Menulis Ekspresi Diri
20 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TANYA: Saya suka membaca dan sering muncul ide di pikiran. Tetapi, begitu mau ditulis, hilang entah kemana. Pernah ‘melawan’ diri, bertekad menulis sampai selesai. Begitu selesai alinea pertama, mandeg deh.
Apa yang seharusnya saya tulis? Bagaimana agar ide menulis sesuatu benar-benar bisa menjadi tulisan, bukan berhenti di tengah jalan. Tolong ya Pak.
EKSPRESI: Saya memilih kata ekspresi diri, dalam arti ‘pengungkapan atau proses menyatakan diri, yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud’ dalam kaitan pertanyaan di atas. Dengan kata lain, menulis berarti mengungkapan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, gagasan, ide, penilaian, atau apa saja yang berkaitan (berasal) dari ‘diri’.
Penampakkannya terlihat dari apa yang ditulis. Kita bisa menikmati tulisan seseorang yang begitu sempurna, sebaliknya ada tulisan yang begitu menyebalkan. Ada yang terasa hambar (kurang garam kali he … he …). Kalau mencandu tulisan yang seolah-olah berdialog dengan penulisnya, kata orang sih, bacalah tulisan EWA.
Bagi saya ragam penampakkan adalah hal wajar. Ada orang suka menulis pakai perlambang, ada yang ‘langsung tembak’, atau sangat memperhitungkan perasaan pembaca. Yah, suka-sukalah. Saya penganut paham individual differences. Penyeragamanlah yang menjadi biang banyak masalah.
Yang paling tidak saya suka ketika orang berkata, tulisan harus begini-begitu. Nah lho, ini aturan dari mana? Tulisan itu tuangan pikiran, bagaimana pakai harus-harus. Suka-suka, atau setidaknya, sesuai dengan maunya penulis dong. Jangan-jangan, penyebab kemandulan menulis terkarena harus meniru gaya si Anu, Ane, Ani, atau Ana. Kalau ‘meniru’, namanya menciptakan kunkungan, penjara, belenggu.
Sebaiknya menulis cerminan pikiran, hasil kreasi dan kreativitas yang berbeda dengan orang lain. Kalau menduplikat, mana bisa menandingi aslinya. Itu kan hanya iklan Fuji, lebih cemerlang dari warna aslinya. Menulis adalah proses kreatif.
Berkreasi berarti mencipta, menulis mencipta. Mencipta rangkaian kata-kata atau kalimat; sesuatu yang tidak sama dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Kalau begitu, jangan meniru-niru. Mencipta dari diri sendiri. Pada posisi paling ekstrem, menulis tidak memerlukan guru. Menulislah dari diri.
Kalau mindset sudah mantap, tidak mungkin ide-ide yang ada di otak, apalagi telah matang, menguap begitu memulai menulis. Ide bisa menguap apabila dibanding dengan ide dan karya orang lain. Lalu, … muncul hantu … ide saya tidak bagus, ide Si Anu kog kuat sekali ya. Akibatnya, rendah diri, jari-jari mogok, dan otak seolah beku. Dibanding-bandingkan sih.
Intinya, jadilah diri sendiri, Be Yourself. Coba perhatikan ketika kelompok pemusik Peterpan, Raja, atau Ungu mencuat, mereka menampilkan warna baru. Kalau gaya Tukul sama dengan peresenter lainnya, ya tidak menarik deh. Atau, Sampeyan tidak bosankan dengan berita paten tim sepakbola nasional: kalah, kalah, dan kalah melulu.
Kenapa kita sebal dengan penanganan korupsi di Indonesia? Pertama, terlambat. Kedua, cenderung dihukum ringan, tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Ketiga, semua pejabat, apalagi penegak hukum, berkoar-koar: “Basmi korupsi”. Kenyataannya semakin merajalela.
Ketika sesuatu dilakukan dengan cara-cara lama, lama-lama membosankan, kreativitas menjadi penjaga, agar sesuatu menjadi lebih menarik. Memang, dalam ukuran selera —rasa masakan misalnya, atau tulisan dengan gaya tertentu— lebih kepada style. Gaya menulis seseorang tidak sama, dan tidak mungkin sama, dengan orang lain. Kekeliruan gurulah yang suka membanding-bandingkan, meniru-menirukan, dengan yang telah mapan.
