Memaknai Waktu Menulis (2)
28 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TIDAK ragu lagi, kesempatan dan peluang harus dimanfaatkan. Kita tentu mempunyai pekerjaan masing-masing. Bisa jadi seorang guru, mahasiswa, ibu rumah tangga, sampai pebisnis. Sekalipun bukan penulis profesional, berkeinginan menulis. Tetapi, gara-gara sibuk (alasan saja tu), mengkabinghitamkan waktu. Saya mau, tapi tidak punya waktu.
Tentu saja kalau tidak tersalurkan akan menjadi beban psikologis. Apalagi kalau begitu kuat, akan memantik emosi. Lebih celaka, kalau sampai tugas pokok terabai. Lebih, lebih celaka, tugas pokok terabai, menulis tidak jadi-jadi, makin ruwet di pikiran. Padahal, menulis selayaknya dipahami bersendagurau, selingan, atau bersenang-senang. Menulis adalah proses katarsis, pembersihan pikiran dan jiwa.
Dalam kerangka demikian, satu-satunya penawar, menggunakan waktu, kesempatan, peluang untuk menulis, dimana dan kapan saja. Karena itu, saya membagi dua kategori menulis, menulis di otak dan menuliskan apa yang sudah terpola di otak memakai jasa komputer.
Bayangkan mudahnya menulis. Tarohlah ketika berlibur, menfreskan fikiran. Atau, menjelang tidur, operasikan otak bentuklah konstruk di pikiran. Bagi yang terbiasa, sekali membuat pola mungkin jadi. Bagi pemula, mula-mula agak susah, tetapi lama-lama akan terbiasa. Menulislah di otak sampai jadi sejadinya. Setelah itu, ketika ada waktu, ada peluang, salin ke komputer.
Sering sudah saya tulis, menulis adalah proses penuangan apa yang kita pikirkan atau apa yang ada di pikiran. Jangan dibalik, memikirakan apa yang akan ditulis. Kalau yang terakhir, bercerek-cerek kopi habis, bisa-bisa hasilnya sealinea saja. Apalagi kalau berbagai kendala bergayut, capek deh.
Banyak orang terlalu sombong, sembari menulis di komputer, menulis di otak. Lebih sok, pada keadaan demikian sekaligus mencari bahan. Bahan-bahan berserakan di meja kerja. Duh, sombongnya makhluk-makhluk tak tau diri tersebut. Prosesaor Core 2 Duo saja baru ditemukan.
Akibatnya, mandeg. Ya, iyalah. Segala hal bertumpuk yang membuat otak hang. Bodohnya, terus dilakukan dan dilakukan. Dan, yang dijadikan korban tidak bersalah, waktu dan kesempatan.
Sekarang begini saja. Kalau lagi rehat makan siang, coba perhatikan kebiasaan teman-teman. Pasti ada yang menarik. Perhatikan beberapa kali. Kalau perlu adakan survey kecil-kecilan, yah bertanya sambil lalu. Insya Allah, akan terbangun ide menulis tentang kebiasaan makan siang, lengkap dengan manfaat dan mudharatnya.
Kalau sudah matang di dataran otak, ketika rehat sore, atau menjelang tidur, ‘salin’ apa yang telah ditulis di otak pada pengertian menulis konvensional, melalui tuts komputer. Hanya menyalin, apa sih susahnya? Apalagi kalau ketika bersekolah dulu rajin mencontek. Praktikkan kebiasaan durjana tersebut. Nah, tersalur deh bakat lama. he … he …
Ya, tetapi kan tidak mudah? Jelas saja. Sekalipun demikian, kalau dilakukan terus-menerus, muaranya kebiasaan yang berbuah refleks. Saya menulis (di otak) lebih sering ketika nyetir atau macet. Tidak terhitung ketika orang memamerkan kehebatan berbica di ruang seminar. Begitu nyampai di rumah, istirahat sambil menunggu giliran mandi, tulis. Setelah cukup bilangan, menjadi buku. Si Pehebat bicara? Tahu sendirilah.
Dengan kata lain kita bukan lagi berbicara tentang memanfaatkan waktu, beranjak ‘merebut’ kesempatan. Peluang sela-sela waktu dimanfaatkan, semisal sembari menyetir atau menanak nasi. Dalam merebut kesempatan (waktu) kita akan lebih paham makna waktu, lama-lama akan berpikir, dari pada ngerumpi, dari pada berbuat ghibah, lebih baik menulis. Kira-kira aja begitu, bo.
