Memaknai Waktu Menulis (1)
27 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Sepertinya, ide menumpuk di kepala untuk ditulis. Begitu mulai, eh menguap. Ada yang setengah jadi, membuat endingnya susah. Menulis perlu waktu tersendiri ya?
Seorang blogger dari Medan, seperti yang ditulis blogger dari Batam di atas, lebih keren malahan. Tulisnya, sibuk ini-itu. Penyakit saya, soal waktu dan kesempatan. Bapak bilang: “waktu cukup saja tidak lebih tidak kurang”. Saya sudah mengaturnya, tetap saja tidak cukup.
WAKTU DAN KESEMPATAN: Kasus seperti diutarakan di atas, duga-duga saya, dialami banyak orang, kalaulah terlalu keras dikatakan, menjadi belenggu abadi. Sibuk? Tidak punya waktu? Karena itu, tidak punya kesempatan untuk menulis. Padahal, sangat ingin menulis. Dilakukan, ya hasilnya, tidak memuaskan.
Ahai. Ini soal serius dalam memaknai waktu dan pemanfaatan waktu. Padahal, waktu itu terbentang tak bertepi dalam tiga dimensi, lalu, sekarang, dan esok. Waktu adalah juga berarti, saat yang tertentu melakukan sesuatu, dan … kesempatan, tempo, atau peluang. Kesempatan dari akar kata sempat, berarti, ada waktu, ada peluang.
Waktu, ya sudah tersedia, waktu itu cukup saja. Kesempatan lebih kepada ‘mengambil’ (bagian) waktu digunakan untuk sesuatu. Kita mau menangis sepanjang malam, tertawa-tawa cekikikan dari pagi sampai sore, waktu tetap jadi waktu. Ketika menangis atau tertawa —kayak orang gila gitu— waktu dimanfaatkan untuk itu.
Artinya, kalau digunakan untuk menulis, ya jadi tulisan. Kalau untuk bergunjing atau ghibah, ya kebudayaan bisik-bisik yang mapan. Dus, kesempatan diciptakan dari rentang waktu. Kalau diibaratkan garis liniear waktu merentang lurus yang bisa kita ‘ambil’ (dimanfaatkan untuk sesuatu) sesuai maunya kita.
Makanya, yang diperdebatkan orang bukan soal ‘ada’ waktu, tetapi memanfaatkan waktu. Karena waktu pula ada konsep prioritas, memilih yang tepat. Kalau peluang yang tersedia di waktu tidak dimanfaatkan, kita mengabaikan peluang. Itu baru soal memanfaatkan, belum hal menciptakan peluang.
Seharusnya, ketika bersekolah kita sudah fasih menulis, karena ada pelajaran bahasa yang ada bagian menulis (mengarang). Tetapi, kita dijejar tata bahasa, teori, dan aturan yang seolah-olah akan ‘dicetak’ menjadi ahli bahasa. Tidak salah. Sebaiknya demikian. Sebab, seharusnya semua orang memiliki keterampilan berbahasa layaknya ahli.
Celakanya, mempraktikkan bahasa terlupakan. Hasilnya? Ya, selepas sekolah, menulis jadi sulit. Teori melulu sih. Atau, mau contoh lebih konkret.
Pergilah ke Bali, berleha-lehalah di pantai Sanur atau Kuta. Anak-anak ingusan lancar-lancar saja tu berbahasa Inggris. Ada sarjana bisanya, I don’t know. Si Sarjana hidup-hidup belajar bahasa, Si Anak Ingusan mempratikkan hari-hari. Cakaplah dia berbahasa Inggris. Apalagi, anak-anak yang lahir di Inggris, he … he … Language is habit.
Jelaslah, kesempatan adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang tidak akan pernah berulang. Apabila garis waktu lewat, tidak diraih (dimanfaatkan), otomatis (kesempatan) hilang. Kesempatan harus direbut di rentang waktu. Memanfaatkan kesempatan adalah kepiawaian dasar. Merebut kesempatan dan menciptakan kesempatan tingkat di atasnya. Artinya, memanfaatkan saja cela, apalagi tingkat berikutnya. Capek deh.
