Membaca, Menulis, Membangun Kemampuan
17 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MEMBACA DAN MENULIS. Kebudayaan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana memahami kebudayaan? Belajar, tentunya. Diantaranya ‘membaca’ kebudayaan. Kebudayaan wujudnya terpantau melalui gagasan, karya, dan hasil karya. Belajar kebudayaan melalui internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.
Sungguh sangat mengangumkan, Allah SWT menurunkan ayat pertama kepada Rasulullah SAW, iqra’, iqra’, iqra’ … Membaca adalah ‘jalan’ kehidupan dan kebudayaan. Begitu pentingnya arti membaca, sepenting ketika Rasulullah memerintahkan para sahabat menghapal Al-Qur’an, dan menuliskan; di pelapah korma, tulang-tulang, dan sebagainya. Kalau tidak ada tulisan, apa yang akan dibaca?
Tulisan sebagai wahana kebudayaan sekaligus penanda tingkat kebudayaan. Kita sudah sangat akrab, pengetahuan dasar historis ditandai apabila suatu masyarakat memasuki era sejarah ketika tulisan mereka dan atau tentang mereka ditemukan. Era sebelumnya dinamai zaman pra sejarah. Manakala di suatu masyarakat tidak banyak diproduksi tulisan —tentang ide-ide, karya, dan hasil karya— semakin jauhlah dari berkebudayaan (dan berperadapan). Katakanlah masih masyarakat jahilyah.
Iqra’, Iqra’, Iqra’
Dari berbagai survey dan penelitian, sudah menjadi pengetahuan umum, tingkat kemembacaan masyarakat kita begitu lemahnya. Selayang pandang, kalau kita ke Jepang, atau Singapura, di halte bis atau MRT, akan kita temui orang membaca, dan membaca. Membaca seakan-akan hidup itu sendiri.
Membaca, dalam arti luas, tentu bukan saja membaca buku atau bahan tertulis. Membaca alam, membaca peristiwa, fenomena, tanda-tanda alam, tanda kebesaran Allah SWT, Sunnatullah. Alangkah eloknya, kalau membaca dimulai dari membaca zahir, misalnya apa yang ditulis dan tertulis.
Merenung, berimajinasi, pada dasarnya juga membaca melalui dan dalam diri. Hanya saja, kalau dilakoni, tanpa modal kuat membaca dengan mata dan pikiran, bisa jadi terlalu maju. Balampah, misalnya, kalau tidak ‘dituntun’ dengan iman, kepribadian, dan bacaan kuat, bisa-bisa bermuara ke jalan ‘sesat’. Konon, aliran sesat yang kini lagi marak merupakan hasil jerih payah semedi. Entah iya entah tidak, entahlah. Hal itu tidak kita diskusikan disini.
Pada kondisi obyektif masyarakat, membaca bukanlah sesuatu yang aneh. Dari SD, bahkan masa pra sekolah, kita sudah ‘dibiasakan’ membaca. Bersekolah tanpa membaca, sesuatu yang tidak mungkin. Belajar, ya membaca. Lalu, memanfaatkan bacaan itu menjadi olahan pikiran, dan terkeluar sesuai kadarnya. Misalnya, melalui bicara atau tulisan. Masalahnya, kita hidup lebih banyak di luar sekolah formal. Dengan kata lain, keberlanjutan membaca di luar sekolah, itulah kehidupan membaca sesungguhnya. Membaca kapan saja dan dimana saja.
Pada kondisi sekarang, sudah banyak anggota masyarakat yang ‘membangun’ perpustakaan keluarga atau pribadi di rumah, tetapi jauh lebih banyak yang tidak terlalu bersentuhan dengan buku. Lagi pula, demikian banyaknya variasi buku, diperlukan lembaga khusus yang menanganinya, itulah perpustakaan; perpustakaan sekolah, kampus, daerah, atau nasional.