Semakin lama, memanfaatkan dan merebut peluang, akan menjadi hal biasa, automaticly. Melaju ke langkah ketiga, menciptakan peluang. Misalkan, akan berwisata ke Honolulu. Sebelum berangkat, baca apa saja tentang Hawaii, jangan tarian Aloha saja. Akan lebih bagus, memori sudah tersisi informasi, dan bahkan bisa menjadi bahan cerita. Seolah-olah Sampeyan ‘pakar’ Hawaii juga bisa.
Nah, begitu sampai di Hawaii, yah segala sesuatu lebih mudah. Menuliskannya, uhuii, tentu merupkan pekerjaan sepele. Kita bisa bersendagurau menikmati wisata dengan rombongan, namun begitu istirahat di hotel, menuliskannya menjadi sangat mudah. Lain halnya, seperti guru atau dosen, puluhan tahun mengajar, menuliskan apa yang diomongkannya di kelas saja tidak mampu, kacie deh lo. Apalagi, kalau berkali-kali, atau bermukim di Hawaii, kalau tidak mampu menuliskannya, keterlaluan memang.
Pada pemahaman demikian, tingal bagaimana mensiasati apa yang akan ditulis. Kalau bahan informasi cukup di rumah pikiran, berbagai ide akan muncul tidak terkendali. Menurut seorang bloger, berlompatan. Masih ingat tragedi Mina? Saking banyaknya jamaah berebut masuk-ke luar terowongan, banyak yang terinjak-injak, korban berjatuhan. Innalillahi wa Innalilaihi Rajiun.
Kalau semua ide dibiarkan mendapatkan tempat untuk ditulis, ya sama saja dengan membunuh kerja otak. Mandeg, involusi, dan … tidak akan pernah menjadi tulisan. Dengan kata lain, merusak barang paling berarga di tubuh sendiri. Bisa diduga, pola pikir akan semakin ruwet. Dalam Teori Berak dalam menulis, kalau ampas makanan tidak dikeluarkan, perut bisa meledak. Gunung berapi saja punya sistem pengeluaran sedikit demi sedikit. Kalau tidak? Kalau langsung bruarrrr, ya seperti Etna dan Krakatau.
Pemahamanan lanjutnya, sistem kerja otak perlu dibangun, kerja otak harus dimenej. Kalau boleh mengeluh, hal tersebut kurang diperhatikan karena memang sistem pendidikan kita rada-rada jorok. Bayangkan, kita belajar dengan memanfaatkan, berkehidupan mengandalkan otak, e … apa itu otak, sistem kerjanya, bagaimana menquantumkan, sampai merawat, tidak diajarkan secara proporsional. Memakai Ok, memahami tidak perlu.
Tidak kalah penting dari semua itu adalah, teknik bagaimana ‘mengembangkan’ waktu yang sedikit —maklum kita orang sibuk, tidak punya cukup waktu he … he … akan dibahas berikut.
Karena ini tidak kalah serius, akan disajikan dalam komparasi intrepretasi dengan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Pada akhir tulisan, dipatok pada pemahaman hakekatis ‘Demi Waktu’ dan pesan-pesan Isra’ Mi’raj dalam memaknai waktu, menciptakan peluang bagi kenyamanan menulis.
Hanya saja, mohon dibantu. Sebab, akan menyerempet perihal pemahaman nateri, energi, ruang, dan waktu. Isra’ Mi’raj tidak bisa lagi dipahami sebagai perjalanan ‘tiga serangkai’, Jibril, Buraq, dan Raslulullah. Apalgi Si Buraq berkepala gadis cantik berbadan kuda dan bersayap.
Implikasinya, seorang petambak ikan terpaksa menulis tentang photon, kuantum-kuantum penyusun cahaya. Pada tautannya, mudah dipahami Rasulullah ke Baitul Maqdis untuk terus ke Sidratul Muhtaha, dan kembali ke Bumi dalam sekejab. Kita bisa ke Taskhent, Cape Town, Wellington, Caracas atau ke surga sekalian. Tersedia waktu yang teramat panjang di otak. Menulis? Hal cilik mentik, Mas.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 28 Oktober 2007.










11 Responses to “Memaknai Waktu Menulis (2)”
By Kurt on Oct 28, 2007 | Reply
Lain halnya, seperti guru atau dosen, puluhan tahun mengajar, menuliskan apa yang diomongkannya di kelas saja tidak mampu, kacie deh lo.</blockquote>
menarik sekali kutipan di atas…
Bangsa kita sebenarnya banyak ya Bang yang pandai menulis jika diberdayakan. Termasuk dalam penelitian seorang bogger(YariNK), Indonesia menempati urutan pertama dalam masalah komentar, dibanding negara lain. INi fenomena apa gerangan yaah..
