Konyol Berbahasa Kesalahan Logis
7 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Pak Ersis kalau memotivasi menulis memang hebat, saya terbius. Seolah-olah, menulis memang sangat mudah. Apa tidak ada kesulitan dalam menulis Pak? Buktinya, saya termotivasi, tetapi tetap saja mandeg.
Betul juga. Sekali-kali saya tulis yang agak ‘serem’. Tapi, harus dimaknai, ini pengetahuan dan keterampilan pra menulis sebenarnya. Ya, pelajaran setingkat SMA. Sekadar untuk mengingatkan saja.
PENALARAN ‘JONGKOK’: Perhatikan ujaran berikut: “Saudara-saudara. Tandatangani absen yang telah disediakan panitia”. Seorang guru (dosen) —keterlaluan kalau pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia— memerintahkan (maha)siswa: “Jangan lupa menandatangani absen. Itu bukti saudara mengikuti mata kuliah ini”.
Bukan tidak mungkin hal sedemikian menjadi ‘makanan’ sehari-hari. Di sekolah, peguruan tinggi, kantor, atau ketika pengundian arisan. Konyol, bebal, dan sungguh bodoh. Menandatangani absen?
Absen adalah kata serapan dari kata bahasa Inggris, absent. Absent berarti mangkir alias tidak hadir. Nah, bagaimana logikanya, orang-orang yang hadir menandatangani daftar ketidakhadiran (absence). Kalau daftar hadir (presensce), masuk akal.
Itu baru pemakaian kata. Memang sih, sosiolog atau sosiolinguis akan berkilah, itu soal kebiasaan Mas, sesuatu yang taken for granted. Yah sudah, tanak saja nasi biar jadi bubur, godog saja wedang, mana tahu mau bikin ketel uap. Kan asyik air atau ledeng (terbuat dari pipa atau besi) berjalan sekeliling kota, sekadar untuk menjawab pertanyaan: Air di rumah jalanlah. Ledeng jalannya. Emang air atau ledeng punya kaki?
Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air. Kalau ditelusuri lebih serius, banyak hal serupa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Cermat berbahasa lebih kepada angan-angan dibanding praktik? Bukankah EWA sering menganjurkan: Tulis, tulis, dan tulis. Setelah ditulis baru diedit. Ya, tetapi tidak untuk pilihan kata (diksi) yang di dalamnya terkandung pengertian. Apalagi menyangkut term. Kalau salah ketik, bolehlah.
Kalau tidak paham arti kata, bagaimana akan memahami ‘tempat’ dan ‘fungsi’ kata dalam kalimat. Jangan dulu bicara soal kata-kata yang dihubung-hubungan menjadi kalimat sehingga mendapatkan artinya. Soal ‘konsep’ kandungannya saja luput.
Ingat. Kata ‘dunia’ adalah konsep yang dibaliknya ada ‘ada’ yang begitu rumit, ya materi, energi, ruang, dan waktu. Ada benua Amerika, Asia (Eropa), Afrika, dan Australia. Belum lagi kalau ‘dunia pikiran’, dan sebagainya. Hal-hal tersebut kita rangkum dalam satu kata. Ingat, hanya satu kata, dunia. Salah pula …
Karena itu, biasanya dibuat batasan (definisi) pengertian sesuatu. Itu pun dipahami bermacam-macam. Tahu kata bujur? Di Bandung artinya, pantat. Di Banjarmasin, betul. Ya, sudahlah, nanti dikira membahas bahasa, sok jadi ahli bahasa. Kita lajukan kepada kesalahan logis. Ada salah yang logis?
Kesalahan logis (falalacy) terjadi ketika kita menyimpulkan sesuatu berdasarkan penalaran yang tidak ‘sehat’. Misalnya, karena sampling yang tidak cukup. Kita dicekoki kata-kata: ‘Korupsi sudah menjadi budaya bangsa Indonesia’. Berapa orang sih orang Indonesia yang korupsi? Jangankan korupsi, mayoritas warga bangsa —meminjam istilah polisi, NK, niat dan kesempatan— hampir tidak ada peluangnya. Tertutup rapat.
Koruptor itu kan orang-orang tertentu, apakah karena jabatan, kedudukan, fungsi, atau perannya. Nah, mereka-mereka itulah pelaku korupsi sejati. Wuele wuele … kog disimpulkan bangsa Indonesia berbudaya korup. Artinya, sampelnya tidak memenuhi sarat. Ini namanya generalisasi serampangan.