Dalam menulis diilustrasinya berikut. Kita kepincut memperbaiki pendidikan anak-anak slum area. Ada niat menuliskan pengalaman tersebut. Bagi yang pandai memanfaatkan, mengambil kesempatan menulis dalam setengah jam. Bagi orang lain, berbulan-bulan untuk menulis hal yang sama.
Memang ada faktor speed dalam menulis pada sebagian orang. Tetapi, lebih penting dari itu adalah, bagaimana memanfaatkan waktu. Sebenarnya latihan menulis, membiasakan menulis, menjadi penting adanya. Tapi, sudahlah. Kita mulai dari patokan, bagaimana menuliskannya.
Hanya saja, saya ingin memperbingung dulu agar lebih mantap. Pernah mimpi? Ya, pastilah. Kalau kita mimpi, dalam ukuran waktu normal manusia atas pemahaman waktu standar, mungkin satu menit saja. Tapi, durasi mimpi itu terasa panjaaaaaaaaaaaaang. Coba, kalau sudah bangun bisa menceritakannya secara detail dan memakan waktu sangat panjang.
Waktu di otak kita berbeda dimensi dan durasinya dengan waktu dunia nyata. Coba, kalau mau ke London, … ribet. Dalam dunia mimpi, wah hal selayang. Atau, coba … begitu membaca tulisan ini, pergi saja ke Washington atau Yokohama, nyampe deh. Ngak sempat mudik dengan raga, mudik saja dengan pikiran. Dalam semenit pergi-pulang. Begitu saja kog repot.
Pesan yang ingin saya sampaikan dalam konteks menulis, jangan menyia-nyiakan waktu, jangan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Dalam Surat Al’Ashr Allah berfirman: Demi masa (1), Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).
Manakala kita petik intrepretasi ayat satu dan dua, luar biasa kerasnnya peringatan Allah SWT. Secara tekstual memang pada ayat tiga terpatok pada soal keimanan, amal, dan dalam berjuang demi kebenaran berbasik kesabaran. Tetapi, kembangan mantapannya merebak ke wilayah kehidupan manusia.
Intinya, jangan sampai tergelincir begabung dengan orang-orang yang merugi. Lalu, bagaimana dong mengatasinya? Sebab, kehidupan keseharian begitu sibuk, begitu padat program yang harus dilakoni?
Jawabnya, sederhana. Jangan bebani waktu, jangan bebani fisik. Santai saja. Manfaatkan lumbung potensi tak terhingga yang telah dititipkan Allah SWT bersamaan dengan ditiupkannya roh. Bukankah tugas manusia memaknai potensi berian Yang Mahapemberi? Kenapa dibiarkan terjerumus menjadi The Sleeping Giant di tubuh kita. Apa sih?
Menulis di otak? Ah, becanda aja, mana mungkin menulis di otak. Sampeyan belum membaca buku-buku saya kalau belum paham. Bagian kedua tulisan ini adalah aplikasi bagaimana memanfaatkan, merebut, dan menciptakan peluang dalam menulis. Tapi, saya punya satu teror lagi. Apa itu?
Ada penemuan Galilio Galile dalam ilmu mekanika yang saya sukai, apalagi dalam konteks menulis. Menurutnya: Kecepatan setiap benda yang jatuh, pada setiap saat jatuhnya berbading lurus dengan waktu yang berlaku sejak benda itu dilepaskan dan kecepatan jatuhnya bertambah sejalan dengan waktunya. Ringkasnya, suatu gaya mengubah gerak dan mengakibatkan percepatan.
Ke arah itulah, menulis mudah, menulis cepat, menulis dengan gembira, Sampeyan akan diceburkan. Bukankah untuk menulis hanya berkutat soal 26 huruf. Dari 26 huruf itu, sekalipun menghasilakn ribuan buku, tidak sampai separoh yang digunakan. Soal otak atik 26 huruf, apa sih susahnya?
