Menulis Doktor yang Sadar

21 October 2007 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS:  Seperti tahun sebelumnya, Abdur Rafi Shadiqin dan Ma’ruful Kahri bersilaturrahmi, bermaaf-maafan di hari mulia penuh berkah. Mereka sahabat saya. Shadiqin, Doktor Kesehatan Olah Raga, dan Ma’rupul calon doktor yang tengah menempuh S3 di UPI Bandung.
 
Pembicaraan merembet kesana-kemari. Kami ketawa-ketawa memaknai Hari Lebaran. Saya tersenang ketika Shadiqin bicara: “Saya mau menulis buku. Mudah-mudahan cukup waktu”.
 
Ersis Warmansyah Abbas Banjarbaru

TERPANTIK. Tidak syak lagi, para sahabat ini sedang terpantik urat menulisnya. Dulu, sering diledek, bagaimana ini Pak Doktor, kog menulisnya loyo. Bukan bermaksud menghina, sebab dibaliknya ingin punya contoh, mencontoh teman-teman bergelar doktor dalam menulis. Katakanlah, dalam memperbaiki ‘cara’ menulis.
 
Dengan Shadiqin punya ikatan batin cukup dalam. Bukan karena dia suka menghadiahkan buku, atau apa begitu, tetapi ketika di dera sakit maag dan mau mudik ke Padang tahun 2002, dia bilang: “EWA, aku tidak minta oleh apa-apa. Pian, puasa penuh. Insya Allah, penyakit maag pian sembuh”.
 
Saya praktikkan nasehatnya. Alhamdulillah, keluhan maag sudah berlalu. Seperti juga kepada Ma’ruful, saya selalu minta satu hal: “Kalian menulislah”. Kini, mereka mau menulis. Tersenang teramat sangat. Kenapa begitu senang?
 
Saya hidup di kampus, di rumah kaum intelektual. Suka membaca, terutama buku-buku terbaru. Suka menulis, apa yang bisa ditulis. Teman ‘gila’ membaca dan menulis, justru didapat di luar kampus. Teman berbagi buku, diskusi pemikiran, dan menuliskan apa yang didiskusikan. Tanpa beban, tanpa menyalahkan, dan … ini lebih penting … memotivasi.
 
Di kampus, lebih banyak terjerembab mengeluh tentang kampus (Unlam: Universitas Lambung Mangkurat), sering dimaksudkan orang luar sebagai Universitas Lampung. Ada kerinduan, perpustakaan menjadi tempat membaca, dan membiasakan mahasiswa membaca dengan garang.
 
Ada mau, membaca jurnal tebaru terbitan dalam dan luar negeri, buku-buku standar keilmuan. Ada kehendak, menjadi ajang saing menerbitkan buku, apakah buku teks atau sekadar bahan bacaan. Ada mimpi, menjadi rujukan penemuan keilmuan, baik untuk keperluan kampus atau lingkungan. Ada impian bermandikan IT, minimal berinternetria di kampus. Kami harus berjuang lebih keras.
 
Dalam pada itu, sebagai orang yang baru belajar menulis, atau katakan baru tingkat ‘menulis populer’ rindu equilibrium kondusif bagi kegiatan menulis. Apa lacur, ketika menulis di surat kabar, terkadang dianggap sebagai hal tidak positif. Jangankan penghargaan, seorang teman sampai mengeluh, ketika ada yang ‘menilai’ —kawan yang menulis— sebagai ‘Dosen Koran’ dengan konotasi negatif. Menulis kerinduan kampus ideal, memimpi fasilitas penunjang akademis, dipahami sebagai sesuatu yang tidak positif.
 
Karena itu, karena tidak mau mengeluh, berusaha dengan teman-teman, membiasakan menulis apa saja. Tanpa, ya tanpa, menanti-nanti atau berharap pada kondisi kondusif. Lalu, menularkan kepada mahasiswa yang mau diajak berkolaborasi. 
 
Dalam diskusi, sebenarnya kemandulan menulis bukanlah monopoli kampus kami. (Bangsa) Kita memang menghasilkan sarjana, magister, dan doktor dari berbagai disiplin, tapi produk buku kita jauh dari proporsional. Konon, kalah jauh dari India. Apalagi, negara-negara maju.
 
