Menulis Kutipan dalam Menulis
24 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Selamat atas peluncuran situs Menulis Sangat Mudah (www.menulismudah.com). Semoga semakin menjangkiti banyak kalangan.
Bagaimana tentang kutipan dalam menulis. Saya agak sulit mengingat nama. Bagaimana jika harus ada data dan lain-lain? Konon, tulisan yang baik itu kalau didukung data akurat. Misalnya, nana, umur, ciri-ciri, dan sebagainya. Bukankah di situ sisi menariknya?
Someone in somewhere
Kutipan merupakan hal menarik dalam suatu tulisan? Bisa ya, bisa tidak. Sekalipun demikian, pada dasarnya tergantung kepada ‘jenis’ tulisan, kepada siapa ditujukan, dan atau, siapa pembacanya. Ada tulisan yang memerlukan kutipan (dukungan) data, ada yang tidak.
Ketika kita menulis karya ‘ilmiah’; makalah, skripsi, tesis, disertasi, atau kertas kerja, tentu mutlak adanya. Apalagi kalau menulis artikel ilmiah untuk jurnal berdasarkan penelitian. Ilmiah dalam pengertian paduan antara rasionalisme dan emperisme. Atau, katakanlah untuk tulisan-tulisan berbau akademis.
Kalau begitu, untuk tulisan umum, dan atau, katakanlah ilmiah populer, bahkan tulisan ‘kacangan’ sekalipun, bukan tidak mungkin diperlukan kutipan (data). Bahkan, dalam tulisan infotainment misalnya, data dasar tentang seseorang perlu dikutipkan.
Misalnya, Dewi Artika Sari nampaknya semakin dekat ke jenjang perkawinan dengan Baim. Biasanya, diikutkan kapan dia lahir, dari mana asalnya, Baim itu nama sebenarnya adalah Anu, dan seterusnya. Kalau itu yang dimaksudkan menjadikan menarik, mungkin iya. Lho, kog iya?
Ya, iyalah. Bagi saya, justru membosankan. Sebab, sudah tahu siapa itu Dewi Artika sari dan Baim. Saya sering melewatkan informasi sedemikian, sebab buat apa? Tentu lain halnya kalau belum punya informasi dasar tentang seseorang atau sesuatu. Nah kalau di entry behaviour belum ada, sementara pada tulisan yang dibaca tidak ada, ya sebel juga. Pandai-pandai penulis ‘meramal’, kira-kira informasi apa yang pas buat pembaca.
Saya tidak bicara kutipan langsung dan tidak langsung dalam menulis (tulisan), lho. Dalam kuliah penelitian —saya pengampu MK Penelitan dan MK Bimbingan Karya Ilmiah di kampus— hal tersebut cukup penting. Ketika mengutip sesustu secara langsung ada aturan tertentu yang berbeda ketika kita mengutip meaning-nya. Nah, dalam tulisan umum lebih kepada kutipan tidak langsung (meaning). Yang penting sumbernya akurat.
Saking bisa menyebalkan, minimal menganggu alur teks, biasanya disediakan jalan keluar dengan apa yang dinamakan footnote. Ada pula yang cukup dengan menyebutkan sumber secara sederhana, tetapi bermakna. Misalnya, Ersis (2007: 17). Artinya, dikutip dari buku Ersis, Menulis Sangat Mudah, yang secara lengkap dicantumkan pada bagian perpustakaan.
Dengan kata lain, kalau diperlukan informasi lengkap, bahkan sampai tabel, ya apa boleh buat. Tekadang, justeru disitu kekuatan suatu tulisan. Hanya saja, dalam sharing menulis sajian portal kita, tulisan dan atau aktivitas menulis yang kita maksudan adalah, menulis populer, artikel opini, dan atau pendapat tentang sesuatu. Karena sifatnya yang demikian, apa-apa yang akan dikutipkan sebenarnya di-press begitu rupa dan disajikan dalam bentuk non kutipan. Dengan demikian, pembaca tidak perlu berkerut keningnya.
Ringkasnya, data, kutipan, atau pendukung lainnya diperlukan manakala dianggap perlu. Cara kerja penulis diibaratkan keseluruhan kerja penegak kebenaran. Saya adopsi secara kreatif dari Metode Sejarah, khusunya sajian Louis Gottschalk dalam Understanding History.
Penulis adalah pencari fakta (polisi), penuntun layak tidaknya diajukan ke mahkamah kebenaran (jaksa), penilai benar-tidaknya (hakim), pembela (advokat) tentang sesuatu yang ditulis. Dalam Metode Sejarah; heuristic, critique (otentitas dan kredibiitas), interprestasi, dan historiografy alias tulisan.
Jadi, apa-apa yang ditulis, dan jadi tulisan, betapa sederhananya tertampak, pada hakikatnya melalui proses yang begitu panjang dalam alunan kerja otak (pikiran). Kalau ditampilkan slow motion, duh bisa begitu runtut dan panjang durasinya.
Tetapi, seperti pernah saya tulis dalam Menulis di Otak, otak kita mampu saja melakukannya. Ya, apa boleh buat, ketajaman, daya simpan, daya panggil, daya olah otak, memang harus dilatih. Kita tidak usah berbantah-bantahan dalam hal ini.