Segala sesuatu bermula dari ketidakaadaan. Ada dan tiada pada dasarnya ada. Ada yang ‘ada’ seperti ada yang ‘tidak ada’, yang ‘ada’ dan ‘tidak ada’, sama adanya. Apa yang ada dalam otak (ide) menjadi ada manakalah dituliskan, tetap ada kalau tidak dituliskan, namun … tidak akan nampak adanya.
Dengan kata lain, tampakkanlah apa yang ada di otak —ide baik, pikiran positif, hal-hal memberi manfaat— agar berguna adanya. Kita bisa menyimpan dunia dalam otak, tapi buat apa? Kalau ditampakkan (ditulis), akan bisa menjadi bahan bacaan diri untuk cermin lebih baik, menjadi pelajaran bagi sesama, memotivasi bagi lainnya, dan sebagainya.
Hal-hal tersebut menjadi amunisi tambahan agar menulis jangan mandeg. Mindset diprogram, menulis itu perlu dan bermanfaat, melakukannya mudah, kita mencipta, menyebarluaskan kebaikan, dan sebagainya.
Lalu, jangan ‘melawan’ diri. Sahabati diri, ramahi diri, sayangi diri, beri diri harapan dan kesenangan. Jangan memaki diri, apalagi memaki tulisan atau karya sendiri. Beri diri kebanggan dengan mindset yang benar. Untuk itu …. latih diri.
Bukankah kita terlahir telanjang? Tetapi, kemudian belajar berpakaian. Memakai pakaian, memilih pakaian, mencari uang untuk membeli pakaian. Ada … yang menjadikan pakaian sumber pendapatan, berdagang pakaian. Ada yang membuat fabrik pakaian. Semua bermula dari kelahiran tanpa pakaian.
Siapa sih yang lahir dengan kepiawaian menulis? Emangnya ada anak manusia yang lahir sebagai penulis? Hanya, semua kita dibekali dengan komputer super, otak. Otak dengan kemampuan tidak tertandingi. Otak ciptaan Allah SWT paling rumit dan paling sempurna. Dan … itu telah dihibahkan kepada kita.
Artinya, persoalan dalam menulis sederhana saja. Manfaatkan otak, juga elemen diri lainnya, lalu … lakukan hal sangat sederhana, latihan. Latihan menulis dengan menulis, menulis, dan menulis. Kalau menulis dilatih, bagaimana bisa mandeg?
Mandeg menulis karena berhenti menulis. Setidaknya, meladeni sikap malas, lalu dilengkapi dengan berbagai alasan, termasuk mencaci diri. Duh, cara berpikir macam apa itu. Berpikirnya yang salah.
Mari ‘balik gerak’. Campakkan banding-membanding, enyahkan mencaci diri, menghina tulisan dhewe, perbanyak membaca, latihan menulis dengan menulis, dan … mandeg menulis akan hilang, lari entah kemana. Jangan lagi melayani mandeg menulis.
Mandeg menulis bermula dari pikiran, bukan pada karya dan hasil karya. Mandeg menulis (maaf) itu urusan orang yang tidak percaya diri, orang-orang yang terbiasa menghina dirinya sendiri. Itulah sebabnya saya mengkampanyekan menulis sangat mudah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 November 2007.









9 Responses to “Menulis Ekspresi Diri”
By Yari NK on Nov 20, 2007 | Reply
Iya betul pak Ersis kita dibekali otak yang luar biasa. Dengan otak itu spesies kita bisa menguasai planet ini. Binatang-binatang yang sangat besar dan kuat, binatang yg mempunyai taring dan kuku tajam, binatang yg mempunyai racun yang kuat, semua takluk oleh kehebatan manusia, yang tdk mempunyai badan yg besar dan kuat, tdk punya kuku dan taring yg tajam dan tdk mempunyai racum atau bisa mematikan, namun dikaruniai senjata yg luar biasa: otak!
