Memaknai Waktu Menulis (4)
29 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
JIBRIL mejemput Nabi Muhammad SAW. Karena akan menghadap Allah SWT, disucikan. Dibelah dada Beliau, dicuci dengan air zamzam. Lalu, menaiki Buraq, berbadan kuda berkepala wanita cantik, dan bersayap. Ketiga makhluk terbang ke Masjidil Aqsa. Rasulullah sholat malam, dan kemudian menuju Sidratul Muntaha. Banyak hal diperlihatkan. Setelah melakukan ‘negosiasi’ dengan Allah SWT, disepakati, umat Muhammad SAW diwajibkan sholat lima waktu.
Begitu kisah (konyol?) Isra’ Mi’raj waktu kecil. Mana pula, gambar Buraq terpampang di banyak dinding rumah. Imjinasi berkembang. Muncul pertanyaan, dimana Allah SWT bertempat? Enak kali ya naik Buroq? Kog cepat amat tu perjalanan malam tersebut. Dan, seterusnya.
Saya tak hendak membahas soal Isra’ mij’rat dalam arti kejadiannya, atau menyoal Buraq, sampai inti pati perjalanan malam Rasulullah tersebut. Tetapi, meyakini sesuai firman Allah SWT (QS Israa’: 17). Bagaimama memahaminya?
Saya juga tak hendak menganalogikan dengan tayangan Startrek dan film-film ikutan lainnya. Apalagi mengembangkan imajinasi, karena suka main games bernuansa transporder. Setelah membaca buku Agus Mustofa, Terpesona di Sidratul Muntaha, goyang pikiran (sedikit) mendapat jawaban. Dan … dalam menggali dan memahami kerja otak, terutama dalam kaitan menulis, mendapat komparasi yang cantik. Apa itu?
Betapa tidak. Jarak Mekah-Jerussalem, 1.500 km, ditempuh dalam sekejap. Apatah lagi, ke Sidratul Muntaha —yang entah dimana— pergi-pulang dalam setengah malam. Ruang dan waktu dilipat ringkas. Argumen, kun fayakun, kurang memuaskan. Pasti ada penjelasan rasionalnya.
Sementara itu di lain ketika, pikiran mengotak-atik hakikat mimpi. Mimpi sekejab, setelah bangun ketika diurai rotasinya kog begitu panjang. Ketika menulis, terkadang … tahu-tahu (bukan tempe, lho) jadi begitu saja. Kapan ya mikirnya? Ada sinyal, waktu di alam pikiran, tidak sama dengan alam nyata. Setidaknya, persepsi tentang waktu.
Gambaran pikiran perjalanan Rasulullah, tidak lagi dipahami bak perjalanan manusia biasa. Bukan Rasulullah yang gagah bertubuh atletis dengan rambut panjang antara telinga dan bahu. Bukan pula ‘kuda’ Buraq dengan gambaran rada-rada aneh. Tetapi, Rasulullah telah diubah bak malaikat, seperti Jibril.
Raga Rasulullah tidak lagi bak raga kita yang tersusun dari atom-atom. Materinya ‘dihilangkan’ hingga berbobot nol. Dengan demikian menjadi energi sehingga ketika bergerak mampu seperti kecepatan cahaya (ukuran kecepatan tertinggi di alam semesta). Atau, barangkali lebih dari itu. Yang bisa sedemikian hanyalah photon, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya itu sendiri.
Dus, ruang dan waktu tidak layak lagi dipahami sebagaimana pada kehidupan —setidanya persepsi tentang ruang dan waktu. Agak rumit memang. Saya yang menulis ini tidak terlalu paham, apalagi yakin. Raba-raba pemahaman awal yang berbuah pengertian.
Ruang dan waktu bisa ‘dilipat’, dan … kecepatan … karena enerji sudah tingkat tinggi, dan materi tidak lagi pada benda sebagaimana yang bisa kita raba dan lihat, berubah sesuai kadarnya. Tidak mudah memahaminya, apalagi mengkorelasikan dengan ‘alam kita’. Tetapi ada sinyal, jangan-jangan hal-hal tersebut ada (juga) di otak. Di otak? Yes.
