Memaknai Waktu Menulis (3)
29 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENURUT fisikawan, alam semesta ini berisi empat hal; materi, energi, ruang, dan waktu. Keempatnya berfungsi membentuk alam semesta. Perubahan pada materi dan energi akan membawa perubahan pada ruang dan waktu. Wah, kalau dilanjutkan nanti dibilang kuliah fisika. Jauhlah dari bidang saya.
Tetapi, begini. Memang tidak akan mengurai detail sampai ke atom, sekalipun apa pun dan bagaimanapun yang ada di alam semesta ini tersusun dari atom. Kalau diurai ke inti atom, bisa pula diurai ke partikel lebih kecil. Misalnya, neutron ternyata bisa dipecah menjadi proton dan elektron. Ah, sudah, yang ingin saya kemukakan, semakin kecil partikel sub atomik semakin hilang sifat kebendaannya, dan yang muncul sifat energi.
Materi dan energi itu bagaikan timbangan. Semakin kecil, gelombangnya semakin besar. Jika, sifat materinya menonjol, sifat energinya menjadi lemah, yang tersimpan potensi saja, begitu sebaliknya. Nah, kalau dilajutkan bisa sampai kepada quark, sring, alias quanta. Apalagi sampai vibrasi energi. Bisa ruwet. Padahal, kita kan bukan bicara fisika.
Dalam kaitan menulis nanti terlalu jauh. Siapa bilang? Tubuh kita kan terdiri dari materi dan energi. Karena bukan fisikawan, tidak pula genetikawan, atau neurolog, pikiran jadi terganggu, karena tidak paham. Lebih menggoda, sehabis menulis tentang waktu (kemarin), lebih tidak paham. Tetapi, kog bisa menulis. Ada apa ini? Saya mengalami banyak hal sedemikian dalam menulis. Saya (mencoba) menelusurinya.
Suatu kali diganggu Kazuo Muraka, penulis The Divine Message of The DNA, ditambahi Jhon C. Avis dengan The Genetic Gods. Saya terlusuri buku-buku yang ada bau-bau fisika, genetika, dan neurologi. Membuka kembali buku Relegion and the Science, Keith Wilkes yang 25 tahun lalu menganggu pikiran.
Semakin asyik. Allah Mahakuasa. Secara genetika, kita bisa menelusuri ke awal asal. Bermula dari sel telur yang telah dibuahi, kemudian terbelah menjadi dua, empat, delapan, dan selanjutnya. Begitu lahir, memiliki sekitar tiga miliar sel.
Pembelahan itu tetap terjadi. Struktur sel dapat diterangkan, ditengah-tengah setiap sel terdapat nukleus yang dilapisi membran. Di dalam nukleus terletak gen. Nukles sel mengandung deoxyribonucleid acid alias DNA. DNA terdiri dari dua untaian berbentuk spiral, yang menjadi permukaan bagi molekul-molekel, yang dinamakan ‘kode genetik’, A. T. C. dan G (zat kimia adenim, timin, sitosin (cytosine), dan guanin.
Kode genetik tersebut dipercayai mengandung informasi untuk membentuk kehidupan. Ringkasnya begini. Informasi dalam setiap sel tubuh kita (60 triliun) yang akan menentukan kehidupan kita. Katanya sih, kita tinggal tekan tombol on atau off. Sebab, semuanya sudah tertulis.
Ajaibnya, semua itu sudah diatur Allah SWT. Gen sebagai blueprint kehidupan telah lengkap. Supaya jangan terlalu rumit, tugas kita sekarang mengaktif atau menonaktifkan gen-gen.
Kalau yang diaktifkan hal-hal positif, maka diri kita akan berkembang postif. Kalau misalnya, berpikir negatif, ya kehidupan akan dibungkusnya. Masuk akal, seorang penyayang, mengaktifkan gen sayang, akan semakin matang sifat sayangnya. Bukankah ibu-ibu yang hobi memarahi anaknya semakin hari semakin menjadi-jadi?
