Menulis di Lintasan Waktu
6 November 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Bapak tentu orang sibuk. Dari profil yang saya baca, Bapak mengajar, bisnis, menulis, dan sebagainya. Apalagi, blognya selalu diperbaharui. Bagaimana Bapak menulis, atau tepatnya dalam kesibukan, bagaimana mengatur waktu menulis?
LINTASAN WAKTU: Setiap orang tentu punya kesibukan. Sibuk, berarti: banyak yang dikerjakan; giat dan rajin (mengerjakan sesuatu); penuh dengan kegiatan. Coba saja, sepanjang hari, sebenarnya tidak ada waktu luang. Waktu ‘berjalan’ di lintasannya dan disitulah kita hidup dan berkehidupan. Jangankan mereka yang bekerja, yang tidak bekerja saja sibuk.
Betapa tidak. Mereka yang tidur sepanjang hari, ya sibuk dengan tidurnya. Banyak orang berkata: Saya tidak ada pekerjaan, jadi berleha-leha saja. Leyeh-leyeh. Ada pula yang mendatangi temannya lalu ngomong ngalor-gidul. Sibuklah dia soal perngomongan. Hingga, lupa hari lupa diri. Orang-orang yang menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu inilah yang, mungkin, dimaksudkan Allah SWT dengan mereka yang merugi. Membuang-buang waktu.
Kembali ke soal bagaimana saya memanfaatkan waktu. Biasa-biasa saja tu. Bahkan, termasuk orang yang tidak suka mengatur-atur waktu. Saya tidak punya skedul ketat. Kehidupan mengalir begitu saja. Namun, untuk urusan-urusan tugas terjadwal, ya dilaksanakan sebagaimana harusnya.
Pagi-pagi, ketika anak-anak bangun, biasanya jam 06.00, bangun (walau terkadang malandau). Setelah kegiatan pokok, mandi, sholat, atau apa, menulis sekitar 30 menit, dan baca koran. Setelah itu, kalau ngantuk tidur lagi he … he …
Kalau lagi tidak ada kuliah atau kegiatan lain, membaca buku. Saya usahakan membaca minimal satu buku sehari, terkadang bisa sampai lima. Sekitar jam 10 ke kantor atau menelepon Pemimin Redaksi Bandjarbaore Post, bicara tentang ini-itu. Koran saya kan harus terbit. Sumber pendapatan lho.
Sehabis makan siang —biasanya dengan teman-teman— ke kampus. Memberi kuliah, ke ruang multi media (kalau sempat), lalu pulang atau menemui atau ditemui orang-orang yang punya janji. Diperjalanan biasanya menulis di otak. Kalau ada teman yang menemani, setir mobil diserahkan. Kami diskusi tentang berbagai hal. Diskusi sambil membaca buku. Di mobil selalu tersedia beberapa buku terbaru.
Jam 17.00 atau 18.00 sampai di rumah. Sambil menunggu waktu mandi, menulis dululah. Sehabis magrib nememani anak-anak mengerjakan soal sekolah. Membaca majalah, buku, berselancar di internet, atau menulis. Saya biasakan menonton bola, film, sampai Tukul. Kebetulan, layar LCD komputer memungkinkan nonton TV atau flim sembari kerja. Mendengar aneka musik sekalian. Pokoknya gitulah. Kalau ngak membaca, ya menulis.
Hal itu bisa berlangsung sampai jam 24.00 atau pukul 03.00 dini hari. Tergantung mau saja. Nah, disela-sela itu, saya ‘mendatangi isteri’. Masih doyan ‘ngerjain isteri’ he … he … (khusus dibaca dan diartikan bagi yang 17 tahun ke atas).
Begitu garis umumnya. Dalam seminggu, dua atau tiga kali ke mall atau ke tempat bermain anak-anak. Saya jago aneka mainan anak-anak. Karena dipakai, waktu terasa begitu melimpah ruah.
Itu belum seberapa. Saya harus ‘melayani’ konsultasi, sekalian memeriksa dan memperbaiki, makalah, skripsi, sampai membuatkan blog. Belum lagi menjadi nara sumber untuk berbagai hal, mengerjakan pekerjaan ini itu. Lagi pula, saya suka dolan-dolan, raun-raun. Kalau ada film layar lebar baru, tidak lupa menonton. Semuanya dilakukan dengan enjoy.
Disamping menerbitkan media cetak, saya juga Ketua Umum Percasi (Catur), Sekjen Perbakin, Ketua KONI, pengurus PS Barito Putra sampai Persebaru, aktivis ESQ, Radar Peduli, presiden LPKPK. Pokoknya seabreg. Belakangan muncul kesadaran, undur diri dari berbagai organisasi, memberi kesempatan kepada yang lebih muda.
Ada kalanya saya fokus atas sesuatu. Misal, sejak tiga hari lalu membenahi kolam. Sejak banjir besar melanda, setahun lalu, kolam dikosongkan. Nah, kemaren itu dibenahi, mengalirkan air. Anak-anak senangnya luar biasa, sebab kolam mandi diisi. Mereka tidak perlu lagi ke kolam renang umum. Saya mulai lagi berolahraga, berenang.
Asyik. Saya teringat saat-saat kecil ketika di kampung, Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat. Banyak yang mengerutu (kali), soalnya begitu mengaktifkan nternet, yang mengajak chat tidak dilayani. Wah … lewat HP, pulsanya itu. Maaf.
Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan teman-teman, bukan untuk sok-sokan. Gambaran yang ingin dikirim, waktu itu sebenarnya, melimpah-ruah. Tergantung bagaimana memanfaatkannya. Saya membuktikan, semakin sibuk, justru semakin baik. Sebab, dalam kesibukan banyak hal dapat dilakukan, dan hasilnya lebih baik.