BTW, itu ungkapan ujung tulisan: menulis cilik mentik! ini kan bahasa Cirebon. Emang bahasa sana sama dengan Cirebon yaa….
Ohya saya izin feed artikel ini untuk di <a href=”http://buntetpesantren.com/” rel=”nofollow”>sini </a>
***Tq.
By Totoks on Oct 28, 2007 | Reply
Benar juga Mas.. seringkali saya kok memikirkan apa yang mau saya tulis ya… padahal semalaman otak saya sudah berpikir keras merangkum apa yg semestinya saya tulis.. saya akan coba deh.. Terima kasih ilmunya
***Insya Allah mujarab
By Mega on Oct 28, 2007 | Reply
Wow..tajam sekali isinya..
tapi blon juga nich mulai nulis,,masih ancang2 mo bikin blog baru..=))
***Lebih tajam samurai to. Bagus … blognya yang dari WP ya, kalau mutiply, blog, etc rumit, malas ah komen pakai daftar segara, ngak praktis
By Ani on Oct 28, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum mas Ersis,
Terimakasih sekali karena pertanyaan saya telah di bahas di dua postingan Anda. Masalah menulis di otak sebenarnya sudah sering saya lakukan, karena terkadang ide itu muncul justru di saat kita sedang melakukan sesuatu yang butuh konsentrasi. Terkadang apa yang saya tulis di otak ini sampai mengendap berhari-hari, naaah, tiba waktunya untuk betul2 menuangkannya dalam bentuk tulisan, itu yang terkadang ada hambatan. InsyaAllah, hari-hari saya sungguh2 full activity, enggak di rumah, enggak di kantor, dan terkadang harus pula memilih, saya akan membaca atau menulis (saya sedih, sudah lebih dari sebulan ini saya tidak sempat membaca satu bukupun, biasanya satu buku bisa selesai dua atau tiga hari, *halah kok jadi curhat & ngelantur*). Kalau untuk menulis di blog, saya masih bisa lakukan sambil bekerja dan sambil yang lain-lain. Tapi untuk menulis semacam cerpen, itu yang saya bilang, ketika sudah mulai start menuliskannya, walaaah lha kok urut2an cerita dan ide2 saya jadi menguap, cerita mandeg di tengah2. Apa mungkin karena apa yang di otak kelamaan nggak ditulis trus semangat jadi hilang secara tidak kita sadari ya?
Kayaknya memang saya harus lebih banyak belajar dari Anda dan sering2 membaca postingan Anda di sini, juga harus lebihs ering mencoba seperti yang Anda sarankan.
Sekali lagi terimakasih mas !
***Persis … kalau kelamaan dia melupa. Tapi, bisa dipanggil kog.
By Bangaiptop (yang juga gondrong) on Oct 28, 2007 | Reply
@Mr Kurt: sudah terkenal, Pak. Orang Indonesia doyan ngomen. Apa aja dikomenin. Penting nggak penting, nggak peduli. Yang penting komen. Bahkan ada blog di blogsphere Indonesia yang bunuh diri gara-gara nggak ada yang komen.
Pak EWA, untuk mengatasi lonjakan ide, biasanya saya membawa notes dan pensil kemana-mana. Jadi ada penyaluran. Isinya notesnya juga macam-macam. Kadang ada tulisan-tulisan pendek. Ada interview iseng-iseng. Ada puisi. Ada sketsa. Ada macam-macam deh. Tapi sayang sekali, tidak ada duitnya. Huehehe.
Masalah baru yang timbul adalah ketika hendak menyalin tulisan saya di notes ke layar monitor. Masalahnya simpel, tulisan tangan saya itu jelek sekali. Masya Allah deh, Pak. Saya sendiri ndak mampu mbaca tulisan saya. Apalagi orang lain?

By hanna on Oct 28, 2007 | Reply
Memberi komentar yang jujur di blog juga merupakan latihan menulis, lho. Asalkan bukan komentar sampah, he he.
By unai on Oct 29, 2007 | Reply
aih senangnya saya membaca ini pak..betul sekali mulai menuliskan kejadian sederhana dengan kalimat sederhana dengan bahasa kita sendiri…akan membuat kita semakin mahir dalam memilih kata, dan lihat..tulisan kita mulai berkarakter.