Semangatnya, penanganan perbukuan masuk ranah profesional. Perpustakaan juga menyediakan layanan naskah-naskah kuno, surat kabar, majalah, microfilm, CD, sampai internet. Kini, bergerak ke e-library. The behind the gun perpustakaan menjadi kuncinya. Kalau ada perpustakaan yang masih bersuasana jahiliyah, heregene … capek deh.
Kembali ke hakikat membaca dimana kita melakukan kegiatan memahami isi bacaan pada dasarnya membangun kepribadian. Secara teoritik kepribadian dibangun atas pengetahuan, perasaan, dan naluri. Membaca adalah pacuannya. Karena itu, bangsa-bangsa maju, dan serius ingin maju, memprioritaskan sarana dan prasarana membaca. Bukan seperti di republik Non-BBM, ada yang membungkam otak dan hati, menilep proyek pengadaan buku. Terkutuklah.
Sangat disayangkan pula (kalau ada) pejabat daerah atau kampus, berkoar-koar dan berkoak-koak, membaca itu penting, buku jantung pengetahuan, e … perpustakaannya bak rumah hantu. Ih … ngeri.
Untuk melihat aplikasi komitmen, tidak perlu seminar atau lokakarya segala macam, lihat saja berapa anggaran untuk perpustakaan(nya). Gampang. Kalau anggaran untuk gaji (dan insentif) pegawainya lebih tinggi dari pengembangan ‘isi’, artikan sendiri saja. Tidak perlu analisis statistika segala macam.
Membangun Bangsa
Terlalu hebat barangkali kalau dikatakan dengan membaca kita membangun bangsa, kepribadian, atau kemampuan diri. Tetapi, kalau tidak dengan membaca, dengan hasil bacaan, lalu dengan apa membangun rumah pengetahuan? Bukankah pengetahuan unsur kuat membangun kepribadian?
Membaca berarti membangun pengetahuan, memperbaharui cara-cara berkehidupan, strategi dan metode baru memecahkan masalah kehidupan, memprediksi masa depan, belajar dari masa lalu, dan seterusnya. Membaca bisa mengepidemi, tipping point, tetapi apa yang (akan) dibaca, soal lain. Libido membaca boleh tinggi, tetapi bagaimana kalau ‘sarana’ cekak?
Kiranya, kita sepakat, perpustakaan berperan dalam membangun pengetahuan, kepribadian, dan kemampuan diri. Fungsi perpustkaan menyediakan (layanan) bacaan. Dalam kata lebih heroik, perpustkaan adalah istana pengetahuan.
Namun, kalaulah (maaf) ‘memperjuangkan’ anggaran untuk membangun istana pengetahuan, selalu tidak bisa dan tidak mampu, itu apa namanya? Kenapa tidak dikreasii cara baru meyakinkan para petinggi dan anggota dewan, perpustakaan itu penting untuk ‘membangun’ generasi ke depan? Coba bandingkan anggaran perpustakaan dengan biaya dinas atau kunjungan kerja legislatif atau ekskutif. Jangan-jangan, untuk ‘jantung ilmu’ itu sangat tidak sebanding. Kalau jantung tidak dipelihara, tunggulah, akan membunuh bangsa ini.
Membaca, apalagi menyiapkan sarana dan prasarananya masih menjadi masalah dasar dalam membangun kemampuan bangsa. Bagaimana dengan menulis sebagai tandem membaca, untuk dibaca?
Menulis
Tidak perlu pula diperdebatkan, menulis kalah jauh pamornya dari korupsi. Korupsi dikatakan telah menjadi budaya bangsa, membaca? Apakah bangsa ini lebih mementingkan atau lebih toleran terhadap korupsi dari menulis? Sampeyan jawab sendiri.
Tetapi, sekadar bayangan, coba lihat-lihat, apalagi Sampeyan-Sampeyan ini orang yang hari-hari bergelut dengan buku. Ada tiga kelompok profesi yang akrab dengan ilmu (pengetahuan) dan buku.
