Tipping Point

14 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENDADAK MENULIS: Sampai hari ini saya belum pernah berjumpa seorang pun yang derajat keseriusannya sebagai motivator penulisan sedahsyat apa yang ditunjukkan Ersis Warmansyah Abbas. Setiap saat, setiap kesempatan, dalam tema perjumpaan seperti apa pun, pria nyentrik ini selalu memotivasi lawan bicaranya untuk menulis …
 
Buku ini, yang menyusul sukses buku-buku EWA sebelumnya, adalah juga potret perjalanan panjang EWA dalam dunia penulisan. Kita patut bersyukur karena tak semua penulis membagi pengalaman di balik proses kreatifnya sehari-hari …
 
Di tengah macam-macam omongan orang, yang ditanggapinya dengan cuek, EWA adalah fenomena. Saya malah khawatir, dalam waktu tak lama lagi, Indonesia akan demam Ersis Writing Theory; semua orang mendadak nulis, blog-blog pribadi bermunculan, dan rating ruang opini di halaman koran meningkat tajam. Dan semua karena EWA. Tak ada yang tak mungkin, bukan?
 

Tiga alinea kalimat dia atas dicuplik dari Pengantar Erwin DN pada buku saya, Menulis dengan Gembira, yang direncanakan terbit parohan awal 2008. Segala sesuatunya sudah siap. Apa istimewanya kata-kata Erwin?
 
Perhatikan alinea terakhir sebagai ‘kunci’ penetap. Bisa saja Erwin menuliskannya dengan tujuan, bagarah-garah, maulu-ulu, atau sangat serius karena  punya indera keenam, misalnya. Bagi saya tidak penting. Sebab, sudah ada teman yang merespon dengan agak binal: mencemoohkan bakal buku tersebut. Lagi pula, kalau sudah menegakkan pancang sesuatu, ya terus sampai selesai.
 
Alinea terakhir memantik sesuatu di putaran otak. Saya teringat buku, The Turning Point Science, Society and The Rising Culture, karya Fritjof Capra (1981). Fisikawan kesohor tersebut dengan mantap menulis tentang perubahan teori dan konsep dalam bidang fisika secara dramatis. Sebagai orang yang tak tahu menahu fisika, ketika dia menulis tentang fisika baru, sekalipun tidak mencemooh, Descarter —pelantun kata-kata, cogito ergo sum— atau Newton, sungguh terperangah kagum.
 
Mengasyikan pula, padanannya dilansir ke berbagai bidang sosial, sampai pejalanan di luar dimensi ruang dan waktu, apalagi menuju zaman surya, betul-betul membuat kepincut. Duh, dalam realitas sosial, saya dapat gambaran lebih praktikal pada buku Tipping Point; How to Little Thing Can a Big Difference, Malcom Gladwell (2000). Tarikannya, mana tahu upaya menyebarkan epidemi menulis —yang sebenarnya telah banyak dilakukan orang selama ini— ada nyangkutnya dengan tipping point? Apa sih makhluk tersebut?
 
Sederhananya begini. Perubahan terjadi, karena sesuatu pemicu, sifatnya menular (contagiousness), perubahan kecil dapat bermakna besar, perubahan yang terjadi dramatis.  Mungkinkan apa yang saya apungkan memenuhi kriteria tersebut?
 
Saya tidak berharap banyak, tetapi berkhayal kan tidak dilarang. Di kampus dan lingkungan, ada ‘tanda-tanda’ ke arah itu, sekalipun sinyalnya belum sedahsyah hentakan listrik. Mana tahu nanti ada yang mampu meledakkannya.
 
Bahwa saya ‘memasarkan’ menulis mudah, atau menulis sangat mudah, menjadi sandaran mindset, ya iyalah. Tetapi, harus realistis. Sebab, apa sih kekuatan seorang Ersis? Tidak, saya tidak neko-neko. Hanya memotivasi saja kog. Kalau menular, ya syukur.
 
Aha. Itu kan cara berpikir kuno. Persis seperti apa yang dipraktikkan (banyak) orang Indonesia. Sampai hari ini, untuk sekadar mengatasi kesemrautan Bandara Soekarno Hatta saja, apalagibanjir, korupsi, atau kesadaran nyata terhadap pendidikan tidak mampu-mampu. Habis, cara berpikir, orang-orang yang menangani, itu-itu saja sih. Tidak ada cara baru yang mampu mendobraknya.
 
