Menulis Menyederhanakan Menulis
25 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Pak … kesulitan saya dalam menulis memaparkan secara runtut, dengan plot, dan bahasa yang enak dibaca. Kalimat berlompatan, karena banyaknya informasi yang ingin dituangkan. Walhasil, tulisan jadi kacau he … he …
Berbeda dengan berbicara, dengan mudah menemukan kata. Lugas dan tuntas … tas … tas mengucapkannya. Bagaimana agar ‘penyakit akut’ tersebut cepat sembuh Pak?
SEDERHANAKAN: Terus terang tergugah dengan pengunjung tetap blog saya yang satu ini. Kalau serius sharing dan mempraktikkan apa yang saya formulakan sebagai Ersis Writing Theory, dalam waktu singkat dia akan mengalahkan produktivitas saya menulis. Modal dasarnya lebih yahut. Tanya kenapa?
Pertama, menulis adalah penuangan apa yang ada di pikiran atau dipikirkan. Di pikirannya tertimbun laksaan olahan informasi. Lagi pula, kalau dituangkan melalui ‘ngomong’ enteng saja. Sungguh, kawan kita ini punya modal lebih dari yang dibutuhkan. Banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi malas membaca, cekak informasi. Ini baru penyakit dan penyakitan.
Kedua, menulis dan berbicara (ngomong) pada dasarnya sama-sama ‘produk’ pikiran. Kalau yang satu bisa, atau fasih, kenapa yang lain tidak? Pada kasus kawan kita, tinggal memindahkan ‘cara kerja’ ngomong kepada ‘cara kerja’ menulis. Mudah, sungguh sangat mudah. Yang diperlukan menyadari potensi diri.
Ketiga, ini rahasia lho. Saya suka ngintip blognya, baik yang berbau esai, resensi, sampai sajian puisi. Ada kalanya, iri. Iri? Tulisannya bagus-bagus. Lalu apa penyakit sebenarnya? Tidak percaya diri. Kenapa tidak percaya diri? Hal tersebut yang dibahas dalam bungkusan inkludid, menyajikan nurturant effects dalam tulisan renyah-renyah basah berikut.
Sering, bahkan kalau diprosentasekan dapat dipastikan, dalam kehidupan, kita tidak merencanakan apa yang akan dibicarakan. Begitu ketemu ‘lahan’, terkeluar begitu saja. Bagi ahli bicara, bahkan yang tidak dia paham, bisa menjadi hal menarik. lancar-lancar saja.
Coba sekali-kali perhatikan kemampuan diri secara radiks, akan tercengang sekaligus bangga: Kog bisa ya bicara seperti itu? Apa saja soal dalam seketika bisa dibahas. Jarang lho para ahli bicara menyigi kemampuannya? Asyik ngomong melulu tanpa pernah berpikir, kenapa bisa ngomong seperti itu. Tapi, sudahlah. Kita kembali ke menulis.
Pengalaman saya, karena berprofesi guru (dosen), karena itu harus ‘pandai’ berbicara, sampai pada simpulan, berbicara dan menulis bak two side in one coin. Dalam keseharian, saya hampir tidak pernah membawa pulpen, apalagi buku. Begitu di ruang kuliah, cos … cos … Akan lebih seru kalau ada pertanyaan, cos … cos … Kalau ada yang memantik, bertanya yang disukai atau dibenci, respon lebih kencang.
Apa saja, seolah bisa diselesaikan dalam seketika. Tambahan, dosen mana yang mau dikalahkan mahasiswa, he … he … Terpantik di pikiran, tanpa direncanakan, kog ya formula kata-kata terkeluar otomatis. Tanpa dipikirkan, tanpa berpikir. Katakanlah telah menjadi refleks.
Belakangan, ketika serius ‘belajar’ menulis pada diri sendiri, sampai pada kesimpulan, menulis itu ya seperti berbicara. Maklum saja, sama-sama produk pikiran. Bahkan, menulis lebih mudah. Kita lebih merdeka, berdialog dengan diri sendiri.