Ada yang menulis: Bang, semakin sibuk, menulis semakin lancar. Ada yang bersaksi, semakin mepet semakin banyak pekerjaan, semakin lancar menulis. Itu dia … menulis adalah bekerja. Ibarat mesin, kalau lagi on kerjanya lancar, stabil, dan lebih berhasil. Kalau tidak dipakai, ya berkarat, olinya kental, dan sebagainya. Jangankan mempekerjakan, menghidupkannya saja susah. Jadi, pekerjakanlah kemampuan menulis, aktifkan otak; redy for use.
Coba perhatikan. (Maaf, saya bukan orang sukses, apalagi secara finansial). Orang-orang sukses adalah orang-orang yang memanfaatkan waktunya. Rata-rata mereka tidak ada yang mengeluh soal ‘tidak ada’ waktu, sekalipun kekurangan waktu.
Artinya, waktu seberapapun dimanfaatkan. Waktu tidak menjadi beban, tetapi lahan untuk berbuat. Semakin malas seseorang, semakin tidak piawai memanfaatkan waktu. Dibalik semua itu ada kuncinya: Bagaimana memanfaatkan waktu.
Dengan kata lain, kita harus pandai-pandai meniti di atas titian waktu. Tulisan selanjutkan akan berfokus pada, bagaimana menulis dalam lintasan waktu, yang terkadang, sangat sempit.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 November 2007.













14 Responses to “Menulis di Lintasan Waktu”
By hanna on Nov 6, 2007 | Reply
Ck ck ck ck, salut, salut. Hebat sekali bapak yang satu ini. Mengagumkan. Perlu belajar banyak nih dari bapak.
***Ck ck ck, jangan ngeledk ah … jadi malu nich. Saya yakin, saya termasuk orang-orang santai. Sangat yakin. Paling tidak mau terbeban ole pekerjaan atau apa yang dikerjakan, apalagi … dikerjai he he
By unai on Nov 6, 2007 | Reply
wahhh padat perayap aktivitas bapak yah..dan itu tuh..mendatangi istri.hahaha saya ketawa bacanya pak
By unai on Nov 6, 2007 | Reply
ralat *padat merayap maksudnya
***Ha ha namanya juga isteri … kan bagian hidup untuk berbagai, saling menikmati, dan memberi kebahagian untuk dijadikan karunia bersama. Pie to mBak, bujua aja lah.
By meiy on Nov 6, 2007 | Reply
ondeh mandeh iyolah bapak ko…hebat…hehe makonyo rajin baco disiko bisa dicontoh
***Onde mande … itu manjawab tanyo, indak dijawab, badoso pula awak. Di jawab, … baa rasonyo kurang lama, tapi nan bana indak ado niek untuk bapongah-pongah. Alhamdulillah kok yo lai rancak maliek web dunsanak. Sanang ati awak dibueknyo. Tolong dikrik bia bisa labiah rancak.
By 5H4L3H on Nov 6, 2007 | Reply
Mengagumkan. blog PBSID yang saya kelola sekarang sudah saya jadikan untuk umum, jadi kalau koment saya pakai blog saya sendiri. shaleh86.blogspot.com
***Yoi. Tq infonya.
By ilyaZ on Nov 6, 2007 | Reply
Sempet-sempet juga yah, emang susah buat mulai disiplin terhadap waktu. yg jelas di otak saya sudah terpogram “kamu tidak bisa..tidak bisa bagi waktu”. Sampai sekarang juga belum bisa. btw bagaimana caranya maz? boleh kasi tips buat saya
***Coba tolong baca serial tulisan saya tentang memaknai waktu dalam menulis. Nah, nanti saya jawab khusus, asal … diingatkan. Tapi yang pertama, buang self image —sudah saya bahas— kamu tidak bisa..tidak bisa bagi waktu”. Mindset harus dibangun: Saya Pasti Bisa … memanfaatkan waktu. Apalagi hanya untuk menulis, pekerjaan sangat sepele. Ok. Salam.
By ilyaZ on Nov 7, 2007 | Reply
Iya, saya akan coba, mungkin tahap pertama menghilangkan mindset tersebut. Makasih atas pencerahannya maz..
***Sip … do it
By mathematicse on Nov 8, 2007 | Reply
Wow bener-bener seabreg aktivitasnya Pak. Saya yang masih anak kemarin sore, yang belum banyak mikirin ini-itu pun jadi malu nih (kurang bisa memanfaatkan waktu nih..).
By mathematicse on Nov 8, 2007 | Reply
Oh iya, nah ini yang paling makin saya suka, dalam tulisan bapak kali ini ada becandanya (itu tuh yang bacaan 17 tahun ke atas… kirain serius terus Pak Ersis itu…
). Saya ikut tersenyum, tertawa… 
By Ahmad Nur Irsan FInazli on Nov 8, 2007 | Reply
Yah begitulah..
Saya salut, nih. salut sama pian.
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
[Hal itu bisa berlangsung sampai jam 24.00 atau pukul 03.00 dini hari. Tergantung mau saja. Nah, disela-sela itu, saya ‘mendatangi isteri’. Masih doyan ‘ngerjain isteri’ he … he … (khusus dibaca dan diartikan bagi yang 17 tahun ke atas)..
""wakakss..tak pikir doyannya cuma menulis doang...:D""
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
opss..saya sudah 17 thn kan yah,,ngitung tahun pake kalkulator dulu achh…=))
By Askari Azikin on Nov 14, 2007 | Reply
Berarti tidurnya hanya 3 jam per hari ya pak! Ciri2 orang sukses. Pandai memanfaatkan waktu semaksimal mungkin..
***Lebih sering begitu … tapi (belum) sukses he he