Serendipity

11 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TANYA: Bagaimana mendapatkan ide dan mengelola ide untuk dituliskan. Terkadang, idenya sudah mantap, eh … menulisnya susah amat. Bagaimana ini Pak?

EURIKA, EURIKA: Wow … Tanpa sadar dia berlari kegirangan … “Aku dapatkan. Aku dapatkan”, katanya dengan ‘pentungnya’ melambai kemana-mana. Mbah kita ini tidak sadar dia telanjang. Harap maklum. Si mBbah teramat girang. Tugasnya memecahkan ‘teka teki tugas’ Hiero, raja Syracuse, terpecahkan. Mengukur berat emas. Didapatnya dari, ya dari bak mandi. 
 
Archimedes pantas bangga. Kejadian itu, tiga abad sebelum masehi. Pada lain ketika, seorang Indian di pegunungan Andes —setidaknya begitu legenda tentang kinina— yang sedang dilanda demam tinggi, terebah di tepi kolam air,  genangan air yang tercemar getah pohon quina-quina. Karena haus, nekat minum air yang rada-rada pahit tersebut. Ajaib, rasa pahit cemaran pohon kinina yang selama ini dianggap beracun, membuatnya sembuh.
 
Lain pula cerita mBah Issac Newton. Menurut tuturan Stukeley (Memoirs of Sir issac Newton’s Life, 1752): Setelah makan malam Newton pergi ke taman, berleha-leha duduk sembari menikmati minuman teh. Dalam suasana kontemplatif, sebuah apel jatuh. Mengapa apel jatuh ke tanah? Kog ngak menyamping? Dan, seterusnya. Dari amatan soal perjatuhan apel itulah lahir Teori Gravitasi.
 
Saya, biasanya memberi ilustrasi pengantar mata kuliah penelitian dengan kisah sedemikian untuk mengambarkan ‘penemuan’ tidak terduga sebagai tandem trial and error. Biasanya, mahasisiwa tertarik, dan terkadang, agak tercengang.
 
Saya kunci: Kalau kalian memanfaatkan otak, banyak membaca, memperhatikan fenomena atau kejadian-kejadian, bukan tidak mungkin kalian akan menjadi penemu. Banyak penemuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan secara tidak sengaja.
 
Saya lebih ternyaman menemukan buku Serendipity, Accidental Discoveries in Science, Royston M. Robert yang telah diterjemahkan penerbit Pakar Raya (2004). Serendipity?
 
Istilah yang dipopulerkan Horace Walpole (1754) merujuk penemuan benda-benda berharga dan menyenangkan yang tidak dicari, atau ‘kemampuan membuat penemuan yang menguntungkan dan yang tak diharapkan secara tidak sengaja’.
 
Konon, serendipity berasal dari dongeng ‘Tiga Pangeran dari Serendip’. Nama lain untuk Ceylon alias Sri Langka. Ceritanya, tokoh pangeran-pangeran tersebut selalu menemukan sesuatu, baik tak secara sengaja maupun secara penuh perhitungan, yang sebenarnya tidak sedang mereka cari ….
 
Lalu, apa hubungannya dengan menulis? Ya, begitulah, setelah dipikir-pikir, serendipity style ini berlaku dalam kegiatan menulis. Saya kog jadi yakin, banyak sekali hal-hal yang teringat dan tertulis begitu saja, terkadang terpikirkan saja tidak sebelumnya. Tetapi, menjadi tulisan.
 
Masih ngat tulisan memaknai waktu dalam menulis tempo hari? Saya heran, kog bisa ya menulisnya? Tidak terpikir sama sekali. Saya tidak belajar (formal) matematika, apalagi fisika, kimia, biologi, sampai neurologi. Aneh.
 
Jujur saja, menganggu pikiran. Oh … saya menemukan. Rupanya, Hal-hal yang pernah kita baca, dengar, lihat, amati, atau dipikir dan terpikirkan, tersmpian di memori (otak). Suatu ketika, agak panik. Mengadu kepada Erwin DN, guru IT saya. Soalnya, Hakim, Pemred Bandjarbaroe Post, saya hibahi komputer ‘pakaian’ karena membeli komputer baru. Saya punya kebiasaan setahun sekali tukar komputer.
 
