Menulis Memakai Waktu
6 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Di benak saya sudah menumpuk banyak hal yang akan ditulis. Hanya saja, begitu akan ditulis, mandeg. Apa rahasianya Pak? Apa menulis itu perlu waktu, tempat, dan suasana khusus? Padahal Pak, pekerjaan saya menumpuk.
MEMANFAATKAN: Ya, waktu terbentang di lintasannya. Kita tinggal memanfaatkan. Kalau lebih canggih, ‘merebut’ dan ‘menciptakan’ peluang (waktu). Hal tersebut sangat berbeda dengan ‘mencari-cari’ waktu untuk menulis. Kalau mencari yang sudah ada, bukankah berarti tidak mengerti hakikatnya? Jadi, manfaatkan sajalah.
Coba perhatikan. Kalau di rumah harus antri untuk mandi, apa yang dilakukan? Ada ya mengerutu, sampai mengumbar sumpah serapah segala macam. Kalau 10 tahun berkeluarga, dan rerun terus, apa tidak menganiaya pikiran dan perasaan sendiri? Kalau jawabannya ya, bertindaklah kreatif. Maksudnya?
Silahkan saja anak-isteri duluan, hidupkan komputer. Bisa ngak nyangka lho, e … begitu giliran mandi tiba, tulisan selesai. Ah mana mungkin? Siapa bilang tidak. Tulisan-tulisan saya banyak ditulis saat-saat seperti itu. Mengikuti acara, apakah mendengar pidato atau paparan pemakalah dalam seminar, kadang membosankan lho. Lalu?
Ya, menulis saja. Begitu pejabat yang pandai membaca pidato, —naskah dibuatkan tim— selesai membacakan pidato (yang tidak akan dipraktikkan itu), kita dapat satu tulisan. Jangan mencela. Jelas saja pejabat itu (misalnya) dongok, kog diminta pintar. Ya tidak mungkinlah. Manfaatkan waktu untuk menulis. Ringkas, dan jelas hasilnya.
Saya sering ‘menghadapi’ mahasiswa konsultasi makalah atau skripsi sambil menulis. Sebab, saya tahu, pengantarnya panjang dan berbelit-belit. Jadi, biarkan saja dia memuntahkan argumen atau alasan, atau apa gitu. Biar saja, kan menyehatkan jiwanya. Simpulkan intinya, itu yang direspon.
Saya suka juga mendengar atau terlibat dan menikmati orang yang pandai bicara. Bagaimanapun, itu menghibur. Membuat otak fresh. Pernah, dengan teman saya yang walikota, kami undang tu Si Raja Omong untuk bakisah. Dia senang, kami senang.
Sebaliknya, lebih suka menulis, terutama di otak, ketika terlibat dalam pembicaraan. Sekalipun banyak ngawurnya, dari omongan yang tidak karuan sekalipun, ada saja ide yang tercuat. Ide ‘diolah’ menjadi tulisan. Buat apa pula, menyediakan waktu sangat khusus untuk menulis. Itu namanya menciptakan beban. Wong menulis sebaiknya dipahami sebagai hal menyenangkan, untuk membuat pikiran fresh. Gara-gara menulis jadi stres, ya itu kontra produktif.
Pada tingkat paling gambling, dulu sering saya lakukan, terima kerja menulis sesuatu. Tapi, dengan syarat: Harus diingatkan satu hari, dan dua jam sebelum digunakan. Begitu diingatkan, langsung menulis. Kalau tidak jadi, malunya itu. Dan, reputasi sebagai penulis bisa melorot. Berabe itu.
Itu tehnik yang tidak perlu ditiru. Saya lakukan untuk melatih diri. Saya berpikir, bagaimana ya agar alasan tidak menjadi penghalang? Ya, itu tadi, ciptakan kondisi dimana tidak bisa mengelak. Kini, setelah agak fasih, mana mau. Prinsip pegangan (sekarang), menulis jangan membebani pikiran.
Ketika ke luar negeri, tentu kita ‘menikmati’ negeri orang. Rekam di otak apa yang dapat direkam. Ketika istirahat sehabis dolan-dolan, tuangkan di laptop. Paling asyik menulis di pesawat. Ada orang yang memperagakan dengkurnya, itu urusan dia. Kepada seorang wartawan Bandjarbaroe Post saya anjurkan menulis kesan-kesan dalam pesawat. Kami punya tradisi tahunan berwisata ke luar daerah.
Katanya, ingin menikmati. Yah sudah. Begitu sampai, saya tagih. Hasilnya jelas saja tulisan saya lebih banyak dimuat, sebab sudah jadi. Maksud saya, gunakan waktu selagi ada untuk menulis. Kalau seseorang berkata: Ya, nanti saya tulis. Jangan percaya. Bakalan tidak jadi dia menulis.