Gladwell dengan sangat pas mencontohkan berawal dari keisengan beberapa remaja memakai sepatu Hush Puppies yang ketinggalan zaman. Sepatu seharga 30 USD yang dipakai para remaja di Manhattan tersebut akhirnya memaksa pabriknya memproduksi jutaan pasang. Tipping Point terjadi ketika sesuatu mencapai titi popularitas tertentu, tak peduli dari mana asalnya atau jenisnya.
 
Kita telah dipasok informasi, di New York City, terutama bagian Brownsville dan East New York, adalh ‘surga’ kejahatan di Negara Pamam Sam. Kalau malam, berubah menjadi kota hantu. Tapi, bukan lantaran ‘hantu-hantu’ ala film Indonesia, lho.
 
Ternyata, bukan perkara sulit. Setidaknya, tidak berdarah-darah mengatasinya. Beberapa orang, di beberapa situasi khusus, yang memungkinkan polisi atau kekuatan sosial baru memberikan dampak cukup nyata, entah bagaimana berhasil membuat beberapa orang lain mengubah perilaku, dan perilaku itu kemudian menyebar ke para ‘calon penjahat’, dan … orang-orang New York terinfeksi virus antikejahatan tersebut. Asyik dibaca pokoknya.
 
Pada bagian lain, berbagai contoh nyata sampai ke epidemi penyakit sifilis juga ada. Yah, dari hal-hal, ide sederhana, kalau epedeminya begitu luas dan cepat, itulah tipping point. Virus menulis bisa setangguh itu? Mana saya tahu. Entah, kalau Sampeyan menularkannya ke banyak orang, berantai terus-menerus.
 
Untuk lebih mantapnya, silah baca bukunya. Kita kembali ke tipping point menulis, epidemi menulis, virus menulis. Sesuatu yang merasuki banyak orang. Lagi pula, ini bukanlah virus berbahaya semacam kanker atau tindakan kejahatan semisal aliran sesat. Kalau aliran sehat, bolehlah.
 
Dus, menulis selayaknya dimulai dari diri sendiri, dilebarkan pada keluarga, teman-teman, lingkungan, terus … agar menjalar. Kalau itu terjadi, maka mana tahu, sampai pada tingkat tipping point.
 
Sekalipun demikian, kalau tidak, juga ngak pa pa kog. Begitu saja kog repot. Yang pasti, kebudayaan dikembangkan atas pengembangan pola pikir. Satu caranya, membaca. Nah, kalau yang menulisnya sedikit, apa yangt bisa dibaca jutaan orang. Kenapa India begitu melejit majunya? Konon, produk tulisan, pikiran, ide, buku, dan saudara sepupunya, begitu menggelegar.
 
Atau, kita akan memilih: pulau, kebun sawit, lagu, wayang, batik, perusahaan selular, bank, batubara, kekayaan dasar laut sampai puncak gunung Timika, ‘dikuasai’ orang asing? Sementara yang kita epidemikan berkomentar, mengeluh, menggerutu.
 
Jangan-jangan, bangsa besar ke depan adalah bangsa yang bisa merawat dan mengembangkan kebudayan dan peradapan berdasarkan ide-ide, pemikiran cemerlang anak bangsa, bukan … bangsa pencipta ide. Dimana kita sedang berada?
 
Marilah menulis. Menulis, menulis, dan menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 November 2007.

  1. 13 Responses to “Tipping Point”

  2. By helgeduelbek on Nov 15, 2007 | Reply

    Teru memotivasi… setuju dengan komentar rekan di atas, begitulah sosok ersis, meskipun dari sekian banyak orang yang di motivasi baik langsung atau tidak langsung belum tentu mau ditulari, memang “bodoh” jika orang tidak segera tertular. Dan itulah saya… Mau berak menulis tapi gak bisa makan bacaan dengan baik. Tapi dia pasti peduli amat dengan “orang orang bodoh” seperti saya. :D
    Suskes bang ersis cemetimu suatu saat akan sakti menjeplak jiwa menulis setiap orang “bebal”.
    Wassalam.

    ***Ha ha … justru Sampeyan teladan saya memenej blog …. juga menulis. Mari kita terus mengairahkan menulis

  3. By Kurt on Nov 15, 2007 | Reply

    Mengejawantah dalam kehidupan dan lebih fokus agaknya sudah dimiliki bang Ersis. Keseriusan dan ketajaman dalam mebentuk pasar ide sangat brilian. Apalagi di saat zaman tengah didera oleh masalah HAKI, bang Ersis tidak memikirkannya. Siapaun boleh meniru, dan jika berorientasi pahala maka konon ada ungkapan bijak: siapa yang berbuat baik, kemudian kebaikan diikuti terus oleh penirunya, maka pahala akan terus mengalir kepada si pemicu itu, tanpa dikurangi sedikitpun…

    Sukses selalu bang Ersis…

  4. By 5H4LEH on Nov 15, 2007 | Reply

    Mau ada Buku baru ya…bagi-bagi ya pak.