Apa lacur. Beberapa file lupa dipindahkannya. Jawab Erwin, tidak ada yang hilang, didelet atau diinstal ulang. Ada software membukanya. Tidak usah takut. Dengan kata lain, apa yang pernah terjadi, akan terekam. Pikiran saya berputar-putar seputar sistem memori otak.
 
Saya teringat janji Allah SWT, tidak ada yang hilang dari perbuatan kita di dunia. Malaikat Rakip dan Atip telah mencatat. Tidak heran, tangan, mulut, mata, atau apa saja bagian diri kita akan bersaksi atas perbuatan. Saya baru sadar, kenapa bisa membuat cerpen: Mahkamah Tak Berbias. Cerpen itu menceritakan ‘pejabat pendidikan’ yang mengorupsi proyek pendidikan dan diadili di mahkamah akhirat.
 
Tepatnya, menimbun informasi di otak, dalam kerangka menulis, semakin banyak semakin bagus. Ketika ada pemicu, akan terkeluar begitu saja. Ingat betapa cepatnya saya menjawab ketika ada yang bertanya tentang menulis. Saya sendiri heran.
 
Dengan kata lain, kalau informasi telah bermukin, begitu ada pemicu (trigger) seketika akan terkeluar. Kita, tidak perlu berpikir, atau merenung berpayah-payah. Pada contoh lain, manakala suatu virus menyerang tubuh, anti virus bak pasukan perang akan mengeroyok ‘barang tak dikenal’ secara otomatis. Kalau virusnya terlalu kuat, atau kondisi tubuh buruk, barulah ‘kita’ kalah.
 
Mungkin — saya baru terpikir— ketika menelorkan Ersis Writing Theory, tidak memikirkannya. Begitu juga, apungan tentang menulis, ya dengan menulis, menulis, dan menulis. Latih menulis itu. Syaratnya, ya banyak membaca.
 
Sungguh, saya bukanlah fanatikus teori-teorian. Barangakali karena terlalu banyak membaca teori atau akibat buruk atas reaksi orang-orang yang terlalu mengagung-agungkan teori. Timbul anti tesis, pratik saja. Coba simak genre tulisan saya, menganjurkan menulis dengan membelajarkan diri, memasihkan menulis dengan menulis.
 
Serendipity, bisa bersahabat dengan siapa saja. Hanya saja, biasanya kita, tidak terlalu peduli dengan fenomena, atau pun apa-apa yang sedang terjadi dengan diri kita. Setiap hari kita menemukan ide-ide baru, ide-ide gila, ide-ide terpuji, ide-ide tercela. Dari mana datangnya ide? Jangan-jangan serendipity, ya itulah.
 
Tapi sudahlah. Mari kita perbanyak meraup informasi, dan terutama membaca, dan atau melalui alat-alat atau cara lain. Dengan bertimbunya informasi di gudang memori, minimal akan memudahkan kita menulis. Menulis, menulis, dan menulis terus.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 November 2007.

  1. 8 Responses to “Serendipity”

  2. By Yari NK on Nov 12, 2007 | Reply

    Ya itulah kehebatan otak kita, kita mengamati, kita membaca, kita menalar akhirnya bisa menghasilkan sesuatu. Semakin otak kita digunakan semakin produktif otak kita dan ‘tidak cepat aus’, ini sudah terbukti secara ilmiah. Hebatnya lagi, otak kita, tidak seperti komputer yang memory-nya terbatas, kapasitas penyimpanannya masih misteri. Ia bisa menjadi sangat fleksibel. Data yang sering terpakai otomatis akan tetap di memory ingatan, sementara data yang jarang dipakai otomatis ‘terhapus’ dari memory, namun anehnya terkadang ‘memory’ itu bisa didapatkan lagi di satu titik waktu kalau tiba-tiba kita ingat. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan pada komputer yang paling modernpun saat ini, di mana data yang sudah terhapus dari memory tidak bisa didapatkan kembali kecuali kalau diinput ulang.