Jagan coba —ini ilustrasi— cemburu pada suami ya. Kalau diaktifkan, miliaran gen akan kena sebaran aktif, dan membelah diri, wui … ujung-ujungnya kepercayaan hilang, bisa cerai. Ih, ngeri.
Kalau bertemu Kazuo Murakami, akan saya katakan, bisa jadi, sekali lagi bisa jadi, kode genetik itu adalah Asmaul Husna. Saya telah menulis secara ringan dalam buku Nyaman Memahami ESQ.
Dalam pada itu, ketika membaca tentang otak, didapat fakta, otak seberat 0,5 kg itu ternyata berisi setrilun sel neuron. Setiap sel mampu berkoneksi 20 ribu manakala diaktifkan. E … jangan-jangan kolaborasi antara gen yang saling mengaktifkan itu yang menjadikan kerja fikir cepat. Semakin dipakai sel-sel di tubuh kita bukan berkurang, justru bertambah. Kalau tidak diaktifkan akan mati sendiri.
Kalau sel-sel mau diperbaharui, berkembang, dan dimaksimalkan manfaatnya, aktifkan. Pada uraian (gawur?) tersebut sampaialh kita kepada, menulis berarti menfungsikan diri kita. Bisa jadi. Namun, sekali lagi, pemikiran sangat prematur. Caranya?
Membaca dan menulis. Faktanya, semakin banyak membaca, apalagi menuliskan bacaan dalam hal lebih terbarui, semakin memudahkan. Kalau sudah demikian, kita sampai pada refleks. Lebih tinggi dari sekadar berpikir.
Pada tataran ini kita bertemu pada konsep ruang dan waktu. Kita akab lebih nyaman memaknai waktu, penggunaan waktu dan turunan seperti memanfaatkan, merebut, menciptakan kesempatan. Kalau sudah demikian pemahaman menulis mudah tentu akan lebih nyaman dan menyamankan.
Pada hantaran terdahalu telah disinggung tentang materi dan energi dalam keberadaannya saling terkait. Ruang memiliki fungsi wadah, waktu mengikat usia, materi sebagai pengisi, dan energi sebagai penggerak. Lalu, kaitannya dengan menulis?
Ruang dan waktu bisa berubah dikarena gerakan. Jangan meilihat ruang dan waktu sebagai besar mutlak. Nanti tidak sealur dengan relatifis. Kalau sudah demikian, alasan ‘kurang’ waktu dalam menulis akan hilang ke jagat raya tak bertepi.
Misalnya, kita minta saja materi (otak) menggerakkan energinya memanggil, menganalisis, mengkonstruksikan sesautu dalam kecepatan dimana waktu bukan jadi ukuran lagi. Saking sangat singkatnya, tidak memerlukan berpikir.
Coba pikir, ketika suatu benda mendekati mata, kelopak mata otomatis tertutup melindungi bosa mata. Apakah Sampeyan pernah memikirkan kosakata Bapak ketika mengucapkannya? Begitu melihat Bapak, E … Bapak. Langsung lakukan.
Menulis pada kadar tertentu dapat seperti itu, reflektif. Saya jadi ingat reflective thinking dalam buku Jerome S. Bruner, Process of Education. Kini, agak paham, kenapa bisa menulis cepat tanpa (terlalu) berpikir. Ketika dipikirkan justru melambat. Aneh?
Pada tulisan bagian ini, ternyata tidak cukup tempat menulis tentang ‘melipat’ waktu dalam menulis. Saya betul-betul ingin mengempur dan memberikan wacana, (kekurangan) waktu bukanlah alasan untuk menulis. Padahal, saya sudah sediakan wacana khusus berbasis perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah.
Add: Mohon teman-teman yang paham fisika, neurologi, dan genetika membantu, ntar saya salah kaprah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 29 Oktober 2007.









15 Responses to “Memaknai Waktu Menulis (3)”
By Ani on Oct 29, 2007 | Reply
Waaah, masih ada lanjutannya ya mas?