Coba perhatikan kebiasaan sementara orang (pejabat, organisasi, atau satuan pemerintahan). Di banyak lahan dipancang tanda bertulisan huruf besar-besar: Disini … akan … dibangun … anu, anu, dan anu. Kalau sudah akan, akan, akan, dan akan, ya akan itulah yang jelas-jelas jadi. Satu-satunya, hal positif dari ‘filsafat’ akan itu, bisa ditagih. Persis seperti tehnik saya memasihkan menulis.
Tapi, sebagian besar akan, akan menguap. Mari kita nikmati sekarang, nanti kita … akan … nikah. Banyak perempuan tergoda modus operandi akan ini, dan … akibatnya, rasakan sendiri. Tertipu. Akan nikah, kog kawin duluan. Tipu-menipu kelas teri saja kena.
Dalam menulis, filsafat ‘akan’ harus dienyahkan. Itu penampakkan alasan. Sebab, jarak antara saat ini dan ‘akan’ itu panjang. Banyak hal bisa berubah, dan mengubah pemikiran. Itulah sebabnya, banyak orang jadi puyeng ketika menulis. Akan, akan, dan akannya ingin ‘dijadikan’, dan karena berdesakkan tidak ada yang tertuang. Bertambah lagi akan, otak terbeban, dan … menulis menjadi hal menyusahkan. Untung saja tidak stres atau gila sekalian.
Jadi, agar menulis lancar, agar lintasan waktu bisa dicuplik untuk menulis, menulislah tanpa beban. Ikuti garis waktu dengan menulis sekata demi sekata, hingga menjadi anyaman tulisan menyenangkan. Saya anjurkan, tidal usah repot menyediakan waktu khusus, sampai memarahi anak atau keponakan segala macam. Kalau demikian, itu menciptakan kondisi tidak kondusif untuk menuangkan pikiran.
Menulis, biar saja mengalir, pante rae. Kapan mau, kapan sempat, tetapi jangan kapan-kapan. Apalagi, akan, akan, akan, dan akan. Begitu ada mau, begitu sempat … bungkuuuus. Begitu aja kog repot.
Ada dua pilahan menulis. Pertama, latihan memasihkan menulis. Tanyakan kepada yang ikut sharing menulis Ala EWA. Pada taraf latihan, wajib menulis satu tulisan sehari. Soal waktu dan kapan tinggal pilih. Orientasinya produk. Kalau latihan, disiplin penting. Tapi, soal cara, harus menyenangkan.
Kedua, kalau sudah fasih, ‘haram’ hukumnya menulis menjadi beban. Artinya, menulis dijadikan sedemikian rupa hingga tidak membeban. Menciptakan iklim kondusif lebih penting. Jangan pernah menulis kalau justru terjerembab menjadi beban. Menulis, idealnya dilakukan bak bersendagurau, bersenang-senang, enjoy aja.
Pada cotoh lain, ibu-ibu yang dungu, memarahi anaknya dengan bentakan: “Asi, belajar. Apa kamu mau jadi orang bodoh. Dasar pemalas”. Kalau otak anak sudah diganggu, perasaannya disakiti, lalu disuruh belajar, perilaku bodoh macam apa itu? Ibu-bapaknyalah yang menjadikan anak-anak bodoh.
Sekali lagi, waktu menulis terbentang seperti garis waktu. Silahkan dimanfaatklan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 November 2007.













17 Responses to “Menulis Memakai Waktu”
By mathematicse on Nov 7, 2007 | Reply
Dari artikel ini, saya dapat banyak hal sebagai kunci untuk menulis:
1. Enyahkan kata-kata “akan” menulis (saya tersindir nih.. :D)
2. Lakukan aktivitas menulis itu dengan rasa senang (Gembira), tanpa beban.
3. Dalam menulis bukan mencari waktu, tapi kapan pun bisa jadi waktu yang tepat untuk menulis.
4 dll
Btw, saya merasa belum fasih dalam menulis… (sepertinya saya pun harus dipaksa menulis tiap hari nih…)
***Ha ha … siiiiiiiiiiiiiiiiiip
By mathematicse on Nov 7, 2007 | Reply
Tapi dipikir-pikir saya ga suka dipaksa… (nantinya malah jadi beban dunk. Nantinya menulis jadi beban dunk, ini kan bertentangan dengan prinsip menulis dengan gembira. Jadi gemana nih Pak? :D)
***Mayoritas orang ngak suka dipaksa Kang. Jangan mau mladani keterpaksaan. Ngak lah … kita mengerjakan tugas kuliah itukan ‘terpaksa’ (dalam tanda kuti). Untuk latihan bagus, biar disiplin. Nah, kalau sudah fasih … jangan mau lagi. Kita pernah bahas dalam Menulis Merdeka tempo hari. Masih ingat? Apa kabar Belanada? Pingin nonton Ayax …
By Yari NK on Nov 7, 2007 | Reply
Hmmm… kalau buat saya sih menulis apalagi di blog ini (termasuk memberi komen) adalah hal2 yang menggembirakan. Namun karena pekerjaan saya yang utama tidak ada sangkut pautnya dengan tulisan, ya jadinya saya belum tentu dapat menuangkan ide saya berupa sewaktu2. Namun bagi saya ambil saja hikmahnya, karena pekerjaan utama saya bukan tulis-menulis, jadi saya kalau menulis tidak terbebani oleh apapun, tidak terbebani oleh deadline, prasyarat macam tulisan, dsb. Saya menulis apa yang saya suka dan apa yang sedang mampir di fikiran saya. Rasanya memang beda menulis di kala ‘bebas’, dan menulis di kala ‘terbebani’. Tetapi mudah2an dan saya yakin bagi penulis sejati, mungkin istilah ‘beban’ justru menjadi tantangan dan mungkin ia sama sekali tidak terpengaruh oleh beban itu.
***Maz Yari … sama dong kita. Pekerjaan kita kan ‘bukan orang baik’, tapi kita selalu berusaha menjadi orang baik. Dus, bila menulis tidak menjadi beban, itulah jalan lurus. Seperti itu juga kehidupan. Jadikan semua ‘merdeka’ semua akan menyeangkan, dan … menghasilkan. Boleh ngak ngasih saran yang lebih serius? Tolong kirimi saya email … Selalu menulis, sahabat.
By Yari NK on Nov 7, 2007 | Reply
Ralat sedikit:
Tertulis:
Hmmm… kalau buat saya sih menulis apalagi di blog ini….
Seharusnya:
Hmmm… kalau buat saya sih menulis apalagi di blogsphere ini…..
By 5H4L3H on Nov 7, 2007 | Reply
Saya setuju dengan pendapat pian kalau menulis dijadikan beban, maka kita tidak akan bisa menulis.
***Yoi, itulah misi utama EWT. Oh ya, nanti kita diskusikan artikel Sampeyan … ingatkan saya. Selalu menulis, menulis, dan menulis … yang tidak membeban.
By esa on Nov 7, 2007 | Reply
subhanalloh, tulisan yang keren banget! Tapi iya bener Pak, begitu dapet ide harus langsung dituangkan, klo ngga…suka lupa apa yang mau dituliskan
soalnya masih ngalamin yang kaya gitu.
Sempet tersindir, tapi jadi inspirasi juga.
Pasti sa juga bisa kaya gitu.
Anehnya, setiap kali kerja sa suka nyempetin waktu untuk nulis apa yang sa liat sepanjang perjalanan ke kantor ato ke kampus, tapi belakangan dengan “dalih” deadline TA ama kerjaan, jadi sempet ditunda-tunda deh ide ma tulisan yang terpikir.
But it’s over, semua harus diperbaiki, tinggal gimana caranya kembali konsisten dengan ‘kesenangan’ kita menulis itu, betul ga Pak?
***Suhamanllah. Kalimat pamungkas terakhir intinya. Selamat nyelesaian TA ya, moga hasilnya terbaik. Amin.
By Willy Ediyanto on Nov 7, 2007 | Reply
Saya baru saja dua hari lalu membaca buku Totto Chan karya Tetsuko …. Kesimpulannya, pendidikan di Indonesia tidak memerdekakan. Anak yang ingin banyak tahu tentang segala sesuatu malah sering dianggap nakal, ya seperti Totto Chan itu.
Lha dengan pendidikan di gerbong kereta ala Temoe Guaken, Totto malah menjadi manusia berhasil dan berempati tinggi.
Duniapendidikan kita gagal menghasilkan penulis, karena guru mengajarkan menulis dengan teori. Ketika gurunya sendiri diminta menulis, jawabnya - saya juga nggak bisa - parah kan.
Nah, saya setuju sekali kalau ada yang mengatakan jangan belajar beenang kepada guru yang tidak bisa berenang.
Jangan belajar menulis kepada guru yang tidak bisa menulis.
Pelajaran menulis hanya ada pada contoh tulisan.
Kesimpulannya: MEMBACALAH!
***Amin. Dah sampai mak’rifat. Caranya saja yang perlu dipertajam kali Maz, membaca menginternalisasikan pemahaman dalam pikiran … hingga bisa berproses … dampan sampingannya … (mampu) menulis. Guru, seharusnya jadi motivator, fasilitator, kontrobutor, dan tor-tor lainnya. Buang mindset guru pemegang kebenaran belajar, belajar dalam diri sesorang. Allah SWT telah memberi terlalu banyak, masyak sih memanfaatkan saja ngak bisa. E … apa yang bisa saya bantu untuk Awan Senja? Beri ruang saya untuk berbagi, beramal, dan berkontribusi. Saya salut dengan inisiatif Sampeyan dan Udo. Tolong salam khusu saya buat Udo. Baikan juga tu orang ya.