Nah, untuk itu memang otak harus dipakai, juga pada saat kita hendak menulis. Namun nampaknya penggunaan otak dalam menulis juga sangat kompleks, selain teknik penulisan dan juga formulasi penulisan yang harus dikuasai oleh otak, juga harus diperkaya dengan luasnya wawasan, pencampurbauran berbagai ilmu, serta penarikan topik menarik dari sebuah ilmu atau wawasan, ini yang mungkin belum bisa terasah semua pada banyak orang. Belum lagi masalah mood, emosi, lingkungan dan masalah-masalah non intelektual dan teknikal lainnya yang tentu saja sangat mempegaruhi produktivitas seseorang termasuk dalam hal tulis-menulis ini!
By unai on Nov 20, 2007 | Reply
wah ini saya banget pak….saya ini tukang diskon diri sendiri. Fyuh…lelah juga menyingkirkan minder yang gak tau diri ini
***NGaklah, semua kita pernah di kondisi sedemikian. Tinggal, serius apa ngak mengikisnya. Kalau saya sih perlu startegi … ya lawan dengan menulis he he
By mathematicse on Nov 20, 2007 | Reply
Ya betul, seringkali karena kita membandingkan tulisan diri dengan tulisan orang lain yang lebih mapan, kita jadi tidak percaya diri. Akibatnya, kita ga mampu mengeluarkan ide-ide kita dengan baik. Kita terbelenggu, terkungkung, dan merasa “kalah” dibandingkan dengan karya orang lain tsb. Ya, Mandeg deh nulisnya….
***Yang paling parah ‘merasa kalah’, sekali lagi ‘merasa’. Padahal, belum tentu. Pendatang baru, penemuan, terlahir karena ada keberbedaan dengan yang terdahulu. Menulis, pada dasarnya mencipta, minimal merangkai kata-kata baru.
By Kurt on Nov 20, 2007 | Reply
Jadi dengan demikian, tulisan sebagai sebuah opini, atau pendapat pribadi dong ya bang. Bagaimana dengan tulisan2 ilmiyah yang tidak mengatasnamakan pribadi tapi merupakan sebuah nilai yang terlepas dari subyektivitas…
***Nah itu dia, makanya ‘diri’ berusaha seobyektif mungkin, memandang sesuatu dengan multi side argumentation. Tidak ada yang obyektif murni toh … kita hanya mampu berusaha mendekati obyektivitas. E … emang yang ilmiah bebas dari pendapat pribadi? Ada filosifis yang mendasarinya. Makanya seorang ilmuwan bagaimanapun perlu dilihat latar belakangnya. Wah kalau dikembangkan bisa jadi diskusi serius nih
By Ilma on Nov 20, 2007 | Reply
Kalau menulis blog sih oke2 aja Pak.
Begitu tulisan yang ilmiah, yang membutuhkan riset.. kok sulit banget ya Pak
***Ah … masyak, sama saja. Enak dan mudah yang ilmiah, aturannya jelas, ngak bisa suka-suka. Risetnya yang perlu waktu, nulis hasil riset lebioh gampang tu … Ide dan bahannya sudah terkandang oleh “Rumusan Masalah”. Jadi, lebih mudah.
By Mega on Nov 21, 2007 | Reply
baca tulisan ini manggut manggut sendiri,,tanda setuju..
“Balik gerak,,menulisssssssss dech..!”:-D
***Siap gerak … nulis
By hanna on Nov 21, 2007 | Reply
Mantep benar nih, pak. Yup, tugas kita bukan membandingkan hasil karya kita dengan orang lain melainkan belajar dan berusaha supaya juga bisa sebagus itu juga, he he he. Pasti bisa kok kalau kita giat berusaha. Hanya waktulah yang menentukan.
***Kita yang menentukan, dan … waktu yang membuktikan.
By ahmad ridani on Nov 21, 2007 | Reply
bener sih, klo kitanya suka meremehkan karya kita sendiri gimana kita mo mengekspresikan ide dalam pikiran kita. Cape banget. klo mo nulis ide, tulis aja……….
***Wooow … siiiiiiiiiiiiiiip, lakukan
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 22, 2007 | Reply
InsyaALLAH saya PD, amin.
***PD … Asal jangan perusahaan daerah aja, yang rugi kenyataan abadinya he he