Suatu kali merenung. Bagaimana bisa berwisata ke masa kecil, terkadang mendarat di bulan —gara dusta-dusta Amerika Serikat (NAS) yang menggebu-gebu ke Bulan, e … setelah nyampe ngak berani untuk kedua kali, kini mau ke Mars. Atau, berkelana ke Havana, kadang mendarat di Sarjevo, bahkan ketika remaja, merayu Yessy Gusman dan memacarinya.
Terkadang, ketika rindu Bapak (87) dan Ibu (76), sholat malam, berdoa, meluluhkan diri dalam hening, e … bisa nyampe (seakan-akan) di divan tempat sering membaca sewaktu kecil. Belakangan setelah tekniknya agak matang, dilakukan kapan mau. Padahal, jaraknya ribuan km. Bisa jadi, semua itu permaian neuron-neuron di otak.
Kerja alam fikiran yang paling saya nikmati ketika mengikuti seminar. Banyak lho seminaris kita, apalagi pakar, bicaranya membosankan, atau membual sekalian. Nah, saya menulis di otak. Ajaib, beberapa tulisan selesai. Terakhir, mengembangkan teori menyalin tulisan di otak ke dunia biasa. Itulah Ersis Writing Theory. Kali aja.
Suatu kali, ikut mobil teman. Macet. Si Teman nyumpah-nyumpah. E … saya asyik menulis di otak. Si Teman memperkuat kemampuan sumpah serapahnya, saya dapat satu artikel. Sesampai di kampus ditulis, 15 menit jadi tulisan.
Dengan kata lain, waktu dapat ‘dilipat’. Waktu dalam pikiran yang —misalnya— besaran ukuran dunia nyata 5 menit, dalam kerja pikiran, bisa setara berbulan-bulan. Hasilnya berupa konsep. Pada pemahaman menulis konvensional, konsep itu yang dituliskan.
Syaraf-syaraf alam pikiran dapat di ibaratkan hutan rimba. Bila sering ke satu titik, akan menjadi refleks. Kalau koneksi banyak, pekerjaan jadi mudah. Erwin Dede Nugroho kalau mengetik, tanpa melihat, tanpa berpikir, tulisannya yang apik muncul di layar notebook. Dia mengetik 10 jari, Kalahnya dia, saya sebelas jari, telunjuk kiri dan kanan, he … he …
Keika pertama belajar menyetir mobil, mesinnya, mati melulu. Soalnya guru ngajarin: buka pintu, masuk, duduk yang pas, pegang setir yang mantap, pandangan lurus ke depan, injak rem dan kompleng, lihat kaca spion, stater, pindahkan injakan rem ke gas, tekan … mobil melompat dan mesinnya mati.
Setelah terbiasa, buka pintu mobil, masuk, tidak ingat lagi prosedur standar. Mengalir begitu saja. Ringkas. Tidak membeban. Musik mengalun, menjawab telepon, SMS, atau becanda, dan … lebih penting menulis. Tidak lagi dipikirkan, tetapi dilakukan. Sekali lagi dilakukan saja. Mudah-mudahan, keempat seri tulisan megenai waktu dalam menulis menambah amunisi semangat menulis.
Rentang waktu dalam menulis, dapat diringkas, dalam arti menghasilkan sesuatu yang sebenarnya perlu besaran waktu sangat banyak. Apalagi, kalau diberdayakan enerji phonton dalam alam pikiran. Kolaborasi keduanya sungguh dahsyat.
Kesemua itu, bisa didapatkan dengan menulis, terus menulis. Materi, energi, ruang, dan waktu —pada diri kita— bisa dimenej, bukan dengan memikirkan, tetapi melakukan. Kemanfaatannya dalam menulis bisa diraih dalam menulis, dengan menulis, melatih menulis, memasihkan menulis, menulis, menulis, dan menulis.
Bagaiamana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 30 Oktober 2007.









11 Responses to “Memaknai Waktu Menulis (4)”
By Rizki on Oct 30, 2007 | Reply
Oh..Mas Ersis ternyata penggemar Agus Mustofa juga toh. Luar biasa karyanya. Salam Kenal!
