Menulis Pemantik Menulis

27 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Kalau menulis (di blog), sekonyong-konyong ide muncul, tempo-tempo macet. Kalau macet, tidak karuan lagi. Susah menyusunnya. Apalagi, kalau ada gangguan teknis dan non-teknis. Terkadang, bacaan perlu diperbanyak. Setelah ada pemantiknya, baru bisa ditulis.

Yah, begitulah. Penyakit saya seperti itu. Membaca tentang sesuatu, idenya muncul belakangan, dan terkadang harus ada stimulusnya dulu.

PEMANTIK: Begitu keluhan seorang teman blogger, yang mengaku-ngaku sebagai Satpam, padahal tulisan (analisisnya) setingkat ilmuwan. Saya bangga. Saya menenggarai kawan kita merendah. Kalau Pak Satpam saja bisa menulis bagus, tidak syak lagi, Indonesia akan jaya. Harapan Indonesia jaya semakin besar.
 
Ya, di kepala kita, di kuala pikir, apabila ada respon, dari dalam atau luar, akan terjadi pergumulan. Memori otak yang mampu menampung jagat raya ini, apabila syaraf-syaraf otak di-on-kan galau pikir saling berebut mendapatkan tempat. Tapi ingat, khusus otak yang masih aktif lho.
 
Misalnya begini. Selepas bertengkar dengan suami (isteri) atau pacar, boleh pula tukang sayur, apalagi musuh bebuyutan, Sampeyan jadi gelisah. Kenapa bisa begitu ya, saya ngak sabar, saya tidak memaklumi, atau apa begitu. Ah sudah, minta maaf saja habis perkara.
 
Atau, lain kali begini. Tiba-tiba rumah tetangga berpindah pemilik. Pemilik baru seorang janda bahenol. Muncul berbagai hal —siiit— yang saru-saru di benak. Kalau seandainya isteri saya mati, akan kukawini Si Bahenol. Wuaaw asyik. Saking hebatnya otak bekerja, dengkur isteri tidak terdengar. Mata tidak mau terpejam.
 
Pada kasus pertama, kalau ada pemikiran berbuat sesuatu, meminta maaf, misalnya, Sampeyan di jalan yang lurus. Apa-apa yang bergelora di otak itu apabila dikonstruk, namanya ide. Ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan-gagasan atau cita-cita yang sudah dikonstruksi sedemikian rupa. Tepatnya, bukan yang berceceran.
 
Lebih terangnya begini. Apabila Sampeyan merekonstruksi di otak skenario mendatangi Si Bahenaol untuk mengajaknya selingkuh, begitu rapih, begitu detail, begitu mantap … seolah-olah siap dilakukan, rancangan di pikiran tersebut adalah ide.  Kalau ‘disalin’ memakai jasa tuts komputer, namanya, menulis. Ide tentang menyelingkuhi Si Bahenol menjadi tulisan.
 
Yang tidak elok, ide tersebut direalisasikan pada tindak nyata dalam kehidupan sosial. Bahaya tu. Bukan soal dosa kepada Allah SWT saja, tetapi siap-siaplah menerima sanksi sosial, mulai dari pentungan sampai diarak ke kantor polisi. Tidak percaya? Silahkan coba. Insya Allah akan dikabulkan Allah SWT.
 
Dus, yang dimaksudkan ‘ide’ sekonyong-konyong, tempo-tempo, hilang, kali aja, pikiran yang belum tersusun rapih. Katakanlah ketika otak merespon sesuatu sambil lalu. Respon sesaat yang belum sempat dianalisis, ditimbang-timbang, dan atau ‘dipikirkan’ kembali.
 
Jadi, kali aja nich, kesulitan menuangkan pikiran (ide) karena memang pada dataran otak, ide itu belum matang. Ibarat bayi, baru empat bulan dipaksa keluar. Jadilah bayi prematur, atau … wassalam sebelum lahir. Ide yang matang akan bertahan di otak sampai otak itu tidak berfungsi lagi.
 
Kalau fasih menulis, berdasarkan rakitan ide yang matang di otak, menulis menjadi pekerjaan ringan. Mudah, Menulis Sangat Mudah. Tidak ada kawasan macet sebagai sahabatnya. Berbagai ganguan, teknis dan non-teknis, adalah pada ketika ide belum matang. Sudah begitu, dipaksa keluar. Kalau dalam sistem opersi komputer, namanya hang.
 