Sekalipun demikian, dalam era IT ini, banyak informasi tersedia yang bisa didapat sekejab. Contoh, kita butuh informasi tentang Eistein. Klik di Mas Google … tersaji tu informasi tentang Paman Einstein.
Praktisnya, kalau kurang suka menghapal nama, tempat, tahun kejadian, tokoh, arti sesuatu, dan seterusnya, internet memudahkan dan dapat mengimbuhi semua itu. Dengan kata lain, era IT semakin memudahkan menulis. Menulis apa saja. Ingat, sekali lagi, menulis apa saja.
Dalam Ersis Writing Theory, semua hal tersebut, tidak layak dijadikan penghalang. Kita telah mengumpulkan informasi sepanjang hayat, bertimbun-timbun informasi yang telah kita ‘tulis’ di otak. Kini, saatnya menampakkan dalam tulisan, menuliskannya. Karena itu, dimana sih susahnya.
Coab renungkan ketika sampeyan bicara asyik dengan teman-teman atau kawan lama. Bisa berjam-jam atau berhari-hari membicarakan apa saja. Memangnya semua itu direncanakan? Tidak bukan?
Begitu teman menceritakan kejadian semasa sekolah (dulu) seluruh informasi terkeluar begitu saja. saking banyknya imformasi dan olahannya, jadi berebutan hendak mengutarakan. Dari yang lucu, menyebalkan, mengembirakan, atau palah. Dari mana datangnya? Ya, dari memori otak.
Dus, menulis apa bedanya dengan bicara. Kalau berbicara keterampilan bibir yang diasah, menulis keterampilan jari-jari tangan. Kalau ada beda esensialnya, soal ‘akibat’ dan hakikat yang membalutnya. Apa itu.
Kalau kita ngomong, begitu selesai di telan ruang. Memang sih, kalau mengesankan dan atau menyakitkan akan tertancap di memori. Kalau tidak? Ya, hilang begitu saja. Menulis?
Lain ceritanya. Jangan coba-coba salah kata, apalagi salah konsep, apa salah sajian, langsung bisa dicek karena tertulis. Tidak mungkin berkilah. Boleh saja beralasan, yang saya maksud nabi tetapi salah ketik n, yang terketik huruf b, jadilah babi.
Artinya, kalau menjadi tulisan tidak bisa berkilah. Pintar atau bodoh akan terliahat seketika. Kalau kerja otak sembraut, ya sembrautlah tulisan. Kalau suka mencela, ya celaan sajalah isi tulisan. Kalau … ya kalau apa gitu … itulah yang menjadi tulisan.
Jadi, wajar banyak orang lebih suka ngomong. Resiko lebih kecil, namun bisa berlagak begitu hebat. Padahal, menulis lebih mudah dari bicara. Kalau ada yang salah, perbaiki. Kalau ada ragu tentang sesuatu, bisa dicek, tulisan bisa diedit. Tidak perlu interupsi pihak lain, wong kita polisinya, jaksanya, hakimnya, pembelanya. Ngampangkan?
Yuuk, menulis. Mari memasihkan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 24 Oktober 2007.









6 Responses to “Menulis Kutipan dalam Menulis”
By santribuntet on Oct 24, 2007 | Reply
Pintar atau bodoh akan terliahat seketika. Kalau kerja otak sembraut, ya sembrautlah tulisan. Kalau suka mencela, ya celaan sajalah isi tulisan.
Oooh jadi begitu Bang, kutipan memang penting namun zaman digital sekarang ini sedikit-demi sedikit kerja otak untuk mememorikan lebih ringan. Pantesan orang bodoh/pintar semuanya bisa menulis. Jika demikian, berarti ada sesuatu dibalik kapasitas otak kita itu akan memmuncrat ke tulisan.
Jadi kepribadian itu sendirikah yang mengemuka di tulisan bang? atau dari tulisan bisa ditebak kepribadiannya?
***Ha ha kira-kira aja tu
By Kurt on Oct 25, 2007 | Reply
bang saya belum sempat menuulis di menulismudah.com tentang alasan tulisanku tentang hal² beraroma agama ….
By mathematicse on Oct 25, 2007 | Reply
Ya, dalam tulisan ilmiah populer, sebisa mungkin kita sajikan “kutipan” itu dengan bahasa kita sendiri, sehingga enak dibaca, tak menghambat laju orang lain ketika membaca. Sedikit berbeda ketika kita menulis sesuatu yang ilmiah, yang biasanya HARUS mengikuti aturan tata tulis tertentu yang baku.
Oh, iya saya sependapat dengan paragraf terakhir berikut ini:
Kalau banyak bicara, kecenderungannya banyak kebohongan yang akan terjadi (karena susah ngeceknya tadi…
). Tapi, kalau menulis amat sukar berbohong karena gampang diperiksa orang lain kebenarannya. 
By PBSID on Oct 25, 2007 | Reply
Berikanlah contoh bagaimana mengambil kutipan yang baik, jadi mungkin bisa lebih berguna?
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
KALO HATI LAGI SENANG,,HASIL TULISANNYA BISA SENANG GA YANG BACANYA..;))..
LAIN JUDUL KALI YAH..
By Bulletin News on Dec 29, 2007 | Reply
Bodacious blog post talking about is Kutipan dalam Menulis at MENULIS TANPA BERGURU (Ersis Warmansyah Abbas). Always love your blog!
***Tq 4 u visit en coments