Guru, dosen, dan pustakawan. Kalau setiap hari berhubungan dengan buku, kecuali tidak membacanya, wajar kalau tidak mampu menulis apa yang dibaca. Tetapi, bukankah ketiga profesi ini hari-hari bergelut dengan buku yang di dalamnya terkandung ilmu?
Lebih mencengangkan, guru dan dosen yang tiap hari ‘bicara’, tidak menuliskan apa yang dibicarakan. Guru dan dosen, sebagian besar, lebih suka menyampaikan pikiran —buku orang— dari karya sendiri (termasuk saya, lho). Bertimbun-timbun alasan bisa menyertainya. Lebih asyik berlagak hebat di hadapan murid-muridnya, tanpa berkarya.
Sebenarnya akan lebih baik, misalnya mereka yang akrab dengan buku, menjadi penggerak menulis. Katakanlah mereka yang berumah di perpustakaan. Kenapa, sampai hari ini kita suni dari hasil karya tulis para pustakawaan?
Menulis pada dasarnya membuat kita membaca, membaca, dan membaca lagi? Semakin banyak membaca semakin matanglah sesorang —apalagi kalau dipraktikkan— dan kemampuan terbangun. Menulis membangun kemampuan diri, membangun bangsa.
Hal-hal terpapar merupakan bahan pemicu diskusi “Apresiasi Minat Baca Masyarakat”, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalimantan Selatan, Senin, 19 November 2007.
Membaca dan menulis ibarat two side in one coin dalam membangun kemampuan diri, membangun bangsa.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 19 November 2007.









10 Responses to “Membaca, Menulis, Membangun Kemampuan”
By hanna on Nov 17, 2007 | Reply
Setuju pak. Siip bangat deh tulisannya yang ini.
Kalau membaca bisa membudaya di Indonesia asal bukan sekedar melirik buku lho ya tentunya diiringi pratik dalam kehidupan sehari-hari maka Indonesia akan maju, terus, terus maju.
Lagi-lagi korupsi ya. Nasib mereka itu memang mujur kok, pak.
Percaya atau tidak tulisan-tulisan tentang para koruptor laris manis. Penulisnya pun bisa ketimban rezki, he he he.
Lha, kalo cerita kehidupan wong cilik, jarang ada yang mo perhatiin. Bukan urusanku katanya.
Okey deh, mari kita menulis yang membangun. Dan, terus membaca. Membaca bukan sekedar membaca, usahakan apa yang baik dari bacaan dipratikan.
Salam.
***Koruptor adalah pengusaha sesungguhnya kali ya … membaca yang tidak baik, korupsi juga lho
By unai on Nov 17, 2007 | Reply
saya maraton baca tulisan bapak, eh ada dua tulisan yang saya keinggalan.
eits pak, jangankan menulis yang harus punya modal membaca, lah wong membaca saja kebanyakan dari kita masih malas.
***Lomba menulis dan membaca he he … Kita jangan ikut yang kebyakan dong … ikut yang sedikit, yang membaca dan menulis. Allah SWT melebihkan yang setengah dari yang setengah.
By Mega on Nov 17, 2007 | Reply
hayukk..baca..baca..dan tulis..tulis dan baca lagi..berlakulah si “two side in one coin”, tadi.
***Baca … baca … nulis … nulis … happy
By Yari NK on Nov 18, 2007 | Reply
Ya…. sebaiknya benar selain kita membudayakan membaca kita seyogianya juga membudayakan semangat berkarya. Tapi tentu di manapun juga sebuah karya harus dihargai walaupun sekecil apapun. Karena itulah roh dari karya tersebut dapat bermanfaat dan dapat dihargai oleh seseorang. Dengan begitu semangat atau spirit untuk berkarya dapat menjadi budaya. Sayangnya di negeri ini selain semangat berkarya (termasuk menulis tentu saja) belum ada, semangat menghargai karya orang juga masih belum membudaya. Kita lihat, pembajakan (termasuk pembajakan buku) masih merebak di sana sini. Ini mewujudkan kesadaran kita yg rendah akan jerih payah karya orang.
