada pembacanya. Karena tulisan adalah kekhasan kita sendri. yang terpenting kita tidak lantas besar kepala ketika tulisan kita banyak dimuat di media. dan tak selalu mendiskon kemampuan diri bila tak mampu menghasilkan tulisan yang diminati…bukan begitu pak?
***Menulis adalah diri kita itu sendiri, karena itu jadikan hal merdeka, merdeka menulis merdekakan diri.
By SQ on Nov 23, 2007 | Reply
Kalo baca bahasan tentang ESQ, saya ada ketemu teori ZMP pak? tapi buat mempraktekkan, saya masih perlu banyak belajar, bagaimana memanage perasaan-perasaan yang bisa membunuh untuk berkarya itu.
Alhamdulillah juga saya makin mengerti, perasaan rendah diri maupun tinggi hati tak lebih dari sekedar ujian untuk berproses menjadi seseorang maupun penulis yang lebih baik.
Menjalani proses pasti banyak warna-warninya, baik dihujat maupun dipuji. “Itulah dunia” kata bapak.
Iya juga, Peduli dengan “Apa kata dunia”, yang penting menulis.
Terima kasih atas motivasinya pak
:-)
By sawali tuhusetya on Nov 23, 2007 | Reply
Wah, setiap kali berkunjung ke blog Pak Ersis selalu saja ada info dan ilmu baru yang makin memantapkan semangat untuk menulis. Postingan yang mencerahkan bagi seorang calon penulis seperti saya, Pak, hehehehe
OK, salam
***ha ha bisa aja, biasa muji ya?
By ogi fajar nuzuli on Nov 24, 2007 | Reply
Memang betul setiap kita menulis, akan ada saja perasaan khawatir terhadap tulisan kita itu. Sekarang bagaimana kadar kekhawatiran itu ? Jika kekhawatiran itu kadarnya tinggi sekali, maka seseorang cenedrung menjadi “tertutup” dalam dunia tulis menulis. Kemudian jika seseorang kadar rasa khawatirnya rendah sekali maka dia akan menjadi orang yang sangat “terbuka” dalam tulis menulis. Lalu ukuran pantas dan tidak dalam dunia tulis menulis adalah bersifat relatif sekali. Pada masa tahun 70an mungkin ukuran kesopanan lebih tinggi dibanding dengan saat ini…… Jadi ukuran sopan atau tidak, konyol atau tidak pantas atau tidak, kembali kepada kita sendiri, baik sebagai penulis atau pembaca…. Jadi menulislah terus
***Setuju … Jadi, menulislah terus. Itu kuncinya memang bos.
By Kurt on Nov 26, 2007 | Reply
Untung saya tidak merasa konyol karena tidak berani membandingkan tulisanku dengan tulisan bang Ersis, apalagi tulisan karya Kahlil Gibran, Ernest Hemingway, Shakespeare, Victor Hugo, sampai Boris Patersnak. Kalau mau membandingkan dengan itu semua, mending ke laut aja deh heheheh
***Makanya saya ngak mau bandingkan dengan Maz Kurt., … ntar saya ngarasa minder ngak bisa nulis ‘hentakan’ soal-soal agamis, mendingan nikmati aja he he
By meiy on Nov 29, 2007 | Reply
Kelewat pd juga gak boleh ya pak, saya juga kdg2 gak pede, tapi dg prinsip mendingan gr drpd minder ya saya jalan aja eh nulis aja apa yg terasa :p
soal tulisan saya rasa sama dg lagu, ada yg suka rock, dangdut, dsb…serahkan saja sama pembaca, selera ornag kan beda2, ada yg suka novel, puisi, yg serius, humor, dsb…sambil tak lupa belajar
***Tu, sangat benar. Berikan kebebasan pada siapa saja