Penyakit banyak orang, karena terkena virus teori (mematikan), sebelum, sedang, dan sesudah menulis. Dihadapkan pada portal, apa sajian benar, bahasanya apa sesuai EYD, sudahkah pas teorinya, plotnya, sudahkah runtut, apakah tidak menyinggung orang, pilihan diksi yang netral, dan seterusnya.
Anehnya, ketika ngomong, hal membebalkan tersebut, jangankan jadi pertimbangan, teringat saja tidak. Padahal, bahasa tutur lebih rumit dari bahasa tulis. Minimal, tidak ada ruang koreksi. Lain halnya dengan menulis. Bahkan, kita bisa minta tolong teman-teman ahli bahasa. Kalau perlu upahkan.
Dengan kata lain, penyakit bukan dienyahkan, tetapi diundang. Akibatnya, menulis tidak lancar. Takut ini, takut itu, takut ite, takut atu, dan seterusnya. Lebih kacau termakan takut-takuti orang. Ya, seperti yang sudah diutarakan di atas. Lebih kacau, kalau ‘teroris’, ‘ahli teror’ memberi pelajaran ini-itu, begini-begana, ya kapan motivasi menulis akan terbangun.
Sudah begitu, ditakut-takuti, membayar lagi. Apa-apaan logika demikian. Tingalkan saja, latih menulis dengan menulis. Jadilah guru sekaligus murid. Saya ketawa prihatin, kalau orang yang tidak fasih menulis, apalagi menulis buku, menjadi penatar penulisan buku. Praktik pembodohan tersebut harus kita basmi bersama.
Kini saatnya memasihkan menulis. Dijamin lebih mudah dari bicara. Berikut rahasianya.
Pertama, bagi pebiasa bicara, terkadang bicara tidak ada ujung pangkalnya. Coba, berapa energi yang dibuang untuk melayani kerja otak yang terpacu. Dari satu masalah ke masalah lain, dari satu topik ke topik berikutnya. Sederhanakan. Ambil satu masalah, analisis, tuangkan. Tidak perlu ngalor ngidur. Mudah, dan otak tidak terbeban. Kasian otak dipaksa ketika bicara.
Kedua, kata siapa tulisan Sampeyan tidak bermutu? Coba jujur, kata Sampeyan kan? Nah, lho. Kalau karya sendiri dicaci sendiri, itu metode berpikir macam apa? Lagi pula, wajar saja tulisan pemula agak gimana gitu, tetapi lama-lama, setelah fasih menulis, akan bagus kog. Tidak percaya? Buktikan.
Kuncinya, menyederhanakan pikiran. Ngapain membanding-banding karya sendiri dengan karya J.K. Rowling. Rowling ya Rowling, Sampeyan ya Sampeyan. Kalau semua orang sepeti Rowling, apa enaknya. Justru karena adanya perbedaan itu dunia jadi indah. Kita harus berbeda dari yang satu dengan yang lain.
Ketiga, penulis itu adalah inovator. Buat apa Nabi Muhammad SAW membawa Risalah ke dunia? Untuk merubah keadaan lebih baik. Kenapa Tukul mejadi populer, karena dia beda dengan presenter terdahulu. Sampeyan mau meniru, apa ngak ketinggalan pola pikir tu?
Kita tidak akan pernah bisa meniru siapa pun. Dus, mari jadi diri sendiri. Kalau sama dengan para pendahulu, orang-orang hebat terdahulu, penulis terdahulu, berarti tidak ada kemajuan. Buat kemajuan dengan memulai dari diri sendiri. Minimal, gaya sendiri. Itu baru hebat namanya.
Terakhir, kita tidak dibebami penyakit menulis. Virus membunuh kreativitas menulislah yang selama ini kita sadap, sadar atau tidak, dan atau ditimpakan oleh (maaf) guru-guru kita. Sehingga, kita jadi takut menulis. Dunia tulis menulis seolah berisi ranjau-ranjau kesalahan.
Kini, mari campakkan. Rapatkan barisan, virus anti takut menulis (EWT) sedang menyebar. Mari belajar menulis, membiasakan menulis dengan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 25 Oktober 2007.