Oh ya, kalau dipahami secara radiks dan holistik, Teori Relativis Einstein, E=MC2 pas-pas saja. Waktu, ruang, kesempatan, peluang, dan potensi yang terendam di pikiran kita tak terbatas. Kini, tuangkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
(Bersambung, he he)
Banjarbaru, 27 Oktober 2007.









14 Responses to “Memaknai Waktu Menulis (1)”
By hanna on Oct 27, 2007 | Reply
Tulisannya okey, nih, pak. Pada umumnya salah satu alasan orang tidak menulis memang karena tidak mempunyai waktu yang lebih, terlalu sibuk. Mungkin saya salah satu diantaranya.
Cara ngatasinya, ya, cari kesempatan. Misalnya ketika di mobil, saya bisa menulis di atas kertas yang memang sengaja di sediakan.
Tidak semua orang bisa menulis di otak. Apalagi untuk orang-orang sibuk. Butuh waktu dan latihan. Sementara kan bisa catat di kertas, ketik di hp, banyak cara, koq.
Otre, pak. Jadi segarr, nih, baca tulisan bapak.
***Kira-kira aja gitu, lho
By hanna on Oct 28, 2007 | Reply
Aku senang menulis
Meski sekedar katarsis
Ketika datang si iblis
Hati menjadi miris
Semangat mengempis
Tulisan terkikis
Membaca tulisan pak Ersis
Aku bagai terhipnotis
Kalahkan si iblis
Spontan menulis dengan optimis
Meski goresanku tidak puitis
Semangatku tak akan menipis
Menulis, menulis, dan terus menulis
Anehnya, aku bisa secara otomatis
Meski sedikitpun tak fantastis
Senyum indah tetap terlukis
Dunia terasa manis
Seperti lalapan kubis
Tak pernah ku tahu dengan persis
Yang pasti tak ingin pesimis
Siapa tahu bisa menulis buku laris manis
Hingga pengemarnya histeris
Ini hanyalah tulisan seorang gadis
Yang pikirannya kadang tak logis
Tak peduli orang memandang sinis
Masa bodo dengan kritik sadis
Tak ingin pula aku menangkis
Selagi tidak overdosis
Ini kisah seorang gadis
Yang tergila-gila menulis
Tersihir tulisan pak Ersis
***Wow … hanya satu kata … xie xie
By hanna on Oct 28, 2007 | Reply
Menunaikan utang kepada bapak, nih. Meski baru bisa menulis sajak-sajakkan. Pernah EWA berkata, “Saya akan bangga bila komentnya puisi karya sampean bukan karya orang lain.” Maaf, ya, pak. Sementara baru bisa menulis segitu.
By imgar on Oct 28, 2007 | Reply
pengalamanku..
kalo lagi sibuk dg kerjaan, ide menulis dan menulis jadi lancar.
tapi kalo lagi gak sibuk, nulis malah susah banget.
gak tau kenapa..
***Malah bagus, hal tersebut kadang menjangkiti aku juga he he … buat sibuk sekalian, dan … jelas hasilnya
By Mega on Oct 28, 2007 | Reply
“”[Menulis di otak? Ah, becanda aja, mana mungkin menulis di otak. Sampeyan belum membaca buku-buku saya kalau belum paham. Bagian kedua tulisan ini adalah aplikasi bagaimana memanfaatkan, merebut, dan menciptakan peluang dalam menulis. Tapi, saya punya satu teror lagi. Apa itu?...]
Kalimamt diatas sepertinya ada pada ku…hahaha…hancurr dach
By aLe on Oct 28, 2007 | Reply
weks, panjang amit,
*lg buru2 mode : on*
absen dulu aja deh
By Kurt on Oct 28, 2007 | Reply
Duuh jaadi tersentak deh hati saya, sebab saya masih belum juga membayar hutang sama Bang Ersis. Menulis dan waktu adalah dua hal yang belum bisa menyatu pada saya. Duuh semoga aku bisa sadar dengan tulisan ini.