Dampak psikologisnya menjerat. Yang korup sebenarnya segelintir orang saja, buktinya pengadilan susah membuktikan. Nah, karena dikatakan budaya, seolah-olah semua kita terlibat. Kalau dibasmi semua bakalan kena. Wajar to, pemberantasan korupsi cukup jadi komotitas meninabobokan, menjadi bunga-bunga tekad. Bukan go memberantas praktik korup.
Pada lain ketika, rakitan kalimat merupakan loncatan sembarangan dari suatu premis: ‘SBY presiden RI karena itu dia ahli mengarang lagu’. Banyak kalimat dirangkai dalam bentuk demikian yang dalam logika dinamakan belum tentu, alias non-squitur. Saya sarjana, maka saya tahu Si Ahmad alumnus Afganistan.
Terkadang —perhatikan kalimat-kalimat teman-teman di blog— kalimat dibuat berdasarkan analogi palsu: ‘Amerika Serikat bangsa maju karena itu cara berpikir masyarakatnya sangat ilmiah’. Hasil survey menyimpulkan, sepertiga masyarakat AS percaya tahyul. Jangan-jangan bangsa AS sorganya dimana tahyul begitu digandrungi he … he …
Tidak jarang pula kita dijebak oleh penalaran melingkar: ‘Saya mencintai dia karena memang mencintainya’. Wuileh … kesimpulan dan premisnya sama. Banyak lho penulis penyuka model beginian.
Ada pula yang terjebak pada deduksi cacat. Manakala kita memakai premis cacat dalam menarik kesimpulan deduktif, kesimpulannya cenderung cacat. Contoh: ‘Saya belajar bahasa Indonesia dari SD sampai PT. Saya pasti hebat menulis artikel’. Sabar bo … hati-hati. Jangankan ‘saya’, jangan-jangan guru (dosen) bahasa ‘saya’ saja tidak piawai menulis, he … he …
Kesalahan logis dapat pula diakibatkan pikiran simplistis, terlalu menyederhanakan masalah. Seorang calon presidem gagah berujar: ‘Mengatur negara bak mengatur keluarga; saya sukses menjadi kepala keluarga, maka akan sukses sebagai presiden’.
Argumen ad homimem, manakala tidak berdasar masalahnya tetapi menyerang orangnya. Boleh saja tidak senang kepada Ersis (pribadi), tetapi ketika tulisannya benar dan bermanfaat, ya terimalah. Contoh tidak ditampilkan, terlalu buanyaaak.
Argumen ad populum terjadi karena kesalahan ditimpakan kepada kelompok tidak pada masalahnya. Kalau terjadi keributan, etnis tertentu selalu menjadi sasaran, apalagi kalau pemicunya dari etnis tersebut. Padahal, mayoritas mereka tidak tahu-menahu.
Tidak kalah memprihatinkan, terutama di Indonesia, kesalahan logis berdasarkan kewibawaan palsu. Misalkan kalau mencari contoh manusia yang baik, hidup-matinya memperjuangkan rakyat, ya Anggota Dewan. Bukankah kita memilih mereka sebagai wakil, yang terbaik diantara kita? Kalau itu yang dipahami, pastilah kecele.
Kita sering pula bersua penalaran, sesudahnya maka karenanya. Saya punya contoh. Seorang teman pejabat mengatakan, sesudah masakan Padang dia selalu mengantuk. Karena itu, kalau mata tidak mau terpejam, maka makanlah masakan Padang dan setelah itu kita akan tidur. Ada-ada saja.
Terakhir kita sampai pada yang tidak relevan. Terjadi karena tidak konsisten pada pokok masalah. Misalnya, berkeinginan menjadi penulis. Susah. Jelas saja, namanya saja memulai. Belum terlatih, penguasaan kosakata minim, lebih senang membeli deodoran dari buku, tidak punya kamus atau ensiklopedi. Lalu, dicari-cari alasan, tidak bakat, bukan panggilan, sibuk, tidak ada waktu, pikiran tidak tenang, dan seterusnya.
Sampeyan mau menulis atau membentangkan berbagai kesulitan hidup?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 November 2007.













12 Responses to “Konyol Berbahasa Kesalahan Logis”
By hanna on Nov 7, 2007 | Reply
Konyol berbahasa logis? Perlu periksa diri, nih.
Belum terlatih, ya berlatihlah sejak sekarang.