17 Responses to “Menulis Menyederhanakan Menulis”
By kw on Oct 26, 2007 | Reply
haduh… saya masih kesulitan menulis pak dosen. terutama pada tema /sudut pandang yang menarik. dan banyak lagi
senang berkenalan dengan anda,
regards
***Nyatanya tulisan Sampeyan bagus kog? Senang bersilaturrahmi
By dani iswara on Oct 26, 2007 | Reply
mari menulis, belajar menulis, belajar membaca, belajar menerima, belajar kreatif, dengan mencoba kreatif..
tp baca dl tulisan2 di blog pak ersis ini
makasi atas segala pencerahan dan idenya ya pak..
***Sama-sama. Yu, mari membaca dan menulis
By Ani on Oct 26, 2007 | Reply
Makasih mas Ersis atas petuahnya (kalau boleh dibilang begitu). Betapa inginnya saya bisa menulis bagus seperti orang2 itu, tapi kok ya tetep nggak bisa ya?
***Pasti bisa. Insya Allah
By Yari NK on Oct 26, 2007 | Reply
Kalau saya ide menulis (di blog) bisa saja muncul sewaktu2 (atau macet sewaktu2!), namun ya itu tentu otak manusia punya keterbatasan, pada waktu ide2 tersebut muncul dengan bentuk konkritnya yang baik di dalam fikiran, eh beberapa jam kemudian di fikiran bentuknya sudah tidak karuan lagi sehingga menyusunnya agak grogi lagi. Maklum pada saat ide muncul, terkadang tidak bisa langsung ditulis akibat “banyak gangguan teknis dan non-teknis”, atau terkadang bisa juga membanyak baca tapi tetap saja tak ada ide kongkrit apa yang akan ditulis, baru setelah ada peristiwa tertentu atau ada bacaan lain beberapa waktu kemudian, baru ada ide kongkrit tentang bacaan yang pernah saya baca beberapa waktu lalu itu. Seperti contohnya, saya sering membaca hubungan yang meretak antara Indonesia dan Malaysia, namun apa yang harus saya tulis tentang hubungan yang meretak antara Indo dan Malay ini, eh baru setelah ketemu artikel/forum yang ‘menghina’ Indonesia karena Indonesia tidak punya astronot, baru deh kefikiran apa yang harus dituliskan sekaligus dng bentuk kongkritnya yaitu membeberkan fungsi si astronot yang ternyata hanya ‘turis’ dan juga membeberkan fakta2 lain yang menyimpulkan Malaysia nggak hebat2 amat.
Yah, begitulah contohnya. Kalau buat saya, penyakitnya seperti itu, terkadang udah baca, tapi idenya timbul belakangan dan terkadang harus ada stimulusnya dulu!
***Siip, saya olah respon artkel ya.
By PBSID on Oct 26, 2007 | Reply
Kalau menulis tidak perlu aturan buat apa aturan dibuat dan malah dibuat menjadi buku dengan judul Ejaan Yang Disempurnakan.
Siapa lagi yang akan menghargai bahasa kita sendiri selain masyarakat dari bangsa itu sendiri.
***He he benar juga. Bukan aturan Maz, pedoman … agar kita tertib. Dan, itu tidak ada urusannya dengan menghargai bahasa sendiri. Kita berusaha ke arah itu, namun perlu pembiasaan. Jangan sampai pedoman justru membelenggu kreativitas dalam ‘mefasihkan’ menulis. Nah, sekali lagi, auturan keg, teori keg, apa keg … kalau menumpulkan kreativitas merugikan … Sekali lagi, karena merasa ‘jago’ pengetahuan kebahasaan menulisnya uyuh. Kalau ahli (merasa ahli) bahasa seharusnya menjadi contoh kreativitas menulis, itu bagus, bukan menjadi ‘polisi bahasa’ tanpa karya. bagaimana menurut Sampeyan.
By Shireishou on Oct 26, 2007 | Reply
hooooooooooooo……….. ternyata kalau jkd pengajar yg banyak bicara lbh mduah menulis yah
Saya suka sebenernya menulis. Cm kadang ga ada ide. Kalau diminta temen “Tolong dok buatin artikel ttg A”. langsung deh lancar. Tp kalau nulis sendiri suka ga ada ide.