By syaharuddin on Nov 7, 2007 | Reply
bagi saya menulis sudah menjadi sebuah kebutuhan…setiap kali membaca dan mengamati fenomena sosial dan menemukan sebuah kepincangan-kepincangan, pikiran dan perasaan ini selalu muncul wah…ini harus ditulis baik blog, media atau paling tidak didiskusikan. Tapi yang terakhir ini tampak kurang mampu membuat hati puas. Ya… mungkin menulis memang telah menjadi sebuah kebutuhan. Jadi di sini tidak lagi bicara soal waktu. Faktanya orang-orang di sekitar kita masih lebih banyak wakti ngerumpi, tidur dan melakukan pekerjaan yang bisa dikatagorikan sia-sia. Mari memulai …sekarang juga, guna moment lomba menulis di webersis.com,semoga menjadi sebuah inspirasi dan motivasi
***Siiip sudah. Lanjut …. bungkus … trus nulis.
By ichal on Nov 7, 2007 | Reply
meski masih akrab dengan pena dan kertas, saya selalu mengusahakan menulis, dan buku “menulis sangat mudah”, selalu coba implementasikan.
By unai on Nov 7, 2007 | Reply
Wah wah, kalau saja Bapak ini dosen pembimbing skripsi saya yah..asik kali pun…bisa mendongeng di kata pengantarnya hehe…apa kabar hari ini pak?
***Gimana kalau sama-sama jadi dosen pembimbng, untuk diri sendiri, dan … terutama anak-anak. Nulisnya makin kerean aja, tu …
By meiy on Nov 7, 2007 | Reply
kemaren ambo print 3 tulisan, baca di rumah.
utk byk2 BW memang ambo belum bisa pak, numpang ngenet di ktr, prioritas ya kerja.
salut dg cara bapak nulis ttg waktu, ruang, materi, energi dan hubungan semuanya dg menulis, krn ditulis dg bahasa pop n ’santai’ jadi mudah dicerna.
ambo akan belajar melipat waktu. selama ini ambo menulis sih, laporan, tulisan utk brosur, liflet, newsletter, komik kecil2 utk eduaksi, puisi, diary, dsb, tapi yg alun sempat2 manulis yg ambo anggap serius, bisa punyo buku atau novel. padahal waktu itu ada ya pak. tapi dg menyikapi relax dan memilih prioritas sbg Ibu dulu ambo jadi tanang walau byk nan alum kasampaian, itu bagian dr harapan utk semangat hidup. ondeh bahasa campur aduk pak hehehe
ah pak semoga mimpiku bisa terwujud..
***Yoha, aku minta ya foto pertama, sungai, bebatuan, pohon … asyik punya, keren sejuk, euy
By SQ on Nov 7, 2007 | Reply
Menulis sambil-sambil ini udah sering saya dengar dari bapak, mungkin perlu “pemanasan” dulu ya dengan cara didesak. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan, jadi kebutuhan, ya lalu jadi kenikmatan.
Mungkin memang seperti itu siklus menulis sangat mudah. Tapi mempraktekkannya yang susah. Kenyataannya malah menyalahkan yang tak bersalah. H3w
***Ha ha ha setiap perjalanan ada permulaan … lakukan, Insya Allah, sampai di tujuan.
By 5H4L3H on Nov 7, 2007 | Reply
Iya Pa, akan saya ingat pesan Bapak. Makasih.
***Siiiiiiiiiiiiiip. Kita saling mengingatkan, itu yang bagus. Umur, jabatan, kedudukan, bukan ukuran kearifan lho.
By Yari NK on Nov 7, 2007 | Reply
Wadaaw… nggak salah tuh? Saya ngasih saran yang serius ke Pak Ersis??
Bukannya kebalikannya tuh seharusnya, soalnya beneran lho saya ini masih termasuk hijau dalam dunia tulis menulis! Hehehe….
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
Setuju sekaleee..
Akupun sering nyuri2 waktu menulis, disaat antrian mandi,,nah disaat suami lagi mandiin anak, pasti langsung duduk manis didepan monitor..cucian piring ditunda aja dulu..liss..liss,,dan menuliss lah,,hehe..(**paling juga bnykan chattingnya dr pd nlsnya wakakkass..)
BTW.mokasih uda,,dah bantu bikin blog awak..
ciao..bimbingannya diperlukan trs nih
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Nov 8, 2007 | Reply
Subhanallah. tulisan pian betul-betul menggugah.
Bahkan saya ulangi pada kalimat yang saya anggap perlu dibaca ulang. Mantap banar…