Transplantasi Menulis

11 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA: Bapak saya kagum sekali dengan tulisan Bapak yang sangat lugas dan enak dibaca. Bagaimana saya dapat menulis sebagus Bapak? Apa saya dapat belajar menjadi penulis yang bagus? Bagaimana hukumnya halal/haram, memakai organ orang lain di tubuh kita … ?

MENULIS DAN GANTI HATI: Menurut saya, tidak halal, tapi juga tidak haram. Tapi, saya kan bukan ahli agama, Jadi, pendapat ini jangan dipegang. Ini hanya pegangan saya. 
 

Begitu gaya Dahlan Iskan, penulis buku Ganti Hati. Khas gaya CEO Jawa Pos Grup, perusahaan yang tengah mengurita ke banyak jenis usaha tersebut.
 
Canda bermakna dilontarkannya menjawab pertanyaan sesorang yang ingin menulis bak Dahlan Iskan: Harus transplantasi dulu, he … he ….
 
Dahlan, ya Dahlan Iskan. Pria pekerja keras yang menjadi idola banyak orang. Saya termasuk diantaranya dalam banyak hal. Sekalipun ada juga yang saya kritik. Dahlan adalah sinaran Bumi Mutu Manikam yang layak dijadikan contoh, bukan saja dalam menulis, tetapi terutama, kerja keras, dan … keberhasilan.
 
Secara fisik, tidak terlalu mengenalnya. Tapi, banyak pikiran dan polanya menyeruak begitu saja ke otak saya. Saya terkagum-kagum, entah tahun berapa, bagaimana dia bercerita menginap di Plaza Indonesia, ketika plasa yang megah itu baru beroperasi. Membawa kresek, santai saja menginap di arena mewah tersebut.
 
Pada lain ketika, dia ‘mengingatkan’ Urang Banjar, bahwa Balikpapan berkembang begitu pesatnya. Sehingga, banyak perusahaan besar, bahkan BUMN memindahkan markasnya dari Banjarmasin. Peringatan simpatik, entah berapa orang yang peduli.
 
Dilain ketika, Dahlan menulis secara cantik bagaimana dia operasi gigi yang diamsalkan dengan tiang-tiang pancang. Saking doyan membacanya, tidak mungkin dihitung jumlah dan temanya. Tulisannya, ada kalanya, segala-galanya. Saya rela memprioritaskan membacanya.
 
Pada suatu ketika, kami mengadakan Banjarbaru Vision Forum, kerja bareng Radar Banjarmasin (JP Grup) dan Pemko Banjarbaru. Erwin Dede Nugroho ketua dan saya sekretaris. Saking senangnya, saya membuat artikel, di Radar Banjarmasin, dan Bandjarbaore Post. Tulisan di Bandjarbaroe Post berisi (juga) kritik terhadap Dahlan, yang ditanggapinya dengan senyum-senyum saja. Hasilnya?
 
Saya semakin kagum dengan lelaki yang kemana-mana menmakai sepatu cat dan tas punggung tersebut. Dalam hati terbesit tantangan, alangkah gobloknya kalau tidak mampu belajar dari Dahlan. Sejak itu saya tidak pernah ketemu dia. Padahal, banyak tulisannya yang saya simpan. Muncul ide nakal, suatu saat nanti akan saya bukukan.
 
Nah, setelah dia lebih sering ke Cina, tahu-tahu ganti hati. Teman-teman JP memang ada yang ‘membocorkan’, saya jawan dengan doa batin: Panjangkan umur manusia langka yang mengagumkan itu, ya Allah. Entah kenapa, saya seolah-olah begitu dekat dengan Dahlan, seakan-akan dia teman saya. Padahal, bertemu saja baru sekali, he … he …
 
Sungguh. Saya geleng-geleng kepala membaca serial tulisannya di Radar Banjarmasin. Geleng-geleng karena kagum, dan … aduh gagap menulisnya. Orang sekarat begitu, masih berkarya, humor, memberi harapan orang, dan ect.
 
Kalau orang lain, barangkali sibuk dengan penyakit yan hadir di depan gawang nyawanya. Dahlan, duh … Dahlan, menulis tentang tanggung jawab, pesan-pesan kemanusiaan dari apa yang dia alami dalam ujaran-ujaran yang menyelinap ke kesadaran tanpa disadari sekalipun.
 
Membaca ulang buku Ganti Hati, karena edisi berserinya sudah dibaca, pikiran pertama yang tercuat: Anggota KP EWAM’CO dan kru Bandjarbaroe Post diwajibkan membaca (membeli) buku Dahlan. Tanya kenapa?
 
Saya, maaf saja, termasuk orang mendendam tentang pendidikan menulis. Satu tesis yang selalu dipaparkan, menulislah sesuai diri, menulis dari apa yang dipikirkan, dialami, dan sejenisnya. Jedahlah sejenak dengan gaya pikiran orang lain. Sekalipun di kampus, dalam tataran akademis, menyadur pikiran orang (pakar) itu perlu. Tapi, dalam menulis ‘biasa’, biasakan menulis dari dalam diri.
 