***Yoi, sama-sama. Mari jalin silaturrahmi. Aering-sering mampir, Maz.
By Yari NK on Oct 30, 2007 | Reply
Wah… enak sekali ya…. kalau lagi terjebak macet di jalan kita bisa menyantaikan diri dengan menulis di otak! Apalagi kalau lagi stress soal lain tiba2 bisa menyantaikan diri dengan menulis di otak, wah pasti produktif sekali!
Tapi yaaa…. mudah2an jangan premisnya dibalik, kalau mau menulis harus menstresskan diri sendiri dulu! Wah… bisa berabé, ntar psikolog sama psikiater jadi laku keras!
Setuju … premis minor jangan baalahan dengan premis major sehingga konklusi tida mendarat … so. Gimana artikel komen saya Maz?
By mathematicse on Oct 30, 2007 | Reply
Ya memang ajaib sekali kejadian isra mi’raj nabi kita, Muhammada SAW. Dalam sekejap bisa melanglangbuana hingga ke Sidartul Muntaha dan kembali ke Bumi. Kejadian tersebut sukar dipahami, tak cukup dengan perkataan ampuh “Kun Fayakun” saja untuk menjelaskannya. Saaat ini, penjelasan tentang kejadian tsb, sedikit-demi sedikit menemui titik terang. Ya, kita bisa memahami kejadian nabi kita itu dengan fisika. Luar biasa!
Begitu pula kerja otak kita, yang mampu berpetualang hingga ke belahan Bumi manapun, tak perlu secara fisik kita ikut-ikutan berpetualang. Otak kita itu mampu memvisualkan kejadian yang sudah lama kita alami, kenangan indah yang pernah kita lewati. Lewat otak kita, kita seperti bisa melihat diri kita terpampang dalam layar yang terbentuk di otak kita. Maka tak heran bila di akhirat nanti, katanya, amal ibadah kita itu akan diperlihatkan ke kita (semuannya). Itu mudah bagi Allah, hanya dengan memutar kejadian2 yang pernah kita alami lewat otak kita sendiri. Saya pikir seperti itu…
Dan begitupula menulis…. memang lebih enak menuliskan sesuatu yang sudah kita pikirkan (sudah tertulis di otak), ketimbang memikirkan apa yang akan ditulis. Dan untuk bisa seperti itu, otak perlu nutrisi. Tak lain dan tak bukan, nutrisi tersebut sebagaian besarnya diperoleh lewat membaca dan berpikir.
***Ya … mudah-mudahan manusia sekamin mam[u menyingkap dan belajar Sunnatllah
By Kurt on Oct 31, 2007 | Reply
Waah fenomenanya makin keren saja oooy. Saya setuju kehebatan pada sesuatu keajaiban bagusnya ditulis. JIka tidak ditulis akan terjadi gerakan menjadi aliran sesa(a)t. tapi saya yakin Bang Ersis yang mempunyai kelebihan menulis ini tidak akan mendirikan aliran sesat. Karena saya percaya ilmunya dideras bukan dari pertapaan atau dari wirid-wiridan tertentu…
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 31, 2007 | Reply
Subhanallah. Yaah, itulah kuasa Allah SWT yang Maha Perkasa.
Memang manusia harus selalu berlaku Ihsan, ya paling tidak berusaha ihsan. Ihsan dalam arti, tatkala Jibril datang kepada Rasulullah menanyakan mengenai ‘Al-Ihsan’ (dalam Hadits Arbain).
Semoga kita bisa berlaku ihsan, Amin…
By Yari NK on Oct 31, 2007 | Reply
Maksudnya komen2 pak Ersis? Di blog saya dan di blog orang2 lain yang saya lihat?
) antar sesama blogger, yang maknanya lebih mendalam dibandingkan kualitas komennya itu sendiri!
Kalau misalnya itu…. sebenarnya kebanyakan sudah ok dan mengena. Namun ada juga beberapa komentar yang hanya menyentuh substansi luarnya saja atau ada juga yang hanya sekedar ber-’nuansa sosial’ saja. Huehehehe…
Tapi lumrah sih…. mungkin komen2 yang ber-’nuansa sosial’ atau yang hanya menyentuh substansi luarnya saja, itu karena Pak Ersis kurang berminat pada topik2 tersebut.