Saya —juga teman-teman— menatap diri. Sebagai tenaga edukatif, hanya piawai menyampaikan pemikiran orang lain. Comot buku orang sana-sini, lalu ‘bergaya’ di depan mahasiswa. Muncul pantikan tanya: Kenapa apa yang diomongin, yang dikuliahkan, kog ngak ditulis?
 
Ya, kenapa tidak ditulis? Jawabannya hanya satu, memulai menulis. Ada tambahan peluru seorang teman yang usil: Apa lo ngak malu sebagai PNS golongan IV, dosen pula, ketika harus memeriksa buku karya guru atau dosen yunior, tidak menulis satu buku pun? Waduh, ngeri. Sudah, tahu diri saja, dan mulai belajar menulis. Habis perkara.
 
Dalam pada itu, ketika berselancar di internet, menemukan tulisan di HU Pikiran Rakyat, 8 Januari 2007. Rada serem dan membuat balikan tanya bagus ranah berpikir positif: Aneh, Guru Besar tidak “Pede” Menulis. Silahkan disimak isinya:
 
Guru besar tidak percaya diri (pede) untuk memublikasikan hasil-hasil penelitiannya adalah sesuatu yang aneh. Hal itu terjadi karena faktor kemampuan menulis guru besar yang terbatas. Sama halnya yang terjadi pada sebagian besar dosen yang tidak mempunyai kemampuan menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.
 
“Faktor penghambatnya, kemungkinan guru besar merasa penelitiannya belum bisa dipublikasikan,” kata Ketua Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Rochim Suratman, usai memberikan materi pada lokakarya kurikulum PS PPKN yang diselenggarakan FKIP Unpas, di Ruang Micro Teaching Unpas, Sabtu (6/1).
 
Rochim menyebutkan, kalau melihat fungsi dan statusnya, tugas guru besar antara lain membimbing doktor. Penelitian dilakukan bersama doktornya dalam mengerjakan tugas akhir, seharusnya dapat dipublikasikan.
 
“Lagi pula, track record guru besar itu terletak pada penelitian. Bagaimana mungkin seorang guru besar tidak mempunyai track record penelitian. Padahal, dia harus membimbing mahasiswanya menjadi doktor,” ujarnya.
 
Untuk menumbuhkan kebiasaan menulis di kalangan guru besar, Rochim mengatakan, ada beberapa ilmu yang harus dikembangkan, yakni ilmu advance dan terapan. Untuk mengembangkannya, perguruan tinggi harus mempunyai jejaring dengan industri agar nantinya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, yaitu penelitian.
 
“Dengan semakin banyak peluang meneliti seperti inilah, para guru besar dipaksa menulis dan mempublikasikan hasil penelitiannya,” kata Rochim.
 
Track record guru besar itu terletak pada penelitian. Selain itu, guru besar juga harus fokus pada bidang ilmu yang dikajinya. Karena selain harus membimbing seorang doktor, guru besar juga harus mengembangkan bidang keilmuan yang ia tekuni.
 
Pemerintah, menurut Rochim, sudah cukup banyak menstimulasi guru besar untuk melakukan hal tersebut. Antara lain adanya riset keunggulan, riset kemitraan, riset unggulan internasional, dan ada hibah.(A-148)
 
Apa yang disajikan Pikiran Rakyat, tentu saja ungkap keprihatinan. Seorang kawan malahan menambahi, jangankan hasil penelitian, untuk Disertasi Doktor saja banyak yang ‘tidak berani’ menerbitkannya.
 
Entahlah. Hal itu tidak terlalu penting lagi. Lebih baik menapakati (merintis) jalan menulis. Gelar ini-itu tidak penting dalam kreativitas menulis, yang penting menulisnya.
 
Tetapi, semua itu tentu tidak mudah. Pertama-tama, setelah mengukur bayang-bayang diri, memang banyak kekurangan. Semangat boleh saja, tetapi kompetensi perlu diasah.
 
Artinya, siapa pun Sampeyan, kalau hendak menulis, ya itu urusan pribadi. Kalau sudah demikian, berbagai alasan yang ikut bergabung akan tercampak dengan sendiri. Patokan demikian adalah hikmah yang mungkin selama ini tidak disadari.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 21 Oktober 2007.