Lalu, kenapa ketika ada respon, apa-apa yang terpikirkan, sekalipun belum menjadi ide, bisa muncrat begitu saja? Ya, itu tadi. Pada seketika, syaraf-syaraf mengeroyok secara fokus, dan … jadilah tulisan. Proses demikian, kira-kira sama dengan berbicara. Tanpa direncanakan, asal ada respon (lahan), jadilah. Namun, kasihan otak. Apa sebab?
 
Syaraf-syaraf otak dipacu kerja paksa dalam waktu singkat merekonstruksi sesuatu. Kalau hal tersebut berkelanjutan, otak bisa aus. Bahaya bo. Dalam menulis, berdampak kurang baik. Sebab, kita akan tergantung pada respon, dan … kalau ada respon yang frekuensinya pas, sekelabat otak terpacu. Pesawat terbang saja, memacu tenaga full hanya ketika take of. Ini, otak kog dipaksa take of terus. Kacian dech.
 
Dengan kata lain, sayangi otak. Berlatihlah menulis di otak dengan santai, dengan riang gembira. Jadikan otak pustaka ide yang siap dipanggil kapan saja. Setelah tulisan di otak jadi, wuih … salinlah pula … dengan santai, bergembiraria.
 
Pada tautan demikian, memori otak memang sebaiknya ditimbun dengan ragam informasi. Kebiasaan membaca, mengamati, menganalisis, mengutak-ataik, berkhayal, imajasinasi, dan seterunya adalah lahan subur bagi pelajuan menulis. Kiatnya jangan biarkan apa saja di meja kerja ketika menulis? Apalagi kamus, eksiklopedi, buku, atau apa gitu.
 
Sebab, itu menganggu. Coba, apabila kita lupa judul film Robert Gere dan Julia Roberts, ketika menulis, kita cari koran atau majalah. Mencarinya saja menyebalkan, apalagi membolak-balik halaman. Lebih celaka kalau bertanya sama anak, duh ruwet, bikin repot. Begitu ketemu, apa yang akan ditulis sudah lupa. Muncul pikiran baru, lalu madeg lagi. Kalau begitu, kapan mau jadi tulisan.
 
Dengan kata lain, lebih baik matangkan ide di otak sematang-matangnya (emang telur dadar, he … he …). Nah, latihan menulis di otak itu yang perlu dilatih, kemudian latihan menyalin ide menjadi tulisan. Semua itu tidak perlu dipikirkan, tetapi dilakukan. Lakukan saja, tulis saja di otak, lalu tulis di komputer. Fasih jalan karena ditempuh, kata pepatah.
 
Nah, ketika ada stimulus, respon, jadilah tulisan. Tulisan yang digayuti beban-beban yang tidak perlu. Penulis fasih, biasanya menulis tuntas. Menulis sampai selesai. Kalau sudah selesai, mau membiarkan monggo, mau mengedit, lebih baik.
 
Sampailah kita kepada kesimpulan, menulis itu sebenarnya menuangkan apa yang ada (matang) di pikiran, bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Karena itu, kemungkinan macetnya hampir nihil.
 
Dengan kata lain, stimulus adalah pemantik menulis. Kalau roda pemantik dicuk sekuatnya sementara gas penyambutnya kering, ya batu gesekannya bisa habis, aus. Kita tidak akan pernah mendapatkan api. Tulisan akan menjadi angan-anagan belaka.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 26 Oktober 2007.

  1. 8 Responses to “Menulis Pemantik Menulis”

  2. By mathematicse on Oct 27, 2007 | Reply

    Wah tulisan ini pas banget dengan pertanyaan yang ada di pikiran saya ini.
    Seringkali saya punya banyak ide untuk ditulis. Tapi terkadang agak sukar menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ini artinya, ide yang ada di pikiran saya belum matang ya, Pak?

    Namun, bila sudah membaca beragam bacaan, sedikit mikir, dan sedikit berimajinasi, maka ide-ide yang ada di pikiran itu sangat mudah sekali untuk dituangkan. Ini berarti ide tersebut sudah matang dan siap dituangkan, ya, Pak?