***Berkembang. Kalau materi dinolkan, energi menguat. Jadi, jangan selalu berkutat pada materi, imbuhkan jadi energi, energi menulis he he. La Illahaillallah, Tiada tuhan selain Allah … itu energinya dahsyat. La = tidak ada, kosong, efek enerjinya tak terhingga. Bagaimana menurut Sampeyan?
By Kurt on Oct 29, 2007 | Reply
mantuk², dengan bersila, kridongan sarung, ditemani ubi bakar, di malam yang dingin di tengah kebunku… meresap sekali energi alam itu, pas dengan tulisan ini.
***Oh, ambo urang Padang. Dulu tu susah mencari padanan tiny dalam bahasa Indonesia, ketemu tu … cilik mentik.
By unai on Oct 29, 2007 | Reply
belom saya baca..tapi saya print ke tiganya pak…saya baca nanti hehe
***Diprint? Ntar kalo ada yang baco kena virus baru tau
By unai on Oct 29, 2007 | Reply
horee..sudah saya tamatkan ketiganya pak…wah bener bener memberi nutrisi batin pak..maturnuwun sangettt
***Hore … ingat lho mBak … memasak jauh lebih sulit dari menulis. Memasyak yang enak lho.
By Suci on Oct 29, 2007 | Reply
Hallo, Pak….
Tulisannya agak mumet yah saya baca. fisika banget gitu lho. saya sebenarnya paling alergi sama hal-hal yang berbau sains. Tapi, ternyata sains itu menarik. setelah baca beberapa buku yang terkait dengan hal tsb, tak terlalu memusingkan rasanya.
saya sempat percaya dengan asumsi salah kaprah yang menyatakan kalau manusia itu cenderung punya potensi di salah satu otaknya saja. kalo otak kiri ya pintar akademis, kalo otak kanan ya orangnya “nyeni” banget.
ternyata setelah baca beberapa buku, apalagi tentang quantum quotion, ternyata asumsi itu sama sekali SALAH BESAR. manusia itu memang benar-benar Born geniouses. masing-masing kita bahkan dikasih jatah memori otak tak terhingga. We have the most truly powerful computers in the world; our brains.
Jujur, saya dulu sempat merasa kalau latihan menulis tiap hari itu sangat berat. Tapi, ternyata itu semua berasal dari pikiran negatif saja. kalau berpikir positif, latihan itu justru yang me-recode pola pikir saya dan cara menulis saya. Bahkan bisa membentuk karakter saya. karakter ternyata tidak tetap. karakter adalah apa yang dilakukan berulang-ulang.
Jadi, I supposed 2 say thanks 4 teaching me that valuable lesson…That we need 2 change….we have 2 change….
Tapi, saya kok masih sulit sekali sampai di tahap menulis tanpa banyak berpikir ya, Pak?
***Hati-hati. Ada waktunya. Kalau informasi di memori dah banyak, ntar jadi automaticly … Banyak baca, ngamatai, ect. Ngak nulis, nulis sendiri he … he .. Orang yang ngak bisa nulis (jangan sampai dibaca yang lain), karena informasinya ngak cukup, ngak benar, atau ada informasi hanya katanya saja. Kalau informasi-informasian, ibarat makanan, ketika dioalah jadi sajian, mana bisa enak. Namun, modal dasar kita hebat, kita memang terlahir jenius.
By sq on Oct 30, 2007 | Reply
wah…pokok bahasannya jadi tambah mengerikan. Segitu banyak teori fisika (saya juga nggak terlalu paham pak
) berujung pada tingkatan menulis tanpa berpikir.
Otomatisasi dan aktivasi yang sungguh nggak sembarangan dan hanya bisa didapat dari banyak latihan dan pembiasaan (kayaknya juga perlu banyak kenalan dengan otak h3w
)
Rasanya jadi mengkerut kalo baca yang ini pak?
By Rahmadona Fitria on Oct 31, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum
Maaf nih Pak, hanyar aja umpat menyapa, he..he..
Wah, Pak…tulisan Bapak kali ini agak berat nih, soalnya kalo tentang fisika dan kerabatnya ulun kada paham. Tapi beberapa hal benar-benar jitu alias mengena.