  1. 7 Responses to “Menulis Doktor yang Sadar”

  2. By Kurt on Oct 21, 2007 | Reply

    Aahaa! cocok sekali bang… Menulis itu seperti yang kupraktekkan sekarang benar harus ditulis bukan dipikirkan! efeknya luar biasa.. seolah2 pikiran itu kini berpindah dari kepala ke tangan.. dan seolah2 pula, tanganlah yang berpikir.. karena dia begitu terus menerus menari-narikan kata dalam setiap tarikan nafas…

    Aneh bin ajaib dalam menulis itu. Kok bisa yaa tak sesulit mengiris bawang… maaf ini bukan sombong.. tapi saya berani jamin ilmu dari bang Erisis ini mampu diterapkan bahkan oleh santri sekelas ndeso dan sekatrok saya.. yang kerjanya sarungan dan kemulan heheh :)

    Makasih bang Ilmunya semoga terus memvirusi setiap orang biar keranjingan menuli sgitu loch… gimana menurut sampean???

    ***Amin … Amin … Ya Rabb.
    Namun Sampeyan untuk 5 tahun ke depan punya tugas lho. Menjelang Ramdhan 1428 saya beli sekitar 100 buku prihal Rasulullah, e … buku terjemahan yang dominan. Kemana ‘muka’ umat Islam Indonesia? Penerbut hobinya nerjemahin. Mana kiai? Mana karya pesantern, karay dari IAIN, dari penulis-penulis Indonesia? Mana en mana. Atau, kita berkolaborasi saja ya menulis tentang Rasulullah?

    Coba simak komentar seseorang (entah siapa) yang mengatakna: Nabi Muhammad pehobi sex … ih ngeri.

  3. By mathematicse on Oct 23, 2007 | Reply

    Wah betul sekali Pak. Menulis itu pekerjaan pribadi, siapapun bisa melakukannya, asal ada mau semanagat, kerja keras yang ditunjang dengan banyak membaca.

    Guru besar tak PD menulis? Wah-wah… bagaimana ini? BAgaimana bisa mereka jadi guru besar?

    Ya, mari kita latih menulis dengan menulis.

    Sebarkan terus virus menulisnya Pak! :D

    ***Minimal, Sampeyan ketika jadi guru besar jangan demikian he he … Mari menulis, sebarkan virus menulis

  4. By MT on Oct 23, 2007 | Reply

    buatku, menulis adalah bagian dari kebiasaan hidup kita. ada orang yang gemar olahraga, gemar musik, dll.

    aku menulis karena memang aku butuh suasana khusus yang bisa kudapatkan saat menulis. setelah menulis, ya sudah, biasanya perasaan jadi enteng aja.

  5. By Kurt on Oct 23, 2007 | Reply

    Waaah PR-nya cukup berat tapi bernuansa akherat… rasanya ini tantangan yang mentang. MEmang pesantren tidak ada tradisi menulis tapi semoga niat itu bisa terlaksana… ayo kita berkolaborasi bersama yang lain-lainnya… :)

    ***Siiip. Serius nih?

  6. By meiy on Oct 23, 2007 | Reply

    bagi saya menulis juga pribadi, selain self therapy sebab saya sulit membicarakan isi hati dan kepala…:)

    doakan ya pak smoga saya bisa nulis yg ok kaya bapak

    ***Insya Allah. Tulisan Meey … sangat bagus kog

  7. By Kurt on Oct 24, 2007 | Reply

    hahaha… saya suka tantangan, (heheh… biar dibilang rajin, untuk membodohi kebiasaan buruk :)

    * bolehkah tulisan itu adalah content yang pernah ditulis di web pribadi atau yang belum dipublish???

    ***Pada dasarnya ngak ngikat, terserah saja. Bagusnya ada tulisan pengantar http://www.menulismudah.com

  8. By unai on Oct 26, 2007 | Reply

    setuju..menulis bukan tidak harus buat mereka yang sekolah tinggi…yang penting mau belajar…ndak bosen bosen salah…begitu kan pak?

    ***Pastinya, tidak ada hubungan korelasional. Siapa saja —kalau mau— bisa jadi penulis. Yap.

Post a Comment