Detonator Menulis
12 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TANYA: Trigger itu pemicu, bagaimana ia bisa bermain di otak kita, dan bagaimana caranya agar terus meruncing bagaikan selongsong peluru yang siap ditembakkan …
DIPICU: Sebenarnya, saya tidak mengidentifikasikan diri sebagai penulis. Sangat bangga mencantumkan petambak ikan sebagai identitas. Suatu ketika, ada orang hebat, mencaci maki: “Dosen kog menulis identitas petambak ikan. Petambak ikan kog menulis tentang menulis”. Aha, suka-suka dong. Mau pakai identitas apa keg, bukan urusan mBahmu.
Memang, saya bukanlah dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang akrab dengan tulis- menulis, setidaknya secara teoritik. Saya pratik langsung. Lagi pula, tidak sedikit respon, banyak orang termotivasi, setelah membaca aneka tulisan saya tentang menulis.
Kepada teman-teman, ada yang Doktor bahasa, pemimpin media, guru, dan pejabat, saya utarakan maksud menerbitkan kumpulan tulisan menjadi buku. Mereka mendukung. Bagus katanya. Kami diskusikan secara sambil lalu, dengan kesimpulan: Insya Allah disambut pembaca.
Begitulah, ketika ada yang melakukan character assasination, datang pemicu: Lakukan hal lebih ‘besar’. Saya segerakan membuat beberapa tulisan untuk mengenapi. Disain isi dan cover langsung dikerjakan. Kirim ke penerbit. Edisi pertama keluar, dan habis. Edisi kedua dicetak, dan nampaknya sudah susah dcari. Itulah nasib buku Menulis Sangat Mudah.
Suatu kali, saya menulis puisi yang diterbitkan Radar Banjarmasin. Ada yang mencak-mencak, sok jadi sastrawan. Saya senyum-senyum saja. Orang yang biasa mencaci-maki, mengritik, atau ‘membantai’ karya orang, tidak piawai menulis. Kali aja, dia ingin menulis, tetapi apa daya kemampuan tidak mendukung. Saya simpan di otak, suatu ketika akan menulis antologi.
Ketika diajak teman-teman menulis puisi berbahasa Banjar, karena menunggu puisi teman-teman lama, saya ‘menemukan’ di diari puisi Surat Buat Kekasih. Kebetulan, sehabis sholat tarawih, anak saya, Antargama EWA Abbas, melantunkan kalimah Allah SWT melalui pengeras surau di komplek kami. Tertegun. Duilah, … jari-jari tangan langsung menari.
Air mata mengalir ketika sampai pada puisi Surat Buat Yang Maha Pengasih. Direspon sangat positif oleh mBak Diah, pepuisi senior wanita tersebut. Belum lagi Doktor Dimas Arika Mihardja, Slamet Rahardjo Rais dari TIM sampai mengunakan di Jakarta untuk lomba dan pembelajaran puisi religius. Silahkan baca atau nilai sendiri di www.webersis.com. Bukunya, kalau edisi pertama, sudah habis.
Saya ingin menekankan, pemicu menulis datang seketika. Bisa jadi ketika merasa tertantang atau sedang melakukan sesuatu yang terkait, mengalir begitu saja. Ada pula karena respon seketika. Misal, ketika ada yang bertanya, atau menyoal. Banyak tulisan saya lahir karena hal sedemikian. Begitu membaca komentar Mas Kurtubi, tulisan ini langsung dibuat.
Suatu kali, membaca buku Rhenald Kasali, Change. Tergugah ketika dia mengutip cerpen yang megisahkan kehidupan guru. Tangan langsung menulis, jadilah cerpen ‘Oemar Bakry’.
Begini saja. Kunjungi Tugu Monas, Teropong Bintang, atau Pantai Sengigi, Laut Banda, Sitinjau Lawik, atau apa saja. Nikmati, mana tahu akan terbetik di otak menulisnya. Bagi yang terbiasa menulis, bisa jadi, langsung menulis. Artinya, begitu suatu hal masuk ke otak, kalau menggugah pikiran atau perasaan, bisa jadi pemicu. Ada kemauan kuat menuliskannya, dan … ditulis. Pelurunya akan susah dihentikan.
Membaca berita kekalahan Tim Nasional sepakbola dari Syria, di Gelora Bung Karno, dihimpit pula peringatan FIFA terhadap PSSI, apalagi menonton komporan Open House Republik BBM, semua kita pasti merespon. Bagi yang memelihara kemampuan mengerutu atau mengeluh, itulah yang ke luar.
Bagi siapa yang terbiasa menulis, bisa menjadi pemicu. Setidaknya, apabila direnungkan, menjadi ide, lalu ditulis. Komporan Republik BBM, menjadi pemicu untuk menulis. Tetapi, dalam banyak hal sedemikian, sekalipun sumbunya sudah tersulut, sering kita membiarkan padam, … tidak jadi menggelegar.