@hanna
bagus sekali kata-katanya… bagi dong virus EWA nya..
***Ngak ah, jangan dijadikan utang. Itu membeban. Menulis jangan sampai menjadi beban, sebab menulis pencerahan. Gitu.
By hanna on Oct 28, 2007 | Reply
@Mas Kurt
Terima kasih, mas Kurt. Saya ini masih tahap belajar. Masih jauh dari tulisan mas Kurt yang sudah okey punya dan mencerahkan. Virus EWA akan menyebar dengan sendirinya kalau mas Kurt rajin membaca tulisannya, he he he.
By unai on Oct 29, 2007 | Reply
Wah bapak ini hebat bana…baru kemarin kasus itu di sapmaikan sekarang sudah ada ulasannya, dalam pulak sampai menjadi sekuel hehe. Saya jadi keikutan bapak, menulis di otak dahulu, lalu pindah ke “buku pintar” saya…isinya macam macam : Ada catatan belanja,catatan hutang, dan disana juga saya tumpahkan catatan yang saya tulis di otak tadi. kalau tak lelah baru saya mulai mengetiknya di notebook, jadi tulisan yang “WAGU” hehe, bapak tau artinya wagu?
***Saya yang berterima kasih. Kalau ngak ditanya memang saya bisa nulis? Jadi, jangan dibalik. Apa tu wagu? Wagu di tiru? Nek boso jowo, wes aku rak mudeng. Sa’derengi pangawosan miniko kulo ngature panjenengan sadoyo mugi-mugi …
By max on Oct 29, 2007 | Reply
Saya biasa menulis di otak pak. Untuk sebuah berita atau tulisan yang akan saya bikin ,selalu sudah ada konsep dan judulnya di kepala, tapi terkadang ketika akan memindahkan hasil “print out”-nya ke bentuk tulisan riil di layar monitor (maksudnya notepad, gitu lho..), malah tersandung waktu lantaran bejibunnya tugas yang harus dijalankan. Akhirnya menulis (terutama di luar konteks tugas saya yang memang mewajibkan menulis berita) untuk mengisi blog misalnya, saya hanya bisa mencuri-curi waktu. Kalau luang, maka akan ada postingan baru di blog, tapi kalau gak ada, maka blognya gak pernah update. Terlebih lagi saya mengelola begitu banyak blog. Ternyata waktu memang tak pernah cukup, atau memang saya yang kelewat menyibukkan diri…. Begitulah pak.Btw, tulisan ini sangat menginspirasi. Terima kasih atas berbagi ilmunya.
***Makasih. Sampeyan beruntung. Simpan saja. Kan ngak semuanya harus di tulis di luar otak, tapi, supaya jangan terlalu numpuk, sebagian pindahkan ke folder komputer. Duga-duga saya, banyak orang ngak bisa nulis di luar otak karena sudah numpuk dan justru bikin pusing, ibarat bisul, digoyang aja bikin sakit. Jadi, mengeluarkan dari otak itu berarti pula proses degfrah.
Btw, blog itu kan bagian kecil saja dari saluran. Terima kasih atas komennya. </p>
By sq on Oct 30, 2007 | Reply
betul pak ?! (apanya yang betul ???)
waktu dan kesempatan memang sering jadi kambing hitamnya menulis. Buktinya saya, masih suka ngilang-ngilang nulisnya,
h3w.
Mesti banyak belajar lagi , gimana memaknai tulisan agar tidak jadi orang-orang yang merugi. Memang seperti yang sering bapak sampaikan, berperang melawan diri sendiri yang terberat. Bukan justru menyalahkan yang tak bersalah. Saya mau terus belajar, menulis, membagi waktu dan memaknai hidup. Belajar dari banyak tulisan, amieen
By Rahmadona Fitria on Oct 31, 2007 | Reply
Assalamu’alaikum
Maaf nih Pak, hanyar aja umpat menyapa, he..he..