Kita, mungkin cukup banyak membaca buku dari berbagai pilahan. Nah, dalam kerangka (belajar) menulis, bacalah buku Dahlan, Ganti Hati. Sampeyan bukan saja akan berkelana dalam praktis dan nyamannya kata-kata, dalamnya makna tersurat dan tersirat, indahnya hidup kalau diperjuangkan, inti-inti ajaran agama, ikhlasnya keberbedaan berpikir, dan, wuaw … banyak lagi.
 
Sengaja pula saya tidak cuplikan isi buku, sebab kalau Sampeyan membaca akan lebih ‘merdeka’ menikmatnya. Ini bentuk perlawanan terhadap orang suka memaksakan pikirannya kepada orang lain. Masih ingat Malam Lebaran, Sitor Situmorang?
 
Banyak kali yang mengaku-ngaku ahli sastra membahas dengan pikirannya, e … begitu Sitor memberi penjelasan, sangat sederhana. Para pembahas dan kritikus pada luput. Sitor mau berlebaran ke rumah Pram. Pram ke luar. Agak dongkol, Sitor pulang… e … bertemu tembok, dia ingin melihat apa dibaliknya. Dia panjat, ternyata … kuburan. Bulan memancarkan sinarnya. lalu, … Bulan di atas kuburan.
 
Maksud saya, menulis —seperti juga membaca karya tulis— jangan sampai terdistorsi dengan bacaan orang, dengan pendapat orang. Yang utama dan utama, nikmati, pahami dengan diri sendiri. Kalau mau membanding, setelah berdialog dengan diri, silahkan.
 
Saya betul-betul alergi berguru dalam menulis. Apalagi, kepada mereka yang tidak fasih menulis. Kalau kepada Dahlan, ibarat janggut pulang ke dagu. Lagi pula, belajar itu kan internalisasi. Sungguh, tidak mungkin kita memfotokopi pikiran orang.
 
Baca, dengar, lihat, atau raba-raba he … he … Proses internalisasi, pemahaman, akan terjadi. Pikiran akan bekerja, dan dari proses tersebut akan lahir karya.
 
Minimal, menikmati karya dengan pikiran, rasa, dan naluri sendiri. Jadi, sekali lagi, saya menganjurkan kepada siapa saja membaca buku yang satu ini. Terutama, kepada mereka yang belajar menulis, bahkan penulis sekalipun.
 
Satu lagi. Dahlan itu sukses dan kaya, dia tidak sombong dan sok pintar menulis. Alangkah ironisnya, kalau miskin dan bodoh menulis, sombong pula awak ini. Transplantasi menulis tidak mungkin. Belajar, pastilah lebih bermanfaat. Mari petik hikmah-hikmah karya Dahlan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 November 2007.

  1. 7 Responses to “Transplantasi Menulis”

  2. By Mega on Nov 11, 2007 | Reply

    Jadi Pengen tau  dech,sosoknya Dahlan.

    Uda awak ingin baca Novel “Autumn in Paris” Liana..kalo jadi ke Jepang,,nitip yak..hehehe..

    ***Yap, sudah dihungi Mas Erwin? Sori kalau saya lagi buka web dengan HP, yah ngak mungkinlah chat. Terlalu mahal pulsanya oi …

  3. By mathematicse on Nov 11, 2007 | Reply

    Wah mendengar ceritanya saja saya pun ikut terkagum-kagum. Bagaimana akalau saya membaca karayanya ya… ? :D

    ***Ada di Jawa Pos atau 60an surat kabar grupnya. Buka saja cersi onlinenya.

  4. By ogi fajar Nuzuli on Nov 11, 2007 | Reply

    Om Dahlan Iskan piawai dalam merangkai logika dalam bentuk tulisan namun uda pun tak jauh berbeda dengan om Dahlan..selamat dan sukses

    ***Ha ha … dangsanak ini pintar memuji dan membesarkan hati kawan. Ulun masih balajar bos ai … membiasakan menulis.

  5. By Kurt on Nov 12, 2007 | Reply

    Dahlan Iskan, yang kukenal tidak sperti yang ditulis di sini… satu lagi manfaat dari membaca blog ini…. hatur nuwun kang. :)

    Pertanyaan: bagaimana menjadi (meniru) seorang “Dahlan Iskan” itu kayanya belum ditulis… :)

    ***Yoi, saya menulis sebagimana ayang saya pahami.

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 14, 2007 | Reply

    Saya baca juga beberapa tulisan sidin di HU Radar Banjarmasin. Mencari tahu sosok seorang CEO Jawa Pos Grup, dari sudut pandang lain.

    ***Baca bukunya, lebih asyyyyyyyyyyyik.

  7. By yusfa on Nov 15, 2007 | Reply

    bukunya bagus… penulisnya bagus… komentatornya juga bagus…

    ***Sependapat

  8. By ady skatermeky on Apr 25, 2008 | Reply

    tanpa dirimu
    hatiq terasa gelap
    bagai langit mendung yang kan hadurkan hujan
    tanpa dirimu jiwaku terasa sepi
    bagaikan malam tanpa bulan dan bintang
    tanpa dirimu
    hidupku terasa tak berarti
    kini ku hanya bisa berkata
    jangan pernah tinggalkan aku
    temanilah aku menggapai cahaya indahmu
    hanya untuk diriku
    sampai ku bosan akan dirimu
    tapi apakah ku kan bosan dengan dirimu

Post a Comment