Untuk membuat sumbu pemicu cespleng, sebaiknya mempunyai banyak informasi di otak. Rajin membaca, mengamati, mendengar, atau apa sajalah yang memberikan informasi ke otak sehingga kalau diolah akan menjadi sesuatu. Dan, ketika Ibu Pertiwa ‘hamil tua’, banyak hal bisa menjadi pemicu.
Hati yang senang, dongkol, tertantang, keinginan berbuat baik, menyebarluaskan kebaikan, atau apa saja, bila informasi cukup, pemicu akan datang dari mana-man. Tidak usah dicari-cari atau dipikirkan. Datang sendiri —tanpa diundang.
Kini, sampailah kita kepada, bagaimana menciptakan pemicu? Nah, itu dia. Pemicu menulis bukanlah bak detenator bom yang bisa disulut siapa saja. Menulis, seperti yang sering saya tulis, adalah suatu prses penuangan pikiran. Pikiran adalah hasil olahan otak berdasarkan input, hingga mampu ber-process, dan menghasilkan tulisan, output.
Tidak bisa di-copy paste, ditransplantasi, atau dipaksa-paksa oleh orang lain. Hal sedemikian kegiatan sangat mempribadi, hanya bisa dilakukan bagi siapa yang punya mau, siapa yang berkehendak. Satu-satunya cara, memibiasakan agar pemicu tokcer, ya dengan latihan. latihannya, menulis, menulis, dan menulis lagi.
Sungguh banyak hal, keadaan, kondisi psikologis, reaksi dan respon, realitas sosial yang akan berperan sebagai pemicu. Masalahnya, bagaimana kita mempersiapkan banyak hal agar begitu terbetik picuan, langsung menjadi. Saya tidak punya resep jitu selain, marilah membiasakan menulis. Semakin sering menulis, semakin mudah menulis, dan semakin cepat memagut pemicunya.
Pemicu menulis, seperti menulis itu sendiri, tergantung kepada isian memori kita, dan … kepiawaikan kita dalam menuliskannya. Nasehat saja, begitu ada picuan, langsung ledakkan. Kalau tidak, bisa jadi sumbnya habis, tulisan tidak jadi-jadi.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 November 2007.













13 Responses to “Detonator Menulis”
By Kurt on Nov 12, 2007 | Reply
Hahahah makasih atas penjelasanya… saya merasakan guratan kata-kata yang digelontorkan ini merupakna reaksi dari sebuah detonator… dan tiba2 saja dalam waktu singkat saya berkomentar meluncur tulisan panjang, dalam dan sangat mengena…
yang saya tangkap,
1. menulis dengan dibiasakan akan terlatih trigger itu,
2. memperkaya informasi untuk memperlancar proses trigger ke tulisan adalah dengan memperbanyak informasi: banyak baca, mendengar, melihat, merenung, ngomel, ngoceh, ngacablak, nggerutu dll…
3. ….. ya tulis saja meluncur…
— jadi orang yang banyak trepacu artinya dia pembaca yang baik??? —-
Pemicu lanjutan:
Sekarang bagaimana memperdalam sebuah makna dari tulisan itu sendiri…
tapi dengna informasi yang sedikit. contoh saya, sedikit punya buku, jarang baca, dan gak pernah tamat membaca sebuah buku.. artinya bukan pembaca yang baik…
***Ha ha … untuk yang terakhir kita pending he he … kita nyebar visrus membaca dan menulis he he. Coba, kalau salah tulis … nanti orang bis bertapa, mencari ilham, ilmu, dan kepintaran. Kalau keluarnya aliran sesat gimana?
By hanna on Nov 12, 2007 | Reply
Wah, wah, wah. Hebat benar. Bapak yang satu ini emang subur. Cepat melahirkan, he he he.
***Hamil terus-menerus … ntar habis bahan he he …
By mathematicse on Nov 13, 2007 | Reply
Manggut-manggut… berkaca pada diri…
***Oala …
By Mega on Nov 13, 2007 | Reply
Ndeh..heran awak ma uda ini,,dikampuang dulu acok manangkok dan makan Baluik yo Da..:))
Sehingga otaknya encer banget ,,ha ha ha ha..
***Di Jepang mahal tu belut. Ngaklah, kalau encer ntar ngak bisa mikir lagi dong … he he
By agorsiloku on Nov 13, 2007 | Reply
wah.. sudah lama saya tidak memikirkan apa itu menulis. Menulis itu susah.. tapi lebih susah lagi kalau tidak menulis….
By Yari NK on Nov 13, 2007 | Reply
Wakakakak…. iya suka2 dong. ‘Satpam’ kok ngeblog sih. Begitu banyak yg ‘protes’ pada saya. Memang terkadang ego seseorang bisa tergoyang manakala ada seseorang yg dianggap ‘tidak pantas’ namun menghasilkan sesuatu yang sama dengan apa yang dihasilkan dirinya.