Saya jg seorang pengajar (Instruktur les di Binus Center). Tapi paling bs cuman nulis fanfiction atau tutorial. hix
yoa… kalau ada waktu aku coba deh nulis lg. Seenggaknya nulis puisi dl deh biar web sastraku yg di http://kireta.co.nr bs di update lg. ehhehe
***Kadang-kadang aku sebal juga, orang-orang pintar nulis, suka merendah. Merendah iu baik, tapi Nabi Muhammad SAW mengajarkan juga, kita harus percaya diri. Oh ya, jangan perba ‘coba’, lakukan saja. Tulis. Aku akan jadi pengunjung tetap, Insya Allah.
By unai on Oct 26, 2007 | Reply
wah makasih.ini pencerahan yang ruarrr biasa pak. Kenapa ruar biasa? karena setiap tanya saya terjawab, dan setiap ketakutan saya akhrnya terkalahkan. Saya juga tak ingin kebanyakan mendiskon kemampuan dengan mengatakan saya tak sebaik orang lain, lah wajar saja tulisan saya kacau..wong saya ini pemula…Nah tulisan Bapak sangat mengatrol, memotivasi saya…kenapa takut salah? karena dari salah kita bisa tahu yang benar. Terima kasih buanyak pak, grasias, arigato, tengkyu….maturnuwun
***Korek mBak. Dalam EWT, guru ngak penting. Begini. Sampeyan baca tulisan saya, lalu melakukan internalisasi, muncul kesadaran baru, berkarya. Semua itu kerja siapa? sampeyan to. Jadi, berterima kasih pada diri sendiri. (Maaf, ini bukan logika ‘guru’ konvensioanal, lho).
By PBSID on Oct 26, 2007 | Reply
Saya setuju dengan pendapat Bapak, tapi tidak semua orang yang bisa teori paham bagaimana caranya teori itu menjadi praktik.
Bukankah banyak di negeri ini yang bisanya hanya berteori tapi tidak bisa mempraktikkannya bahkan mereka malah menjadi “pakar”, ada yang di bidang ekonomi, hukum, politik, dll.
Tapi satu hal yang pasti, setiap orang punya kelebihan masing-masing dan hanya kita yang tahu apa itu.
***Makanya ngak usah ’seperti orang’, atau membicarakan yang ’seperti orang’. Kita jadi orang sajalah, jangan mikirin orang, belajar lebih afdol. Gimana?
By meiy on Oct 26, 2007 | Reply
penyakit saya adalah soal waktu n kesempatan. waktu bapak jawab “waktu cukup saja tak lebih tak kurang,” sampai hari ini selalu saya pikirkan, namun masih saja saya kurang waktu untuk menuliskan apa yg telah tertulis di otak, banyak sekali. saya senang dg prinsip bapak, waktu cukup, itu hal yg menyamankan. saya ingin begitu juga.
sedang dalam menulis saya cendrung bebas saja, tak saya pikirkan macam-macam, yg penting menulis, ingin serius juga punya buku yg bisa terbit, atau tulisan terbit di media,.. eh sok sibuk bgt, nggak pernah sempat mengerjakannya!
saat ini saya bekerja (ngakunya aktivis heheh), kdg di kantor, dg tugas baru sbg education n awareness coordinator, mulai kesana kemari, kelapangan plus Ibu RT yg nggak punya pembantu dan punya anak3 bayi satu heheheh ko curhat yah pak.
saya tahu tak cukup waktu krn saya terlalu byk target daftar kerja yg saya inginkan. sudah saya coba kurangkan, ketat dlm hal waktu, msh saja tak cukup wkt utk menulis hehehe
apa rahasianya bapak bisa melakukan semuanya, tak mungkin bapak tak sibuk dg segala hal, mengajar, menulis, keluarga, bisnis, dll. dll…
saya ngiri melihat orang yg punya banyak waktu ‘luang’
sori pak kalo komenya nggak nyambung dg tema disini.