Jerih payah memang tidak harus dihargai hanya dengan uang. Namun tentu saja andaikan ia bisa mendapatkan uang dari hasil karyanya, ia dapat lebih berkonsentrasi penuh dalam membuat karya berikutnya, yang berarti dapat menambah kualitas hasil karyanya. Seperti itulah budaya cipta sealamiahnya tumbuh. Mudah2an dengan dapat menghargai karya orang, (menghargai karya tulisan dapat berupa membaca hasil karyanya juga, dan tentu saja sebisa mungkin dari buku aslinya bukan buku bajakannya! Huehehehe….) kita dapat membudayakan keinginan mencipta di kalangan masyarakat kita.
***Ya itulah problem kita, soal penghargaan. Hanya saja, mari kita balik saja soal harga-menghargai, penghargaan … kita berkarya saja dulu. Bangsa ini perlu waktu nampaknya menuju kedewasaan. Sedi memang, tetapi itulah kenyataan.
By hanna on Nov 19, 2007 | Reply
Wah, jangan sinis kaya gito, pak, he he he.
Gak semua pengusaha gak jujur. Banyak juga yang jujur. Gak semua juga dosen jujur, banyak juga yang nakal. Ya deh, pak. Mohon maaf kalo ada kata yang kurang berkenan. Sampai ketemu di tulisan berikutnya yach…
]
***Sinis? Ah ngak lah. Kita perlu memang pengusaha jujur, bahkan sekalian komponen bangsa … tapi itu yang suling Neng. Kalau sudah jujur-juru semua, bangsa ini cepet deh majunya.
By Kurt on Nov 19, 2007 | Reply
bang Ersis, rupanya geram yaa dengan tulisan ini. Mereka yang sehari-hari terlibat dengan sumber tulisan (pustakwan, dosen/guru) ternyata, belum mampu banyak meneteskan aliran ilmu kepada kita. barangkali mereka adalah pekerja pak: Dosen (tukang ngajar) puastakawan = tukang klasifikasi dan menjaga buku.. sementara penulis = tukang nulis.. jadi kalau menyambungkannya benar-benar temannya bawang : cabbe deeeeh.. !
***Geram sih ngak, tapi bingung dan sebel aja euy … Ngak-, ngak, saya memotivasi aja kog Maz Kurt.
By toeti on Nov 26, 2007 | Reply
Setuju sekali om, membaca dan menulis, seharusnya merupakan sebuah rangkaian yang tak terpisahkan yang mampu membuat manusia menjadi makluk yang beradab dalam arti yang sesungguhnya dan lebih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika.. wuihh.. indahnya
***Siiiiiip, setuj banget. Mari membaca, lalu berpikir, dan menuliskan hasil pikir demi … menjadi makhluk beradab, dan berperadaban.
By Muhoo on Dec 12, 2007 | Reply
Subhanallah, apa yang Anda tulis memang benar. Dan saya seperti tersihir terhadap apa Anda tulis ini. He…he..he… Memang, membaca mempunyai kekuatan yang dahsyat, apalagi bila yang dibacanya tersebut bisa membuat orang semakin sadar bahwa ilmu tidak untuk dipamerkan, tetapi untuk diamalkan ya Om? He.he.he.
***Membaca dahsyat memang, lebih duansyat menulis yang bermanfaat.
By Rachelle Leah on Jan 18, 2008 | Reply
Hi there…Man i love reading your blog, interesting posts ! it was a great Thursday .
By Rachelle Leah on Mar 1, 2008 | Reply
Hey!…I found your site via Yahoo! when i was searching for www rachelle leah com, and this post regarding ca, Menulis, Membangun Kemampuan at MENULIS TANPA BERGURU really sounds very interesting to me.. Thanks.