Habis gimana ya? Dalam dunia blogging ini yang penting kan hasil karya kita bukan siapa diri kita. Walaupun mungkin banyak juga yg penasaran tentang identitas si penulis (saya juga terkadang penasaran juga sih tentang identitas penulis, ngga munafik deh.
). Namun ya itu saya tetap menghargai privasi seseorang. Bahkan banyak blogger yg tidak memasang foto sama sekali alias misterius. Bagi saya ya tak apa2. Yang penting mari kita nikmati hasil tulisannya, mari kita nikmati hasil detonasi tulisannya! Bukankah begitu??
***Sip … setuju. Hasil jauh lebih penting, hasil menulis adalah karya besar
By sq on Nov 13, 2007 | Reply
Memori perlu banyak di isi, supaya sumbu “trigger” nggak habis-habis.
h3w.
***Pas … itu pasti
By sawali tuhusetya on Nov 13, 2007 | Reply
Mencari pemicu untuk memulai menulis kadang2 saya sendiri masih susah, pak
Yang biasa saya lakukan untujika otak bener2 buntu paling ya membaca. Dari situ tiba2 muncul keinginan untuk menulis. Wah ternyata membaca dan menulis itu seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi. OK, Pak, salut buat Pak Ersis yang masih terus eksis menyebarkan “virus” menulis lewat blog. Salam hormat.
***Ha ha … jangan merandah bos ai, Urang Banjar bilang: kada iluk, he he
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 14, 2007 | Reply
Detonator oh detonator..
“Sungguh banyak hal, keadaan, kondisi psikologis, reaksi dan respon, realitas sosial yang akan berperan sebagai pemicu. Masalahnya, bagaimana kita mempersiapkan banyak hal agar begitu terbetik picuan, langsung menjadi. Saya tidak punya resep jitu selain, marilah membiasakan menulis. Semakin sering menulis, semakin mudah menulis, dan semakin cepat memagut pemicunya”.
Ya, itu tadi harus ada tindakan pengolahan di otak terkait informasi yang masuk, dilanjutkan dengan tarian jemari memindai ke keyboard.
***Wah … sangat paham, bungkuuuus
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 14, 2007 | Reply
Terkadang mau meledakkannya perlu dikokangkan orang lain dulu, terkadang aja sih.
***Kokang … biar yang suka ngiri … hands up
By alpi on Nov 14, 2007 | Reply
hehe jadi ingat ketika saya wisuda. saat itu yang terbersit di otak saya, saya harus bersikap seperti apa?? apakah euforia karena gelar yang sudah di sandang,ataukah bisa aku menyandang beban gelar itu sekembalinya kemasyarakat,.. ahh bangga juga seh jadi sarjana tapi… lebih enak jadi mahasiswa, ga ad yang protes meskipun usia dah seperempat abad tapi masih nganggur.,. (ayooo berlaku ga kemakluman itu di luar sanaa).,. maka menulislah saya berangkat dari kegundahan itu yang isinya full pelangi ambiguitas dan bahkan untuk judulnya pun saya bingung apa? akhirnya celoteh teman saya jadikan judul ‘uma abah, akhirnya ulun sarjana’ hee..maka plonglah saya apalagi terbit di koran pas hari saya wisuda.. setelah ku baca tulisan boz ini.,. ya! mungkin itu yang dimaksud oleh boz saya ini.. btw pa., kapan neh bikin peta konflik lagi unk kampusnya..Sodara-sodara.. satu hal yang saya tangkap yang menjadi kelebihan pa ersis adalah pandai bikin peta konflik alias ngebom., hantam sana-sini,kritik sana sini sehingga memicu adrenalin orang2 yg merasa terusik untuk meresponya. ingat! lawan tulisan dengan tulisan.,sempat juga ‘perang’ itu saya nikmati di media. mari ciptakan letupan2 tema yang bisa membuat banyak orang meresponnya. dicari!! siapa yang siap jadi martir. boz saya tunggu bomnya>.
***Gini aja … Sampeyan bikin blog aja … apa perlu kubuatkan?
By unai on Nov 14, 2007 | Reply
setuju pak..saya pinjam detonantornya yah..mau meledakkan otak biar terburai semua yang ingin ditulis. BEberapa hari saya tak singgah kemari..rindunya saya dengan tulisan Bapak
***Sama dong. Jangan otaknya yang diledakkan he he … pemicu tulisannya. Moga anaknya sembuh, Amin.
By Suci on Nov 16, 2007 | Reply
Kalo wawasan sudah banyak, ide ada, pilihannya ada dua, mau dijadikan tulisan atau menguap saja….ketika ingin dituliskan , ternyata ada hal yang masih diperlukan; Trigger…
Sayangnya, bagi saya, biasanya yang jadi pemadam trigger itu adalah musuh paling berat; Diri sendiri! hehe….
***Kalau sudah tahu musuhnya, kan gampang aja tu …