Penguasaan kosakata minim perbanyaklah buku kamus, pratikkan dalam menulis. Tidak bakat? Bakat yang tidak diiringi latihan dan usaha tidak akan menghasilkan apa-apa. Sibuk? He he, yang ini iya. Tapi kalau mau merelakan waktu senggangnya untuk nulis pasti bisa. Masa iya sih 24 jam non stop. Pikiran tidak tenang? Percaya deh, setelah menulis keluar apa yang membuat tidak tenang akan tenang dengan sendirinya.
By hanna on Nov 7, 2007 | Reply
Salak ketik. Perbanyak buka kamus kamus maksudnya.
By mathematicse on Nov 8, 2007 | Reply
Ya membahas tentang fallacies dalam berbahasa memang menarik. Saya pun menyukainya.
Banyak pemakaina kata dalam dehari-hari yang salah kaprah. Dikira banyak orang benar, padahal sejatinya salah. Seperti penggunaan kata absen yang sudah dicontohkan di artikel ini. Contoh lain penggunaan kata sarat (yang berarti penuh) dengan kata syarat sering dipertukarkan. Dan masih banyak juga contoh lain.
Dalam matematika pun ada banyak fallacies, yang bila ditulis (nanti deh akan saya tulis.. hehehe… cuma nanti-nanti aja.. kacau…), saya pikir cukup menarik, bahkan bikin kita terpesona.
By 5H4L3H on Nov 8, 2007 | Reply
Ya, itu karena orang indonesia menyukai kesalahan dan tidak mau disalahkan, Maka Adat dan Budaya disalahkan. Ya, seperti kata absen tadi padahal salah tapi dianggap benar karena telah kebiasaan sejak SD.
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Nov 8, 2007 | Reply
Saya mau menulis, menulis, dan menulis.
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Nov 8, 2007 | Reply
Mungkin memang sudah latah, ya sepakat itu manusiawi, tapi setelah tahu jangan diulangi lagi dong.
Mari beritahu yang lain…
Salam
By unai on Nov 8, 2007 | Reply
Menampar kali tulisan Bapak ini, dan nanpaknya tema tulisan kita sedikitnya sama pak.
Saya suka kalimat terakhir ini :
“berkeinginan menjadi penulis. Susah. Jelas saja, namanya saja memulai. Belum terlatih, penguasaan kosakata minim, lebih senang membeli deodoran dari buku, tidak punya kamus atau ensiklopedi. Lalu, dicari-cari alasan, tidak bakat, bukan panggilan, sibuk, tidak ada waktu, pikiran tidak tenang, dan seterusnya.
Sampeyan mau menulis atau membentangkan berbagai kesulitan hidup?”
PLAKKK tertamparlah saya, tapi saya lebih suka buku ketimbang deodoran
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
Menusuk dan tajam hehe,,tapi sangat membinmbing sekali…
Hidup menulis(^_^)
By meiy on Nov 8, 2007 | Reply
emanglah bapak ini…apa hayo, membuat orang berpikir yang pasti!
yang saya pahami penting disini kehati-hatian juga perlu ya pak, byk baca, byk mikir, juga bertanya kali…sekalian praktek?
By febry on Nov 8, 2007 | Reply
sepakat ..emang benar kesalahan logis sering kali di akibatkan oleh pikiran simplitis.terlalu menyederhanakan masalah. kalau milih mau menulis atau membentangkan berbagai kesulitan hidup sich. enaknya menulis dibanding membentangkan kesulitan hidup.tapi gara-gara terlalu menyepelekan hal menulis ya tetap saja mandeg.he…sadar tapi gak sadar.
***Ha?
By kangguru on Nov 8, 2007 | Reply
<blockquote>‘Saya mencintai dia karena memang mencintainya’</blockquote>
kan sekarang banyak pak, ketika orang ditanya apa itu GNU jawabnya Gnu Is Not Unix hehehhe jadi melingkar lingkar ya
***Dari dulu … sekarang lebih dimantapkan saja he he
By Mbelgedez (No Log On) on Nov 10, 2007 | Reply
Tulisan situ sangat terinspirasi dari sini:http://dewo.wordpress.com/2007/10/28/absensi/
***Kayaknya ngak tu … sama (dikit) pemikiran, ide, atau pegamatan aja kali. Saya suda menulis tema-tema demikian, kira-kira sejak 7 tahun lalu. Baca HU Radar Banjarmasin (Radar Banjar), atau buku-buku saya. Dalam perkuliahan, kira-kira sudah sejak 15 tahun lalu ketika saya mengajar Mata kuliah Logika soal itu diuyak-uyak. Ada ribuan (mantan) mahasiswa yang bisa bersaksi. Saya malahan salut, jangan-jangan kita bisa membangun ide bersama. Gimana?