***Wow … ini soal serius karena salah memaknai waktu dan pemanfaatan waktu. Pernah baca surat Wal-asri (Demi Waktu)? Waktu itu terbentang tak bertepi dalam tiga dimensi, lalu, sekarang, dan akan datang. Kesempatan adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang tidak akan pernah berulang lagi. Menulis misalnya, ada bagi orang berbulan-bulan (itu penghianat kesempatan), ada yang cukup sambil ngantri mandi (anak lagi mandi) dan selesai. Bisa jadi, dalam kesempatan sepuluh menit jadilah tulisan sementara bagi yang punya waktu sebulan, berlalu begitu saja.
OK, ntar saya kupas ya. Tapi, jangan marah kalau sedikit disentil. Setuju?
By Kurt on Oct 26, 2007 | Reply
Melatih Nulis dengan menulis (excellent…!)
tambahan… (maaf karena terinfeksi virus EWB)
Melatih bicara dengan menulis
Melatih mendengar orang dengan menulis
Melatih menghargai orang lain dengan menulis
Melatih memahami karakter orang dengan menulis
Melatih kecerdasan dengan menulis
Melatih jadi orang baik dengan menulis
Melatih menghindari diri jadi bego dengan menulis
Tokh akhirnya, meneruskan argumen ini tentu dengan menulis, kan?
bukan begitu Bang …..
**info** Bang, mohon maaf belum sempat menulis untuk http://www.menulismudah.com
***Wow … jangan terlalu cepat sampai di Makr’fat, ntar saya kurang teman sharing
By Kurt on Oct 26, 2007 | Reply
Ah.. jadi malu dengan Wal Ashri, alasan diatas mengada² ya Bang… (tapi setidaknya saya berasalan pun dengan menulis heheheh
*** He he bisa aja … yang penting nulis, pasti jadi tulis to. Tu kapan nulis untuk Menulis Sangat Mudah. Masih ada alasan he he he
By Kurt on Oct 26, 2007 | Reply
bersalan = beralasan
By Kurt on Oct 27, 2007 | Reply
Bang sudah takdir bukan sih, guru kencing berdiri murid kencing berlari.. makanya jangan dihabiskan ilmu pamungkasnya, nanti jadi kaya di film² Shaolin, si murid kurang ajar sama gurunya… heheheh
***Pepatahnya yang salah kog dipatenkan di otak … Ngak, ilmu dari Allah SWT, sudah dijanjikan walaupun air lautan jadi tintanya manusia tidak akan mampu menuliskannya. Iya kalo? (Bahasa Banjar)
By unai on Oct 27, 2007 | Reply
Penasaran saya pingin segera baca kupasan bapak tentang wal asri itu..heheh pengen lihat juga reaksi yang tersentil hihihi *NI Meiy…kita belajar terusssss
***Waduh … seharian banyak acara. Ada Kongres Cerpen Indonesia, dan workshop Cerpen Indonesia, di Banjarmasin. Saya asyik ngomong dengan Gus tf Sakai, Hamsan Rangkuti, Kory, Lan Fang, dan seabreg penulis. Besok malam baru usai. Jadi, separoh bagian awal saja dulu ya. Selamat membaca.
By PBSID on Oct 28, 2007 | Reply
Setuju Pa, saya akan berusaha untuk itu.
By Kurt on Oct 28, 2007 | Reply
oooh bang Ersis orang banjar tah?
By Mega on Oct 29, 2007 | Reply
Sekarang awak baru kena Virus “MEMBACA”,,sampe buku2 dan majalah2 yang dibawa dari indonesia dikeluarin kembali hubby sampe heran ngeliatin,,
Tapi sayangya persediaan dikit banget,,sampe lecek2 dach tuh buku,,
Buku bacaan dalam tulisan kanji seambruk,,but,,MATAKU JERENG NGELIAT TULISAN KANJI2 ITU..:((
Kapan yach awak bisa menulis dgn sukses,,sering menulis tapi suka madat ditengah jalan,,krn kalo diseriusin nulis, malah jadi blank otak n ide2,…ADA OPO..??ORA NGERTOSS DECH akunya…
PIYEE TOCH..?pusinggggggg…:D hehe..
***Puizing kali he he