  5. By febry on Nov 15, 2007 | Reply

    Entah apa di kata nantinya jika virus menulis merasuk setiap roh manusia Indonesia.Gara-gara ulah pa ewa..Apa kata dunia…? hee..hee..bisa-bisa Bangsa ini kehabisan orang bodoh.Gak terbayangkan jika setiap makhluk-makhluk yang ada di Indonesia setiap masing-masingnya menghasilkan satu buku.Indonesia bisa maju.Majunya suatu peradaban juga disebabkan orang-orang yang ada di dalamnya pandai menghasilkan tulisan.sebab suatu zaman sejarah ada ketika di mulai dengan adanya suatu tulisan.

  6. By Alex on Nov 15, 2007 | Reply

    Saya malah baru tahu dari blognya Amed kalo pak Ersis ini dosen UNLAM. Benar ya?

    Bagus Pak, bagus. Kalau dosennya jadi semangat menulis, ajak mahasiswanya di sana buat nulis juga :P

  7. By hanna on Nov 15, 2007 | Reply

    Siapa yang tidak kenal EWA, penebar virusssss…
    Salut, pak. Moga bukunya cepat terbit ya. Dah ga sabar mo baca.

    @Alex
    Telat bangat lex.

  8. By Yari NK on Nov 16, 2007 | Reply

    Ya, memang sebaiknya virus menulis itu kita sebarkan seluas-luasnya. Bagaimanapun juga virus menulis punya efek dahsyat pada seseorang yang sudah tertular. Namun seperti halnya virus asli, yang hanya bekerja pada spesies2 tertentu. Virus HIV hanya bekerja pada manusia, tidak bisa bekerja pada binatang apalagi tumbuhan. Sebaliknya virus2 yang menyerang tumbuhan juga tidak dapat menyerang manusia karena enzyme si virus yang seharusnya menyerang tumbuhan gagal menembus sel2 inang pada manusia.
    Begitu pula dengan virus menulis mungkin tidak akan bisa untuk menyerang semua orang. Namun ya tidak mengapa, ketularan atau tidak, kita wajib terus ‘menularkan’ virus tersebut, andaikan orang tersebut tidak ketularan, ya sudah, mudah2an dia dapat ketularan virus lain selain virus menulis. Kan banyak sekali juga virus2 lain yang juga membuat orang produktif. Ya ngga? :D

    ***Kira-kira begitu, tinggak memelihara dan mengembakan virusnya aja lagi …

  9. By vino on Nov 16, 2007 | Reply

    ayo menulis,…
    minimal sadar nulis utang2 (dan bayar tentunya)

    ***He eh … sip

  10. By vino on Nov 16, 2007 | Reply

    ehm… EWA kena virus juga tuh

    ***Biar terserang virus (menulis) semua

  11. By Mega on Nov 16, 2007 | Reply

    seepp…mau ada terbit buku baru yach..
    mana tau daku kecipratan…

    ***Amin

  12. By aLe on Nov 16, 2007 | Reply

    Semangattttttt ;)
    wah oM Ersis emang TOP BGT,
    aLe jd semangat lg neh nerusin 3 buku yg sempat tertunda itu :)

    thanks motivasinya oM

    ***Bagus nulis terus, ikut loma menulis, email: lomba@menulismudah.com

  13. By mathematicse on Nov 17, 2007 | Reply

    Ngutip yang saya setujui ahhhh:
    “Sampai hari ini saya belum pernah berjumpa seorang pun yang derajat keseriusannya sebagai motivator penulisan sedahsyat apa yang ditunjukkan Ersis Warmansyah Abbas”

    Dan sampai saat ini saya pun belum pernah jumpa (di dunia nyata) dengan yang namanya EWA. :D

    ***Sampai hari ini saya belum berjumpa dengan guru matematik saya

  14. By Ahmad Sherif on Dec 28, 2007 | Reply

    Hello…I Googled for ahmad sherif, but found your page about ng Point at MENULIS TANPA BERGURU (Ersis Warmansyah Abbas)…and have to say thanks. nice read.

    ***Yeah … i like it

Post a Comment