Pertama, saya sering mengalami problem yang sama dengan kebanyakan temen2 juga. Itu lo Pak, sudah punya ide tapi sulit rasanya menuangkannya.
Waduh, bener juga kata Bapak, gara2 repot dg tugas pokok, waktu atau orang2 terdekat bisa jadi kambing hitam. Dan lebih repot lagi tugas pokok g beres, menulis g jadi2, bener2 tuh Pak, runyam!
By Rahmadona Fitria on Oct 31, 2007 | Reply
Padahal ketika tulisan rampung, rasanya nikmat banget, pikiran n jiwa jadi fresh, bener2 kaya’ habis berlibur. Ya…Mungkin saya masih lemah dalam pengelolaan waktu. Selipan QS. Al-Ashr, bener2 jadi motivasi yang bermakna.
Kalo menulis di otak…biasanya kalo lagi ada gangguan teknis, biasa…ketika anak lagi rewel, aktivitas menulis di komputer mau tidak mau terhenti. Maklum, ibu rumah tangga. Apa menurut Bapak, sebaiknya seseorang tidak menulis ketika memang sedang tidak ingin menulis ?
Ok, terima kasih banyak Pak, tambah ilmu lagi nih ! (Dona)
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 31, 2007 | Reply
Ass.wr.wb. Siip tenan.
Begitu mudahnya kita memahami dalam cara menulis atau menuangkan pola yang ada di otak kita, setelah membaca tulisan ini. Yaah, reflek itu berbanding lurus dengan ‘tadrib’ atau latihan dan pembiasaan. Semoga kita bisa mencapainya, InsyaALLAH, Amin…
By alpi on Oct 31, 2007 | Reply
lama juga ga buka web ‘paguruan’ saya nyentrik ini.
boz, tadinya di awal mbaca tulisan Bapak saya fikir sekarang dah ada orang MIPA yang mau make bapak jadi dosen di tempatnyaa…, eee taunya hasil dari mendayagunakan dan mendayakaryakan potensi benda yang beratnya 0.5Kg itu yaa.
saya memang ga paham fisika, karena terakhir belajar pada saat smp, di SMK mana ada, apalagi ‘diperparah’ dengan ‘racun2′ ilmu sosial di kampus., ya blesss kosonglah itu semua. tapi salut ketika seorang EWA yang –saya bingung apa sekuler,agamawan,ato ilmuwan– whateverlah,. telah me-mix berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan sekaligus memotivasi (bagi yang pengen pinter)untuk terus mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih baik lagi. tapi satu yang saya paham dari menulis adalah apa yang kita sampaikan bisa terdokumentasikan untuk kemudian kita siap mempertanggungjawabkan beda dengan omongan yang bisa menguap bgitu saaj– mengutip icon gusdur(gitu aj ko’ repot). sederhananya motivasi menulis bisa di mulai dengan tema yang disukai atau juga gabung dengan komunitas seperti ini biar bisa di charge teruss hehehe meskipun saya baru bisa 3x pa nulis di koran yang terus terang salah satu patron saya para paguruan saya.mengutip icon Perusahaan saya “WE CAN MAKE IT HAPPEN” so,., kayapa boz??
***Ho oh siiip … We can make it be happy
By ws ono on Oct 31, 2007 | Reply
Ada yangkurang tepat ini yang lebih tepat: Di dalam nukleus terdapat kromosom, yang didalamnya mengandung gen-gen yang disusun oleh molekul Deoxyribonucleic acid (DNA). Pada DNA terdapat basa nitrogen dari kelompok Purin dan kelompok Pirimidin. Yang merupakan anggoya Purin yakni Adenin (A), Guanin(G), sedangkan anggota Pirimidin adalah Cytosin (C), Urasil(U),dan Timin (T). Kode genetik terdiri dari triplet basa nitrogen dari basa nitrogen kelompok purin maupun pirimidin kecuali Urasil tidak terdapat dalam DNA. dst.