    Ya… dengan hal2 seperti yang pak Ersis katakan kita memang bisa menghasilkan sesuatu. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa dihasilkan oleh otak kita, sewaktu2 kita bisa berhasil tanpa diduga, namun bisa juga gagal walaupun kita telah konsepkan dengan baik. Yah, walaupun otak kita memang masih banyak menyimpan misteri yang jelas memang betul otak harus terus dipakai…..! :)

    ***Wow … tambah semangat saya. Otak memang ciptaan Allah sangat sempurna euy … Mari kita manfaatkan sebaik mungkin. Gitu kan Mas Yari?

  3. By Mega on Nov 12, 2007 | Reply

    Wah..ini dah mo akhir Tahun,,mo ganti komputer lagi yak Da,,ntar yg thn ini ntuk awak yah Da,,ahhaha,,Rasain..
    awak punya komput,,dh 5 thn bln diganti2,,:))

    ***ha ha saya pakai yang barunya aja, lalu yang lain taroh di kantor atau untuk anak he he

  4. By hanna on Nov 12, 2007 | Reply

    Tiap tahun ganti satu komputer? Yang lama bisa disumbangin dong, pak. He he he…

    Otak itu kaya pisau yang perlu di asah. Cara ngasahnya ya, berguru.
    Ntah berguru pada buku, pada pengalaman, pada alam, pada guru, pada teman, ya pokoknya pada apa saja deh yang bisa dijadikan bahan pembelajaran.

    ***Kalau untuk menulis, saya berusaha membiasakan dengan alat yang menyenangkan. E … mau nyumbang laptop? Tapi, pasi pasti ditolak kalau lebih jelek dari laptop saya he he. Maaf, maksud saya dalam tulisan itu, agar kita lebih peduli dan memprioritaskan alat-alat yang kita pakai agar memudahan kerja. Itu saja kog … bukan untuk tujuan lainnya.

  5. By 5H4LEH on Nov 12, 2007 | Reply

    Ga perlu disumbangin kelain Pak.., Berikan aja sama saya. Punya saya udah bertahun-tahun belum diganti. he..heh

    ***Ha ha itu strategi saya, saya pakai yang terbaru. Kantor atau anak-anak nomor berikutnya. Minimal, ini usaha saya membelajarkan diri: Kurangi memakai barang kantor, tetapi berkontribusilah pada institusi. Sebab, pada akhirnya kantor itulah yang memberi kita rezeki.

  6. By Kurt on Nov 12, 2007 | Reply

    Wah ada lagi teori tanpa diketmukan langsung “nyantel” di otak. Bisa gitu yaa bang. Saya mau tanya ah, komentar melulu bosen!
    Trigger itu pemicu, bagiamana ia bisa bermain di otak kita, dan bagaimana caranya agar terus meruncing bagaikan selongsong peluru yang siap ditembakkan… :)

    ***Halloo … langsung saya tulis dan publish. Mohon maaf kalau kurang pas dan tidak memuaskan. Salam Karya, menulis mari menulis.

  7. By Kurt on Nov 12, 2007 | Reply

    mantap bang jawabane saya sudah membacanya.. dan membuktikan hanya dalam wakstu singkat batas antara saya komentar dengan publishan… begitu cepat benar2 sebuah trigger yang patut aku contoh… :)

    ***Itu soal waktu saja. Jam 10 menulis apa bedanya dengan ja, 12, he he. Intinya, soal mau apa tidak saja ka? Semua pasti bisa kalau mau.

  8. By mathematicse on Nov 13, 2007 | Reply

    Aku bisa aku bisa aku bisa…………(sambil berteriak dan meloncat kegirangan setelah memcahkan persoalan matematika yang sukar (bagi saya). Hehehe… :D )

    ***Yoha … aku bisa … aku bisa

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Nov 14, 2007 | Reply

    Serendipity oh serendipity..
    Serendipity, makhluk ini sahabat saya juga. Suatu ketika, saya mau nulis tentang ketika tugas dan perintah ‘menggila’ (bertubi-tubi) datangnya, eh kok malah muncul ide nulis puisi. Ladalah, bagus juga ternyata puisinya, cuman belum perlu dipublish dulu. Dan masih banyak lagi peristiwa yang lain.

    ***Sahabta kita semu, siapa yang mau nemu, iya kalo. Setiap tulisan adalah penemuan.

Post a Comment