    Bila kita punya banyak ide yang belum matang, tapi kita paksa tuangkan dalam bentuk tulisan, seringkali hasilnya tidak bagus. Kurang pas, kurang enak dibaca. Hasilnya, cuma tulisan apa adanya, kurang nikmat untuk dibaca, kurang menarik untuk disimak alias membosankan!

    ***Saya pikir semua kita pernah dilanda hal sedemikian. Yup, matangkan ide. Kog makin banyak yang memasuki kawasan makri’fat he he

  3. By Mega on Oct 27, 2007 | Reply

    **Morning Uda..! [**ohayogozaimasu..]

    Itu semuapun ada didiriku,setiap melakukan sesuatu yg bukan didepan peralatan ntuk menulis,,banyak sekali ide2 yg keluar dan dilontarkan oleh otak,,itulah,,pas disaat bener2 mau menulis apa yg dikatakan si otak waktu lagi bukan didepan meja tulis or depan komputer,,semua jadi hilang ga menentu,,berantakan,,dan bubar..

    Nah berarti itu belum matang yah,,,,gawatzzz,,kalau selalu begini selamanya,,yang ada benar dech,,kita hanya bisa jadi satpam aja di sini trs yah..:))..uhh..matee dech akuu

    ***Ohayogozaimasu … makanya cepat-cepat tulis tentang Jepun biar bisa kami nikmati. Arigato.

  4. By kangguru on Oct 27, 2007 | Reply

    ide bagai air mengalir kalo ngak di tulis hilang tertimpa soal lain … halah jadi emang bener harus segera dituangkan segila apapun idenya … halah

    ***Betul Kangguru … lama tak jumpa ama CigGu, kangen komen euy

  5. By hanna on Oct 27, 2007 | Reply

    Ketika sedang menulis, ketik secepat mungkin agar ide di kepala tidak meluap. Jangan berpikir untuk edit, jangan pusingi kata yang salah, lupakan sementara tata bahasa. Setelah tulisan jadi baru dibaca, direnungkan kembali, dan koreksi.

    ***Yoha … pas, e … kemana aja Neng? Sibuk nulis atau cari doku nich. Kalau dua-duang bagi-bagi dong, tulisan dinikmati, doku dizakati he he he

  6. By hanna on Oct 27, 2007 | Reply

    Ha ha ha ha ha, bapak ini bisa aja. Kata orang tua duit tidak akan habis di cari. Sibuk kerjaan, pak. Mo nulis aza harus nyolong waktu, nih. Mudah-mudahan cepat selesai kerjaannya jadi bisa belajar menulis lagi dengan bapak.

    ***Baca tu tulisan tentang Memaknai Waktu Menulis

  7. By Kurt on Oct 27, 2007 | Reply

    (Selingkuh itu gampang! tinggal lakukan) Tidak percaya? Silahkan coba. Insya Allah akan dikabulkan Allah SWT.

    hahahah… ini persis dengan menulis bang, sama² mudah dan sama² dikabulkan oleh Allah kemudahannya.

    Bedanya, kalau selingkuh, akan dikenai dosa sosial, dosa kultural, ideolgi dan psikologi apalagi dosa saking Gusti Allah swt. tapi kalau menulis paling banter di kritik, dibantah dan dihapus beres… bukan begitu bang.. :)

  8. By unai on Oct 27, 2007 | Reply

    Membaca tulisan bapak ini seolah mendengarkan anda bicara pak…tak bosan bosan saya kemari. Banyak tulisan yang memantik ide saya. Tapi tetap saja menulis tak segampang bicara hehhe *lagi lagi…

    ***Hati-hati, maknanya diseruput … jangan sampai manfaatnya dibiarkan lalu …Menulis lebih mudah dari bicara, he he

  9. By Suci on Oct 29, 2007 | Reply

    Jadi seperti itu ya, pa. Berarti, kebanyakannya ide saya itu belum matang yah. habis setiap mau dituangin kadang-kadang putus di tengah jalan.

    Penyakit baru juga mulai datang neh, malas ngedit tulisan yang udah jadi…hehe….

    ***Yap, jangan dipaksa matang. Ngedit? Lakukan, kecuali nanti kalau tulisan sudah diminta (dibutuhkan) baru boleh (sedikit) belagak, malas ngoreski. Tapi, kalau tahaf awal, janganlah, he he

Post a Comment