Pak Windede…ada ciri khas tersendiri di tulisannya, Uni Meiy, bang Toga, Uda Max Apalagi bapak motivator kita ini…saya penyuka gaya tuturnya…dan setiap orang pasti punya kekhasan tersendiri. Tinggal kita gali dan gali terus, bukan begitu Pak?
By mathematicse on Oct 29, 2007 | Reply
Saya tertarik dengan kalimat-kalimat dalam paragraf berikut ini. Ya, menulis itu bak bersendagurau, kesenangan bathin yang sukar dicari bandingan. Bak becanda, bersenda gurau dengan diri sendiri. Hehehe..
<blockquote> Tentu saja kalau tidak tersalurkan akan menjadi beban psikologis. Apalagi kalau begitu kuat, akan memantik emosi. Lebih celaka, kalau sampai tugas pokok terabai. Lebih, lebih celaka, tugas pokok terabai, menulis tidak jadi-jadi, makin ruwet di pikiran. Padahal, menulis selayaknya dipahami bersendagurau, selingan, atau bersenang-senang. Menulis adalah proses katarsis, pembersihan pikiran dan jiwa. </blockquote>
Iya, betul ketika kita memikirkan apa yang akan ditulis, maka menulis itu tidaklah mudah. Tapi bia kita menuliskan apa yang sudah kita pikirkan, maka mudahlah menulis itu. Karena itu, karena tiap hari kita memikirkan banyak hal, maka sebetulmnya akan mudahlah menulis itu akalu yang kita tulis tentang yang sudah kita pikirkan. Wah2 baru kepikiran nih…
Saya tersentil ketika waktu dikambinghitamkan sebagai penghambat/perintang dalam menulis. Seringkali waktu saya jadikan alasan, padahal sayanya saja mungkin yang malas mikir, akibatnya mandul deh menulisnya.
Btw, makasih banget nih Pak ketiga tulisannya tentang “waktu” dan menulis.
***Ya tolong dong koreksinya, saya ngak paham sains lho Kang Jupri.
By Rahmadona Fitria on Oct 31, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum
Maaf nih Pak, hanyar aja umpat menyapa, he..he..
Wah, Pak…tulisan Bapak kali ini agak berat nih, soalnya kalo tentang fisika dan kerabatnya ulun kada paham. Tapi beberapa hal benar-benar jitu alias mengena.
Pertama, saya sering mengalami problem yang sama dengan kebanyakan temen2 juga. Itu lo Pak, sudah punya ide tapi sulit rasanya menuangkannya.
Waduh, bener juga kata Bapak, gara2 repot dg tugas pokok, waktu atau orang2 terdekat bisa jadi kambing hitam. Dan lebih repot lagi tugas pokok g beres, menulis g jadi2, bener2 tuh Pak, runyam!
Padahal ketika tulisan rampung, rasanya nikmat banget, pikiran n jiwa jadi fresh, bener2 kaya’ habis berlibur. Ya…Mungkin saya masih lemah dalam pengelolaan waktu. Selipan QS. Al-Ashr, bener2 jadi motivasi yang bermakna.
Kalo menulis di otak…biasanya kalo lagi ada gangguan teknis, biasa…ketika anak lagi rewel, aktivitas menulis di komputer mau tidak mau terhenti. Maklum, ibu rumah tangga. Apa menurut Bapak, sebaiknya seseorang tidak menulis ketika memang sedang tidak ingin menulis ?
Ok, terima kasih banyak Pak, tambah ilmu lagi nih ! (Dona)
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 31, 2007 | Reply
Saya sih sepakat aja. Saya yakin semua orang pernah memikirkan sesuatu, entah masalah yang pelik ataupun ganjalan dalam hati sehingga terpikirkan terus dalam otak. Walhasil, mencara solusi cara pelampiasan, bisa diledakkan dengan kemarahan, katarsis, bahkan ditekan. Nah daripada ditekan tak menghasilkan hal positif, yang justru merusak mental kita, yaah sudah sepantasnya dikatarsiskan aja melalui tulisan. Gampang aja kan, lha wong sudah ada (pola) di otak kita, tinggal tuangkan aja.
Nah, mulai sekarang jika ada uneg-uneg yang dipikiran, kalau mau sehat tuanging aja ditulisan, biar kita selangkah lebih maju. Bisa-bisa kalau terkumpul banyak, jadi buku lho.
Salam.
By meiy on Nov 6, 2007 | Reply
yang paling saya setuju adalah melakukannya dengan santai saja, relax, itulah asyiknya menulis cara EWa ya pak
***Yoi. Jangan menulis kalau memusingkan. Mungkin … pekerjaan lain juga lho. Santai, enjoy, ya kayak becanda, gitu.