Wah, Pak…tulisan Bapak kali ini agak berat nih, soalnya kalo tentang fisika dan kerabatnya ulun kada paham. Tapi beberapa hal benar-benar jitu alias mengena.
Pertama, saya sering mengalami problem yang sama dengan kebanyakan temen2 juga. Itu lo Pak, sudah punya ide tapi sulit rasanya menuangkannya.
Waduh, bener juga kata Bapak, gara2 repot dg tugas pokok, waktu atau orang2 terdekat bisa jadi kambing hitam. Dan lebih repot lagi tugas pokok g beres, menulis g jadi2, bener2 tuh Pak, runyam!
Padahal ketika tulisan rampung, rasanya nikmat banget, pikiran n jiwa jadi fresh, bener2 kaya’ habis berlibur. Ya…Mungkin saya masih lemah dalam pengelolaan waktu. Selipan QS. Al-Ashr, bener2 jadi motivasi yang bermakna.
Kalo menulis di otak…biasanya kalo lagi ada gangguan teknis, biasa…ketika anak lagi rewel, aktivitas menulis di komputer mau tidak mau terhenti. Maklum, ibu rumah tangga. Apa menurut Bapak, sebaiknya seseorang tidak menulis ketika memang sedang tidak ingin menulis ?
Ok, terima kasih banyak Pak, tambah ilmu lagi nih ! (Dona)
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 31, 2007 | Reply
Menuangkan ide dalam tulisan memang sedikit usaha aja, tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan apa yang akan ditulis, karena tidak usah dipikirkan tapi dituliskan saja pada sebuah media (kertas, komputer atau komunikator, dll) maka jadilah tulisan.
Wassalamu.
By meiy on Nov 1, 2007 | Reply
Hihihi asyik kalee istilah bapak, “Hanya saja, saya ingin memperbingung dulu agar lebih mantap.”
Terimakasih telah dibahas pertanyaan saya pak, orang sok sibuk, padahal semut pun sibuk yah pak. hari ini baru kembali ke ‘dunia nyata’; dari hutan tanpa sinyal, tapi internet, tanpa listrik…rasanya asyik, tentram, damai….:). buru2 ngenet, rindu baca2…
Sebenarnya saya sadar soal pemanfaatan waktu itu pak, mungkin saat ini saya harus puas krn prioritas saya adalah komitmen pd pekerjaan utama sbg ibu dan istri n kerja di ktr hehe…saya sendiri selalu menulis blog saat senggang, sarapan, sambil menyusui anak, waktu luang antara satu pekerjaan dan lainnya, juga menulis di otak sdh lama saya praktekkan, seperti yg bapak bilang, kdg kita mempunyai pikiran yg sama dg org lain, menurut saya org yg ‘hebat’ bisa menuangkannya menjadi karya yg berarti, saya juga ingin. saya akan belajar trs…memanfaatkan waktu yg diberikan Allah.
tapi pasti akan saya ingat2 ini:
Jawabnya, sederhana. Jangan bebani waktu, jangan bebani fisik. Santai saja. Manfaatkan lumbung potensi tak terhingga yang telah dititipkan Allah SWT bersamaan dengan ditiupkannya roh. Bukankah tugas manusia memaknai potensi berian Yang Mahapemberi? Kenapa dibiarkan terjerumus menjadi The Sleeping Giant di tubuh kita. Apa sih?
makasih banyak pa EWA!
***Sama-sama. Ini rahasia lho, kalau sedang sibuk-sibuk banyak yang saya perbuat, kalau … leha-leha hasilnya justru … nol. Semakin sibuk seseorang (asal ada hasilnya positif) berarti semakin memanfaatkan potensi berian Allah. Calon penghuni surga he he