Yah, semua orang juga begitu saya rasa. Terkadang komen2 yang hanya ber-’nuansa sosial’ tersebut berguna untuk mempererat hubungan bathin (haaalaaah!
Weleeeh…. sok tahu saya ini ya? Wekekekekek…..
**** Tulisan saya “Menulis Pemantik Menulis”: KASUS: Kalau menulis (di blog), sekonyong-konyong ide muncul, tempo-tempo macet. Kalau macet, tidak karuan lagi. Susah menyusunnya. Apalagi, kalau ada gangguan teknis dan non-teknis. Terkadang, bacaan perlu diperbanyak. Setelah ada pemantiknya, baru bisa ditulis. Yah, begitulah. Penyakit saya seperti itu. Membaca tentang sesuatu, idenya muncul belakangan, dan terkadang harus ada stimulusnya dulu.
PEMANTIK: Begitu keluhan seorang teman blogger, yang mengaku-ngaku sebagai Satpam, padahal tulisan (analisisnya) setingkat ilmuwan. Saya bangga. Saya menenggarai kawan kita merendah. Kalau Pak Satpam saja bisa menulis bagus, tidak syak lagi, Indonesia akan jaya. Harapan Indonesia jaya semakin besar.
Saya idengan merupakan artikel respon dari Sampeyan. Gitu, roger.
By Yari NK on Nov 1, 2007 | Reply
Wakakakakak….. jadi malu nih sama pak Ersis. Habis bagaimana ya pak, apapun yang saya bilang, orang toh nggak percaya, ngaku satpam nggak percaya, ngaku cleaning service nggak percaya, ngaku direktur nggak percaya, ngaku ilmuwan nggak percaya, ngaku pengangguran percaya kali ya. Hehehehe…..
Kalau saya mengaku ’satpam’ masalahnya yang timbul ada dua. Pertama: Apakah benar seluruh satpam itu harus ehmmm…. ‘bodoh-bodoh’ semua? Kedua: Apakah benar tulisan saya bagus, minimal untuk seorang sekualitas ’satpam’? Huehehehe…..
Ya udah deh, yang penting di dunia blogging ini, siapa kita tidak terlalu penting ya? Yang penting apa yang kita buat di blogsphere ini insha Allah dapat bermanfaat bagi orang lain. Masalah ‘baju’ yang dipakai ya terserah masing2 individu saja.
Omong2 tampang saya lebih mirip satpam apa ilmuwan ya?? Halaaaah.. pertanyaan orang yang euweuh gawe
***Tampang dan tulisan ala ilmuwan. Emosi perlu didandani. Aku menempati Sampeyan di jajaran atas blogger
By Suci on Nov 1, 2007 | Reply
Ok deh…I get the point, Pak….
***Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip, tinggal …. aplikasikan
By Ani on Nov 1, 2007 | Reply
Akhirnya, setelah membaca uraian yang ke 4, saya bisa mengerti juga, dan sangat setuju dengan pernyataan berikut:
Kesemua itu, bisa didapatkan dengan menulis, terus menulis. Materi, energi, ruang, dan waktu —pada diri kita— bisa dimenej, bukan dengan memikirkan, tetapi melakukan. Kemanfaatannya dalam menulis bisa diraih dalam menulis, dengan menulis, melatih menulis, memasihkan menulis, menulis, menulis, dan menulis.
Ok deh mas Ersis, terimakasih banget pokoknya, semangat !
***Tulisan itu istimewanya untuk Sampeyan berdua, seperti juga untuk kita semua. Terima kasih, kalau tidak ditanya, mana bisa saya menulis itu. Namanya … pemantik menulis. Jelaskan, sema kita saling memberi.
By Yari NK on Nov 2, 2007 | Reply
Hehehe…. iya Pak Ersis, saya juga merasa nih, emosi saya sering agak meledak2. Abis bagaimana ya? Udah dari dulu kayak begini. Maklum deh kalau emosinya seperti ini namanya juga ’satpam’ Huehehehe…
However, terima kasih banyak ya atas inputnya. Sangat berharga buat saya.
***Yoi, ak yakin Sampeyan akan lebih yahud. Salam.
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
yach..pokoknya tulis dan menulis kan..?