***Maksih, sumbernya beda ya bos. Ntar dicek dan dibaiki
By arief akbar on Nov 1, 2007 | Reply
Cukup sistematis kang dan enak dibacanya dalam memadukan unsur-unsur fisikanya hanya saja tercampur dengan bahasan biologinya, sekedar saran penyampaian argumentasinya difokuskan ke aspek fisikanya ntar disesi yang lain(bab lainnya) masuk argumentasi biologinya. jadi fokus dan detail, semua argumentasi relevan dan saya pribadi salut dengan “pian” memadukan aspek exact science nya. Saya sebenarnya pingin sekali belajar menulis populer seperti pian ntar saya coba deh memasukkan “artikel populer” rasanya koq susah banget……wassalam arief akbar(ariefrma@yahoo.com)
***Maksih. Aku senang diberi masukan. Kalau soal yang terakhir teramt gampang deh … Saya jamin Sampeyan bisa. Berani taruhan?
By syaharuddin on Nov 2, 2007 | Reply
saya pernah berfikir –setelah banyak membaca tulisan EWA ttg menulis– apakah memang manusia itu semua harus bisa jadi penulis? Analogi saya begini, dalam sebuah komunitas misalnya, yang terdiri dari beberapa orang, nah biasanya –sekali lagi biasanya– masing-masing punya kelebihan. Misalnya, si Adi jago menulis, si Budi jago bepander/bakisah, si Heri jago kritik, si tukacil jago di IT, si Tulamak jago di Sport, KEMPO misalnya, dan seterusnya……Kira-kira pemikiran saya ini masuk dalam kategori apa pak?
By ella agustina lpmp on Nov 2, 2007 | Reply
Saya sependapat dengan EWA tentang satu kunci bisa menulis, yakni banyak membaca –sebagaimana yang telah disarankan kepada Suci–. Tapi, wah ini kekurangan saya pak waktu saya terkuras buat pekerjaan kantor dan urusan keluarga, biasa, IRT sekaligus wanita karier, apa resepnya ya pak?
***Semua orang punya hal tersebut. Makanya ada pilihan, ada prioritas, dan … bagaimana melatih diri mengejakan sesuatu dalam waktu singkat (melipat waktu). Bagun sistem. Misal dalam mendidik anak, kalau dari kecil dibiasakan memcuci piring makannya sendiri, kita melatih dia bertanggung jawab, inisiatif, ngatur waktu, dsb .. Bagi orang tua, membangun sistem. Coba hitung berapa waktu yang dihabiskan sekadar mencuci piring atau mengantar anak ke sekolah dalam setahun sampai 10 tahun. Bedakan kalau dari kecil dia dilatih mandiri. Bisa beribu-ribu jam dihemat. Believe it or not. Biasanya orang tua suka memborong sendiri, e … kelabakan dong. Lalu, … m … m
By syaharuddin on Nov 2, 2007 | Reply
Saya pernah berfikir, apa semua orang mesti jadi penulis? Soalnya, seperti yang saya amati pada sebuah komunitas misalnya, maka disana terdapat pembagian job misal: si Adi jago IT, si Budi jago menulis, si Charly jago masak, si Dedi jago bakisah haja, si Edo jago beladiri –KEMPO misalnya, si Fedrik jago menyanyi/akting dan seterusnya. Nah pendapat saya ini masuk kategori apa dalam kajian fisika pak?
***Titik beranjak dan cara berpikirnya yang salah sehingga menimbulkan fallacy. Premis mayor dan minor, menentukan konklusi to. Nah, orang yang maunya menjadi koki, astronout, atah ahli kempo, lalu dia belajar menulis … itu namanya salah alamat. Orang yang mengintip blog menulis, logikanya dia ingin menjadi penulis. Penulis itu, satu persen saja dari total suatu komunitas itu sudah bagus. Indnesia? Kira-kira sendiri aja deh.
Mendeteksi potensi itu yang penting. Ingat … kalau materi doang, ya jadi potensi saaja. Bangunkanlah sesuai mau masing-masing.